Salah Meminang

Salah Meminang
part 73


Entah berapa lama Yuki tak sadarkan diri, terlempar dari raga yang ia naungi. Saat ia sadar, ia merasa sudah di tempat yang berbeda. Gambaran kepingan sebelum terjadi kecelakaan dan sampai ia mengalami naas tersebut berputar di otaknya. Dia merasakan kepalanya pening, berdenyut sakit, mungkin efek benturan yang terjadi di kepalanya, namun Yuki bersyukur masih bisa mengingat dengan baik.


Tubuhnya terasa sakit dan remuk, masih ada perban di bagian kepala dan juga kaki kanan Yuki. Sedang tangan kirinya terpasang infus, jadi praktis untuk saat ini Yuki sangat membutuhkan orang lain walaupun hanya untuk bergerak.


Asher yang baru datang pun langsung datang menghambur ke arah istrinya. Semua orang yang berada di ruangan Yuki keluar memberikan kesempatan untuk Asher dan Yuki saling meluapkan rasa.


"Sayang... syukurlah kamu sudah sadar, aku khawatir banget sama kamu?" tangan pria itu terulur menggenggam tangan Yuki yang terbebas dari selang infus.


"Maafkan aku Mas, atas kejadian kemarin." Yuki mengulas senyum


"Nggak sayang... Mas yang minta maaf, terlalu percaya pada orang lain. Maaf, sudah mengabaikan pesan dan telfon mu sehingga menyebabkan kamu begini." Wajah tampan itu terlihat sendu.


"Apa memang harus sakit dulu ya Mas, baru kamu itu respect sama aku?" Yuki kadang merasa begitu, kadang perasaan itu berubah jadi semu. Kenapa setiap berhubungan dengannya harus ada rasa sakit yang luar biasa, baru Asher sadar. Entahlah, pada kenyataannya begitu.


"Sayang, jangan ngomong gitu... aku minta maaf. Aku tidak akan meragukan mu lagi, jangan marah," kata pria itu bersungguh-sungguh. Lagi-lagi Yuki tersenyum, dia mengangguk dengan mata terpejam.


Tangan Asher masih setia menggenggang jari jemari Yuki dengan erat, tak ingin melepaskannya sebentar saja. Pria itu menatap lekat istrinya dengan rasa bersalah dan berkecamuk. Kata-kata Yuki tak ubah seperti cubitan krikil yang tajam. Seburuk itu kah ia memperlakukan istrinya selama ini.


"Sakit Mas, jangan kenceng-kenceng pegangnya." Yuki melirik tangan kanannya yang di genggam Asher begitu kuat, bagian sikunya masih ada perban sehingga membuat efek sakit ketika di gerakan.


"Iya sayang maaf, terlalu bersemangat ingin menyentuhmu," ujar pria itu melepaskan genggaman tangannya.


"Aku kangen Sky Mas, anak kita apa kabar? Aku sakit begini dia rewel nggak? Aku mau pulang," kata gadis itu sendu, membuat Asher yang mendengar merasakan sembilu. Kasihan sekali istrinya menahan rindu dengan anaknya.


"Sky baik-baik aja sayang, dia anak yang pintar. jangan khawatir ya... Sky ada yang mengurus di rumah, yang penting kamu sehat dulu," jelas Asher sok tegar. Hatinya melow abis merasakan kesedihan istrinya.


"Tapi aku sudah kangen Mas," rengek Yuki.


"Sayang... kamu tenang ya, tubuhmu masih lemah. Sebentar kita vidio call aja mbak suster nya yang jaga Sky." Asher mengambil Ponsel dari saku celananya dan ternyata kehabisan daya. Asher bahkan sampai lupa mengisi daya pada HPnya.


"Sayang ponsel aku mati, aku keluar sebentar ya pinjam HP Mama."


"Kan ada ponsel aku Mas?"


"Eh iya ya, Mas lupa." Asher membuka laci nakas dan mengambil HP Yuki di sana.


Setelah menunggu beberapa detik ponsel tersebut sudah terhubung dan menampilkan wajah gembul Sky yang sedang tengkurep. Yuki tersenyum, matanya langsung berkaca-kaca mengamati anaknya dari layar ponselnya.


Rindu tapi masih belum bisa memeluknya, setelah puas menyapa buah hatinya Yuki merasa lega anaknya baik-baik saja walaupun ditinggal di rumah. Asher mematikan Handphone nya lalu menatap haru istrinya, pemandangan yang baru saja terjadi anak dan istrinya cukup membuat hatinya tersentil ngilu. Harus terpisah jarak dengan buah hati nya itu pasti sangat mengoyak ego istrinya. Siapanya ibu di luaran sana juga pasti merasakan hal yang sama rindu dan sakit tak bisa membawa dalam dekapan.


Ikatan seorang ibu dan anak akan selalu ada walau jarak memisahkan kan. Tak sadar ia pun merasa sudut matanya mengembun.


"Maafkan Mas sayang... maaf." Asher menciumi kepala Yuki dengan sayang meluapkan semua gejolak dan kegelisahan hatinya.


"Jangan nangis." Asher menyusut sudut mata Yuki.


"Nggak bisa Mas, kalau udah urusan anak aku nggak bisa kalau nggak nangis. Aku kangen..."


"Iya, iya kita akan segera pulang dari sini, tunggu keputusan dari dokter. Kamu baru sadar dan masih butuh perawatan. Perban kamu juga masih basah," ujar Asher mencoba memberi pengertian.


"Permisi, sudah waktunya makan siang," sapa perawat ramah dengan senyum.


"Iya Sus, makasih."


"Selamat makan, jangan lupa minum obat. Semoga lekas sembuh," ujar perawat perawat sambil lalu.


Asher membantu Yuki untuk duduk, walaupun tubuh luarnya banyak lebam dan lecet tapi Yuki bersyukur tidak ada luka dalam yang serius, sehingga proses penyembuhan nya akan lebih cepat dan tidak begitu mengkhawatirkan.


"Sini sayang biar aku suapin?" Asher meraih nampan yang tersimpan di atas nakas. Tangannya mulai menggerakkan ke mulut Yuki, Yuki menerima dengan senang hati, perempuan itu memang sedang banyak butuh bantuannya.


"Makasih Mas."


"Buat? Ini kan emang sudah kewajiban aku ngurusin kamu yang lagi sakit. Jangan merasa sungkan, Aku ini suami kamu."


"Iya." Yuki tersenyum menanggapi celotehan suaminya. Setelah menghabiskan jatah makan siang Yuki minum obat dan istirahat.


Asher keluar dari kamar rawat, membiarkan Yuki beristirahat dengan nyaman karena dirinya akan menemui asistennya yang sudah menunggu di luar.


"Mana berkasnya Al?" tanya Asher tak sabaran.


Alwi langsung mengambil berkas penting dari tasnya dan menyerahkan map tersebut untuk di teliti lebih lanjut dan di bubuhi tanda tangan Tuan nya.


"Maaf Tuan atas kelancangan menyita waktunya. Ini semua demi perusahaan agar tetap lancar."


"Iya, bagus Alwi terimakasih banyak saya percayakan sama kamu untuk sementara waktu, saya mau urus istri saya dulu sampai ia bisa pulih. Kalau perlu tanda tanganku jangan ragu hubungi segera."


"Iya Pak siap, ngomong-ngomong bagaimana kabar Nona Yuki? semoga lekas sembuh."


"Alhamdulillah sudah keluar dari masa kritis, tinggal pemulihan. Terimakasih doa nya Alwi. Titip kantor jangan biarkan seorang pun masuk ke ruangan saya.


"Laksanakan Pak? saya pamit kembali lagi ke kantor.


Setelah menemui Alwi Asher kembali lagi ke ruang rawat Yuki. Di dalam sana ada beberapa keluarga kami, Ayah dan Bunda, Ada juga Mama Rianti, Pak Dika baru saja pamit beliau harus kembali ke kantornya.


Asher menilik ranjang yang di singgahi istrinya, terlihat Yuki masih setia memejamkan matanya. Langkahnya bergerak maju dan langsung memberikan kecupan singkat di keningnya.


Menjelang malam hari satu persatu keluarga pulang ke rumah masing-masing tinggalah Yuki dan dirinya saja. Asher, ya tentu saja pria itu yang menemani nya karena dia suaminya.


"Mas kalau ngantuk tidur aja di sofa," ujar Yuki memandang raut wajah suaminya prihatin. Mungkin karena lelah berhari-hari di rumah sakit membuat pria itu terlihat sayu dan kurang tidur.


"Aku tidur sini aja sayang. Nggak pa-pa nanti kalau butuh apa-apa gimana?"


"Nanti aku panggil kamu," seru Yuki.


"Sini aja supaya bisa genggam tangan kamu, tidur di sofa terlalu jauh."


"Ya Allah Mas, lebay. Cuma beberapa langkah dari sini. Sana istirahat dulu. Kalau kaya gini caranya nanti aku yang sembuh kamu nya yang sakit." Asher bergeming pria itu tetap menopang kan kepalanya di samping Yuki. Tangan Asher terus menggenggam jemari Yuki seakan enggan terpisah.