
Kabar jika putri Ernest sudah sadar tentu sudah didengar oleh rakyat yang sangat ingin bertemu dengan sang putri. Mereka semua sepakat untuk meminta maaf pada Putri Ernest karena selama ini mereka sudah salah paham. Rakyat sudah berkumpul di depan gerbang istana karena mereka ingin bertemu dengan putri Ernest namun gerbang di tutup dengan rapat oleh sebab itu mereka memohon pada prajurit untuk membuka gerbang agar mereka bisa bertemu dengan putri Ernest.
Permintaan Rakyat yang ingin bertemu dengan putri Ernest tentu harus disampaikan pada raja Leon sebelum terjadi kekacauan apalagi rakyat mulai bersorak agar mereka bisa bertemu dengan putri Ernest. Sorakan para rakyat yang menggema tentu terdengar ke dalam istana.
Seorang prajurit berlari menuju kamar putri Ernest karena raja Leon dan Ratu Hana berada di sana untuk melihat keadaan putri mereka. Seorang tabib diutus untuk memeriksa keadaan Ernest agar raja Leon dan ratu Hana yakin dengan keadaan putri mereka.
"Keadaan putri Ernest sudah baik-baik saja, yang mulia," ucap sang tabib.
"Bagus, aku harap luka di bahunya juga segera sembuh," ucap ratu Hana.
"Aku akan memberikan obat terbaik untuk mengobati luka-lukanya."
"Lakukan yang terbaik, jangan meninggalkan bekas!" perintah raja Leon.
"Baik, yang mulia!"
Ratu Hana hendak menghampiri putrinya tapi dia justru dikejutkan olah prajurit yang muncul secara tiba-tiba di depan pintu.
"Lapor, yang mulia. Para rakyat sudah berkumpul di gerbang istana untuk bertemu dengan Tuan Putri," ucap prajurit itu.
"Ernest sedang tidak sehat, katakan pada mereka jika mereka bisa bertemu denganĀ Ernest lain kali!" ucap ibu ratu.
"Tidak apa-apa, Bunda. Aku akan menemui mereka," ucap Ernest.
"Tapi keadaanmu baru pulih, Ernest. Tidak bijak menemui mereka saat ini apalagi kita tidak tahu apa yang para rakyat itu inginkan darimu."
"Tidak apa-apa, Bunda. Aku akan menemui mereka dan pangeran Lucius akan menemani aku."
"Kita akan pergi bersama jadi buka gerbangnya dan biarkan mereka masuk ke dalam!" perintah raja Leon.
"Baiklah, segera bantu Ernest," perintah ratu Hana pada Amy dan Agnes.
Amy dan Agnes menjalankan perintah untuk membantu Ernest namun pangeran Lucius sudah bergerak cepat dan mengulurkan tangannya untuk Ernest. Telapak tangan Ernest sudah berada di atas telapak tangannya, mereka berdua keluar dari kamar mengikuti langkah raja dan ratu.
Gerbang istana sudah dibuka, rakyat berbondong-bondong masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan putri Ernest. Mereka memberi hormat ketika berjumpa dengan raja Leon dan ratu Hana, mereka pun sangat senang melihat putri Ernest berdiri di samping pangeran Lucius.
"Apa yang kalian inginkan, wahai para rakyatku?" tanya Raja Leon.
"Kami ingin bertemu dengan Tuan putri untuk meminta maaf padanya karena selama ini kami sudah salah paham padanya," jawab seorang rakyat.
"Benar, kami telah dibutakan oleh perilaku baik sang penyihir sehingga kami termakan isu oleh sebab itu, maafkan kami putri," ucapnya lainnya dan pada saat itu, semua rakyat yang datang berlutut untuk meminta maaf dan sesuai titah raja Leon, tidak ada yang berani menyebut nama Arabella.
"Berdirilah kalian semua, tidak perlu meminta maaf sampai berlutut seperti ini," ucap Ernest yang sudah melangkah maju.
"Kami benar-benar minta maaf karena sudah salah sangka padamu, Putri," ucap semua rakyat.
"Aku memaafkan kalian semua, sekarang berdirilah. Aku tidak suka kalian seperti ini, jadi berdirilah!"
"Terima kasih atas kebaikan Putri Ernest," rakyat berdiri, beberapa wanita melangkah maju untuk memberikan bunga yang mereka bawa juga beberapa barang. Amy dan Agnes membantu putri Ernest membawa barang-barang yang putri dapatkan karena banyaknya barang yang diberikan oleh rakyat. Kini putri yang dulunya dibenci banyak orang mulai dicintai oleh seluruh rakyatnya.
Pangeran Lucius sudah tidak terlihat begitu juga dengan raja Leon dan ratu Hana. Mereka sedang berbincang tentunya ada hal penting yang dibahas oleh pangeran Lucius.
Ernest dan kedua pelayannya sudah kembali ke kamarnya bersama dengan Amy dan Agnes. Barang-Barang yang diberikan oleh rakyat memenuhi kamar Ernest sehingga Amy dan Agnes sibuk menyusun barang-barang tersebut agar tidak menghalangi Jalan.
Ernest sedang duduk di depan jendela dengan manisan buah di tangan. Tentunya manisan itu dari rakyat. Ernest tampak termenung dengan banyak pikiran dan terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ernest berpaling, senyuman menghiasi wajah karena yang sedang memeluknya saat itu adalah pangeran Lucius.
"Apa yang kau lakukan, kenapa termenung seperti ini?" tanya Lucius.
"Aku sedang memikirkan dirimu, Lucius. Ke mana kau pergi?" Ernest bersandar di dada Pangeran, dia harus menikmati waktu kebersamaan mereka berdua.
"Aku pergi berbincang dengan ayah dan ibumu, Ernest."
"Oh, yeah? Apa yang kau bicarakan dengan mereka, Lucius?"
"Dengar, aku sudah diminta untuk kembali oleh kedua orangtuaku jadi aku harus kembali. Aku membicarakan niatku pada kedua orangtuamu, niat untuk melamar dirimu dan menjadikanmu sebagai permaisuriku," ucap Pangeran.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Pangeran?" Ernest berbalik dan menatap Pangeran Lucius dengan lekat.
"Tentu saja aku serius," Lucius menarik pinggang Ernest dan mengusap wajahnya dengan perlahan, "Aku sudah memutuskan hal ini sejak aku jatuh hati padamu, aku menginginkan dirimu dan ingin menjadikan kau sebagai permaisuriku dan juga ratuku!" ucap pangeran Lucius tanpa ragu.
"Sekalipun aku seorang pecundang?" tanya Ernest.
"Kau bukan pecundang jadi jangan menganggap dirimu seperti itu."
"Aku tidak mau kau menyesal di kemudian hari, Lucius."
"Tidak, aku tidak akan menyesali keputusanku sama sekali!" jawab Lucius.
"Sekarang jawab aku, baik-baik. Apa kau mengenali aku?"
"Kenapa kau bertanya demikian?" tanya Lucius dengan ekspresi heran.
"Jawab aku dan lihat aku baik-baik, Pangeran. Apakah kau mengenali aku yang saat ini?"
Lucius diam namun tatapan matanya memandangi Ernest dengan serius. Dia tahu ada makna dibalik pertanyaan Ernest, dia semakin yakin ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Ernest selama ini tapi sosok yang berdiri di hadapannya saat ini adalah sosok yang dia kenal, sosok yang tegas dan sosok yang dia cintai selama ini.
"Sudah aku katakan, aku tidak mungkin salah mengenali kekasih hatiku karena jika kau berubah menjadi orang lain seperti yang kau katakan sebelumnya, aku yakin kau tidak akan bersikap seperti ini!"
"Terima kasih kau masih mengenali aku, Lucius," kini Ernest memeluknya, ternyata pangeran masih mengenali dirinya dan tidak mengecewakan.
"Sudah pasti aku mengenali dirimu, Ernest!"
"Ternyata kau tidak mengecewakan aku, Pangeran."
"Tentu saja tidak!" dagu Ernest diangkat, Lucius mencium bibirnya. Setelah ini dia akan pulang, meski dia harus meninggalkan Ernest untuk sesaat tapi dia akan kembali lagi dan melamar Ernest untuk menjadikan dirinya sebagai permaisuri.