
Asher terus menahan Yuki untuk pulang. Pria itu ingin Yuki menemaninya sampai sore, tentu saja Yuki menolak. Kurang kerjaan banget nungguin suami kerja di kantor sementara dirinya hanya duduk dan bengong saja.
Setelah perpisahan alot yang di akhiri dengan ciuman panas Yuki pamit pulang dengan pandangan tidak rela Asher.
"Aku antar sampai bawah," ujar Asher seraya berjalan ke luar menyamai langkah Yuki.
Sesampainya di lobby kantor banyak yang melihat heran kearah mereka berdua. Sebagian besar mereka saling berbisik kemudian menyapa dengan hormat Bos cuek nya yang sedang berjalan dengan wanita cantik yang masih muda. Bahkan tidak sedikit wajah para pria memandang kagum dengan paras cantik Yuki.
Sebelumnya Asher sudah memperkenalkan Yuki ke beberapa staf mulai dari sekretaris sampai di bagian resepsionis. Asher mengatakan bahwa yang datang itu istrinya. Seisi kantor baru mengetahui wajah dari istri Bosnya itu.
"Pulangnya biar di antar supir kantor aja dari pada naik taksi."
"Nggak usah Mas, aku mau sekalian mampir mumpung sudah di luar. Beli keperluan Sky yang hampir habis."
"Hati-hati di jalan sayang." Asher mendaratkan ciuman sayang di keningnya setelah Yuki menyalami tangan Asher untuk berpamitan.
Pemandangan yang sangat umum untuk di lakukan bagi sepasang suami istri namun berbeda dengan tatapan dua bola mata coklat yang memandang penuh dengan rasa jengkel. Zura tidak sengaja menangkap adegan uwu barusan.
"Sial, makin lengket saja. Pakai nyamperin ke kantor lagi, sok keganjenan. Ibu rumah tangga aja belagu." Zura mengumpat kesal melihat Asher yang menampakkan kerukunan rumah tangganya.
Setelah mobil berlalu Zura menampilkan seringainya yang amat memuakan.
"Mas Asher?" panggil Zura lalu mendekat. Seperti biasa pria itu hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
"Tumben Yuki kesini?" Lagi-lagi pria itu tak menjawab dan tentu membuat Zura mengumpat kesal di hatinya sebab merasa selalu di abaikan.
Sudah berbulan-bulan Zura mencoba sabar menghadapi penolakan Asher. Pria itu tetap kukuh sama pendiriannya tidak goyah dan sama sekali tidak tertarik melirik dirinya.
"Jaga sikapmu Zura ini di kantor, hormati saya sebagai atasanmu. Batasan kita cuma sebatas Bos dan karyawan," ucap Asher dingin tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"Aku sudah berusaha bersikap sewajarnya tapi kamu bahkan tidak mau menyapaku. Lihat aku Mas? lihat baik-baik aku sama persis sama kak Zumi, seseorang yang sangat kamu cintai."
Hening
Wajah mereka memang sangat mirip, namun sifat dan karakternya jauh berbeda. Jangan lupakan pandangan Asher tentang wanita di depannya, Asher bahkan hanya melirik sekilas lalu lebih tertarik memandang arah lain.
"Kenapa tidak berani menatapku Mas, karena aku mirip kak Zumi dan kamu masih sangat mencintai nya kan? Ayolah Mas... terbuka sedikit saja. Aku rela jadi wanita simpanan mu." Zura berbicara dengan nada putus asa, merasa diabaikan terus menerus membuat ia sedikit nekat apalagi melihat hubungan dengan Yuki yang semakin dekat.
Asher sama sekali tidak menggubris perkataan Zura, pria itu tetap lurus ke depan berjalan ke arah lift dan menuju ruangan nya. Sementara Zura sendiri menahan kesal yang teramat. Dia lebih memilih tidak melanjutkan ke kantor lagi hari ini. Rasa sakit hati memupuskan semangatnya.
***
Yuki sedang berjalan di lorong rak bagian perlengkapan mandi ketika tanpa sengaja seseorang menyerukan namanya.
"Yuki?"
"Amar?"
"Hai lagi belanja? Sendirian?" Amar celingukan.
"Aku sebenarnya tidak berniat sih, cuma ada yang mau di beli jadi mampir."
"Owh... sama sih. Aku juga mumpung lagi di luar jadi sekalian mampir. Kok nggak kerja?"
"Habis dari ada pertemuan dengan klien, sama asisten sih cuma udah aku suruh balik duluan ke kantor."
"Sky apa kabar?" Amar mengikuti langkah Yuki yang sedang memilih belanjaan sambil ngobrol. Jadilah mereka seperti pasangan yang tengah asyik berbelanja.
"Alhamdulillah sehat, sudah besar dia bentar lagi mau jalan." Selorohnya basa-basi.
"Cepet juga ya udah segede gitu," ujar Amar heran.
"Becanda lah, anak aku baru tengkurep lagi mulai aktif sih. Ekstra jagainya. Kamu nggak belanja, ngikutin aku mulu."
"Nanti aja gampang aku mah."
Yuki sedang meraih pampers yang ukurannya pas sesuai bayinya yang montok namun tangannya tidak sampai menjangkau ke atas rak. Refleks tangan Amar meraih dari belakang dan sialnya Yuki menoleh jadilah pemandangan mereka saling bertemu dalam seperkian detik membuat orang yang tanpa sengaja melihatnya pun bisa salah paham.
Sialnya kejadian tidak menguntungkan tersebut di saksikan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dan tersenyum miring kearahnya.
"Ini, sorry aku nggak ada maksud." Mereka saling memisahkan diri karena posisi Amar jelas membuat Yuki seperti terkurung dan naasnya Yuki menghadap Amar, sungguh pemandangan yang sudah bisa di pastikan membuat orang mengira mereka sepasang kekasih yang sedang berbelanja bersama.
"Wah... uwu sekali kalian ini, sweet..." Zura menghampiri mereka berdua.
"Kak Zura ngapain di sini? bukannya jam kantor ya?"
"Suka-suka aku dong Ki, lagian kerja di kantor Asher juga. Tauk lah... dia pasti bersikap berbeda denganku. Kamu nggak lihat muka aku ini mirip kak Zumi."
Yuki mengeryit, dia percaya ini hanya buaian Zura saja. Yuki yakin Asher suaminya sudah berubah. Jadi ia lebih memilih tidak meladeni ocehan Zura dan kembali melanjutkan belanja.
"Ya udah Ki, aku duluan ya... mau balik ke kantor lagi soalnya. Salam buat Sky dari calon ayahnya yang ganteng." Seloro Amar jail. Ini jelas membuat Yuki tidak suka becanda tidak pada tempatnya.
Bruk...!!
Yuki menimpuk lengan Amar dengan salah satu barang belanjaanya. Ia melotot ke arah Amar dengan wajah kesal namun itu malah membuat Amar terkekeh, tangannya terulur mengacak rambut Yuki dengan gemas sebelum akhirnya beranjak dari sana.
Zura tersenyum miring melihat tingkah Yuki yang cuek dan berani terhadap nya. Zura dari dulu selalu tidak suka dengan Yuki sebab merasa telah mengambil bundanya darinya. Bunda bahkan sangat menyayangi Yuki seperti anak sendiri dan itu semakin membuat Zura bertambah tidak suka.
Rasa tidak suka Zura berlanjut tatkala pernikahan Zumi gagal dan malah Yuki yang menggantikannya. Zura semakin membenci Yuki karena merasa telah menyakiti perasaan Zumi yang bahkan saat itu sedang berjuang melawan rasa sakitnya.
Zura meninggalkan mall dengan senyum terkembang, wanita itu puas karena tanpa sengaja memergoki Yuki dengan laki-laki lain. Zura sangat yakin pria itu mencintai adik tirinya, ia pernah melihat sebelumnya di rumah sakit waktu Yuki melahirkan dan sekarang mereka bertemu lagi sungguh kejadian kebetulan yang sulit di percaya di tambah keuwuan mereka yang tak sengaja tertangkap oleh Zura. Zura tersenyum miring menatap layar ponselnya.
Dia bahkan mulai stalking akun sosial laki-laki tampan yang terlihat bersama Yuki tadi. Siapa yang tidak mengenalnya, pewaris AW groub muda dan kaya.
Beruntung banget nih bocah, di cintai dua pria kaya sekaligus. Dasar kemaruk! sana mau sini oke. Mam pus lo....