Salah Meminang

Salah Meminang
Part 70


Asher menyorot layar ponselnya dengan rahang yang mengeras. Konsentrasinya buyar sudah, dadanya sedikit sesak ada perasaan ngilu yang teramat. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ia tak kunjung pulang. Bahkan Yuki menghubunginya berkali-kali namun tak ada jawaban. Asher sengaja mengabaikannya.


Pria itu ingin pulang namun demi menahan dirinya untuk tidak marah pada istrinya, ia akan pulang sedikit larut supaya setelah sampai rumah istrinya sudah terlelap. Asher merasa mencintai seseorang tapi seseorang yang dicintainya menaruh harapan dengan orang lain. Sakit, sesakit ini rasanya. Mencintai seseorang yang masih belum bisa move on dengan masa lalunya.


"Pak sudah waktunya pulang, Bapak belum mau pulang?" Alwi menginterupsi atasannya yang ia yakini sedang banyak pikiran. Semenjak sore tadi, Tuannya itu menatap ponselnya dengan muka merah padam.


"Kamu bisa pulang dulu nggak pa-pa? Aku masih mau di sini." Asher malam ini terasa berat untuk pulang.


Sepeninggalan Alwi Asher termenung sendiri. Ada rasa rindu yang teramat, wajah Sky yang selalu terbayang di ingatannya membuat pria itu bangkit dari duduk dan bersemangat kembali. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam Asher akan pulang sekarang, iya yakin Yuki sudah tidur sekarang.


Sementara Yuki menunggu di rumah dengan perasaan gelisah. Asher selalu mengabarinya kalau ada lembur, tapi malam ini jangankan mengabari mengangkat telfonya pun tidak, pesan Yuki juga hanya di read doang tanpa balasan.


Yuki akhirnya memberanikan diri menghubungi Alwi, setelah mendapatkan informasi dari Alwi, Yuki langsung bergegas ke bawah untuk menemui Mama Rianti.


"Mah aku titip Sky ya? Aku mau ke kantor Mas Asher belum pulang," ucap Yuki berusaha untuk menetralkan rasa cemas nya.


"Tapi ini sudah malam sayang, apa tidak sebaiknya kamu di antar saja."


"Nggak usah Mah, aku bawa motor saja." Yuki mengenakan jaket, sarung tangan dan juga masker. Tak lupa kaos kaki karena merasa dingin. Ia berpamitan dengan perasaan yang berkecamuk. Ia takut Asher salah paham dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Tuhan... ampuni aku yang tidak pandai membawa diri. Bodoh kamu Yuki... kamu membuat suamimu marah. Lihatlah bahkan dia tidak ingin pulang.


Yuki terus merutuki kebodohan dirinya yang lagi-lagi membuat kesalah pahaman Asher semakin menjadi. Malam hari yang redup, sedikit gerimis tak menghalangi niatnya untuk tetap menerjangnya. Yuki mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di hindari. Tiba-tiba lampu mobil menyorot dari arah yang berlawanan membuat fokus Yuki ambyar karena silau lampu mobil yang terang.


BRAKKK....!!!


Motor yang di kendarai Yuki tertabrak dari arah berlawanan karena sempat oleng. Tabrakan tak bisa di hindari, Yuki terpental tubuhnya membentur pembatas jalan. Lalu lintas seketika tersendat total, macet sepanjang jalan. Tempat terjadi kecelakaan langsung di datangi polisi dan berusaha menghubungi keluarga korban.


Sementara Asher sedang perjalanan pulang dengan mendengarkan musik yang terdengar mengalun dari speaker radio mobilnya, sebagai teman memecah keheningan di tengah kemacetan.


Karena macet terlalu lama, ia pun menjadi sedikit kepo dan ingin tahu ada apa yang menyebabkan kemacetan terjadi. Asher sengaja membuka kaca jendelanya dan mengintip ke luar.


"Mas, itu macetnya panjang banget kenapa ya? nggak biasanya jam selarut ini macet gini." Asher mencoba bertanya pada seseorang pengendara mobil yang lainya yang sama-sama terjebak macet dan menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Kata petugas patroli, denger-denger ada kecelakaan Mas di depan, motor ketabrak truk. Cewek, masih muda kasihan banget," gumam seorang lelaki yang berada di sebelahnya.


"Owh... pantes macet total."


"Sabar aja Mas, sepertinya akan lama. Mas baru pulang kerja? Lebih baik hubungi orang rumah Mas biar tidak merasa cemas." Cowok di sampingnya itu terlihat lebih dewasa dan sok akrab.


"Makasih Mas." Asher mengambil satu batang rokok dari bungkusnya, ia pikir merokok boleh juga solusi kejenuhan di tengah kemacetan.


Asher hendak menyalakan ujung rokoknya, tiba-tiba ingatannya langsung melayang pada istrinya. Ia menjadi sangat rindu, walaupun ada rasa kecewa dan sendu, namun rasa cinta itu lebih mendominasi.


Lama Asher terdiam dan terjebak macet, sampai akhir nya sedikit demi sedikit mobil itu mulai berjalan teratur mengikuti yang di depannya. Perlahan mobil Asher dan mobil yang lainya bergerak maju teratur.


Drt drt


Ponsel Asher beberapa kali bergetar, ia melirik sekilas. Berhubung sedang terjebak macet akhirnya ia memutuskan untuk menilik ponsel nya sejenak. Nama istrinya terpampang di layar ponselnya. Asher menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya mengusap tombol hijau pada layar.


"Selamat Malam." Suara di sebrang sana terdengar maskulin.


"Iya, maaf ini siapa ya? bukankah ini nomor ponsel istri saya," jawab Asher merasa bingung.


"Maaf dengan saudara siapa? kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa seseorang yang mempunyai ponsel ini mengalami kecelakaan," tukas kepolisian singkat jelas.


"APA!!!?"


Sumpah demi apapun Asher langsung lemes seketika. Ingatannya tertuju pada kata-kata pria tadi. 'Cewek muda ketabrak truck.' Bayangan yang tidak-tidak langsung menguasai pikirannya.


***


Asher berlari-lari di Koridor rumah sakit dengan hati yang berkecamuk hebat. Rasa bersalah langsung menghantui dirinya. Ia takut sekali terjadi sesuatu pada istrinya. Mama Rianti dan Pak Dika datang menyusul dengan wajah yang tak kalah panik. Orang tua Yuki sedang perjalanan ke rumah sakit.


Asher duduk di kursi tunggu dengan raut cemas. Ia bahkan tidak bisa memaafkan dirinya kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya. Menurut Mama, Yuki nekat ke kantor malam-malam karena merasa cemas terhadap dirinya yang tak kunjung pulang dan memberi kabar. Asher menyesal, merutuki dirinya yang tak kunjung mengangkat telfon atau membalas pesannya.


Dokter masih memeriksa Yuki sementara Asher terus merapalkan doa untuk keselamatan istrinya. Asher tergugu, ia menangis di pundak Mama Rianti.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Dokter yang menangani Yuki ke luar dari ruangan dengan wajah sendu. Asher langsung menghampiri Dokter itu di ikuti Mama dan Papa yang sudah tidak sabar mengetahui kondisi Yuki.


"Dok bagaimana keadaan istri saya? Apakah lukanya parah?" Asher langsung memberondong pertanyaan tak sabaran. Siapapun yang pernah di posisi Asher pasti melakukan hal yang sama. Pria itu menatap Dokter dengan raut cemasnya.


"Benturan di kepalanya cukup parah, untung korban segera di bawa ke rumah sakit. Untuk saat ini pasien kritis mohon untuk tetap tenang dan sabar. Dokter akan menanganinya dengan sebaik mungkin."


Lemas, tubuh Asher bagai tak bertenaga, ia limbung ke samping dan langsung di papah Papa Dika. Rasanya semangat itu menguap begitu saja, buliran bening dari matanya sudah berdesakan keluar membasahi pipi yang nampak sayu.


Rapuh bagai tak bersayap.