
Setelah acara makan malam selesai Yuki dan Asher lantas tak lagi lekas meninggalkan meja makan. Ia sudah berniat malam ini meminta izin kepada Ayah untuk memboyong Yuki berpindah dari rumahnya.
"Emm Ayah, Asher minta waktunya sebentar, ada yang mau Asher sampaikan sama Ayah sama bunda." Ke dua orang tua itu, tak terkecuali Zura duduk kembali dan siap mendengarkan penuturan Asher.
Yuki melirik Asher yang tengah gugup merangkai kata untuk mengambil hatinya. Pasalnya baik Ayah dan Bunda sudah sangat senang kalau mereka sebaiknya tinggal di rumahnya saja. Biar Yuki tetap dalam jangkauannya dan pengawasannya.
"Maaf Ayah, sebelumnya Asher mohon maaf. Tapi Asher dan Yuki sudah memikirkan tempat tinggal selanjutnya untuk kami berdua. Dan keputusan kami besok akan pindah dari sini."
Ayah tanpak menghembuskan nafas panjang. Ia sejauh ini sudah tahu kalau Asher sudah berubah tapi dalam hati kecilnya masih tersimpan rasa khawatir dan cemas karena dulu pernah di buat kecewa oleh sikapnya dan tidak memperlakukan Yuki sesuai yang di harapkan. Jangankan tentram jauh dari kata bahagia.
Ayah cuma takut Yuki akan merasa trauma kembali hanya hidup berdua. Apalagi mengingat putrinya tengah berbadan dua, Ayah takut Yuki masih belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya. Dan bisa saja mungkin menimbulkan kelalaian pasangannya yang menyebabkan pertengkaran. Ayah sangat takut Yuki akan terluka lagi mengingat anak itu selalu memendam perasaan ya sendiri.
Asher seperti menangkap kegelisahan pada Ayah yang sedari tadi belum menjawabnya. Ia sangat maklum, Ayah Yuki pasti tidak akan semudah itu melepas putrinya dari rumahnya mengingat perilaku yang kurang mengenakan pernah terjadi pada rumah tangganya. Dan tugas Asher sekarang adalah membuat Martuanya itu yakin seyakin yakinya.
"Apa tidak sebaiknya kalian tinggal di sini saja sampai Yuki melahirkan?" Jujur pria itu khawatir bila tinggal jauh dari putrinya.
"Jangan khawatir Ayah, Asher akan menjaga Yuki dengan baik, segenap jiwa dan raga. Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya, bahwa aku sekarang dan selamanya akan mencintai Yuki dan menjaga dengan baik."
"Baiklah Ayah mengizinkan kamu membawa Putri Ayah kembali, tapi ingat jika suatu hari nanti kamu berbuat curang dan membuat Yuki menangis lagi, Ayah akan mengambilnya dan bisa Ayah pastikan tak ada lagi kesempatan selanjutnya untukmu." Final Ayah pada akhirnya dengan wajah sendu.
Perhatian Ayah pun beralih kepada Yuki yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ayah tahu kamu sudah memikirkan semuanya dengan baik, jaga diri dan jangan sungkan untuk berbagi cerita baik suka maupun duka karena Ayah siap menjadi pendengar yang baik. Berjanji pada Ayah jangan pernah pendam sendiri, jaga diri baik-baik di tempat yang baru. Jangan lupa membuat dirimu sendiri bahagia."
Ayah tak kuasa menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Begitulah seorang Ayah jika ia sudah melepas untuk memberikan kepercayaan seseorang untuk menjaganya, seorang Ayah akan sangat berharap kebahagiaan selalu menaunginya. Sangat-sangat berharap pria yang menjadi pendampingnya mampu membawa putrinya menjadi lebih baik dan bahagia.
Yuki langsung berhambur ke dalam pelukan hangat Ayahnya. Ia bahkan tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi sudah di tahannya. Niatnya tidak ingin menangis agar Ayah tidak kelihatan sedih tapi ujung-ujungnya menangis juga.
"Ya elah Ki, kalau berat ya nggak usah pergi lah gitu aja beres. Lagian ya kamu itu plinplan banget sih jadi cewek. Bentar-bentar pulang, bentar pergi balikan lagi kaya nggak ada cowok lain aja." Celetuk Zura panjang lebar yang langsung mendapatkan semprotan Bunda.
"Zura...!! jaga bicara mu nak. Ini bukan wilayahmu bicara, sebaiknya kamu pergi ke kamarmu istirahat saja." Bentak Bunda kesal menyayangkan sikap Putrinya yang tidak tahun sopan santun berbicara.
Asher terdiam dengan menahan kesal. Zura itu bagai manusia bermuka dua. Di depan dan di belakang akan berbeda pernyataannya. Ia sudah mengantisipasi dengan perilakunya yang tambah hari tambah gila.
Seperti halnya kemarin wanita itu nekat datang ke kantornya, merengek meminta pekerjaan namun tentu saja Asher tolak karena merekrut pekerja baru orang seperti Zura akan membuat dirinya bertambah dalam masalah.
"Bunda... Zura ini cuma khawatir Bun sama Yuki, bunda kan tahu sendiri Asher dulunya gimana?" Tapi sepertinya Ayah dan Bunda tidak usah khawatir karena Zura yang akan memantau kegiatan Asher di kantornya. Bahkan Zura rela loh Bun, Ayah, Zura rela masuk ke kantor Asher hanya untuk Yuki. Jadi gimana adik ipar biar Ayah dan Bunda tambah mantep melepas Yuki dari rumah, adik ipar harus menerima aku bekerja di kantornya."
Sial! umpat Asher dalam hati.
Zura bahkan berani menyinggung masalah pekerjaannya di kantor. Kalau di depan martua mereka dia bisa apa?
"Ayah ini tidak ada hubungannya dengan masalah kantor, jujur di kantor belum ada lowongan yang pas untuk Zura makanya Asher meminta Zura untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan latar belakang dirinya." Asher mencoba memberi penjelasan.
Ayah dan Yuki hanya diam saja. Ia tidak ingin menaruh curiga terhadap menantunya tapi yang membuat Asher mati kata sebab Bunda dan Ayah sepertinya juga berharap Zura menjadi mata-mata untuk dirinya.
"Aku percaya sama kamu mas?" Yuki akhirnya angkat bicara.
"Terimakasih sayang," Asher berharap semua akan baik-baik saja.
"Oke, baik lah mulai besok kamu boleh kerja di kantor saya." Final Asher mengalah pada akhirnya dari pada semua orang memandang dirinya terlalu takut memasukan orang dalam karena takut akan dirinya bermasalah.
Yes! pekik Zura dalam hati. Selain ia butuh pekerjaan dekat dengan Asher adalah impianya.
"Sekarang kalian istirahat saja di kamar. Ini sudah malam obrolan kita bisa di lanjutkan besok pagi." Ayah menginterupsi semuanya.
Semua meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya masing-masing.
"Kamu kenapa sih Mas, mukanya tegang gitu kan udah izin sama Ayah." Seloroh Yuki merasa aneh demi melihat air muka Asher yang tak berubah semenjak berlalu dari ruang makan.
"Kamu nggak marah kalau Zura kerja di kantor aku? kamu nggak khawatir sama aku?"
"Kamu itu kenapa sih sayang." Yuki mendekat sambil mengelus pipinya.
Glek
Dalam seperkian detik mampu membuat Asher terlena dan terperangah.
"A-aku cuma takut dia akan menggodaku di kantor?" Jawab Asher jujur.
Yuki tersenyum penuh arti, "Semua itu kembali pada dirimu sendiri Mas, seberapa pintar kamu membawa diri dan kamu bisa membuktikannya pada ku bahwa kamu layak untuk di beri kesempatan yang kedua. Karena kamu mau memperbaiki diri. Jadi ketika godaan sekali pun datang seharusnya mas bisa menempatkan diri bagaimana kamu harus bersikap. Aku percaya pada mu."
Cup
Yuki menyambar bibir Asher sekilas hanya untuk merilekskan tubuh suaminya yang kaku, tapi apa nyatanya sentuhan itu malah di tanggapi berbeda oleh sang empunya. Ia beralih menatap Yuki dengan kilatan penuh gairah.
"Sayang... aku mau kamu malam ini."
"Hah, katanya capek? tadi mau istirahat," ujar Yuki sambil mengulum senyum.
"Kamunya mancing-mancing mulu. Harus tanggung jawab dong."
"Eh, nggak ada ya... aku biasa aja. Itu emang kamunya aj...." Suara Yuki menguap di udara sebab Asher telah menyambar bibir Yuki, menyatukan dirinya dengan lembut. Penutup kata yang manis.