
Agnes mengambil kotak yang disimpan oleh Amy di dalam sebuah lemari, entah apa yang ada di dalam kotak itu tapi dia harus mendapatkan isinya. Agnes melihat ke arah Amy yang terlelap lalu dia melihat ke arah sang putri yang juga sedang terlelap. Sebaiknya dia cepat apalagi mata-mata itu sudah menunggunya di luar.
Kotak misterius yang dibawa oleh Amy dibuka, sebuah gumpalan kain berada di dalamnya. Gumpalan kain itu tentu saja membungkus sesuatu yang sepertinya sangatlah berharga. Agnes tampak ragu, rasanya sangat ingin menukar isi yang ada di dalam kain tersebut tapi dia tidak berani karena dia sedang diawasi.
Kedua tangan Agnes gemetar saat mengambil benda yang ada di dalam kotak itu. Dia harus bergegas jika tidak maka apa yang dia lakukan akan ketahuan. Bungkusan diambil dan setelah itu Agnes bergegas menuju jendela dan membuka daun jendela dengan perlahan.
"Berikan benda itu!" sebilah pedang sudah berada di bawah leher Agnes.
"Aku sudah mengambil apa yang kau inginkan jadi jangan libatkan aku lagi!" ucap Agnes dengan pelan.
"Sebaiknya kau patuh jika tidak kematiannya yang akan kau dapatkan!"
"Tidak, jangan lakukan!" pinta Agnes memohon.
"Jika begitu, diam dan patuh karena kau akan mati!"
Agnes mengangguk dengan air mata mengalir. Mata pedang disingkirkan dari bawah leher, mata-mata itu pun pergi dengan isi kotak. Sang ratu pasti akan sangat senang dengan apa yang dia bawa tapi malam sudah larut oleh sebab itu dia akan memberikan benda yang dibungkus dengan kain itu besok.
Setelah mata-mata itu pergi, Agnes kembali tidur. Amy dan Alena pun masih tertidur dengan nyenyaknya. Dia benar-benar sangat beruntung mereka tidak tahu apa yang telah dia lakukan. Semoga sang putri tidak tahu dan mencurigainya, dia sungguh tidak tahu harus melakukan apa.
Pagi pun sudah menjelang dan seperti tidak terjadi apa pun tadi malam, Agnes bangun seperti biasa dan menyiapkan pakaian serta air mandi untuk putri Ernest. Alena pun sudah bangun karena pagi ini dia ingin pergi menghadap raja dan ratu agar mereka tahu jika dia telah kembali dan dia pun ingin mengenalkan Lucius sebagai pengawal pada mereka.
"Aku semalam bermimpi buruk," ucap Alena saat Agnes membantunya mandi.
"Apa yang kau impikan, putri?" tanya Agnes.
"Aku bermimpi ada dua ekor ular berbisa yang cukup besar masuk ke dalam kamarku, Agnes. Aku melihat ular itu hendak menyerang aku dan Amy sedangkan kau membawa sebuah tongkat kayu di tanganmu," Alena melihat ekspresi wajah Agnes dengan serius setelah mengatakan hal itu.
"Lalu, apa yang terjadi, putri?" tanya Agnes.
"Jika kau dalam posisi seperti itu, di mana ular itu akan mematuk aku dan Amy. Apa yang akan kau lakukan, Agnes? Apakah kau akan menyelamatkan aku dan memukul ular itu ataukah kau akan menyelamatkan Amy terlebih dahulu?" tanya Alena.
"Apa yang kau katakan, Putri? Tentu saja yang akan aku selamatkan dirimu terlebih dahulu barulah aku menyelamatkan Amy," jawab Agnes.
"Aku senang mendengarnya, Agnes. Aku harap kau tetap setia padaku dan tidak berkhianat!"
Agnes terkejut mendengar perkataan sang putri. Apa yang putri Ernest maksud? Apakah sang putri sudah mencurigai dirinya?
"Aku tidak akan melakukan hal itu, Putri," ucap Agnes.
"Aku sangat senang mendengarnya. Sekarang bantu kau berpakaian, aku akan menemui raja dan ratu setelah ini."
"Baik, Putri," Agnes bergegas, mengambil pakaian tipis yang akan digunakan oleh Alena untuk menutupi tubuhnya yang telanjang saat keluar dari tempat mandi.
Amy yang ditugaskan untuk membuat makanan dan minuman masuk ke dalam saat Alena sedang mengenakan pakaiannya. Alena melirik ke arahnya sebentar, Amy pun mengangguk sebagai tanda dia mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh sang putri.
"Mereka sudah menunggu, Putri," ucap Amy.
"Biarkan saja mereka menunggu!"
"Mereka siapa?" tanya Agnes.
"Kau akan tahu nanti," ucap Amy sambil tersenyum.
Amy memberikan sup yang dia bawa, Alena pun segera menghabiskannya karena dia sudah ditunggu oleh Pangeran Lucius. Lagi pula sup itu hanya sebagai pengganjal perut karena dia akan makan bersama dengan keluarganya nanti. Mereka segera mencari raja dan ratu yang terkejut mendapati putri mereka sudah kembali.
"Ernest," ratu Hana mendekati putrinya.
"Hormat pada Bunda dan Ayahanda," Alena membungkuk untuk memberikan hormat pada kedua orangtuanya.
"Kapan kau kembali? Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?" tanya ibu ratu yang sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf, Bunda. Aku kembali secara diam-diam oleh sebab itu aku tidak memberi Bunda kabar."
"Baiklah, asalkan kau pulang dengan selamat. Bunda sudah sangat senang. Bagaimana perjalananmu, apakah menyenangkan?"
"Tentu, Bunda. Cukup menyenangkan meski ada gangguan."
"Apa maksud perkataanmu Ernest, dan siapa mereka?" tanya raja Leon.
"Mereka adalah orang-orang yang sudah menolong aku saat di perjalanan, Ayahanda. Aku terkena panah beracun dan mereka yang menolong aku. Karena mereka begitu baik dan tidak memiliki tempat tinggal, aku memutuskan membawa mereka ke istana untuk menjadi pengawal pribadiku. Aku harap Bunda dan Ayahanda tidak keberatan," jelas Alena dan pada saat itu, pangeran dan Bastian memberi hormat.
"Tapi, Ernest," ratu Hana melihat Pangeran Lucius dan Bastian dengan teliti lalu dia kembali berkata, "Di istana begitu hanyak pengawal yang handal tapi kenapa kau justru mengambil orang asing yang baru kau temui menjadi pengawalmu?" tanya sang ratu.
"Benar, Ernest. Sebaiknya tidak menjadikan orang asing yang baru kau temui menjadi pengawalmu karena bisa saja, mereka berdua adalah orang jahatnya!" raja Leon membenarkan apa yang ratu katakan.
"Aku tahu, Ayahanda. Aku tahu aku tidak boleh mengambil pengawal sembarangan tapi aku berhutang nyawa pada mereka. Jika mereka memang menginginkan kematianku, mereka berdua tidak akan menolong aku saat aku terkena panah beracun oleh sebah itulah, aku yakin mereka adalah orang baik!"
"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. Aku harap mereka benar-benar bisa menjaga dirimu!"
"Kami akan selalu setia pada putri Ernest, Yang Mulia," Lucius dan Bastian berlutut agar raja Leon dan Ratu Hana mempercayai dirinya.
"Baiklah, kami akan mempercayai kalian berdua!" ucap Raja Leon.
"Terima kasih, yang Mulia," Lucius dan Bastian beranjak.
"Terima kasih, Ayahanda," Alena pun memberikan hormatnya.
Alena mengajak kedua pengawal barunya untuk pergi. Banyak yang hendak dia lakukan tapi itu bukan waktu yang tepat. Dia pun tidak bisa bertindak gegabah dengan cara mengajak raja dan ratu untuk bertemu karena bisa dicurigai. Alena tidak kembali ke kamar, dia pergi menikmati waktunya dengan berjalan-jalan sebentar.
Sang ratu kegelapan sangatlah murka, apalagi Ernest tiba-tiba memiliki dua orang pengawal. Sepertinya sekarang tidak akan mudah melawan putri yang tadinya tidak berguna itu.
"Sial, sepertinya untuk membunuhnya tidak akan mudah mulai sekarang!"
"Jangan khawatir, Ratu. Meski dia memiliki pengawal, kita juga memiliki kekuatan. Ini benda yag ratu inginkan!" benda yang dicuri pun diberikan.
"Buka!" perintah sang ratu.
Anak buahnya segera membuka buntalan kain, mereka sudah sangat bersemangat tapi ketika kain itu sudah terbuka, mereka semua terkejut melihat manisan plum yang ada di dalamnya.
"Apa maksudnya ini? Apa kau ingin menipu aku?" teriak sang ratu murka.
"Aku benar-benar melihatnya, Ratu. Aku melihatnya mengambil benda ini dari dalam kotak!"
"Bodoh, kita sudah tertipu!" kedua tangan mencengkeram dengan erat. Dia kira sudah akan mendapatkan isi kotak tapi ternyata dia justru dikelabui dengan manisan buah plum. Tidak bisa, Ernest semakin berbahaya saja. Sepertinya dia harus membuat sebuah siasat untuk membunuh Ernest sesegera mungkin.