Salah Meminang

Salah Meminang
Part 79


Yuki memandang takjub isi rumah tersebut, kesan pertama yang ia rasakan adalah mewah dan luas. Desainnya elegan dengan gaya khas eropa dan lagi rumah ini sengaja di beli agar jarak ke kampus dan ke kantornya tidak terlalu jauh. Asher sudah mempertimbangkan hal itu. Awalnya untuk masa percobaan, Asher berfikir untuk tinggal di apartemen namun karena Yuki cukup sulit di ajak tinggal secara mandiri akhirnya rumah lah yang paling tepat, sebab mereka akan tinggal menua bersama.


"Mas, apa nggak terlalu luas ya?" ujar Yuki merasa rumahnya terlalu besar untuk ukuran tinggal bertiga dengan anaknya.


"Nggak dong sayang, lebih luas lebih baik. Aku sengaja memilih yang ada tamannya di belakang biar anak-anak kita bisa bermain di sana, bisa main bola, kejar-kejaran seru kali ya? Ah udah nggak sabar Sky besar dan bisa di ajak bermain bersama."


"Kamu kenapa diem, nggak suka?" tanya Asher bingung demi melihat ekspresi Yuki yang datar.


"Suka," jawab Yuki.


Entahlah, tapi melihat gazebo di pinggir kolam, taman yang luas dengan cerita anak-anak membuat tiba-tiba mata Yuki memanas. Ternyata dirinya sudah sejauh ini melangkah bersama Asher, bahkan sekarang sudah ada Sky, namun terkadang masih ada secuil rasa cemas yang mengganjal dalam hati.


"Hei... kok malah nangis, sayang kenapa? Kamu nggak mau tinggal di sini?"


"Apa kamu mencintaiku Mas?" tanya Yuki tiba-tiba.


"Sayang... kenapa kamu masih menanyakan hal itu, Kamu ragu dengan perasaanku. Yuki Tanzeela sayang... aku sangat mencintaimu sangat dan sangat mencintaimu selamannya." Asher langsung memeluknya dengan erat.


"Kamu khawatir sama sifat aku, aku minta maaf, ternyata sedalam itu rasa sakit itu membekas di hatimu. Pantas saja dulu kamu sangat membenciku, seandainya Sky tidak hadir tepat waktu, aku pasti sekarang sudah gila karena ditinggalin kamu."


"Masa," jawab Yuki datar.


"Lho ya iya sayang, kamu tahu nggak pertama kali aku dapat surat gugatan dari pengadilan saat itu juga rumah aku seperti mau rubuh karena aku meluapkan semua emosiku di sana. Aku hampir gila seandainya Mama tidak datang untuk menenangkan aku memberi semangat." Asher edisi curhat, entah mengapa ia ingin mengatakan apapun semua pada Yuki menunjukkan padanya bahwa dia sangat mencintainya.


"Hampir setiap malam aku seperti orang gila, memandangi foto kamu dengan penuh harap, enam bulan waktu itu kamu tidak pernah mau membalas telfon dan pesanku, tidak mau menemuiku aku benar-benar hampir gila dan stress kala itu. Beruntung Allah masih memberikan restu untuk kita bersama kembali jadi setelah semua itu berlalu secuil pun aku tak mampu menyakiti hatimu." Yuki menyimak.


Saat ini mereka sedang room tour. Memastikan istrinya menyukai setiap sisi, tatanan ruangan yang harus membuat Yuki nyaman dan betah tinggal di sini.


"Tolong jangan pernah ragu, aku mencintaimu Ki?"


"Iya mas?"


"Iya apa?"


"Hah!"


"Iya apa sayang...?"


"Aku juga mencintaimu Mas Asher...?"


"Kurang kenceng, sebutin sekali lagi."


"Tidak cukup sekali Mas, tapi setiap kali dan setiap saat aku selalu menyebut namamu dalam doaku."


Jleb


Detik itu juga Asher langsung memeluknya begitu erat, menciumi puncak kepala Yuki dengan sayang.


"Kamu selalu punya cara yang berbeda untuk membuat cinta kita indah, bersama mu hidupku penuh dengan warna dan aku merasa cinta itu tumbuh semakin dalam. Jadi kapan kamu mau aku ajak honeymoon sayang."


"Kalau itu... terserah Mas aja deh."


"Kamu mau nya liburan kemana? Pernah kepikiran atau punya impian setelah menikah bulan madu kemana gitu dulu, kita kan belum sempat pergi berdua. Aku rasa kita butuh itu sayang."


"Maroko, Paris, Maldives mungkin?" sambung Asher mengabsen tempat liburan romantis dunia.


"Kemana ya?" tanya Yuki lebih pada diri sendiri menimbang tempat wisata yang pas untuk di kunjungi.


"Home sweet home," jawab Yuki datar membuat wajah tampan Asher melongo.


"Di rumah asal sama pasangan itu terasa manis dan indah Mas, nggak harus pergi yang jauh apa lagi sampai ke luar negri."


"Sky yang menjadi bahan pertimbangan kamu?" tebaknya sok tahu.


"Salah satunya iya, tapi salah banyaknya beneran banget liburan nggak harus jauh asal bersama pasangan pasti bahagia."


"Hm... termasuk di sini?" bisik Asher sambil mengendus pipi Yuki membuat perempuan itu meremang seketika.


Yuki menghindari tatapan suaminya, ia menelan salivanya gugup ketika tanpa aba-aba Asher langsung menciumnya. Mengabsen dengan lembut seluruh rongga mulutnya.


"Mas... mesum mulu ih?" protes Yuki sebal setelah pagutan mereka terlepas.


"Suasananya mendukung sayang, aku mana bisa nganggurin cewe secantik kamu."


"Iya sayang iya, kalau capek istirahat aja."


"Pingin pulang," rengeknya.


"Lha ini kan sudah di rumah. Istirahat di sini sebentar rebahin aja kalau capek, mau aku pijetin."


"Mau, tapi nggak jadi ding entar aku nggak jadi tidur malah di tidurin."


"Ya habis gimana dong, kamu nya selalu membuat aku tegang."


"Nah kan mesum lagi, pulang ah ayok. Kangen...?"


"Sama?" godanya jail.


"Daharyadika Ausky sayang... puas."


"Belum! mau lagi." Asher terkekeh.


"Apanya?"


"Bibir kamu manis aku suka, aku candu, aku gila."


"Nggak jelas!" Yuki memutar bola mata malas.


"Ya udah ayo pulang, besok pindahan ya?"


"Secepat itu?"


"Iya biar bebas."


"Bebas?" Yuki membeo.


"Bebas bercinta tanpa ada yang gangguin."


Bugh


Yuki mendaratkan satu pukulan di dada suaminya.


"Adoh... sakit sayang?"


"Lebay!" jawabnya datar. Sementara Asher mengulum senyum sambil menggenggam tangannya.


"Kenyataan sayang, ini coba sentuh dada aku." Asher menggenggam tangan Yuki dan menempelkan nya di dadanya. "Setiap dekat dengan kamu apalagi dekat kaya gini, sering aku tuh menahan diri supaya nggak makan kamu, ya seperti saat ini. Hehe..."


"Iya, iya percaya. ASI aku penuh mas kita harus pulang. Sky butuh sumber kehidupannya."


"Ya udah ayo, ih gede banget kenceng. Aku kangen mainan itu. Sky terus yang di kasih aku kapan?"


"Ck, nggak sopan." Yuki mendelik.


Asher bergeming, pria itu malah terulur mengacak dengan gemas rambut istrinya.


Setelah melihat-lihat isi rumahnya, keliling ruangan demi ruangan akhirnya mereka pulang ke rumah Mama Rianti.


Dalam perjalanan pulang tiba-tiba suasana romantis di dalam mobil terganggu sebab ponsel Yuki berdering. Yuki mengambil ponselnya dan ternyata dosen pembimbing nya yang telfon. Yuki ragu antara ingin menerima atau mengabaikan.


"Kenapa nggak di angkat siapa yang telfon?"


"Dosen pembimbing aku Mas."


"Angkat dong sayang siapa tahu penting sampai nelfon mahasiswa nya gitu." Yuki nyengir.


Aneh nggak sih, Pak Bisma random.


"Boleh ya?" tanyanya hati-hati.


"Hm... eh siapa sih jangan bilang dosen pembimbing kamu si Bisma." Yuki nyengir.


Tuh kan... denger namanya aja udah ngegas