Salah Meminang

Salah Meminang
Part 36


Skandal yang diciptakan Asher cukup menyita perhatian sepenjuru kantor. Bahwa desas desus kelakuan bos nya yang mempunyai istri dua sempat terendus. Belum lagi gosip digugat cerai istri pertama karena tidak mau berpoligami dan sampai di tinggal pergi dari rumah menjadi topik hangat perbincangan para karyawan.


"Gila, Pak Asher ternyata diam-diam menghanyutkan," ucap Rere salah satu karyawannya.


"Gue yang paling di sibukkan gegara bosnya tak profesional. Main cancel jadwal, perubahan jam meeting, sampai lembur di jam yang random," keluh Bella sang sekertaris


"Tapi gue juga mau kali di jadikan istri ketiganya rela deh gue, udah tajir ganteng pula," canda gila salah satu karyawan


"Nggak usah pada ngarep deh, gue yang mepet-mepet terus aja kagak di lirik," imbuh bella kemudian


"Emang lo mau di tidurin mulu kagak di anggep," cerocos Rere


"Ogah, tapi kalau orangnya kaya si bos ya gue pikir-pikir lah. Yang penting duit tebel hempaskan perasaan."


"Khemm ...." Deheman dari Pak Al sang asisten menginterupsi ruangan berhasil membubarkan segerombolan cewe-cewe yang sedang ghibahin bosnya.


Sebenarnya kejadian kaya begini sudah menjadi pemandangan hampir setiap hari selama bosnya yang entah suka ngilang nggak jelas dan hanya di handle Alwi sebagai orang yang di percaya atau kaki kanan Asher.


"Bell, ngapain masih di situ? Kembali ke mejamu. Kamu mau di pecat?" PA dengan name tag Alwi itu berseru


"Maaf Pak, nggak mungkin lah Pak Asher berani pecat saya. Saya kan masih saudara jauhnya Bude Rianti," jawab Bella dengan pedenya.


Sementara Asher, pria itu kini tengah berada di rumah orang tuanya. Semenjak kejadian menghancurkan barang, dia di boyong mama Rianti ke rumahnya. Selain untuk memantau keberadaan putranya, sekalian mengurus anak yang sudah dewasa itu.


"Kamu nggak ngantor? Ini udah siang begini," ujar mama Rianti mengingatkan.


"Nanti siang mah, sudah di handle sama Alwi. Asher pingin rehat sebentar sekalian nanti pagi mau ke rumah Yuki."


"Kamu sangat bersemangat sayang, sabar ya semoga berhasil." Doa mama tulus


"Ma, kalau aku nggak bisa balik sama Yuki, aku nggak mau nikah lagi."


Mama tercekat mendengarnya, pasalnya Asher ini anak satu-satunya bagaimana jadinya kalau dia menyendiri seumur hidup bahkan tidak ada generasi penerus.


"Kamu yang sabar sayang, kencengin doa semoga kalian masih berjodoh."


"Aamiin...." Ibu dan anak itu saling mengaminin


"Aamiin...." Papa yang baru datang ikut mendoakan.


"Apa kamu akan hadir di panggilan sidang yang ketiga?"


Mereka menghabiskan sarapan bersama. Papa pergi ke kantornya dan Asher, pria itu bahkan masih bersantai di tempatnya. Kantor Pak Dika merupakan satu kesatuan dengan kantor Asher namun berbeda gedung.


"Ma, Asher izin nanti pulang malam, mau ke tempat Tomi." Anak itu sekarang harus membuat laporan random kegiatanya sama ibu negara. Itu atas permintaan mama Rianti pastinya dan harus di turuti demi kelangsungan hidupnya.


"Club hiburan lagi? Mama nggak setuju kalau mainnya di situ bukan menenangkan pikiran malah menambah masalah," ujar mama Rianti khawatir


"Nggak ma, Asher udah nggak pernah minum lagi semenjak nikah, Asher cuma butuh teman ngobrol. Ada janji sama Tomi dan Anton," jelas Asher meyakinkan mama Rianti yang menunjukan wajahnya ragu.


"Awas aja kalau membuat masalah, mama coret dari daftar warisan," ancam mama geram.


"Beres ma." Asher hanya ingin bertemu ke dua sahabat nya untuk sekedar menghibur diri dan bertukar solusi.


Setelah sarapan dan mengganti baju kantornya. Asher bersiap berangkat tapi sudah menjadi rutinitas setiap paginya ia akan membeli bunga terlebih dahulu. Setangkai mawar dengan bertuliskan I love you more selalu ia kirimkan ke rumah Yuki. Berharap dengan perhatian kecil yang tak seberapa bisa meluluhkan hatinya yang masih sekeras batu.


Ini lah diri Asher, masih belum menyerah sampai final dan titik darah penghabisan. Lebay? Iya memang terdengar lebay dan menggelikan itu lah dia, sekalinya jatuh cinta akan di kejar sampai ke ujung manapun.


Saat malam kepulangan dari kantor. Asher benar-benar melajukan ke tempat hiburan. Sebuah club malam milik Tomi sahabat nya yang sudah sangat lama ia tidak kunjungi. Terakhir kalau tidak salah waktu habis melakukan pernikahan, dan karena rasa kecewa insiden Salah Meminang membuatnya pergi di malam pertama dengan menghabiskan waktu di club.


Sungguh awal yang buruk, kalau di flas back awal mulai dengan Yuki memang seburuk itu. Tapi tekadnya dalam hati masih teguh untuk memperbaiki.


Setelah menempuh waktu kurang lebih dua puluh menit dari Kantornya. Asher tiba di salah satu club sahabatnya. Ruangan VVIP yang mereka gunakan selalu menjadi saksi kegilaan mereka bertiga. Asher laki-laki normal biasa dulu sebelum nikah ia sering bermain di club untuk sekedar hang out. Minum tentu saja, tapi masih dibatas normal. Walaupun suka dunia malam tapi Asher bukan penganut *** bebas seperti kedua temannya. Asher bahkan baru melakukan untuk yang pertama kali dengan Yuki istrinya.


Kalau boleh jujur pria itu tidak pernah bisa move on dengan apa yang telah di alaminya. Asher memang munafik terus menyakiti tapi bahkan menginginkan lagi. Seegois itu kah dirinya, kejam dan tidak berperasaan. Namun itu dulu tentu nya, karena sekarang bahkan ia rela melakukan apa saja demi Yuki. Bahkan nyawa sekalipun taruhannya pria itu akan mau.


Asher sebenarnya tipe cowok yang setia, dia akan mencintai wanita yang menjadi pendampingnya. Hanya saja karena takdir yang begitu rumit membuat ia memilih pilihan yang salah. Ia sungguh menyesal, karena sifat egoisnya melukai Yuki bahkan yang masih belia, 20 tahun, bayangkan saja semuda itu harus menghadapi masa-masa transisi dari lajang hingga menjadi seorang istri, dengan serentetan luka.


Bahkan kisah ini terjadi bukan karena kemauannya. Namun takdir, semesta mengirim dirinya untuk Asher. Hanya saja Asher yang tak pandai menjaga hatinya. 'Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah'


"Yuki ... maafkan lah pria bodoh ini," jeritnya dalam hati.


Merampas kebebasannya, memupuskan harapannya bahkan mungkin menghancurkan mimpi-mimpinya.


"Yuki itu cantik... wajar kalau banyak yang suka." Kata-kata mama kemarin bahkan selalu terngiang di kepala.


Mama benar bahkan sahabatnya sendiri anton terang-terangan menyukainya. Damn! dia memang selalu menjabarkan sesuatu dengan gamblang. Kalau bukan karena sudah bersahabat lama bahkan mungkin bisa menjadi musuh karena menyukai orang yang sama.


Ah Yuki ... mengingat namanya saja membuat pria itu kangen dan ingin memeluknya. Namun ia tentu harus banyak bersabar karena jalan terjal masih panjang.