
"Pagi sayang... bangun..." Asher memberikan kecupan singkat selamat pagi untuk Yuki yang masih bergelung selimut.
Yuki mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan kesadaranya. "Jam berapa mas," lirih Yuki dengan malas.
"Baru subuh, ayo sholat dulu." Yuki segera bangkit dari pembaringan. Ia merasa tidurnya kurang nyenyak sebab semalam merasa kurang nyaman.
Setelah menunaikan dua rakaat subuh, Yuki kembali bergelung di bawah selimut sementara Asher terlihat sibuk dengan ponselnya yang entah menghubungi siapa.
"Nanti ke dokter jam berapa sayang? biar aku sesuaikan dengan schedule aku di kantor."
"Siang mas, tapi kalau mas sibuk sore juga nggak pa-pa sebelum aku berangkat ke kampus."
"Nanti sore ngampus? ya udah siang aja. Hari ini aku ngantor dari rumah aja."
"Emang bisa? ya kalau mas sibuk aku nggak pa-pa kok nggak usah di antar."
"Jangan sayang...aku mau ikut, mau nemenin kamu dan biar tahu perkembangan anak kita."
"Beneran sore aja mas, aku udah buat janji nih sama dokternya." Yuki menunjukan room chat antara dirinya dan dokter Dara.
"Oke deh kalau gitu mas ngantor setengah hari. Nanti siang jam satu ada meeting sama... AW group." Tuturnya merasa sungkan menyebut nama perusahaan Amar.
"Oh," Yuki hanya ber oh panjang dengan ekspresi datar.
"Aku mandi dulu," ujar Asher sambil lalu
Sementara Asher mandi, Yuki menyiapkan baju ganti untuk keperluan Asher ke kantor.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Asher berjalan mendekati Yuki yang tengah membereskan tempat tidur. Yuki mengalihkan pandangannya sebab pria itu hanya memakai handuk saja.
"Sayang... bajunya mana?" Asher sengaja mengkode istrinya yang terlihat sibuk itu padahal ia tahu pakaian yang sudah di siapkan.
"Itu mas, ada di atas meja." Yuki menunjuk di mana baju kantor Asher yang telah di siapkan.
"Sini bentar deh," Asher meraih tangannya lalu membawa ke arah baju tersebut.
"Tolong pakaiin sayang..." Yuki menurut, mengambil kemeja yang ia taruh di atas nakas kemudian segera memakaikan ke badan suaminya. Kini ia tengah mengancing satu persatu kemeja suaminya dengan perasaan gugup pasalnya Asher terus mengamati wajah Yuki lekat tanpa jeda.
"Udah," cicit Yuki ketika mengancingkan kemeja yang terakhir.
"Dasinya belum sayang," Yuki berjinjit untuk melilitkan dasi di kerah kemeja suaminya dan itu membuat jarak mereka sangat dekat.
Asher sengaja melakukan semua itu, sebenarnya ia tidak ingin membuat istrinya itu repot tetapi tentu saja ia mempunyai maksud yang lainya.
"Ki...." Arah pandang Asher tak lepas dari wajah dan bibir Yuki pria itu sangat mendamba untuk pagi ini.
"Jangan lihatin aku terus mas," sergah Yuki gugup.
Namun pria itu tak mengindahkan kegugupan Yuki, karena ia langsung menarik tengkuk istrinya dan menciumnya penuh dengan gairah. Yuki terengah di sela-sela mengambil nafas, suaminya itu melakukan lagi dan lagi mungkin kalau sekarang tidak harus berangkat ke kantor bisa di pastikan berakhir panjang.
Cup cup cup
"Udah mas, nanti kamu telat." Ujar Yuki malu
Asher mengulum senyum melihat wajah Yuki merona. "Kamu menggemaskan sayang, rasanya pingin libur sehari ke kantor terus...." Yuki melirik sebal
"Iya deh iya, tapi nanti malam di terusin ya?" pintanya antusias
***
Selepas dari kantor Asher langsung pulang ke rumah dan mengantar Yuki ke dokter. Ia lebih dulu mengantri sebab jam praktik Dokter Dara penuh pasien.
Setelah menunggu hampir setengah jam barulah seorang pegawai Dokter Dara memanggil namanya.
"Pasien atas nama Ibu Yuki Tanzeela." Panggilnya seorang perawat
"Iya," Yuki memasuki ruangan khusus pemeriksaan.
"Hallo selamat sore Bu Yuki," sapa Dokter Dara ramah. Sudah pertemuan yang ke tujuh kalinya jadi semakin akrab.
"Ibu Yuki timbang dulu berat badannya," ujar suster yang membantu Dokter Dara.
Setelah di timbang selanjutnya di ukur tekanan darahnya.
"Tekanan darah normal 110/70 mmhg, bb bagus seimbang," Dokter Dara bergumam-gumam sambil membubuhkan coretan di buku kehamilan.
"Ini suaminya Ibu Yuki ya? nah gitu dong Pak kalau istrinya cek up tuh di anter, biar sama-sama tahu perkembangan anaknya." tanya Dokter berseloroh
"Iya Dokter siap," Mereka saling melirik dalam diam.
"USG dulu ya bu Yuki, silahkan."
Dokter membimbing Yuki berbaring di atas brangkar, dan memulai pemeriksaan.
"Permisi ya Bu," Dokter menyingkap baju bagian perut dan menuangkan cairan gel yang terasa dingin, kemudian mengarahkan alat penghubung pemeriksaan dengan layar monitor.
"Wah kita lihat ya sekarang dedeknya kira-kira lagi apa ya?" Dokter menggeser-geser alat penghubung pemeriksaan.
"Hallo sayang... di tengokin Ayah sama Bunda loh ini, iyes... mukanya jelas ya ibu bisa di perhatikan di monitor."
Asher menggenggam erat tangan Yuki dengan pandangan tak lepas dari layar monitor mereka melihat dengan takjub bayi mungil yang sebentar lagi akan menyapa ke dunia.
"Say Hai dulu sayang... aku udah besar ni ayah bunda beratku udah 1500 gram, bagus. Panjangku 36 cm, oke. Usia 29 minggu. Detak jantung bisa dengar kan? bisa dirasakan."
Dug dug dug dug
"Semuanya sudah terbentuk ya bu, letak adeknya juga bagus sudah di bawah, ketuban oke, adeknya sehat, yah ini dia yang kita pingin tahu, adeknya insyaallah cowok bu."
Dokter hanya menyarankan jangan terlalu capek, sering memberi rangsangan pada bayi dengan sentuhan dan memberikan resep seperti vitamin dan penambah darah.
Sepanjang perjalanan pulang Asher dan Yuki terus mengulas senyum. Asher sangat bahagia, ia bahkan menggenggam erat tangan istrinya sambil terus menciuminya sementara tangan yang lainnya konsentrasi menyetir.
"Beneran ini langsung ke kampus? nggak capek?"
"Iya mas, udah biasa kali... capek sih tapi pingin cepet lulus juga."
"Makasih sayang, untuk hari ini. Nanti malam aku pijetin deh." Seloroh Asher sambil mengerling
Sesampainya di kampus Yuki langsung menuju kelas sementara Asher pulang terlebih dulu ke rumah Mama Rianti baru kemudian menjemput Yuki kembali. Asher sudah tidak tahan ingin bercerita dengan mamanya kejadian hari ini.
***
Asher sedang fokus berganti pakaian sedang Yuki sedang mandi. Ke duanya baru sampai di rumah selepas maghrib. Setelah makan malam bersama keluarga mereka pun kembali ke kamar untuk istirahat.
Malam semakin larut namun kedua insan yang tengah diliputi rasa syukur dan bahagia itu belum bisa memejamkan matanya. Baik Yuki maupun ke duanya masih sama-sama terjaga. Yuki masih sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya sementara Asher duduk di ranjang dengan gelisah.
"Sayang... kamu belum ngantuk? nggak capek apa? Hm."
"Belum ngantuk mas, masih mau nyelesain tugas kampus dulu."
"Besok aja lah udah malam ini." Asher bergelayut di pundak istrinya.
"Sedikit lagi mas, nanggung bentar lagi selesai." Ujar Yuki.
"Kamu istirahat dulu kalau ngantuk mas."
Hening beberapa saat.
"Sayang sini dong...jangan merhatiin buku dan kertas terus suami kamu juga butuh lho ini." Seloroh Asher menggoda
Yuki menurut ia mulai membereskan buku dan menutup laptopnya. Kemudian menyusul Asher yang sudah menunggu di atas ranjang.
Yuki berbaring di samping suaminya yang tengah mengamatinya tanpa jeda.
"Sayang.... a_aku...malam ini... boleh sentuh kamu?" Ucap Asher dengan wajah memohon.
"Please Ki... aku udah puasa lama ini...."