Salah Meminang

Salah Meminang
Part 72


"Apa mau kamu?"


"Kamu bilang mau ngasih apa aja pada seseorang yang telah menolongnya."


"Ya, asal aku sanggup."


"Cukup mudah dan kamu pasti bisa mengabulkannya."


"Nggak usah ribet, katakan mau uang berapa banyak."


"Sombong banget Pak? Nanti kalau saya minta perusahaan Bapak, Bapak bisa bangkrut terus gulung tikar miskin, ya kasihan Yuki kalau Bapak miskin?"


"Nggak akan, investasi aku banyak. Mau apa? Berapa? Asal jangan pernah ganggu hidup aku lagi sama Yuki."


"Ck, ya nggak bisa gitu dong. Bapak tahu nggak di tubuh Yuki itu ada darah aku yang mengalir, walaupun kita tidak bisa bersama tapi setidaknya aku pernah menjadi orang yang paling berharga dan berjasa dalam hidupnya. Bersatu dalam nadi yang sama, sweet banget ya..." Amar senyum-senyum sendiri dengan pikiran menerawang.


Brak!!


Terdengar gebrakan meja yang cukup keras, mereka saat ini sedang duduk di kantin rumah sakit. Pengunjung di sekitar sampai terpusat pada mereka berdua.


"Astaga... kira-kira dong, bikin anak orang jantungan aja."


"Kamu mikir apa? Awas aja sampai mikirin istri saya."


"Itu Anda tahu? Hehe... Emang boleh saya bayangin istri Anda."


"Mati aja sana, hidup lo ngrecokin rumah tangga orang aja dari dulu."


"Begitu ya caranya balas budi, nyumpah serapahin orang. Bagaimana kalau Anda duluan yang mati, wah... pasti aku orang yang paling senang karena bisa mendapatkan jandanya Yuki."


"Buang waktu ngomong sama lo, nggak guna," Asher sedang tidak ingin berbasa-basi apalagi bercanda.


Emang dasar sifatnya Amar yang usil, dia hanya tidak tahu bagaimana mencairkan suasana yang mencekam. Saat ini orang yang mereka cintai sedang kritis di rumah sakit, bisa di bayangkan betapa hati dan pikirannya terpusat pada dia dan sangat takut mendengar kabar yang mungkin saja bisa terjadi. Jadi, untuk menghibur diri sekaligus menghibur rival tentu Amar memerlukan guyonan yang sejatinya tidak berguna sama sekali.


"Aku mencintai Yuki..." Pengakuan Amar membuat Asher yang hendak beranjak terdiam. "Aku ingin dia bahagia, dicintai dan di sayangi. Apakah kamu sanggup? Kalau kamu tidak bisa berjanji untukku, jangan salahkan aku kalau suatu hari nanti aku benar-benar mengambilnya dari mu. Entah dengan cara yang baik atau bisa jadi dengan cara suka-suka."


"Anda lancang Bung, mengutarakan perasaan terhadap pasangan orang lain. Tentu saja aku mencintai istriku, akan menjaga dan membuat Yuki bahagia sepanjang hidupnya," kata Asher lantang.


Amar tersenyum masam mendengar pernyataan rivalnya.


"Itu adalah salah satu mau aku. Salah duanya, aku ingin... menjadi ayah untuk Sky."


"Breng...sek!! Kamu bener-bener menguji kesabaran saya."


"Kamu masih saja suka marah dan emosian. Pantas saja Yuki dulu kabur-kaburan, selain tukang mendua kamu orang yang tempramental."


"Mau kamu apa Amar? Mau kamu apa?!!!"


"Nggak usah teriak." Amar memanggil seorang yang mengenakan baju hitam dan menyuruhnya mendekat.


"Ini pengacara saya. Dia yang akan mampu menuntaskan masalah kita sebagai tanda balas budi terhadap saya, saya yakin Anda tidak suka hal ini tapi saya menyukainya, dan itu cukup membuat hidupku menarik. Seperti kisah cintaku dengan Yuki, tarik menarik sehingga menimbulkan arus positif yang membuat kita menyatu dalam angan-angan saja. HAHAHA..." Amar tertawa bak orang bodoh.


"Pria GILA." Asher menatap tajam.


"Jadi saya punya point tiga dan salah satunya harus bisa kamu kabulkan sebagai tanda kamu telah lunas membayar budi."


"Yang pertama aku ingin Yuki menjadi istriku."


"Gila, nggak akan pernah terjadi." Asher menatap tajam pria menjengkelkan di depannya.


"Oke, lanjut point yang ke dua. Aku ingin di beri kesempatan satu minggu atau 168 jam full tinggal berdua sama Yuki."


"Aish... sudah pasti kamu tidak akan setuju, padahal aku sudah membayangkan tidur di sampingnya dan bisa memeluknya pasti sangat menyenangkan."


"Kamu bosan hidup!?"


"Tentu saja saya mau panjang umur, sans... minum dulu..."


"Banyak bacot lo, bikin gue muak! Nggak ada yang bener yang keluar dari mulut lo."


"Terserah, tapi kalau yang pertama dan yang ke dua Anda tidak bisa mengabulkan masih ada satu point lagi," kata pria itu santai.


Asher menatap tajam pria yang masih bermuka santai dan datar di depannya. Entah apa isi kepalanya tetapi aura ketidak nyamanan langsung menguar di sekitaran.


"Aku mau kelak... menjodohkan anak-anak kita, kalau aku tidak bisa menjadi ayah sambungnya Sky setidaknya aku menjadi ayah mertuanya Sky." Kali ini Asher melongo di buatnya, detik berikutnya...


"HAHAHA...." Asher tertawa sumbang.


"Bangun Bung! Kamu benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana ceritanya kamu mau menjodohkan anak-anak kita. Woi... bangun!! Nikah aja belum udah mikir anak."


"Ya gue mau nikah lah, gue bakalan tagih janji lo nanti 20 tahun lagi mungkin atau bisa kurang atau lebih."


"Ogah!! Najis besanan sama lo."


"Terserah... kamu harus memilih dari salah satu ketiga point tersebut."


"Anak-anak kita belum tentu mau di jodohkan. Lagian sekarang, aja udah generasi Z apalagi besok untuk anak-anak kita?"


"Gue nggak mau tahu, perjanjian ini aku anggap sebagai balas budi dan harus lo tepati, dan hanya pihak aku yang bisa membatalkannya."


"Saya berdoa semoga istri kamu kelak mandul dan tidak punyak anak. Jadi tidak usah repot menjodohkan anak-anak kita."


"Mulut Anda jahat!!"


"Kamu yang keterlaluan, apa-apaan hanya kamu yang bisa membatalkan ini tidak adil."


"Lho, ya jelas lah... kan kamu yang berhutang? Jadi deal ya... kamu ambil point yang ke tiga, kalau sampai kamu ingkar aku akan penjarain kamu. Pak suratnya Pak." Amar menyeru pada pengacara di sampingnya.


"Gila, kamu benar-benar nggak ada hati. Gue sumpahin mati sebelum nikah."


"Bacot lo, kamu aja sana yang mati biar Yuki jadi janda dan gue bilang alhamdulillah..."


"Be de bah, manusia setan!!"


"Nggak usah berisik tanda tangan!!" Asher menandatangani dengan merapalkan doa kebaikan. Seandainya kelak benar-benar anaknya berjodoh semoga mendapatkan jodoh yang terbaik untuk putra putrinya.


"Yes." Amar memandang puas kertas dengan coretan penampilan Asher.


"Ingat, kita punya kerja sama perusahaan, sebenarnya aku tuh malas banget kerjasama sama kamu lagi, tapi berhubung kamu itu harus mencukupi keluarga untuk calon mantu aku, jadi aku tidak akan mengakhiri kerja sama antara kita."


"Terserah, lo udah lama ngebacot pergi sana."


"Deal." Amar mengulurkan tangannya dan dengan malas Asher menyambutnya.


"Asher! Kamu di sini?" Mama Rianti menyeru.


"Yuki sudah sadar, dia nanyain kamu sayang."


"Alhamdulillah... iya Mah." Asher bangkit dari kantin dan langsung melesat menuju kamar perawatan.


Sama halnya Amar yang juga merasa lega, senyum Amar langsung terbit begitu mendengar Yuki tersadar dan terbebas dari masa kritisnya. Dalam hatinya dia berdoa semoga Yuki selalu bahagia.