Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Hari Yang Dinantikan


Tanggal lima belas, tanggal yang selalu dinantikan oleh para pengikut sekte akhirnya tiba karena hari ini adalah tanggal lima belas. Istana seperti biasanya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Gerak gerik para pengikut sekte pun tidak menunjukkan kecurigaan tapi sesungguhnya mereka sedang membuat sebuah rencana besar untuk malam ini.


Seorang wanita muda sudah mereka tangkap, wanita muda itu dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Agnes yang akan bergabung ke dalam sekte tapi korban spesial belum mereka dapatkan. Korban spesial itu sudah pasti Ernest karena mereka akan menjadikan Ernest sebagai korban persembahan pada Satan.


Selain mereka bisa membunuh Ernest yang menjadi ancaman, mereka juga akan menjadikan Ernest sebagai kambing hitam dan menjadikan Ernest sebagai penyihir yang sesungguhnya. Sebuah skenario besar sudah disiapkan malam ini untuk menjadikan Ernest sebagai tumbal juga tersangka dan setelah malam ini, semua orang akan mengira sang penyihir sudah mati dan semua orang akan percaya jika Ernest memang penyihir sesuai dengan isu yang beredar.


Malam ini, Agnes mendapatkan peran yang paling penting oleh sang ratu sesat karena dialah yang akan berperan di dalam markas musuh. Tanggal lima belas tentu di waspadai oleh seluruh rakyat apalagi yang memiliki anak gadis. Tidak akan ada yang berani keluar. Tidak saja para rakyat yang waspada, istana juga waspada. Raja Leon dan Ratu Hana memiliki firasat buruk akan malam ini, mereka merasa akan terjadi hal besar yang tidak mereka inginkan oleh sebab itu mereka memanggil Ernest untuk datang dan menemui mereka. Tidak ada yang mengikuti Ernest, hanya Ernest sendiri saja yang menemui mereka.


Ratu Hana sangat khawatir, dia takut kejadian sewaktu berburu kembali terulang tapiĀ  jujur saja, dia merasa akan ada kejadian yang lebih tidak terduga lagi dibandingkan malam berburu. Alena sudah berada bersama dengan raja dan ratu di dalam ruang rahasia. Ratu tampak cemas, sedangkan raja Leon mondar mandir seperti memikirkan sesuatu.


"Sebaiknya malam ini kau bersama dengan kami, Ernest. Aku akan meminta kakakmu menemani dirimu," ucap ratu Hana.


"Tidak, Bunda. Sudah cukup kita lari dari masalah ini. Aku tidak bisa menghindarinya terus menerus jadi aku harus menghadapinya dan menghentikan kegilaan ini!"


"Apa yang mau kau lakukan. Ernest?" tanya raja Leon.


"Ernest sudah memiliki rencana, apakah Ayahanda mau mempercayakan masalah ini pada Ernest?" tanya Alena.


"Apa yang kau rencanakan, katakan pada kami!" pinta ibu ratu.


"Maaf, Bunda. Aku tidak bisa mengatakan apa rencanaku pada siapa pun," tolak Alena.


"Kenapa, apa kau tidak mempercayai kami?" tanya ibunya lagi.


"Tentu aku mempercayai kalian, aku sangat mempercayai kalian tapi untuk hal ini aku tidak bisa mengatakannya pada siapa pun jadi harap Bunda dan Ayahanda tidak marah karena Ernest memang tidak bisa mengatakannya."


"Ernest," raja Leon mendekati putrinya dan memegangi bahunya, "Aku akan membantu dirimu, kau tidak sendirian. Aku akan mengutus orang-orang terbaik yang aku miliki untuk melindungi dirimu jadi jangan merasa kau sendirian dan andalkan'lah ayahmu ini!" ucap sang raja.


"Terima kasih, Ayanda," Alena melangkah mendekat dan memeluk ayahnya, "Aku tahu kau pasti akan membantu aku. Malam ini, kita akan berperang dengan sekte sesat itu dan siapa pun penyihir sebenarnya aku harap ayahanda tidak bermurah hati untuk menghukumnya!" pinta Alena.


"Tentu saja, aku sudah berjanji akan menghukum siapa pun yang telah memfitnah dirimu selama ini jadi aku akan melakukannya!"


"Terima kasih, Ayahanda. Aku sangat beruntung memiliki orang tua seperti kalian," Alena memeluk raja Leon dengan erat lalu membisikkan sesuatu, "Akan ada yang menemui ayahanda tapi jangan percaya dengan prajurit istana dan jangan mengatakan apa pun pada Bunda!" ucapnya.


Raja Leon tidak menjawab tapi sepertinya Ernest sedang berhati-hati dan tidak ingin ada yang tahu akan rencananya. Peringatan untuk tidak mempercayai prajurit istana dan mengatakan hal itu pada sang ratu tentu saja akan dia dengarkan.


"Baiklah, ayahanda mempercayai dirimu, Ernest."


"Dan aku mempercayai Ayahanda, sebaiknya aku pergi terlebih dahulu karena ada yang harus aku lakukan!"


"Pergilah!" ucap ayahnya.


"Maaf, Bunda. Aku harus menyelesaikan semua ini karena aku tidak mau lari lagi!" ucap Ernest seraya melompat keluar dari jendela.


"Biarkan dia pergi, Hana. Ernest memang harus menyelesaikan semua ini, kita tidak bisa menghindarinya terus menerus karena korban akan semakin banyak berjatuhan. Malam ini, dia akan menangkap pelaku yang sesungguhnya jadi biarkan dia yang melakukannya. Lebih baik utus seseorang memanggil Arabella dan perintahkan dirinya untuk bersama denganmu malam ini!"


"Baik, Baginda. Tapi apakah Putri Mauren masih hidup?"


"Entahlah, kita akan tahu nanti setelah Ernest menangkap penyihir yang sebenarnya karena bisa saja penyihir itu adalah putri Mauren sendiri."


"Baiklah, aku harap Ernest berhasil."


"Aku juga demikian!" jawab raja Leon, dia harap Ernest berhasil mengungkap kasus ini dan menyelesaikannya tapi dia akan tetap membantu.


Alena yang sudah selesai menemui ayah dan ibunya pergi menemui Bastian dan Lucius di penjara yang tidak terpakai. Di sana Amy sudah menunggu, mereka semua terlihat serius. Tidak saja musuh yang memiliki rencana besar tapi mereka juga memiliki rencana besar.


"Apa kau yakin, Ernest?" tanya pangeran Lucius karena dia khawatir dengan rencana Alena.


"Tentu aku yakin, aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya!"


"Aku harap kau menjaga dirimu baik-baik, Ernest. Aku juga berharap rencana yang kau buat tidaklah salah!"


"Aku sudah mempertimbangkan semuanya, Pangeran. Malam ini, tangkap yang bisa ditangkap dan bunuh yang hendak melarikan diri. Tidak ada yang boleh lari karena kita harus membasmi mereka semua!"


"Sesuai dengan perintahmu, kami semua akan bersiap-siap!" ucap Lucius.


"Sebelum itu," Alena menghampiri Lucius dan memeluknya. Amy dan Bastian yang melihat langsung berpaling bahkan mereka melangkah menjauh.


"Terima kasih atas bantuanmu, Pangeran. Aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita!" ucap Alena.


"Tentu saja tidak, ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir kita!" ucap Lucius yang sudah memeluk Alena dengan erat.


"Aku juga berharap demikian!" Alena mengangkat wajah, Lucius mencium bibirnya tanpa ragu. Lagi-Lagi perasaan takut dia rasakan, dia takut wanita yang berada di dalam dekapannya saat ini hilang begitu saja. Mereka berdua seperti enggan melepaskan pelukan satu sama lain, jika bisa mereka tidak mau berpisah tapi mereka harus melakukannya agar rencana tetap berjalan dengan lancar.


"Ayo, Amy. Kita kembali!" ajak Alena.


"Ernest, aku pasti akan membantumu menuntaskan semuanya!" ucap Lucius.


"Terima kasih, pangeran." dia mendapatkan bantuan yang tak terduga dan malam ini, dia harus bisa menangkap pelaku yang sesungguhnya.


Alena dan Amy pergi dari penjara itu, Lucius dan Bastian pun pergi bahkan mereka keluar dari istana dari jalan rahasia. Amy dan Alena kembali di dalam kamar, di mana Agnes sedang tidak ada. Mereka berdua bersikap seperti biasa saja tapi ketika Agnes masuk ke dalam, waktunya benar-benar dimulai.