
Setelah di rumah sakit dua hari akhirnya Yuki bisa pulang ke rumah dengan hati lega dan bahagia. Menjadi Ibu muda dengan segala kerepotannya yang pastinya seru sekaligus menyenangkan. Walaupun tidak bisa di pungkiri lelah tapi semua hilang sudah dikala melihat Ski yang tumbuh dengan sehat dan lincah.
Asher juga sangat perhatian, ia tidak sungkan membantu pekerjaan istrinya di rumah. Asher juga ikut begadang menimang Ski kala bayi imut itu rewel dan tidak mau berbaring di atas kasur.
Setelah beberapa hari libur mendampingi istrinya kini saatnya Asher kembali ke kantor. Pekerjaan yang ia tinggalkan hampir seminggu itu tak ayal membuat jadwalnya mangkrak dengan setiap pertemuan. Untuk hari-hari ini dan selanjutnya akan menjadi semakin sibuk.
Asher juga membuka beberapa cabang baru di ranah bisnis yang berbeda sehingga membuat pria itu semakin sibuk saja. Biarpun sibuk namun tetap prioritas keluarga yang nomer satu. Bapak satu anak itu selalu terlihat manis vidio call di sela-sela jam kantornya hanya untuk sekedar menanyakan hal-hal yang paling lumrah.
*Lagi apa?
Sudah makan belum?
Jangan lupa sholat*?
Hal yang sangat biasa di ucapkan seorang pasangan namun terdengar sangat manis dan mengesankan. Karena dengan hal sepele itu kita menjadi seperti di perhatikan dan di anggap ada di sepanjang harinya. Biarpun jauh tapi hati kita tetaplah dekat begitulah kurang lebihnya.
"Pak hari ini ada meeting pukul dua siang." Bela menginterupsi, sekertarisnya itu walaupun centil tapi sejauh ini pekerjaanya bisa diandalkan.
Ngomong-ngomong masalah kantor, Zura belum di berhenti kan namun wanita itu di pindah tugaskan di bagian gudang, mengontrol keluar masuk nya barang yang akan menjadi bahan baku pembuatan pakaian.
Awalnya Zura sangat keberatan namun ia tentunya tidak punya pilihan, dan sejauh ini berjalan semua tertata normal. Apalagi Asher tidak pernah mengenal detail mana saja karyawannya ia hanya berhubungan dengan orang-orang nya saja.
Tak ayal pria itu di cap bos sombong yang super dingin dan cuek. Baginya dunia nya hanyalah pekerjaannya yang penting dan keluarganya.
Setelah meeting selesai pria itu sekarang nampak lengah, ia akan segera pulang ke rumah. Namun sebelumnya ia akan mampir ke toko bunga terlebih dahulu untuk di berikan kepada istrinya yang sudah menunggu di rumah.
"Aku pulang..." Asher menilik ke ruang kamar namun ia menjadi terdiam begitu melihat pemandangan damai di depannya.
Yuki tengah terlelap di samping Ski yang terjaga sendirian sedang bermain-main dengan jari tangannya. Asher tersenyum sendiri melihat istrinya yang masih tertidur dengan nyenyaknya.
"Sayang... Bunda bobok ya? duh kasihan anak Ayah main sendiri." Asher mendekat ke arah ranjang, sebelumnya ia sudah meletakkan tas dan juga sebuket bunga di atas meja, baru kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Asher menerapkan itu rutin semenjak Yuki selalu mengomel perihal tersebut.
Pulang kerja bersih diri dulu, baru pegang anak. Awas jangan coba-coba.
Begitulah kata-kata yang selalu di dengung-dengungkan istrinya. Entah sedari kapan tapi yang jelas sekarang pria itu tak mampu membantah sedikit pun perkataan istrinya. Asher membopong Ski dari kasur dan membawa keluar kamar.
"Bik..." Panggil Asher pada salah satu asisten rumah tangganya di rumah.
"Iya Tuan." ART itu mendekat dengan sedikit berlari.
"Tolong ajak main Ski dulu Bik, pastikan jangan sampai rewel istri saya sedang istirahat."
"Siap Tuan." Asisten rumah tangga bernama Tita itu mengambil Ski dari tangan Asher.
Asher berjalan gontai menuju kamar nya setelah dirasa Ski aman bersama pengasuhnya. Ia akan menikmati sore hari ini dengan berdua saja di kamar.
Asher membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Ia segera menghampiri Yuki yang masih terlelap. Kemudian tangannya terulur memeluk nya lebih erat. Bukanya membuat Yuki makin nyenyak malah secara tidak sengaja membangunkannya.
"Kamu udah pulang? tumben cepet?"
"Kangen..." Asher mendekap merubah posisinya lebih dekat.
"Ish... ketemu setiap hari juga. Ski mana? kok aku nggak denger kamu pulang?"
"Kamu tidurnya nyenyak banget, capek ya? Sama bik Tita." Asher membelai pipi Yuki dengan punggung tangannya.
"Capek tapi seneng," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan mereka berdua.
"Ck, lucu kamu Mas, kaya nggak ketemu lama aja. Sini cup cup cup..." Yuki merengkuh kepala Asher, pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Pingin lebih dari peluk boleh?"
"Belum boleh, masih dilarang."
"Berapa lama lagi?"
"Masih lama jangan rewel, aku nggak nyaman."
"Iya, iya maaf cuma usaha."
"Jangan nakal."
"SABARR."
***
Hari ini adalah tepat dua bulan Yuki sehabis melahirkan dan juga berakhirnya Yuki mengambil cuti kuliah. Sebagai Ibu baru dengan segala kerepotanya tentu Yuki sudah mempertimbangkan segala Konsekuensinya.
Menikah muda memang bukan jalan pilihannya dulu namun ternyata takdirnya membawa Yuki kesana. Jadi, tidak ada yang harus di sesali selain harus mensyukuri dan menerimanya.
Untuk mengasuh baby Ski Yuki dan Asher sudah memusyawarahkan bersama, dan kami berdua sepakat menggunakan jasa baby sitter. Awalnya Mama Rianti tidak setuju dan bersikukuh untuk mengasuhnya sendiri, namun tentu itu menjadi bahan pertimbangan kami selain tidak ingin merepotkan orang tua, juga waktunya Mama Rianti istirahat saja. Mungkin kalau mendampingi boleh tapi bukan mengasuh hanya untuk bermain bersama cucunya tentunya.
"Sayang... hari ini ngampus?"
"Iya Mas, kenapa?"
"Dandannya biasa aja jangan cantik-cantik," ujar Asher mrengut demi melihat Yuki berpenampilan berbeda hari ini. Ya iyalah berbeda selama di rumah kan paling tidak jauh-jauh dari piyama dan kaos santai.
"Perasaan biasa aja deh... kamu kenapa sih, posesif." Yuki tengah mematut dirinya di depan cermin.
"Nggak rela aku banyak pasang mata yang lihatin kamu." Asher bergelayut manja di pundak istrinya. Tangan kanan Yuki terulur mengacak rambutnya dengan sayang.
"Kamu kenapa Mas, hm... aneh banget hari ini."
"Kamu tahu jawabannya." Yuki mengeryit heran namun ia segera sadar maksud suaminya tatkala tangan Asher mulai kurang ajar menyentuh ke hal yang paling sensitif.
"Ihh... jangan sekarang dong... lagian ini juga aku mau ke kampus."
"Pusing aku kalau nggak di tuntaskan bisa makin pusing dan nggak bisa mikir." Keluhnya sambil memegang pelipisnya yang makin berdenyut. Jujur Yuki masih sedikit takut untuk meranah ke hal itu. Terlebih mengingat proses melahirkan yang masih belum move on membuatnya ia takut untuk membuka segel paska melahirkan.
"Aku masih takut Mas?" jawab Yuki khawatir sekaligus jujur.
"Aku janji bakalan pelan-pelan sayang, udah nggak kuat nih dua bulan loh sayang..." Yuki nampak menimbang-nimbang.
Yuki terdiam ketika Asher mulai membimbing nya menuju ranjang.
"Ini beneran? kamu mau minta sekarang, apa nggak bisa nanti malam aja ya?" Negonya mengingat dirinya yang sudah rapi dan bersiap ke kampus sore ini.
"Nanti malam nggak jadi lagi, kamu tidur setelah menimang Ski. Aku nggak tega buat bangunin kamu sayang."
"Nggak deh aku janji bakalan aku kasih, tapi sekarang---?"
"Apa? puasa lagi?" Asher memberengut