Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Tidak Perlu Terburu-buru


Putri Arabella terkejut karena dia ditinggal sendiri saat sedang berburu. Aneh, ke mana pangeran Lucius? Para anak pejabat yang mendapatkan hasil buruan yang begitu banyak tampak bersenang-senang namun pangeran Lucius justru tidak ada di sana. Dia ditinggal seorang diri, tanpa ada yang memberi tahu.


Arabella memutuskan kembali ke pohon besar d mana dia dan Lucius sudah membuat janji bertemu setelah mereka selesai berburu. Dia kira Pangeran Lucius sudah menunggunya di tempat itu dan dia pun mengira adiknya berada di sana. Arabella memacu kudanya dengan cepat, menuju pohon besar tapi ketika dia sudah kembali, tidak ada siapa pun di tempat itu.


Pangeran Lucius tidak ada, Ernest pun tidak ada. Arabella mengumpat dalam hati, jangan katakan Lucius dan adiknya pergi ke tempat lain agar mereka bisa berduaan dan jangan katakan pula dia dibohongi oleh mereka berdua agar mereka bisa berduaan tanpa diganggu olehnya.


Tidak ada siapa pun, Arabella yang tidak tahu apa pun sangat murka. Dia memutuskan untuk kembali ke istana dengan perasaan kesal. Dia sungguh sudah dibutakan dengan prasangka buruk akan pangeran Lucius juga adiknya Ernest dan ketika dia tiba di tendanya, Arabella melampiaskan amarahnya akibat pengkhianatan adiknya yang ternyata juga menginginkan Pangeran Lucius.


"Kenapa kau marah seperti itu, Putri?" pelayan pribadinya menghampiri sang putri yang sedang melempar barang untuk melampiaskan kekesalan hatinya.


"Mereka meninggalkan aku, mereka berdua begitu tega meninggalkan aku!" ucap Arabella penuh emosi.


"Siapa yang Tuan Putri maksudkan?" tanya sang pelayan.


"Siapa lagi jika bukan Pangeran Lucius dan Ernest, jangan membuat aku semakin kesal!"


"Putri, tenangkan emosi anda. Aku mendengar Pangeran Lucius membawa putri Ernest yang sedang terluka kembali," ucap sang pelayan.


"Apa?" Arabella melihat ke arah pelayan pribadinya dengan ekspresi tidak percaya.


"Putri Ernest tidak pandai memanah, semua orang tahu itu jadi ketika dia memanah seekor kelinci panah yang dia tembakan justru berbalik ke arahnya dan mengenai dirinya sendiri," jelas pelayannya. Isu itu dibuat agar tidak ada yang tahu keadaan Ernest yang sebenarnya dan isu itu dibuat agar tidak ada yang curiga kenapa pangeran Lucius membawa putri Ernest kembali.


"Benarkah itu?" Arabella merasa jadi bodoh karena dia sudah begitu bodoh akibat emosi tidak jelas.


"Benar, Putri. Kau bisa melihat keadaan Putri Ernest di tendanya sendiri."


Tanpa berkata apa-apa, Arabella keluar dari tendanya dan bergegas menuju kamar Ernest. Apa benar adiknya terluka karena panah? Seharusnya dia tidak meninggalkan adiknya yang memang lemah dan tidak bisa menggunakan senjata. Dia benar-benar sudah ceroboh dan membuat kesalahan.


Ernest sedang berbaring ketika Arabella masuk ke dalam tendanya dan begitu melihat kedatangan kakaknya, Alena hendak bangun dari tidurnya namun Arabella buru-buru menahan dan duduk di sisi adiknya.


"Tidak perlu, Ernest. Berbaring saja, aku datang hanya untuk melihat keadaanmu saja."


"Maaf jika meninggalkan kak Arabella di arena berburu," ucap Alena.


"Bagaimana bisa, Ernest? Seharusnya aku tidak meninggalkan dirimu seorang diri, seharusnya aku menemanimu tapi aku justru mengajak pangeran Lucius bersenang-senang."


"Jangan menyalahkan dirimu, Kakak. Aku yang salah karena tidak bisa menjaga diriku sendiri."


"Baiklah, katakan padaku apa yang terjadi padamu? Aku dengar kau terkena panah, apa itu benar?"


"Benar, Kakak. Aku benar-benar tidak berguna. Aku hendak menangkap seekor kelinci untuk Bunda tapi panah yang aku tembakan justru mengenai sesuatu yang lentur sehingga panah itu berputar arah dan mengenai diriku sendiri."


"Astaga, kau benar-benar sedang tidak beruntung, Ernest. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" Arabella benar-benar tidak mempercayai kejadian yang sangat tidak mungkin terjadi itu.


"Maafkan aku, kak. Aku benar-benar bodoh. Beruntungnya pangeran Lucius berada tidak jauh dariku oleh sebab itu dia membawa aku kembali."


"Benar, tolong kak Arabella tidak mencurigai aku karena aku sudah kembali padanya dan meninggalkan kakak di tempat berburu."


"Bodoh, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Sekarang katakan padaku, bagaimana dengan lukamu?"


"Panah itu mengenai kakiku, tapi tidak terlalu parah. Aku masih memiliki kemampuan untuk melangkah beberapa langkah," Ernest memperlihatkan kakinya yang di perban padahal di sana tidak ada luka apa pun.


"Kau benar-benar ceroboh, Ernest. Bagaimana jika ada penjahat yang mengintai, kau akan tertangkap dengan mudah dan terbunuh. Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi."


"Terima kasih atas perhatian yang kakak berikan, aku benar-benar sudah lalai," Ernest menunduk dan pura-pura bersalah.


"Baiklah, lain kali kau harus berhati-hati dan kalian berdua, kalian harus menjaga adikku dengan benar sehingga hal ini tidak terulang kembali. Kalian paham?" ucap Arabella pada Amy dan Agnes.


"Baik, Putri. Kami memang salah karena sudah lalai dan tidak becus menjaga putri," jawab kedua pelayan Ernest.


"Baiklah, aku sudah melihat keadaanmu dan aku sangat lega. Beristirahatlah, aku akan melihat keadaanmu nanti setelah aku beristirahat."


"Terima kasih atas kunjungan kakak."


"Beristirahatlah, aku mau kembali untuk beristirahat," Arabella beranjak, Ernest tersenyum saat sang kakak mengusap lengannya. Semoga saja pelakunya bukan Arabella karena dia bisa merasakan jika Ernest sangat menyayangi kakaknya. Selama ini dia belum mendapatkan gerak gerik yang mencurigakan di dalam istana, entah siapa yang pasti musuh begitu pandai menyembunyikan identitasnya.


Arabella keluar dari tenda Ernest, kini dia jadi lega setelah tahu apa yang terjadi. Amy dan Agnes menghampiri Alena dengan cepat, mereka ingin tahu kenapa putri Ernest tidak mengatakan pada raja dan ratu akan pembunuh yang hendak membunuh putri dan kenapa Pangeran Lucius yang tahu juga diam saja bahkan raja dan ratu membuat isu jika sang putri terkena panah sendiri yang membuat orang-orang yang mendengar justru mencibir kebodohan Ernest.


"Kenapa kau tidak membicarakan masalah pembunuh itu pada yang mulia ratu dan raja, Putri?" tanya Amy.


"Benar, bukankah hal itu harus diusut sampai tuntas dan dalang yang hendak menginginkan kematianmu harus dicari?" tanya Agnes pula.


"Aku sengaja, tidak perlu terburu-buru untuk menangkap penjahat. Aku sedang membuat siasat untuk menguak obat beracun itu jadi aku tidak bisa mencampur adukkan masalah satu dengan masalah yang lain sehingga perhatian yang mulia teralihkan."


"Tapi bagaimana jika pembunuh itu kembali lagi untuk melukai Putri?"


"Percayalah padaku, sekalipun kita melawan mereka dan membunuh mereka dan sekalipun kita menangkap salah satu dari mereka tapi hal itu tidak akan menghentikan yang lainnya untuk membunuh aku. Sebaiknya kita waspada menghadapi musuh lain yang lebih berbahaya dari pada musuh yang kita temui tadi."


"Maksud putri?" tanya Amy dan Agnes.


"Musuh yang ada di dalam kegelapan lebih menakutkan dari pada musuh yang berani menampakkan diri. Bersiaplah nanti malam, tidak ada yang boleh lengah!"


"Apa yang akan terjadi nanti malam, Putri?" tanya kedua pelayannya lagi.


"Ini adalah malam tangan lima belas, aku punya firasat buruk!"


"Putri, jangan membuat aku takut," Amy dan Agnes tampak cemas.


Alena diam saja, dia yakin akan tercipta sebuah konspirasi untuk membunuh dirinya karena cara menggunakan racun sudah gagal dan menggunakan pembunuh pun sudah gagal. Dia yakin nanti malam, para pembunuh itu sudah memiliki rencana yang lebih berbahaya lagi dan memang itulah yang akan terjadi.