
Ada rasa jenuh saat bertahan, namun ada rasa sakit saat meninggalkan. Adakalanya lelah untuk menjalani walau sebenarnya tidak harus menuntut begini. Yuki kadang merasa takdir itu begitu kejam atas dirinya, dan ada saatnya ia lemah seakan lelah dengan bayangan yang pernah ada.
Tidak mau, dan sudah berusaha membuka lembaran baru tapi terkadang masih saja terbesit sedikit luka dan kecewa yang tertinggal di relung hatinya. Gagal move on? Nggak juga, tapi kalau ada pada titik dimana ia membenci takdir karena harus menyatukan dia mungkin pernah dan sekarang sedang di fase itu.
Selemah itu kah? Kan sudah dibilang jurus ampuh bahagia adalah berdamai dengan masa lalu baru kamu akan merasa tenang. Sebab itu akan menjadikanmu pedoman memperbaiki diri menjadi yang lebih untuk kemudian layak menjadi orang yang pantas untuk diperjuangkan dan di pertahankan.
Kenapa???
KARENA BERAWAL DARI BADAI PELANGI ITU AKAN MUNCUL.
Asher bahkan tak melepaskan genggaman tangannya barang sedetikpun melihat raut wajah Yuki yang tidak baik-baik saja.
Teman Lucknut!!
Umpatan yang keluar dari hati Asher tak berhenti entah sudah keberapa kalinya. Ia terus mengabsen rasa kesal yang bergemuruh di dada sebab saking dongkolnya. Mereka tidak pernah tahu bagaimana perjuangannya bisa sampai di titik ini. Mereka tidak pernah tahu berapa rasa sakit yang pernah kita lewati dan mereka tidak pernah tahu betapa susahnya meyakinkan hati Yuki.
"Please... jangan marah..." raut cemas dan gusar tercetak jelas di wajah tampannya.
Yuki tersenyum walau hatinya tersentil pisau runcing yang mampu menelakkan. Pelan namun pasti ia mengurai genggaman tangannya dan menatap manik hitam itu dengan perasaan yang entah.
"Aku tidak marah? Tapi bolehkan aku sendiri dulu? Aku butuh sesuatu yang bisa membuat diriku Yakin bahwa jalan yang aku pilih adalah jalan yang tepat untuk kemudian melangkah bersamamu."
"Kamu tidak harus mencari jalan itu, karena semua masa depanmu ada di depan matamu." Yuki menyentuh pipi kanan Asher menangkup dengan lembut hatinya bergejolak hebat.
"Kamu benar Mas, karena kamu adalah masa depan aku. Aku bahkan tidak pandai untuk memperbaiki diri sedang kamu sangat berusaha menutup luka yang masih terasa. Aku benci kamu tapi aku sangat mencintaimu." Buliran bening yang sudah janji tak ingin muncul lagi pun lolos membasahi pipi.
Asher langsung membawa tubuh istrinya kedalam rengkuhannya, memeluknya semakin erat.
"Maafkan aku Ki...? Maaf, maaf. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."
Ya! Seharusnya ucapan itu mudah bukan? Tidaklah sama dengan praktiknya. Pria itu menghapus air mata di pipi istrinya dengan perasaan yang begitu luar biasa. Sakit... hati Asher sakit melihat istrinya merasa kecewa terhadap dirinya. Asher menciumi wajah istrinya dengan sayang.
"Ayo makan, kesini niatnya bawa makan siang kan? Aku lapar?" selorohnya mencoba tenang dengan membangun komunikasi sederhana yang memang seharusnya begitu adanya.
"Iya Mas," Yuki selalu menanggapi dengan senyuman.
Perempuan itu selalu bermain dengan perasaan dan hatinya jadi ketika ada sesuatu yang kurang sreg sudah pasti ia akan menjadi diam. Walaupun sebelumnya ia banyak bicara tapi lihatlah di saat ia diam dan enggan untuk membuka mulutnya dengan banyak kata, maka disitulah sebenarnya ia merasa lelah dan benar-benar ingin membiarkan saja semua berjalan sesuai porsinya.
"Masakan kamu enak, aku mau di bawain setiap hari ya? Aku suapin?"
"Mas...," Yuki memandang dengan tatapan sayu.
"Iya aku diam," jawab Asher dengan nada selembut mungkin.
Semua masalah bersumber dari dirinya, sudah sepatutnya Asher mendapat tuntutan tak ramahnya. Setelah makan siang usai, mereka istirahat sebentar.
"Aku keluar sebentar Mas?"
"Mau kemana?"
"Curhat?"
"Curhat sama siapa?" jawabnya langsung panik.
"Curhat sama Sang Pemilik Kehidupan."
"Disini aja, ada kok mukenanya kita jamaah ya?"
Yuki terdiam, namun gerakannya mengiyakan. Perempuan itu mulai berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu baru kemudian disusul Asher yang mengantri di belakangnya.
Ruangan Asher ada bilik khusus untuk istirahat yang begitu nyaman. Tempat favoritnya saat pria itu dulu malas pulang ke rumah. Dulu saat belum menikah dan harus lembur pria itu sering bermalam di kantor atau hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang tersedia.
"Ayo masuk kita sholat di dalam," titahnya dengan wajah tenang.
Setelah menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, Yuki lantas mencium punggung tangan suaminya rutinitas setiap habis berjamaah. Asher juga akan mencium keningnya dengan sayang tapi kali ini pandangannya berbeda ia melakukan dengan durasi yang lebih lama.
Hatinya begitu tenang dan damai. Saat seperti ini adalah moment yang paling baik untuk melancarkan aksinya.
"Kamu mau apa?" tanya Yuki dengan kening berkerut.
Mau kamu.
Dua kata yang saat ini sangat ingin di utarakan tapi entah mengapa mendadak lidahnya kelu dan tak berani berucap. Takut di tolak, takut dia marah, takut dia ilfeel juga kalau terlalu kolot.
Asher merasa dirinya kadang gila setiap berdekatan bahkan bersentuhan dengan istrinya hasrat itu selalu tumbuh dengan cepat. Hatinya berdesir seakan yang di bawah sana semakin terasa sesak.
"Kamu istirahat saja kalau capek, kita bahas proyeknya nanti," kilahnya mencoba membuang rasa yang semakin kuat.
"Aku pulang aja Mas, di bahas besok kan masih bisa."
"JANGAN!!"
"Ya... lebih baik sekarang aja sayang."
Yuki terdiam gerakan tangannya yang menggelung rambutnya asal membuat leher jenjangnya terekspos nyata dan itu semakin membuat Asher tidak baik-baik saja. Pria itu menelan salivanya gugup.
Tenang Asher... kamu pasti bisa!!
"Ya udah ayo bahas ini di luar," ujar Yuki seraya melangkah.
"Sayang..."
"Iya kenapa?"
"Aku mau...?"
"Kita bahas proyeknya sekarang aja." Asher harus tahan untuk tidak menyerangnya. Ini di kantor dan lagi perasaan Yuki sedang tidak baik-baik saja. Bisa malah ngamuk dan pulang beneran kalau tidak pandai membaca keadaan.
Mereka berdua mulai duduk bersama saling diskusi yang pastinya tentang rancangannya.
"Aku langsung iya," ucap Asher mantap.
"Aku di terima? Sistemnya gimana masak aku nggak masuk di ruang khusus sesuai divisinya mungkin?"
"Nanti setelah lulus, aku akan mengumumkannya. Aku juga berencana mendirikan pusat-pusat pendidikan seperti Sekolahan, atau Universitas. Do'ain ya semoga dapat kelaksana."
"Pasti Mas, kalau itu aku setuju. Membantu menjebatani mencerdaskan anak bangsa."
"Nanti Dosennya kita berdua ya?"
"Aku? lulus aja belum? kamu emang bisa?"
"Dulu pernah sama-sama magang bareng Bisma, tapi aku lebih tertarik bisnis. Tapi sepertinya kali ini aku mau coba."
"Jangan bilang kamu pingin jadi dosen aku, terus biar bimbingan sama kamu."
"Pinginnya begitu, sayangnya ketinggalan jauh. Aku banyak yang kenal sama orang dalam. Rektornya kan Pakde Gani Kakak tertua dari Mama."
"Jangan bilang kamu masuk kesana karena orang dalam."
"Keluargaku punya saham separonya di sana, Anak Papa kan cuma aku jadi otomatis semua jatuh ke ahli warisnya. Saatnya kamu tahu tentang silsilah keluarga besar aku."
"Kamu sebenarnya siapa sih, kita kan mau bahas proyek sketsa aku, kenapa jadi silsilah keluarga."
"Karena kemarin Papa telfon, beliau menghibahkan semua aset yang beliau punya untuk anak-anak kita, Sky dan adik-adiknya kelak. Dunia pendidikan adalah tempat ternyaman untuk bekerja. Bisnis oke tapi resiko juga besar karena banyaknya tantangan keras dan musuh yang tak terduga. Diam tapi menjatuhkan.
"Terus?"
"Ya nggak usah di bahas lah sayang udah pasti di acc kan ini kantor punya aku punya kamu juga."
"Jadi, aku boleh dong mas mengejar mimpi aku, bebas berkarya?"
"Iya, apa yang aku punya semua milikmu. Seperti...?
"Apa Mas?"
"Seperti kamu, kamu adalah milikku. Semuanya yang ada pada dirimu adalah milikku." Yuki mengeryit.
"Iya tahu? aku kan istri kamu?"
"Jadi, karena kamu milikku aku sekarang bebas dong meminta hak aku?"
"Hah! disini?"
"Ruang sebelah kosong?!!"
TBC
***
Hallo readers....
Apa kabarnya? Iya kamu, kamu yang sedang baca?'
Semoga sehat selalu ya...
Thanks you buat kalian yang udah baca setia sampai bab ini. Terima kasih juga buat kalian yang udah nge vote, nge komen dan selalu setia menekan like... makasih banyak lope lope deh...
Salah Meminang udah mendekati episode akhir nih gengs... beberapa part lagi akan end. Boleh corat coret di kolom komentar kalau ada pesan, kesan atau usulan mungkin untuk novel ini boleh banget... silahkan komen di bawah...