Salah Meminang

Salah Meminang
Part 41


"Aku minta maaf, Ki?" Asher langsung memohon maaf kepada Yuki yang sengaja membuang muka ke arah lain. "Tapi ini benar dari hati, aku mau memperbaiki diri. Tolong beri aku kesempatan yang kedua."


Yuki memejamkan matanya sebentar lalu menghembuskan nafas panjang. Di tatapnya seseorang yang masih berstatus suaminya itu dengan perasaan tak menentu. Walaupun tidak suka namun ia tetap harus menghadapi nya bukan? Setiap kali melihat Asher luka yang belum kering itu kembali menganga dan tak bisa di hapus begitu saja. Sesakit ini kah rasanya, iya memang sangat sakit bahkan sangat membekas sampai ke jiwa.


Yuki menatap Asher lekat, mata mereka saling bersirobok lalu kemudian Yuki mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya berkata


"Maaf aku tidak bisa, untuk saat ini aku butuh waktu untuk sendiri," ujar Yuki pelan seraya memejamkan matanya, dan tak terasa buliran bening itu sudah berdesakan keluar.


"Sekalipun kamu mengandung anak kita, apakah kamu tidak mau berubah pikiran." Yuki menatap Asher dengan mata basah entahlah tetapi perpisahan bagaimana pun bentuknya selalu berakhir menyakitkan.


"Aku nggak hamil, tapi jika memang Allah menghendaki dia hadir di rahimku, akan aku jaga dan aku rawat dengan limpahan kasih sayang. Jangan khawatir, aku tidak akan membencinya walaupun kamu ayahnya."


Kali ini Asher yang menggeleng lemah, jujur ia tidak siap mendengar keputusan Yuki tentang penolakan. Namun sepertinya maaf masih jauh dari jangkauannya.


"Aku ingin kita membesarkan sama-sama Ki."


"Jangan khawatir aku bisa menjadi ibu sekaligus ayahnya."


"Tapi aku tidak mau pisah dengan kamu dengan anak kita."


"Kamu bisa menemuinya nanti setelah anak ini lahir ke dunia."


"Ki... aku tidak bisa, aku tidak bisa menalakmu."


"Kenapa, kenapa serumit itu mas? tolong, aku lelah."


"Aku mencintaimu Ki... aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Maaf."


"Aku akan semakin membencimu kalau kamu tidak mau melepasku."


"Apa kamu bahagia bila hidup tanpa aku?"


"Tentu, pasti aku bahagia..." Jangan di tanya bagaimana hati Yuki saat ini, sakiiit.... di persimpangan dilema. Bukan Yuki tak mau memaafkan sungguh dalam hubungan ini juga Yuki banyak kekurangan dan salah, kepada Tuhan dan pasangan. Dia hanya terlalu takut untuk mencoba kembali, terlalu takut menempatkan perasaan kepada orang yang salah, terlalu takut untuk jatuh cinta dan terlalu takut untuk kecewa.


Jujur untuk saat ini, Yuki butuh waktu untuk sendiri. Butuh waktu untuk menata hati kembali. Biarlah ia menjadi janda muda sekali pun dari pada harus hidup dengan penuh tekanan, penuh kekecewaan.


"Baiklah aku akan melakukan nya kalau itu bisa membuat kamu bahagia dan memaafkan semuanya. Tapi tolong kelak jangan pisahkan aku dengan anak kita."


"Kamu bisa menemuinya, aku tidak akan mencegah ia dekat denganmu. Kamu tetap ayahnya dan aku tetap ibunya." Asher menangis sakit yang teramat menyayat hati. Yuki nya masih teguh dengan pendiriannya. Ternyata sedalam ini dia terluka sekalipun ada pengikat dengan kehamilannya.


"Aku berharap kamu berubah pikiran di sidang yang selanjutnya." Ujar Asher menatap Yuki sendu. Yuki terdiam sesaat lalu menegaskan kembali


"Tolong lepaskan aku, hadir dan ikuti persidangannya. Supaya nanti aku bisa bercerita dengan anak kita ayah pernah sangat mencintai bundanya."


Perpisahan ternyata sesakit ini, Asher tidak pernah menyangka keputusan Yuki benar-benar ingin pisah darinya. Tapi setelah berbicara dari hati ke hati, dan pada akhirnya dia tidak bisa memaksa bila Yuki tersiksa. Untuk sementara ini ia akan berpasrah diri saja mengharap keajaiban memohon pada Sang Pemilik Kehidupan yang bisa membolak balikan hati manusia.


Yuki diam saja tidak menanggapi apapun yang di ucapkan Asher kali ini. Mungkin keputusannya kali ini akan di anggap bodoh karena memilih berpisah dalam keadaan hamil namun ia tak peduli, baginya ini akan lebih baik untuk dirinya. Butuh waktu, dan entah sampai kapan itu Yuki sendiri tidak tahu.


***


Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, selama itu pula Asher selalu menjaganya. Pria itu memang sudah banyak berubah entah karena memang sudah belajar mencintai atau hanya karena tuntutan kewajiban.


Dan hari ini Yuki sudah boleh pulang ke rumahnya. Namun ada yang berbeda ketika ia sampai rumah, karena penghuni rumah ini menjadi bertambah. Terlihat ada seseorang yang sangat mirip sekali dengan kak Zumi menyambut kedatangan Yuki di rumah Ayah. Ia dia adalah Zura adik kandung Zumi yang dulunya tinggal bersama Ayah kandungnya tapi sekarang sedang ada di sini.


"Yuki ya?" Zura menyusul ke kamar setelah Bunda mengantarkan Yuki ke kamarnya dan Ayah terlibat perbincangan yang serius dengan Asher di ruang tamu.


"Ayah, aku ingin minta maaf pada keluarga dan khusus nya pada Yuki, aku salah dan banyak dosa tapi sungguh aku hanya manusia biasa yang bisa saja khilaf. Aku hanya ingin pamit, mungkin tidak bisa sering-sering ke sini dan aku titip Yuki dan anak ku ayah, aku kembalikan pada Ayah walau dulu aku tidak pernah meminta. Dan ini mungkin kesalahan terbesarku aku, karena aku dulu tidak meminangnya dengan baik, tidak meminta secara langsung pada Ayah. Mohon Ayah dan keluarga mau memaafkan aku."


Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, bukan Asher yang minta tapi Yuki yang memang tak mau. "Aku berharap suatu hari nanti aku bisa mengambilnya kembali." Mata Asher sudah berkaca-kaca, dulu ia meminta meminang Zumi tapi ia sekarang harus mengembalikan Yuki, kenapa salah meminang semenyakitkan ini.


Dan setelah semuanya dibicarakan dari hati rasanya menjadi lega walaupun sesungguhnya perpisahan ini bukan kemauannya. Tapi ia tidak bisa seegois itu bukan, kalau pada akhirnya pasangan kita yang terluka. Melepaskan bukan berarti tidak mencintai, karena nama Yuki sudah mengisi penuh di relung hati hatinya. Ia akan mencintai sepanjang waktunya, sepanjang usianya sampai akhir. Dia bahkan berjanji pada diri sendiri tidak akan menikah lagi selain dengan Yuki.


Dan untuk yang terakhir kalinya Asher meminta izin kepada Ayah untuk menemui Yuki sebelum ia benar-benar berpisah. Asher menghampiri Yuki diantar oleh Ayah ke kamarnya.


"Yuki... Asher mau pulang, ia mau pamit." Ujar Ayah memberi tahu di balik pintu, Yuki mengangguk saja dengan tersenyum tipis tak ada kata perpisahan hanya saling bersitatap seakan mata mereka yang berbicara.


Beberapa detik kemudian, Asher mendekat ia meminta izin kepada Yuki untuk yang terakhir kalinya.


"Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali sebelum aku benar-benar melepasmu." Yuki mengangguk, ia sudah memantapkan hati dan tak ada sedikit pun keraguan, bahwa untuk saat ini biarlah tetap begini.


"Aku berharap kita ada jodoh di kemudian hari." Asher memeluk Yuki cukup lama, ini sangat menyakitkan baginya bahkan air mata itu lolos dari seorang Asher Daharyadika. "Aku pamit tolong jaga anak kita," Asher mencium kening Yuki lalu berjongkok mencium perut Yuki yang masih rata meraba dengan telapak tangannya.


"Baik-baik di dalam perut Bunda sayang, Ayah menunggu kehadiranmu disini. Jangan bikin Bunda susah dan merasa sakit, sehat selalu sayang." Cup cup cup Asher mencium-cium perut Yuki dengan mata yang basah. Sementara Yuki sendiri sekuat hati untuk tidak menangis lagi, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan diri.


"Semoga kamu bahagia dengan keputusan ini Ki, I love you always and will love you forever."


TBC


Hallo readers....


Aku mau kasih rekomendasi buat kalian nih. Jadi berhubung genre novel ini memang cukup menguras emosi dan menguras air mata jadi author saranin setelah membaca "Salah Meminang" langsung meluncur ke "Love You More" di sana kalian akan di buat ketawa sama babang Zidan dan Anna di jamin senyum-senyum sepanjang hari.


Ada yang sudah merasakan sensasi dari Salah Meminang ke Love You More boleh komen di bawah kolom komentar.


Bye love you sejagat...


Salam Vren satu hati....