Salah Meminang

Salah Meminang
Part 71


"Keluarga pasien atas nama Yuki Tanzeela?" Dokter dengan name tag Rangga itu menyeru.


"Iya Pak, saya suaminya." Asher langsung menghampiri Dokter Rangga dengan raut cemas.


"Saat ini pasien butuh tranfusi darah, karena kecelakaan itu membuat pasien kehilangan banyak darah. Tapi sayang nya darah pasien termasuk langka dan rumah sakit tidak ada stok golongan darah tersebut. Jadi, siapa diantara keluarga pasien yang mempunyai golongan darah yang sama, AB rhesus negatif." Dokter Rangga menerangkan dengan gamblang.


"Anda mempunyai waktu satu jam dari sekarang, tolong hubungi siapa saja yang bisa menyambung nyawa pasien."


Bagai di serang petir malam hari, Asher begitu shock mendengar pernyataan dokter tadi. Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, Asher tidak peduli lagi dengan dirinya ia berlari panik menemui keluarga, menyampaikan informasi dari dokter yang cukup membuat siapapun yang mendengar tercengang putus asa.


Semua keluarga masih berkumpul di rumah sakit, Asher berharap di antara mereka ada yang mempunyai golongan darah yang sama.


"Mah, atau siapapun di sini ada yang golongan darahnya AB rhesus negatif? Yuki kritis butuh tranfusi darah, kurang dari satu jam pendonor itu harus sudah ada?"


Semua orang yang ada di sana sama di landa rasa panik tetapi di tuntut tetap tenang dan waras agar bisa berfikir jernih. Ia di bantu keluarga menghubungi siapapun yang bisa memberi informasi tentang pendonor.


"Kami semua dari keluarga tidak ada?" Ayah menyeru dengan sendu.


"Sama keluarga kita juga tidak ada yang sama." Suasana semakin mencekam dengan rasa panik yang luar biasa.


"*Shit!!"


"Aarggghhh*.....!!!"


"Alwi tolong hubungi semua orang kantor, istri saya kecelakaan butuh donor darah AB rhesus negatif siapapun yang mempunyai golongan darah tersebut akan saya bayar mahal." Asher menghubungi siapapun orang yang bisa di hubungi dan di mintai pertolongan. Ia berjanji akan memberikan hadiah uang yang setimpal atau apapun yang bisa Asher berikan asal Yuki bisa terselamatkan.


Waktu terus berjalan, kurang dari dua puluh lima menit sejak dokter Rangga menyeru belum ada hilal. Asher semakin cemas.


"Apakah sudah menemukan pendonornya?" Dokter Rangga menyeru sekali lagi.


"Dok, Dokter apa yang akan terjadi pada istri saya kalau kita belum bisa menemukan pendonor darah."


"Saya harap Bapak berusaha lebih maksimal selama masih ada waktu kesempatan, satu menit pun masih bisa merubah keadaan, waallahuaklam... kita tidak akan tahu kapan kita akan PULANG."


Rasanya tubuhnya bagai melayang tak bertenaga, semangat masa depan itu sirna, jujur Asher belum siap untuk kehilangan.


"Yuki sayang.... ya Allah.... bertahan, jangan engkau ambil sekarang ya Allah... aku tidak sanggup hidup tanpanya." Air mata Asher membanjiri pipinya. Ia tidak lagi peduli dengan tatapan orang yang memandang, duduk di lantai koridor rumah sakit dengan sesenggukan.


***


'Terkadang kita lupa memberi kesempatan untuk pasangan kita ruang dan waktu. Merasa selalu paling benar padahal tanpa sengaja menyakitinya. Masih bersikap biasa dan tenang seolah tiada masalah padahal hatinya terluka. Pura-pura kuat boleh, asal jangan membiarkan bara itu menjalar menjadi api yang garang yang mampu membakar pikiran yang bisa menyebabkan kerugian.'


'Jangan salahkan takdir, sejatinya masih bisa di rubah dengan doa dan usaha. Karena kamu, hanya kamu yang bisa merubah takdirmu sendiri, sisanya serahkan pada Tuhan. Masih kan ada lembaran hari esok untuk kita berdua mengukir cerita? mungkin, walaupun kadang kita menjadi bimbang bahkan krisis kepercayaan terhadap orang yang kita sering dibilang pasangan.'


Laut tidak akan menjadi surut hanya karena kisah kita yang teramat kusut. Bumi tak akan menjadi guntur mendengar tangisnya yang bergetar. Semua akan tetap sama pada kenyataannya hanyalah dirimu yang tidak percaya kekuatan cinta kita.


Puk puk puk


Seseorang yang mereka anggap menjadi sumber dari biang kerok menepuk-nepuk pundak Asher. Dia mendongak dengan mata sembab, ada gurat lelah dan kecewa yang teramat.


"Aku minta maaf, turut sedih dengan kejadian ini. Kami memang bertemu tanpa sengaja, ku harap kamu bersabar dengan ujian ini." Asher bergeming terlalu malas untuk mendebat. Hati dan pikirannya begitu lelah. Dia terlalu takut, takut mendengar kenyataan yang sejatinya belum tentu kebenarannya.


"Ayolah Bro, semangat. Jangan menjadi cengeng atau aku akan benar-benar mengambilnya dari mu." Kali ini mata sembabnya menatap tajam menghunus ke depan.


"Ucapanku tidak pernah akan menjadi nyata sebab orang yang berbaring lemah di sana, lebih memilih seseorang yang dulu pernah mengabaikan, sengaja menyakiti bahkan secara terang tidak menghargai." Amar berbicara dengan nada sengit, hatinya sama-sama sakit tapi sejatinya sungguh dia mulai mengikhlaskan karena pada kenyataannya Yuki tetap memilih suaminya.


"Aku hanya di takdir kan untuk mencintai, tapi bukan untuk memiliki. HAHAHA... sekejam itukah kenyataan." Amar masih mengeluarkan risalah hatinya.


"Lihat dirimu? kamu bahkan di beri kesempatan yang ke dua untuk menyayangi tapi kenapa hanya karena hasil jepretan orang yang merasa iri pada hubungan kalian kamu percaya? Mana cinta dan kepercayaan mu terhadap pasangan? Masih sangat di sangsikan teramat meragukan? Sebenarnya LO itu cinta nggak sih sama Yuki?" Amar mulai tidak tahan melihat Asher yang hanya terdiam tanpa melawan.


"Kamu sudah terlalu banyak berbicara, sedang kita tidak sedekat itu. Kamu berada dalam zona keterlaluan." Asher akhirnya menyeru, dalam hati Amar merasa lega sebab laki-laki ini masih bisa mengontrol emosinya di tengah landa kepanikan.


"Kamu tidak marah? kalau begitu izinkan aku masuk menjenguk Yuki ke ruangannya. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang belum sempat aku sampaikan sebelumnya."


"Jangan! hanya aku yang boleh menemaninya di sampingnya. Kamu bantu dengan doa saja."


"Apa kamu mau menyampaikan pesanku?"


"Apa?"


["Tatap tersenyum di tengah himpitan rasa sakit, karena itu bisa membuat aku percaya, kau membagikan perasaan itu padaku, dan aku yang akan menyembuhkan luka mu."] Amar masih memasang wajah sok care.


"Begitulah kira-kira pesan yang ingin aku sampaikan. Sanggup."


"Gila! kamu mempermainkan perasaan ku?"


"Cinta itu nekat dan sebuta itu, tapi tidak membuat aku picik dan melakukan kecurangan itu. Aku memang pria gila yang cinta mati pada istri orang tapi setidaknya otakku masih waras dengan tidak mau menjadikan mereka berantakan."


"Sebenarnya kamu itu mau ngomong apa sih!? ribet, banyak bacot. Celoteh lo nggak mutu."


"Di dalam tubuh Yuki ada darah aku yang mengalir, aku senang bisa menjadi bagian dari secuil rasa yang pernah memupuk harapan untuk bersama, tetapi tetap saja takdir itu kejam bagiku karena Tuhan mempunyai cara sendiri untuk menyatukan kamu dengan Yuki."


"Jadi, kamu orang yang mendonorkan darah untuk Yuki?" Asher memasang wajah kaget setengah mati, seseorang yang kemarin tidak mau di sebut Identitasnya sekarang dengan lantang mengutarakan fakta di depan nyata.


"Kenapa kamu tidak bilang?"


"Karena aku takut egomu lebih mendominasi, kamu akan berfikir seribu kali lagi atau mungkin bahkan lebih, kalau aku yang menjadi pendonor nya."


"Apa mau kamu?"