
Lucius sudah diantar ke tempat peristirahatannya. Pria itu berdiri di depan jendela dengan tatapan mata yang melihat ke luar. Sang pelayan pribadi mendekati pangeran untuk memberikan minuman yang sudah disiapkan untuknya.
"Minumanmu, Pangeran."
Lucius, berbalik. Gelas minuman pun diambil tapi dia kembali melihat ke luar jendela di mana para pelayan sedang sibuk menyiapkan perjamuan.
"Gadis yang kita temui di jalan, apa kau masih mengingatnya?" tanya Lucius.
"Tentu, Tuanku. Apa kau ingin aku mencarinya?" tanya sang pelayan.
"Ya, aku ingin kau mencarinya tapi jangan sampai ada yang tahu!" perintah Lucius.
"Baik, Tuanku. Akan aku lakukan tapi bersiaplah, sebentar lagi perjamuan untuk menyambut kedatanganmu akan diadakan!"
Lucius mengangguk, gadis yang dia temui di jalan semoga saja bisa ditemukan oleh anak buahnya. Entah kenapa dia penasaran dan ingin bertemu dengannya lagi. Mungkin kemampuan yang dimiliki oleh gadis itu, jujur saja dia belum pernah melihatnya bahkan di istananya pun tidak.
Tapi entah kenapa dia merasa perawakan gadis yang dia temui di jalan itu sedikit mirip dengan putri Ernest yang dikenal oleh orang sebagai pecundang. Putri Ernest memang terlihat seperti seorang pecundang, untuk menunjukkan wajahnya saja tidak berani. Tidak ada gunanya memikirkan pecundang yang tidak berguna itu, walau dia berwajah cantik tapi tetap saja, seorang pecundang tetaplah pecundang.
Kedatangannya kali ini tidak saja untuk menjalin hubungan baik dengan Kent Arsia tapi juga untuk memberikan sebuah undangan pesta untuk kedua putri raja Leon dan ratu Hana. Dia harap Ernest tidak datang, jujur dia tidak suka ada pecundang yang hadir di acara pesta kerajaannya. Baginya itu memalukan, bahkan bisa menjadi sebuah keributan di acara pesta nanti.
Tentunya Alena tidak mempermasalahkan hal itu, dia pun tidak peduli. Bahkan dia lebih senang tidak pergi apalagi tidak ada tempat aman selain kamarnya. Agnes yang mendapat tugas untuk membuat obat segera kembali setelah mendengar desas desus di dalam dapur. Putri harus mengetahui hal ini, oleh sebab itu dia harus menyampaikannya pada sang putri.
Agnes melihat sekitar, saat masuk ke dalam kamar. Jangan sampai ada yang mendengar apa yang hendak dia sampaikan pada sang putri. Amy sedang membantu sang putri merapikan penampilannya, putri sudah harus siap sebelum jamuan makan berlangsung.
"Putri, ada hal penting yang ingin aku bahas padamu," ucap Agnes tapi dengan nada pelan.
"Ada apa, Agnes. Kenapa kau terburu-buru seperti itu?"
"Apa putri lupa? Sekarang tanggal sebelas," jawab Agnes.
"Lalu? Ada apa dengan tanggal sebelas?" tanya Alana heran.
"Apa putri benar-benar lupa? Sebentar lagi tanggal lima belas dan pada tanggal itu sebuah pemujaan pasti akan terjadi dan seseorang pasti akan menjadi korban."
"Benar, Putri. Sebab sekte itulah sehingga putri dituduh sebagai penyihir."
"Wow, aku melupakannya. Coba katakan padaku kejadian sebelumnya. Aku ingat kalian pernah berkata korban akan mati dalam keadaan kering dan darahnya tidak ada. Coba jelaskan, aku ingin mendengarnya."
"Dengarkan aku, Putri. Setiap malam tanggal lima belas, akan ada sebuah ritual pemujaan yang dilakukan oleh sekte sesat. Tidak ada yang tahu siapa yang melakukan dan tidak ada yang tahu jam berapa tapi yang pasti, setiap pagi setelah tanggal lima belas pasti ditemukan seorang korban wanita muda yang telah mati mengering dengan jantung yang tidak ada," jelas Amy.
"Setiap malam tanggal lima belas tidak ada yang berani keluar tapi pernah ada seorang prajurit yang mengatakan jika dia melihat pelaku yang melakukan ritual itu adalah seorang wanita yang sangat cantik. Oleh sebab itu isu jika Putri Ernest adalah seorang penyihir mulai merebak," jelas Agnes pula.
"Jika begitu, bukankah prajurit itu yang menyebar fitnah terlebih dahulu?" tanya Alena.
"Bukan, Putri. Raja sudah memanggil prajurit itu untuk diinterogasi tapi dia berkata tidak tahu. Dia memang melihat tapi dia tidak berkata jika itu adalah putri Ernest ."
"Menarik," ucap Alena.
"Apanya yang menarik, Putri?" tanya Amy dan Agnes.
"Menarik, sungguh. Aku sudah tidak sabar menunggu tanggal lima belas cepat datang. Mungkin saja aku bisa langsung bertemu dengan pelakunya."
"Jangan putri, sebaiknya kau tetap di dalam istana untuk menghindari fitnah!" ucap Amy.
"Tidak perlu khawatir, aku diam saja tetap akan menjadi tersangka karena orang-orang sudah mengira aku sebagai penyihir. Lebih baik aku mencari petunjuk dari pada bersembunyi karena takut oleh sebab itu tidak perlu khawatir dan Agnes, apa kau melihat pembunuh yang hendak membunuhmu semalam?"
"Maaf, Putri. Wajahnya tidak terlihat karena sebagian ditutupi tapi jika suara aku masih ingat."
"Minum dulu obatnya, Putri. Agar kau tidak pingsan," Agnes memberikan obat yang baru saja dia buat pada sang putri.
Obat pun segera dihabiskan, fisik Ernest pasti akan segera pulih dan tidak lemah lagi jika dia tidak mengkonsumsi obat dari ibu ratu. Dia yakin selama ini obat itulah yang telah membuat Ernest menjadi lemah. Seseorang yang diutus untuk memanggil Ernest sudah datang, sang putri dan kedua pelayannya pun bergegas keluar.
Arabella sudah berada di tempat perjamuan dan terlihat cantik luar biasa. Sang raja dan ratu pun sudah berada di sana begitu juga dengan pengeran Lucius. Tatapan matanya tidak lepas dari si pecundang yang baru saja datang, Alena menunduk, semoga tidak ketahuan. Amy pun menunduk, seperti Ernest dia pun takut ketahuan.
"Kenapa begitu lama, Ernest. Apa kau tidak enak badan?" tanya ibu ratu.
"Maaf, Bunda. Aku memang sedikit pusing," dusta Ernest.
Pangeran Lucius terkejut, suara ini? Tatapan matanya semakin tidak berpaling dari Alena. Tidak mungkin, pasti hanya kebetulan mirip saja. Si pecundang yang tidak bisa melakukan apa pun itu tidak mungkin seperti yang dia duga saat ini.
"Tolong maafkan Putri kami, Pangeran. Ernest memang memiliki fisik yang lemah," ucap raja Leon.
"Tidak perlu dipikirkan Yang mulai Raja Leon, aku tidak mempermasalahannya."
"Terima kasih atas kemurahatian pangeran. Ernest, minta maaf sekarang!" perintah sang raja.
"Aku mohon maaf, Pangeran," Alena membungkuk, dengan kedua tangan di sisi kiri.
"Mohon maafkan adikku, Pangeran," Arabella beranjak dari tempat duduknya untuk mewakili adiknya.
"Sudahlah, Putri Ernest tidak melakukan apa pun jadi tidak perlu seperti itu," ucap Lucius.
"Terima kasih," Arabella kembali membungkuk. Ernest pun membungkuk sebelum dia duduk.
Perjamuan pun dimulai, hiburan musik terdengar. Tidak saja pangeran yang dijamu tapi para pengikutnya pun dijamu. Arabella berbicara dengan sang pangeran, itulah yang dia inginkan sedangkan Alena menunduk dan diam. Amy dan Agnes tetap setia berdiri di belakang sang putri, mereka takut ada yang menyerang putri Ernest secara tiba-tiba.
"Putri, apa kau tidak mau bergabung putri Arabella yang sedang berbicara dengan pangeran?" tanya Agnes.
"Tidak, aku bisa ketahuan. Sebaiknya lihat baik-baik, apakah ada yang mencurigakan di tempat ini atau tidak"
Amy dan Agnes mengangguk. Mereka tampak waspada. Alena pun melihat sekitar, dia bisa merasakan ada yang sedang memperhatikan dirinya. Alena melihat ke kanan, lalu ke kiri. Entah siapa yang sedang melihat dirinya yang pasti tatapan yang dia dapatkan bukanlah tatapan yang menyenangkan.
Agnes yang sedang melihat-lihat pun tanpa sengaja mendengar suara yang tidak asing dan itu adalah suara pembunuh bayaran yang hendak membunuhnya semalam. Dia masih ingat suara itu, dia tidak akan pernah lupa. Agnes berpaling, melihat ke arah seorang pelayan yang sedang meletakkan minuman. Agnes melihat pelayan itu cukup lama sehingga membuat pelayan itu pun menyadari tatapan matanya.
Pelayan itu berlalu pergi dengan terburu-buru, pelayan itu pun melihat ke arah Agnes sesekali. Entah kenapa dia merasa tidak pelayan putri Ernest melihatnya tanpa henti. Agnes semakin yakin, tidak salah lagi. Dia tidak mungkin salah.
"Putri, aku baru saja melihat pembunuh bayaran itu," bisik Agnes.
"Apa, di mana?" tanya Alena.
"Dia baru saja pergi," jawab Agnes.
"Kejar!" ucap Alena seraya beranjak.
"Maksud putri?" Amy dan Agnes tidak mengerti.
"Kita harus menangkapnya karena bisa saja dia memberikan kita petunjuk!" Alena sudah melangkah meninggalkan meja makan yang memang sudah tersisa dirinya saja.
"Putri, tunggu!" pinta kedua pelayannya yang mengikuti.
Alena menyelinap pergi di antara tamu dan juga pejabat yang sedang menikmati perjamuan yang begitu meriah itu. Raja dan Ratu tidak menyadari kepergiannya namun pangeran Lucius yang sedang berbincang dengan raja tanpa sengaja melihat kepergian putri yang dianggap sebagai pecundang dengan gerak gerik yang terlihat mencurigakan.