
Setelah makan malam, Yuki langsung menuju kamar untuk istirahat. Asher menemani istrinya sampai terlelap sambil mengusap perut buncitnya. Tak lupa menggumamkan doa-doa kebaikan untuk mereka berdua. Setelah istrinya terlelap, Asher tak lantas tidur karena masih terlalu awal waktu bagi nya.
Jam di dinding kamar baru menunjukan di angka delapan namun Yuki benar-benar sudah pulas dengan damai. Seperti biasa Asher akan merapihkan selimutnya lalu mencium kening istrinya baru ia bangkit keluar kamar menemui Pak Dika yang sudah menunggu di ruang kerja.
Asher merasa heran dengan sikap Pak Dika yang tidak biasanya memanggilnya, kalau sudah begini biasa urgent.
"Papa manggil? ada apa Pa?" tanya Asher sambil memposisikan dirinya duduk di sofa.
"Kenapa memelihara wanita ular di kantor?" Tuduh Pak Dika to the point.
"Hah! apa Pah, Zura maksudnya? Papa tahu?"
"Iya, siapa lagi. Papa tahu semuanya, Papa nggak suka dia ada di kantor kamu. Kemarin bikin ulah ribut sama pegawai yang lain. Ngaku-ngaku calon istri kamu. Kamu ada main di belakang Yuki?"
"Astaghfirullah... Pah, aku emang pernah salah tapi tolong jangan bikin asumsi sendiri yang tidak jelas. Aku menerima dia bekerja karena tak enak hati sama keluarganya. Asher sendiri juga bingung Pah, tapi sejauh ini aku ngantor emang dia nggak boleh menginjakan kaki di ruangan aku Pah, Alwi juga nggak ngabarin tentang keadaan Zura yang bikin onar biar besok aku urus saja."
"Papah cuma ingetin kamu kali ini sebagai Ayah dan juga sahabat, berhati-hatilah dalam bersikap sebab luka hati itu akan susah untuk di sembuhkan apalagi dengan kejadian yang kamu lakukan dulu jika kamu berulah bisa Papa pastikan kamu benar-benar akan berpisah dan kehilangan semuanya, dan Papa adalah orang pertama yang paling akan menyesal telah mempunyai anak seperti dirimu."
"Papa ngomong apa sih Pa? aku nggak mungkin khianatin Yuki Pah, aku sayang sama dia. Papa jangan raguin ini lagi dong Pah."
"Papah akan percaya kalau wanita ular itu sudah tidak bekerja di kantor mu lagi. Dia terlalu bahaya, Papa mencium gelagat yang bisa menghancurkan kamu dan keluargamu."
"Iya Pah terimakasih atas nasihatnya. Kalau sudah tidak ada yang mau di bicarakan aku permisi ke kamar." Perbincangan dengan Ayah selesai dan Asher kembali ke kamarnya.
Ceklek
...Pintu terbuka namun Asher tidak menemukan Yuki di ranjangnya. Sesaat kemudian terdengar suara gemericik air di sana....
"Sayang kamu di dalam! pintunya kenapa di kunciin," teriak Asher dari luar.
"Iya Mas sebentar," Yuki menyaut dari dalam kamar mandi.
"Lain kali kalau di kamar mandi nggak usah di kunci," ujar Asher seraya membantu istrinya menuju ranjang.
"Iya," Yuki mengangguk. Wajahnya sedikit kuyu mungkin karena habis bangun tidur dan masih ngantuk.
"Udah bobok lagi, sini Mas kelonin."
"Gerah Mas, tolong jangan deket-deket."
"Masa sih sayang ini AC nya udah di tambahin lho, kalau terlalu dingin akunya yang nggak kuat."
"Nggak usah di tambahin Mas, tapi kamu yang buat aku gerah jangan nempel-nempel."
"Ya iya... sayang kamu ngegemis banget sih pingin aku terkam," seloroh Asher menggoda.
Dua jam kemudian, saat Asher sudah terlelap Yuki malah terjaga bukan karena haus atau ingin ke kamar mandi tapi bagian perutnya sedikit nyeri. Yuki berusaha mengatur posisi mungkin posisi tidurnya miring kanan membuat adek yang di dalam enggan, ia pun mencoba miring kiri selang beberapa detik enakan tapi baru ingin terlelap kembali rasa nyeri itu datang lagi.
Asher yang merasa kasur bagian Yuki bergerak terus-menerus langsung siaga membuka mata.
Yuki terdiam sesaat mengambil napas lalu membuangnya. Ampuh, sesaat kemudian benar-benar hilang. Yuki pun berniat untuk melanjutkan tidur yang terganggu. Baru juga ia terlelap beberapa menit rasa nyeri itu kembali ada.
Astagfirullah... apa ini yang di namakan kontraksi mau melahirkan. Kenapa tambah sakit.
Kali ini Yuki benar-benar terbangun dari kasur dan mencoba menyamarkan rasa sakit dengan berjalan di sekitar ranjang. Asher yang mengetahui pergerakan Yuki pun langsung membuka matanya kembali dan ikut turun dari ranjang.
"Kamu kenapa sayang wajahmu tidak seperti biasanya."
"Nyeri perut aku Mas," Yuki meringis berusaha tersenyum di tengah-tengah rasa nyeri yang kadang ilang kadang muncul.
"Kamu mau lahiran? kita ke dokter sekarang, sayang."
"Nggak tahu Mas, cuma ini bentar-bentar nyeri, bentar-bentar ilang. HPL juga masih jauh dua minggu lagi masa udah mau lahiran?" Yuki merasa aneh dengan gejala tubuhnya yang seperti ini. Sebab kata Dokter biasanya kalau mau lahiran sedikit keluar lendir bercak darah tapi ini tidak.
"Awww sssshhh...." Yuki mengaduh, ia meringis menahan sakit.
"Mas kok tambah sakit ya? Astaghfirullah... Mas..." Yuki meraih tangan Asher yang sedang mendekat.
"Nggak salah lagi kamu mau melahirkan sayang, ayo ke rumah sakit." Asher segera membimbing istrinya berjalan sebelumnya ia sudah membawa perlengkapan yang akan di bawa.
"Bentar sayang aku ke kamar Mama ngabarin sebentar."
"Nggak usah Mas, ini masih jam satu malam mereka sedang istirahat lebih baik kita ke rumah sakit sekarang dan kabari Mama subuh nanti saja." Asher pun berfikir sejenak menimbang-nimbang perkataan istrinya.
"Mas... udah biarin Mama dan Papa istirahat dulu kita kabarin nanti, kasihan lho mungkin baru saja tidur."
"Iya sayang ayo ke rumah sakit sekarang," Asher memapah Yuki sampai ke garasi mobilnya.
Ssshhhh
"Mas... ya Allah... tambah saakiit..." Yuki mengaduh di tengah-tengah perjalanan, ia tidak bisa tenang dalam posisi duduk.
Asher semakin panik dan tegang melihat istrinya menahan rasa sakit. Mengemudikan mobil dengan menambah kecepatannya tapi tetap hati-hati dan taat aturan. Cepat aman sampai tujuan tentunya.
Begitu sampai di rumah sakit Asher langsung di sambut dengan perawat yang jaga disana. Sebelumnya ia sudah menghubungi Dokter Dara, Dokter yang menangani Yuki dan kebetulan sekarang jadwal piketnya di rumah sakit jadi Dokter Dara sudah stand by di sana.
Yuki langsung di bawa ke ruangan khusus untuk pemeriksaan ibu bersalin. Sesaat Dokter Dara mengecek namun karena masih pembukaan lima Dokter menyarankan untuk istirahat sejenak dan banyak berdoa.
"Ibu Yuki bisa tiduran miring bu supaya cepat pembukaanya. Kalau tiduran malah tidak nyaman bisa di bawa jalan-jalan sekitar ranjang atau melakukan aktifitas randon pas kelas ibu hamil juga bisa," ujar Dokter Dara panjang lebar.
"Iya Dok, terimakasih nanti kalau terasa nyeri lagi saya coba," jawab Yuki sedikit lega sebab sedang adem atau nyeri itu hilang.
Baru beberapa menit tenang Yuki kembali meringis sebab nyeri itu datang lagi dan sekarang panas, pegal sampai punggung.
"Mas.... ssshhhh.... tolong usap Mas, sini Mas punggung aku... Ya Allah panas. Saakiit Mas..." Yuki menenggelamkan wajahnya di dada suaminya dengan tangan Asher terus mengusap punggung Yuki yang katanya panas.
"Sabar sayang... istigfar yang banyak. Kamu pasti bisa." Asher mencoba memberikan kekuatan positif pada istrinya walaupun sebenarnya dalam hatinya tak kalah panik, antara kasihan, sedih, takut, cemas pokoknya tidak bisa di definisikan dengan kata-kata.