
Asher memandang lekat wajah Yuki yang masih menatap lurus ke depan mengamati kolam besar di depannya. Ikan-ikan gemuk berwarna orange itu sesekali menyapa mereka yang tengah duduk, ia berenang ke sana ke mari dengan lincah.
"Ki ...!" suara bass pria itu membuyarkan keasyikan lamunan Yuki.
" .... " Diam dan acuh
"Terima kasih ya atas waktunya hari ini." Yuki masih diam, enggan menanggapi, ia sok sibuk mengamati sekitar, jujur terlalu malas mengobrol dengan pria itu.
"Yuki ... kamu bertambah cantik saja."
Fix kalau ini, Yuki yakin dia sedang ngegombal.
Yuki masih setia dengan mengunci mulutnya, dia hanya melirik Asher yang sepertinya sedang susah payah merangkai kata untuk bicara. Yuki hanya ingin tahu seberapa sabar tuan arogan dan kasar itu menghadapi dirinya yang memang sengaja mengacuhkannya.
Yuki berdiri meninggalkan Asher yang tengah menikmati tubuhnya dengan matanya. Pria itu terus mengamati Yuki lekat dengan tatapan memuja. Membuat seketika Yuki merasa ditelanjangi dan merasa jengah.
Yuki berjalan ke arah balik dengan Asher mengekor dari belakang punggungnya. Tiba-tiba seorang anak yang sedang berlarian tak sengaja menyenggol Yuki yang tengah berjalan. Tubuh Yuki menjadi tidak seimbang dan refleks hampir terjatuh, untung Asher yang di belakangnya langsung sigap menangkap, jadi tidak sampai Yuki terjatuh ke tanah.
Cuma sekarang mereka berada di dalam radius yang sangat dekat nyaris tak ada jarak. Tubuh Yuki menempel sempurna di dada bidang Asher, Yuki jatuh ke dalam pelukan suaminya. Dalam seperkian detik mereka saling bertatap, namun begitu kesadaran Yuki pulih berada di situasi yang paling tidak menguntungkan baginya, ia langsung berusaha bangkit dan mengalihkan pandangannya.
Keduanya tidak munafik, berada dalam jarak yang sangat dekat membuat hatinya menghangat. Terlebih untuk Asher, dia sudah tersenyum-senyum dalam hatinya mengucapkan syukur pada anak yang tidak sengaja menyenggol Yuki. Akhirnya hari ini kesampaian juga memeluk istrinya walaupun cuma sebentar dan tidak disengaja, ia cukup senang.
Sedangkan Yuki merasa pipinya memanas. Asher yang terus mengamatinya dan kejadian tak terduga lainya membuat Yuki merasa hatinya ada getaran aneh yang berbeda. Dulu pernah ada sedikit rasa, mencoba belajar mencintai yang sudah halal baginya. Namun karena kehadirannya terus dianggap tidak nyata, Yuki berusaha menguburnya agar tidak terlalu kecewa dan luka.
Namun, sepertinya Sang Maha Pencipta mempunyai cara tersendiri untuk tetap menghubungkan mereka dengan menitipkan anak di rahim Yuki. Shock, marah, benci dan menyalahkan takdir memang pernah terlintas dalam otak dan benaknya. Sungguh ia hanya manusia yang banyak dosa dan pernah putus asa. Semoga ampunan-Nya masih terbuka.
"Maaf," ucap Yuki lirih, ia membuang muka ke arah lain dan segera beranjak dari dekapan suaminya.
Asher diam saja, ia hanya terus tersenyum senang mengamati wajah Yuki yang merona.
"Asher, Yuki, ternyata kalian di sini? Mama cariin dari tadi sayang, ayo kita makan siang dulu. Kamu pasti udah lapar ya?" Mama menggandeng tangan Yuki
"Belum terlalu kok Ma, tadi waktu berangkat udah sarapan."
"Ini 'kan sudah siang, udah jam dua belas lewat malah. Orang hamil itu mudah lapar sayang."
Mereka menuju ruang makan yang sangat luas dan besar dengan banyak anak-anak yang siap makan siang bersama. Pemandangan Yuki langsung menyapu ke sisi ruangan di mana banyak anak-anak kecil yang menatapnya.
Mereka makan bersama dalam suasana santai dan nyaman. Setelah makan bersama dilanjutkan beramah tamah dengan mengenal anak-anak di sana. Yuki sedang mengamati anak-anak yang tengah mengerubuti Asher, pria itu sedang membagikan bingkisan paket perlengkapan sekolah. Mereka sangat antusias, tanpa sadar senyum Yuki merekah merasa lucu Asher yang terkesan kaku itu digemari banyak anak-anak di sini.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada bocah yang masih kecil, mungkin sekitaran satu tahun, anak itu sedang dalam gendongan Bu Yani. Yuki pun penasaran dan mendekat, merasa ingin tahu siapakah gadis kecil yang sangat imut itu.
"Namanya siapa Bu? Dia manis sekali, apakah anak panti juga?" tanyanya seraya mengambil duduk di samping Ibu panti.
"Putri, namanya putri, iya dia anak panti. Sejak kecil ibunya menitipkan di sini karena ia sudah berpisah dengan suaminya dan ibunya harus bekerja. Tak ada yang menjaga jadi dia menyerahkan untuk kami rawat," jelas Bu Yani.
"Iya, semoga besarnya dia ikhlas. Nak Yuki sedang mengandung berapa bulan? Semoga sehat selalu ya, dan langgeng hubungannya, harmonis bahagia selalu."
Deg
Hati Yuki tiba-tiba terasa mencelos, seonggok daging itu terasa nyeri, terlebih melihat anak-anak di sana tanpa orang tua. Dia bahkan berencana berpisah dengan suaminya, itu artinya anaknya juga nantinya akan terpisah dari salah satu dari mereka. Tiba-tiba dadanya menjadi semakin sesak, seandainya tidak di tempat keramaian ia pasti sudah menangis.
"Aamiin...." Asher yang tak jauh dari tempatnya berdiri tiba-tiba menyeru, mengaminkan doa ibu panti. Asher merangkum bahu Yuki dari belakang.
"Terima kasih Bu, do'anya, semoga Allah mengabulkan doa-doa ibu dan semua anak-anak yang ada di sini."
"Sama-sama mas Asher, kami yang seharusnya sangat berterimakasih pada keluarga Anda, berkat bantuannya setiap bulan anak-anak di sini yang kurang beruntung mendapat penghidupan yang layak."
"Sudah seharusnya kita saling membantu Bu, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kelancaran usaha agar terus bisa membantu anak-anak."
"Pasti mas, doa kami menyertai Anda sekeluarga."
Waktu sudah hampir sore dan itu artinya mereka sudah harus pulang. Namun, sebelumnya mereka berpamitan dulu pada semua anak-anak dan pengurus panti. Tiba waktunya pulang, eh tiba-tiba Papa Dika datang, beliau sengaja mampir karena kebetulan sedang urusan bisnis di sekitar panti, sekalian menjemput mama Rianti.
"Itu Papa udah jemput, aku pulang bareng Papa ya, kalian nggak pa-pa 'kan, pulang berdua," ujar mama santai.
Wajah Yuki yang semula terlihat santai dan tenang berubah jadi keruh. Nggak ada pilihan lain Yuki terpaksa mengikuti pilihan mama. Sementara Asher dalam hatinya begitu senang, mamanya memang selalu bisa diandalkan, beliau yang paling tahu isi hati putranya.
Mereka akhirnya memutuskan langsung pulang saja karena hari sudah sore dan hampir gelap. Ditambah langit dengan pekatnya awan seperti ingin turun hujan.
Dan benar saja, baru perjalanan selama dua puluh lima menit air berjatuhan dari langit menyambangi bumi. Membuat mobil yang dikendarai Asher berjalan dengan kecepatan lambat. Jalanan yang licin dan bergelombang tak ayal membuat si pengemudi harus ekstra hati-hati. Di tambah ada pohon tumbang yang menghalangi jalan membuat seketika ia harus menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Yuki merasa sedikit tidak nyaman.
"Ada pohon tumbang, Ki, di depan. Kita nggak bisa lewat. Hujannya gede banget lagi, kamu dingin nggak Ki? Kalau dingin AC nya aku matiin."
Yuki mengangguk, detik berikutnya ia seperti meringis dengan memegangi perutnya.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" cemas Asher menilik wajah Yuki.
"Sepertinya kram Mas, mungkin karena seharian aktifitas full dan juga pulang pergi gini jadi dedeknya nggak nyaman di perut." Yuki masih mengatur napas, kram di perutnya semakin nyata.
Asher segera menurunkan sandaran joknya agar Yuki bisa sedikit nyaman untuk duduk.
"Masih sakit? Sabar ya, kita tidak bisa lewat, nanti coba cari cara minta bantuan barangkali ada mobil yang lewat."
"Sshhh.... " Yuki mendesis sakit, matanya terpejam dengan tangannya memegangi perutnya.
Asher bingung, dia panik sendiri. "Maaf Ki," setelah meminta maaf dengan maksud memohon izin, Asher langsung mengelus perut perempuan itu yang masih kram.