
Asher bingung, dia panik sendiri. "Maaf Ki," setelah meminta maaf dengan maksud memohon izin, Asher langsung mengelus perutnya yang terasa kram.
Yuki merasakan sentuhan hangat suaminya mengelus-elus perut buncitnya. Awalnya dia ingin protes, namun perlahan memberikan rasa nyaman sebab kram di perutnya berangsur menghilang berganti dengan ketenangan. Tak terasa ia pun tertidur, rasa lelah seharian beraktifitas membuatnya cepat terlelap.
Asher merasakan denyut jantungnya berdetak tak beraturan. Perasaan gugup dan senang, takut Yuki akan menolak dan menepis tangannya yang sedang mengelus perutnya. Namun kekhawatiran nya tidak menjadi nyata, sebab ia merasakan Yuki nya sudah terlelap dengan nafas teratur. Itu artinya Yuki sudah tidak merasakan kram, syukurlah batin Asher lega.
Ia membuka dashboard, mengambil selembar kain yang tersimpan disana untuk menyelimuti Yuki. Lalu di elus kembali perut istrinya sambil mengamati wajah Yuki yang tertidur damai.
Seandainya aku bisa melakukan setiap hari, mengelus kamu, memeluk, ah... senangnya hatiku. Semoga besok ada kesempatan itu lagi. Harapnya dalam hati.
Asher mencuri cium di kening Yuki, pelan, takut Yuki terbangun dan terganggu. Lalu beralih mencium ke perut Yuki sambil memegangnya dengan sayang. Dia bergumam-gumam pelan seakan berdialog dengan anaknya.
"Hallo sayang... ini Ayah sayang.... sehat-sehat ya di sana. Jangan buat bunda sakit lagi. Sehat terus sampai waktu nya tiba kita bertemu. Ayah sudah tidak sabar menanti kehadiran mu." Matanya berkaca-kaca senang, sedih dan terharu.
Senang karena hari ini bisa sedekat ini, terharu merasa begitu dekat dengan anaknya. Perasaanya benar-benar di liputi bahagia yang tidak bisa di definisikan. Sedih, karena pada kenyataannya hubungannya masih ambigu. Dia hanya bisa berdoa dalam hatinya, bisa terus memeluknya di sepanjang harinya.
Hujan yang mengguyur bumi belum juga reda. Padahal hari sudah gelap, dia masih terjebak di jalanan. Pohon yang tumbang terlalu besar melintang ke tengah jalan, tidak kuat di geser. Banyak juga mobil yang terpaksa putar arah. Satu-satunya jalan menunggu bantuan petugas yang entah sampai kapan datangnya.
Asher sempat ingin berbelok tapi sudah setengah jalan. Akhirnya dia menunggu saja ada pertolongan.
Asher melirik jam di tangannya sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Ia tidak punya pilihan lain selain mencari penginapan terdekat. Bajunya yang basah membuat ia menggigil kedinginan. Namun ia tidak berani mengusik ketenangan Yuki dalam tidurnya.
Yuki mengerjap beberapa saat, dia membuka perlahan matanya dengan lebar. Mengamati sekitar dan ternyata masih di tempat yang sama. Yuki melirik pria di sampingnya yang tengah bersedekap sambil menenggelamkan wajahnya di bundaran setir dengan baju basah.
"Mas, kamu hujan-hujanan, kok basah?"
"Kamu udah bangun? iya tadi sempat keluar mau menggeser pohon yang tumbang tapi terlalu berat. Ki ini sudah malam sepertinya kita harus mencari penginapan biar tidur kamu nyaman."
Yuki mengangguk saja, dia juga kasihan melihat Asher yang sudah basah dan menggigil kedinginan. Akhirnya mereka keluar dari mobil dan mencari penginapan terdekat. Bukan hotel bintang lima yang mewah namun tetap nyaman.
Dan mungkin memang semesta sedang berpihak pada Asher semua kamar di hotel ini penuh hanya tersisa satu, suit room. Padahal tadi Yuki sudah meminta untuk tidur terpisah memesan dua kamar, tidak mungkin tidur di satu kamar yang sama walaupun status mereka masih suami istri namun bagi Yuki merasa keberatan dan tidak nyaman. Terlebih Asher bisa menunjukan keterangan bukti bahwa mereka pasangan yang halal pada pegawai hotel jadi terkesan tiada kendala. Tapi masalahnya ada pada Yuki mau apa tidak, atau akan kembali ke mobil saja.
"Gimana?" tanyanya memberi pertimbangan pada istrinya yang terlihat kesal.
"Ya udah, nggak ada pilihan kan?"
Yuki langsung berjalan menuju kamarnya. Asher mengikuti di belakang Yuki dengan mengulum senyum. Sesampainya di depan pintu kamar Yuki terdiam menanti Asher membuka pintu.
"Ayo masuk..." Titah Asher kemudian begitu melihat pintunya setengah terbuka dengan dirinya masih berdiri di sebelah pintu.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Asher keluar dengan wajah lebih segar. Dalam seperkian detik Yuki terpana melihat jelmaan arjuna di depannya. Namun ia segera sadar dan mengalihkan pandangannya.
"Ki..." Asher mendekat ke arah ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.
Yuki diam tak menyahut, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Merasa bingung harus bersikap.
"Bersih-bersih dulu baru tidur, ini sudah malam, besok kita pulang."
"Tidak ada ganti," cicitnya merasa bingung, tapi memang sudah merasa tidak nyaman dan badan terasa lengket semua.
"Pakai bathrob Ki, kan ada dua." Ujar Asher memberi tahu, Asher mengerti kekhawatiran Yuki, dia tidak berniat mengambil keuntungan sedikit pun malam ini sekali pun Yuki nya masih halal baginya.
Yuki tidak menanggapi tetapi perlahan kakinya melangkah menuju kamar mandi. Ia mandi membersihkan diri dan melakukan hal yang sama seperti Asher. Menggantung bajunya dan memakai bathrob yang tersisa, rambutnya tergerai basah menampilkan kecantikan yang alami.
Asher terkesiap begitu melihat Yuki keluar dari kamar mandi. Seperti melihat bidadari yang begitu cantik. Seulas senyum tergambar di wajahnya, ia harus tenang agar Yuki merasa nyaman di dekatnya. Walaupun sebenarnya hatinya tidak munafik dia menginginkan nya.
"Ki... sini tidur sudah malam." Asher menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
Yuki masih berdiri di depan pintu kamar mandi, setelah Asher menginterupsi barulah ia berjalan pelan mendekati ranjang. Perasaan ini, kejadian ini seperti dejavu bagi Yuki.
Yuki langsung merebahkan dirinya di kasur dengan memunggungi Asher, ia menutupi tubuhnya rapat-rapat dengan perasaan gelisah. Mencoba memejamkan matanya namun karena tadi sudah tertidur di mobil cukup lama ia menjadi tidak mengantuk.
"Ki... kamu sudah tidur?" Pria itu mencoba membangun komunikasi. Yuki diam tidak menyahut ia pura-pura memejamkan matanya.
"Yuki.... aku minta maaf ya... selama ini banyak memberimu luka. Maafkan aku Yuki.... aku masih berharap status kita akan tetap sama hari ini esok dan selamanya."
Yuki mendengar semuanya, namun ia tetap diam tak merespon sedikit pun. Dia mencoba untuk tenang walaupun sebenarnya hati dan jantungnya sudah tak karuan.
"Selamat tidur Yuki sayang... selamat beristirahat. Tidur yang nyenyak. I love you more."
Yuki masih mendengar dengan jelas, ada perasaan yang menghangat tapi juga ada perasaan yang entah...
Asher berbaring di samping Yuki, mengamati punggung istrinya yang sangat di rindukan tapi dia tidak berani menyentuhnya. Walaupun sebenarnya dia ingin sekali membawa kedalam pelukannya, Asher akan bersabar sampai kesempatan baik itu ada untuknya.
Dia sudah cukup berpuas diri dan bersyukur untuk hari ini, semua terjadi begitu saja atas kuasaNya.