
Yuki dan Asher tengah sibuk bersiap-siap untuk menghadiri undangan ke pernikahan Tomi, salah satu sahabat akrab Asher dari bangku kuliah.
Yuki masih mematut dirinya di depan cermin sementara Asher tengah mengamati wajah istrinya yang paripurna dari samping. Mereka menggunakan baju couple. Yuki menggunakan kebaya brokat warna crem senada dengan kemeja Asher, mereka terlihat sangat cocok dan manis sekali.
"Mas make up aku udah oke belum?" tanya Yuki kurang yakin dengan tatanan pada dirinya.
"Cantik, udah cantik banget malah," puji Asher jujur.
"Ya udah ayo berangkat," ajak Yuki berjalan menggamit tangan suaminya.
"Aku kira nikahnya sama mbak Diandra, eh ternyata malah bukan. Mereka padahal cocok banget, mbak Diandra juga baik banget orangnya," ujar Yuki menyayangkan. Mereka sudah di dalam mobil sedang perjalanan menuju lokasi acara.
"Kenapa harus ngomongin orang lain sih Yuki sayang, ibarat kita juga gitu. Iya kan? Mana nyangka terlintas aku bakalan nikah sama kamu, jodoh memang sangat rahasia ya?"
"Iya Mas, bener." Mereka kini sudah sampai di halaman gedung, lebih tepatnya ballroom hotel dengan dekorasi yang sangat megah dan mewah.
"Rame banget Mas." Pandangan Yuki menyapu keseluruh ruangan yang luas dan besar.
"Kita ketemu pengantinnya dulu buat ucapin selamat."
"Iya Mas." Yuki dan Asher mengantri untuk memberi selamat pada sang pengantin yang tengah bahagia itu.
"Selamat bro, akhirnya nikah juga."
"Thanks bro sudah datang," jawab Tomi senang, mereka saling berpelukan. Giliran Yuki juga memberi selamat untuk mempelai berdua.
Setelah menyalami pengantin, kedua sejoli itu duduk tenang menikmati sajian musik yang tersedia sambil menikmati hidangan yang telah tersedia.
"Mau makan apa sayang ,biar Mas yang ngambil, kamu duduk manis sini nge tag bangku aku."
"Sate aja Mas, kayaknya enak. Tapi rame banget harus ngantri panjang."
"Oke, kamu duduk biar aku yang ngantri. Baik-baik di sini jangan kangen."
"Apa sih Mas, lebay deh..."
"Ya kan siapa tahu," Asher mengerling nakal sebelum meninggalkan istrinya menunggu.
Terlihat dari tempat Yuki duduk Asher mulai mengantri di stand dawet dulu baru kemudian di stand sate. Dalam kejauhan Asher sesekali tersenyum memperhatikan istrinya yang menyibukkan diri mengamati ponselnya.
"Eh Yuki? Pangling aku, MasyaAllah cantiknya?" puji dosen Bisma.
"Pak Bisma? Di sini juga? Ya kan cewe Pak masa' ganteng sih," seloroh Yuki canggung.
"Sendirian? Si posesif mana?"
"Suami saya maksudnya? Mas Asher lagi antri makanan Pak, itu?!" tunjuk Yuki.
"Pengertian juga tuh bocah." Bisma terkekeh.
"Kenapa Pak? Ada yang salah sama suami saya?"
"Nggak ada, saya merasa dia terlalu beruntung di tinggal Zumi di gantikan kamu yang masih muda dan cantik gini."
"Bapak bisa aja, terlalu berlebihan deh Pak kayaknya."
"khem... asyik nih ngobrol," sindir Asher yang baru saja datang. "ini sayang..." ujar Asher memberikan makanan yang baru saja ia ambil dari stand sate dan dawet.
"Makasih Mas, mari makan Pak Bisma."
"Iya silahkan, nanti saya ambil sendiri. Udah ada pawangnya nih sebaiknya saya pergi deh."
"Ya lebih cepat lebih baik," ujar Asher nyolot.
"Ya udah Ki, duluan ya? Besok jangan lupa bimbingan ya, sering-sering aja Ki... kalau mau cepet lulus."
"Siap Pak, terima kasih."
"Oke, tetap semangat! Besok saya atur waktunya baru saya kabari enaknya jam berapa." Yuki mengangguk lalu tersenyum ramah.
"Apa sih Mas... yakali... aku harus pasang wajah jutek sama dosen Bisma, dia dosen pembimbing aku loh, bisa ambyar nilai aku kalau aku nggak baik sama dia."
"Eh! Jangan bilang selama ini ke kampus bimbingan skripsi cuma modal senyum aja terus oke-oke."
"Idih... fitnah terus, mulai deh..." Yuki mulai merasa tidak nyaman.
"Habisnya kamu suka gitu keasyikan di perhatikan sama cowo lain nggak ngerti kalau suaminya cemburu."
Cup
Yuki terpaksa menyumpal mulut pria itu dengan ciuman singkat di bibirnya. Asher melongo seketika melihat aksi nekat Yuki, sedang Yuki bersikap cuek asalkan suaminya bisa diam berhenti mengoceh.
"Lagi dong..." seloroh Asher menggoda. Yuki menatap tajam suaminya. Kalau sudah begini ngalamat apes kena siraman rohani nanti sampai rumah.
"Kamu luar biasa sayang, perdana loh ini ciuman di tempat umum yang paling bersejarah dalam hidupku. Dicium istri cantiknya terlebih dahulu sebelum sempat meminta. Wah... kamu kreatif sekali sayang."
"Bisa diem nggak sih, Mas aku mau makan zuppa sup," tunjuk Yuki, makanan yang ditutup kulit pastry itu cukup menggugah selera Yuki. Sama jangan lupa buah-buahan dan eskrim. Ambilin ya?"
Asher menatap tak percaya pada istrinya, siang ini kenapa sangat antusias dan lagi ini hal yang tak pernah Yuki lakuin, makan dalam porsi banyak. Karena setelah menghabiskan sate, Yuki masih mampir ke stand nasi goreng dan sekarang....?
"Kamu masih laper? La itu tadi ngambil belum habis?" seloroh Asher kesal karena menyuruh dirinya mengambil beberapa menu tapi tidak di makan cuma dicicipi saja dan akhirnya Asher yang menghabiskannya.
"Aku udah kenyang yank," jawab Yuki tanpa dosa.
"Tapi kali ini harus dihabisin ya?" pinta Asher sebelum beranjak.
"Jangan coba-coba ngebantah Mas, aku bisa nangis," jawab Yuki dramatis.
"Iya, iya oke... istriku..." kesal Asher namun tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.
Yuki baru saja menghabiskan sepinggan buah yang di potong kecil-kecil ketika MC mengarahkan saatnya mempelai wanita melemparkan buket bunga yang ada dalam genggamannya.
Baik tua dan muda semua antusias berdiri memposisikan diri, siapa tahu beruntung mendapatkan buket bunga pengantin, yang konon katanya bisa menjadi cepat menyusul kepelaminan barang siapa yang mendapatkan dari lemparan bunga tersebut.
"Oke... siap ya?"
Semua orang merapalkan doa terkhusus muda mudi yang membawa pasangan belum halal ke acara ini supaya cepat menyusul pastinya. Menghalalil pasangannya.
"1... " hening
"Dua... " semua yang di belakang punggung pengantin wanita bersiap-siap menangkap. Sedang Yuki sendiri tengah duduk manis sambil mengamati, tentu saja tidak ikutan berdesakan dalam acara penantian bukit bunga. Bisa di gorok suaminya kalau Yuki ikutan. Hehehe
"Ti.... ga." Pengantin wanita melemparkan buket bunga yang berada dalam genggaman dan...
Pleg
Buket bunga tersebut mendarat di paha Yuki yang sedang duduk manis. Seketika suasana hening itu berubah jadi riuh.
"Wah... aku yang dapat," Yuki mengambil bunga di pangkuan dengan senyum terkembang.
"Aku nggak ikutan lho Mas tadi," selorohnya demi melihat muka Asher yang berubah keruh dengan tatapan tajam.
"PULANG!!!"
"Mas jalannya pelan-pelan kaki aku sakit," rengek Yuki merasa kwalahan mengikuti langkah Asher yang panjang.
Brak
Itu suara pintu mobil yang di tutup cukup keras.
"Astaghfirullah..." Yuki mengelus dada kaget.
"Kamu kenapa sih Mas, duh... sakit nih kaki aku," oceh Yuki sebal, Asher hanya memperhatikan wajah istrinya lekat dengan manik mata tajam.
Hawa dingin langsung menyelimuti ruangan dalam mobil seketika. Dalam hitungan detik Asher langsung menubruk tubuh Yuki dan me**mat bibir istrinya dengan rakus.