Salah Meminang

Salah Meminang
Part 66


Warning 21++


Yuki berjalan cepat menuju kamar setelah menyapa Mama Rianti. Ia tidak bisa berbuat banyak kalau Mama sudah bilang A maka tidak akan menjadi B. Terlalu sungkan untuk mendebat terlebih ini soal anak, lagian tidak ada yang harus di debat kan secara garis besar Mama Rianti sangatlah pengertian. Lihatlah bahkan sekarang rela mengasuh Sky dan mengizinkan bayi itu tidur bersamanya supaya apa? Antara Yuki dan Asher ada waktu berdua. Sungguh mertua yang manis dan pengertian.


Mama Rianti memang yang paling bijak, tapi sayangnya malam ini Yuki merasa pengertian Mama Rianti sedang tidak tepat, sebab dirinya sedang merasa marah terhadap Asher.


Brakk ....!!!


Pintu di tutup cukup keras menyisakan Asher yang terbengong di depan pintu kamar.


"Astaghfirullah..." Asher mengusap dadanya dramatis. Ada sedikit rasa nyeri di ulu hati nya ketika istri yang dicintainya marah dan mendiamkannya. Iya mencoba sabar dengan tetap membuka pintu secara pelan.


Clek


"Alhamdulillah ... nggak di kunci, Thanks God." Batin Asher lega.


Asher sempat mengira Yuki akan mengunci pintunya dari dalam dan tidak memperbolehkan dirinya untuk masuk. Mungkin hal itu akan terjadi kalau mereka tinggal di rumah sendiri berbeda dengan keadaan sekarang karena tinggal di rumah Mama memang kadang membuat kita sedikit canggung dan harus banyak pintar membawa diri.


Sejauh ini Yuki merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan beberapa kali Asher mengajak pindah ke rumah yang baru Yuki selalu menolak. Entahlah, terlalu nyaman di sini atau masih takut tinggal berdua saja dengan Asher.


Asher berjalan masuk ke kamar, ruangan kosong namun terdengar gemericik air di dalam kamar mandi, sudah bisa di pastikan Yuki sedang membersihkan diri. Dalam hati pria itu tersenyum membayangkan wajah Yuki yang malu-malu dan menggemaskan. Ini akan sedikit tidak mudah membujuk Yuki yang sedang mode ngambek. Namun apalah daya tak boleh marah terlalu lama. Istrinya itu sedang menyusui jadi tidak di bolehkan jengkel karena bisa mempengaruhi mood nya dan menyebabkan ASI tidak lancar. Begitulah kira-kira wejangan dari Mama.


"Astaghfirullah ...." Yuki memekik kaget tatkala membuka pintu kamar mandi mendapati Asher sudah berdiri di samping pintu menghalangi jalannya.


Yeah 1 : 1


Asher tersenyum tipis, melihat Yuki yang kaget melihat dirinya. Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk membalas rasa kagetnya tadi, namun sepertinya alam sedang memihak nya.


"Keramas ya yank?"


Pertanyaan paling bodoh sepanjang sejarah. Sudah jelas Yuki itu pakai handuk di kepalanya, ya iyalah keramas?


Bukan itu maksud Asher, ia tentu tahu jawaban atas pertanyaannya namun ia hanya ingin sedikit berbasa-basi dengan istrinya.


Yuki menatap tajam Asher yang masih betah dengan menampilkan gigi putihnya. Wanita itu berjalan melewatinya saja dengan memakai bathrob. Asher lekas masuk ke kamar mandi sesaat setelah Yuki menjatuhkan bokongnya di kursi rias.


Sepuluh menit Asher membersihkan diri, pria itu terlihat antusias dan tidak sabaran. Ketika keluar dari kamar mandi rupanya Yuki sudah selesai berganti pakaian dengan piyama pink polosnya yang cukup menggoda iman. Dalam hati Asher tersenyum senang.


Asher tengah mengamati Yuki yang masih mematut dirinya di depan cermin dan baru saja mengolesi skin care ke pipinya yang mulus itu. Pemandangan ini sudah biasa bagi Asher, istrinya itu memang sangat rapi merawat, menjaga penampilannya.


"Udah dandannya?" celetuk Asher yang masih betah mengamati Yuki seraya bersedekap dada dan menumpu tubuhnya yang bertelanjang dada itu ke kayu lemari.


"Siapa yang dandan, nggak ada ya, aku cuma pakai krim doang," jawabnya masih mode sengit.


Asher hanya mengulas senyum penuh arti, ia memandang lekat wajah Yuki yang malam ini terlihat semakin bersinar.


"Stop! Mau ngapain? Pakai baju Mas tidur."


"Sayang ...." Asher mendekati Yuki yang malah terlihat sok sibuk dengan ponselnya.


"Sayang ... maaf ya kejadian tadi?"


"Hmmm."


Sabar... orang sabar rezekinya luas.


"Chat sama siapa sih, aku kan udah minta maaf kok masih di cuekin? Butuh belaian nih ...." Yuki menghentikan jari jempolnya yang tengah sibuk mengetik pesan lalu menatap wajah suaminya yang terlihat memelas.


Dalam hati Yuki masih kesal namun wanita itu tak sampai hati marah terlalu lama padanya. Ia tahu suaminya sudah menunggu moment ini sejak lama, Yuki hanya sengaja menguji kesabaran nya saja sejauh mana pria di depannya akan bersikap.


Yuki cukup bersyukur dan berpuas diri ketika Asher sekuat tenaga menahan gejolak nya tanpa berani menyentuh dirinya selagi tidak mengizinkan. Itu sudah cukup bukti bahwa Asher benar-benar berubah dari segi manapun. Iya Yuki tahu itu, tapi lihatlah Yuki sungguh senang menggoda laki-laki yang datar dan nyebelin itu memasang wajah memelas di depannya.


Plak


Tangan Asher mendarat sempurna di atas paha Yuki yang polos dan terekspos nyata. Baju tidur yang dikenakan Yuki memang sangat menantang jiwa kelelakiannya ditambah memang hasrat yang sudah menggebu.


"Sayang ... boleh ya?" pinta Asher dengan suara yang agak serak-serak berat dan mata yang sudah berkabut. Yuki tahu persis suaminya sudah di ujung hasrat, ia menatapnya lekat dan mengangguk sebagai jawaban yang menurutnya paling pas.


Tak ingin menunggu lama, detik itu juga Asher langsung menyatukan diri, menyambar bibir ranum Yuki yang sedari tadi cukup menggoda. Asher melakukan dengan sangat lembut, cekatan, lihai dan semakin dalam. Memainkan lidahnya di kedalaman rongga mulut mereka yang sama-sama begitu terbuai dan menikmatinya.


Asher terus memagut, mencecapi, mengeksplor dan menuntut semakin dalam meminta lebih. Dalam sejenak ia melepaskan pagutannya membiarkan wanita pujaan hatinya mengambil napas.


Ia kembali menyusuri di tempat yang berbeda, memberi tanda kepemilikan nya di leher jenjang Yuki yang membuat empunya tak berdaya hingga tanpa sadar telah terbuai ke dalam permainan nya dan menampilkan tubuhnya yang polos menantang dirinya untuk di mangsa.


Asher kembali menyatukan diri, memagut bibir mungil Yuki yang sedari tadi sudah mengeluarkan rintihan nikmat yang terdengar sangat seksi di telinganya.


Tangan Asher mulai sibuk mencari celah, menyentuh di bagian yang paling sensitif pada diri istrinya, hingga tiba-tiba Yuki tersadar dan menggeleng kuat seakan memisahkan diri begitu saja.


"Kenapa sayang ....?" Asher masih menanti jawaban dengan raut cemas ketika Yuki menggeleng kuat-kuat.


"Aku takut Mas... pelan-pelan. Please ini pasti sakit." Asher tahu ini sudah beberapa kali dilakukannya, namun karena ini yang pertama pasca melahirkan tentu ia akan sangat berhati-hati melakunnya, ia tidak ingin Yuki nya merasa sakit bahkan trauma.


"Jangan khawatir sayang ... aku akan melakukan nya dengan sangat hati-hati, tolong percaya." Yuki mengangguk pasrah.


Bukan Asher namanya kalau tidak bisa memainkan dengan epik, pria itu akan bermain dengan sangat lembut, sampai Yuki merasa rileks dan nyaman. Ia bahkan terus membuat wanita itu lupa dengan perasaan cemas karena Asher memainkan keahliannya dengan lincah, menyentuh kan dirinya dengan lembut.


Setelah Yuki benar-benar terlena dan merasa puas, siap menerima dirinya dengan terbuka barulah pria itu merapatkan diri dengan sekali dorongan. pelan namun pasti.


"Engh ....!" Suara lenguhan istrinya benar-benar membuat ia semakin semangat memacu dengan irama yang selaras.


Skip skip