
Yuki merampungkan makan siangnya dengan perasaan tak menentu. Soto yang sejatinya terasa enak menjadi tak beraturan sebab hati dan pikiran tak sejalan. Bukan, bukan karena rasa makanannya tapi memang makan di bawah tatapan tajam pria itu membuat Yuki mati gaya.
"Uhuhk ... uhukh ..." Yuki sampai tersedak. Amar langsung memberikan segelas air minum yang tadi sempat dipesan.
"Pelan-pelan Ki ...." Amar berdiri dari duduknya dan spontan mengusap-usap punggung Yuki. Mungkin dia refleks, tapi jangan ditanya sebab Yuki merasa tidak nyaman.
Tak disangka dan tidak dinyana pria yang masih berstatus suaminya itu mendekat.
"Sayang ... makan di sini? Hati-hati dong sampai keselek gitu." Asher datang ke meja mereka dengan wajah manis tanpa dosa. Yuki jelas melotot dan kesal.
"Apa-apaan sih, kok sayang sayang," batin Yuki kesal.
"Cih, bukannya tadi tuh aku lihat dia mau marah. Lihat tuh matanya saja merah gitu apa coba," gumam Yuki mendesis sebal, sedangkan Amar bersitatap dengan muka tak bersahabat.
Yuki masih bengong dan heran ketika lagi-lagi Asher mengelap mulut istrinya dengan tisu.
Wah sengaja banget nih, bisa ribut kalau terus di meja yang sama.
Perasaan Yuki semakin tak enak tatkala Asher menyapa Amar dengan begitu lembut tapi penuh dengan penekanan.
"Hai bro ... perkenalkan, aku Asher suaminya Yuki."
Oh ya ampun... Asher dia nggak butuh kenal sama kamu keles.
Asher mengulurkan tangannya bangga sementara Amar menatap tangan Asher sejurus kemudian dengan santainya mengatakan.
"Amar, calon suami Yuki."
Glek
Sumpah demi apapun Yuki shock dengar Amar mengatakan itu. Asher terkekeh ....
"Sepertinya pendengaran Anda kurang jelas, saya suami Yuki Tanzeela sekarang esok dan selamanya," jawab Asher mantap dengan satu tarikan napas.
"Suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan," ujar Amar sengit, entah mengapa Yuki merasakan hawa panas mulai menyelimuti sekitar.
"Kamu terlalu percaya diri Bung, sebab aku dan Yuki tidak jadi berpisah, iya kan sayang?" Asher merangkum bahu Yuki.
Mau marah tapi faktanya masih suaminya tapi kalau tidak marah kok kesel. Lihatlah, Asher berkata dengan bahasa yang teratur tanpa emosi. Yuki yakin Asher sedang drama.
"Ayo Ki, kita kembali ke kantor," ujar Amar sambil menarik tangan gadis itu, lalu keluar dari kedai. Yuki berjalan cepat mengikuti langkah Amar karena dia menarik tangannya begitu kuat.
Grep
Asher menarik tangan kiri istrinya dan Amar menarik tangan kanan Yuki, seketika terjadilah tarik menarik sehingga secara otomatis tubuh gadis itu seirama ke kanan dan ke kiri, membuat ia pusing dan tambah pening.
"Stop ...! Lepas!" Yuki berteriak, kedua pria itu langsung menghentikan aksinya namun mereka berdua masih sama-sama menggenggam tangan Yuki erat. Gadis itu menghempaskan ke dua tangannya agar terlepas dari cekalan pria-pria kurang kerjaan itu. Yuki menatap marah keduanya lalu meninggalkan tempat itu.
"Ki ...."
"Ki ...."
Mereka memanggil nama gadis itu bersama, Asher dan Amar saling mengejar. Sekilas rungunya mendengar pria itu masih adu mulut dan argumennya.
"Ki tunggu, kita kembali ke kantor," ujar Amar mengingatkan, sebenarnya kepala Yuki sudah pening dan nggak mood balik ke kantor tapi itu kewajiban dan tuntutan kerja, harus profesional bukan, apalagi pria itu baik banget.
"Iya," Yuki mengangguk.
"Balik bareng aku, Ki, kamu terlihat pucat." Asher masih menahannya.
Mereka berdua sudah ancang-ancang dengan tatapan tak ramah. Yuki lihatnya jadi kaya bocah. Sama keduanya tak mau kalah terus menyuruh supaya Yuki ikut dengan siapa?
Tiba-tiba gadis itu merasa mumet, bener-bener kepala mau pecah. Pening dan lutut terasa lunglai, samar-samar pandangannya mulai kabur dan pendengarannya tak jelas.
Bruk ....
"Yuki ...!"
"Yuki ....!"
Amar dan Asher menyeru bersama. Asher langsung menggendong Yuki masuk ke mobilnya. Sebenarnya Amar juga akan melakukan hal yang sama tapi dihalangi oleh Alwi.
Asher menopang tubuh istrinya di jok belakang dengan dirinya. Ia membiarkan Yuki tidur di pangkuannya sementara Alwi mengemudi ke arah rumah sakit. Amar terlihat menyusul dengan mobil pribadinya.
"Ki, Yuki ...." Asher menepuk-nepuk pipi istrinya yang terkulai lemah di pangkuannya. Pria itu tersedu dengan wajah panik tak tentu arah. Rasanya belum pernah sekhawatir ini selama hidupnya.
Setelah perjalanan kurang lebih tujuh belas menit tibalah di rumah sakit terdekat. Petugas medis langsung sigap menolong begitu Asher ke luar dari mobil dengan membopong tubuh istrinya. .
"Suster, suster tolong istri saya sus, tiba-tiba pingsan," ujar Asher panik
"Bapak tenang ya, tunggu di luar biar kami periksa." Perawat berseragam khas rumah sakit itu menutup pintu IGD dan menyuruh pria itu menunggu. Amar terlihat tergopoh-gopoh baru sampai.
"Masih di dalam lagi diperiksa," jawab Asher terpaksa, nggak mau ngasih info tapi ya kaya maksa.
Kedua pria itu duduk dengan gusar, kadang berdiri mondar mandir bikin kesel yang lihat.
"Heh lo, pulang sana ngapain di sini nungguin istri orang." Nyolot Asher, kesadarannya sudah mereda.
"Oh ... nggak bisa dong, gue mau nungguin Yuki sampai siuman. Gue mau jadi orang yang pertama dilihat Yuki ketika dia sadar."
"Ck, mimpi lo. Gue nggak akan biarin lo masuk."
"Lo nggak ada hak, lo udah banyak nyakitin Yuki, dan lo ingat sebentar lagi bakalan jadi mantan."
"Breng sek, ngajak ribut lo emang dari kemarin. Mepet-mepet istri orang mulu pekerjaannya."
"Munafik banget lo sok peduli, karena istri lo yang satunya udah mati jadi lo sekarang cari Yuki."
"Bang sat!!"
"Bugh ...." Pertahanan Asher runtuh juga.
"Bugh ...." Amar membalas tak kalah keras.
Prit prit prit!!!!
Sekuriti rumah sakit langsung mengamankan keduanya sebelum terjadi pertumpahan darah. Karena dinilai telah berbuat keributan di area rumah sakit maka keduanya diglandang ke ruangan satpam untuk diberi nasihat.
"Dia duluan Pak yang ngajak ribut."
"Dia ...."
"Dia ...."
"Eh lo ya, jelas-jelas ngatain gue."
"Apa? Pulang sana nggak guna."
"Parah, songong. Gue yakin banget yang ada Yuki bakalan ilfeel kalau ditungguin elo."
"Ba cot lo dari tadi ngeselin." Keduanya bangkit dari duduk sambil ancang-ancang untuk duel season yang kedua.
"Diam!!!!" teriak nyaring sang satpam
"Kalau kalian berdua tidak mau damai dan tetap berisik, terpaksa kami giring ke kantor polisi."
Hening
Beberapa saat ada petugas yang menghampiri.
"Keluarganya pasien atas nama Yuki Tanzeela," seru petugas tersebut
"Saya." Asher langsung berdiri
"Ditunggu Dokter yang menangani pasien di ruangannya."
Asher berjalan mengekori petugas yang memanggil dengan langkah lebar. Sebelum sampai ke ruangan ia sempat melirik ke dalam ruangan di mana Yuki yang masih terlelap di atas brangkar.
"Permisi, Dokter yang menangani istri saya Yuki." Asher menyembulkan kepalanya setelah mengetuk pintu salam terlebih dahulu.
"Iya, silahkan masuk dan silahkan duduk Pak."
"Terima kasih, Dok." Gumam Asher pelan.
"Jadi istri saya sakit apa Dok, kenapa bisa tiba-tiba pingsan begini?"
***
TBC
Assalamu'alaikum reader semua...
Terimakasih yang sudah membersamai novel saya dan mohon maaf bagi pembaca yang masih kurang berkenan dengan isi novel ini. Maafkan lah....
Setiap komentar kalian saya baca satu persatu sebagai apresiasi, dan saya menerima segala bentuk kritik dan saran. Itu menunjukkan bahwa readers semua mendalami, mengikuti, menjiwai cerita.
Di mohon jangan ribut tetap damai membaca dengan santai sebagai hiburan. Love you sejagat....
Salam Vren satu hati 🙏🙏🙏🙏