
Alena dan Amy memutuskan untuk segera kembali ke istana. Kuda dibawa dengan kecepatan tinggi, mereka sudah harus kembali sebelum fajar menyingsing. Teriakan mereka terdengar, suara tapak kaki kuda memecah keheningan malam beserta teriakan mereka.
Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka tidak boleh membuang waktu tapi sayangnya, sekelompok perampok sudah mengintai di jalan yang akan mereka lalui nanti. Bukan Alana yang mereka intai tapi yang mereka tunggu adalah target mereka yaitu gerombolan yang akan datang dari kerajaan tetangga tentunya gerombolan itu adalah Lucius William dan juga beberapa pengikutnya.
Kabar kedatangan pangeran Lucius William ke kerajaan Kent Arsia tentu sudah menyebar begitu luas oleh sebab itu, para perampok yang mengira sang pangeran membawa banyak persembahan seperti rempah-rempah, obat-obatan dan juga perhiasan akan menghadang perjalanan pangeran Lucius. Mereka akan mencegat sang pangeran yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai putra mahkota untuk merampok harta benda miliknya.
Memang sang pangeran membawa banyak barang sesuai dengan perintah ayahnya. Dia datang berkunjung untuk menjalin kerja sama dan persahabatan dengan raja Leon Herbert. Sang pengeran yang merasa sudah dekat, enggan beristirahat karena dia ingin cepat tiba oleh sebab itulah, dia memutuskan melanjutkan perjalanan.
Para perampok itu sudah bersiap, saat suara kuda sudah terdengar mendekat. Mereka mengira itu gerombolan pangeran yang mereka incar oleh karena itu mereka sudah berada di posisi. Beberapa jebakan sudah mereka pasang, suara tapak kaki kuda semakin nyaring terdengar. Pemimpin kelompok itu siap memberi aba-aba dan ketika kuda sudah dekat, sebuah tali yang terikat di sebuah pohon langsung diputuskan.
Alena terkejut, buru-buru menghentikan laju kudanya karena tiba-tiba saja muncul kayu-kayu yang runcing di tengah jalan. Amy pun terkejut, kuda pun dihentikan dengan terburu-buru. Suara lengkingan kuda terdengar, para perampok itu pun keluar dari persembunyian. Mereka segera mengepung Alena dan Amy tapi mereka justru terkejut karena mereka salah sasaran.
"Kita salah orang!" teriak salah satu perampok itu.
"Apa mau kalian, menyingkir dari jalanku!" pinta Alena.
"Kau sudah mengacaukan rencana kami!"
"Ini jalanan umum, bukan jalan milik kalian jadi menyingkir!"
"Wah... Wah," sang pemimpin kelompok melangkah mendekat, dia juga mengitari Alena lalu melihat ke arah Amy yang ketakutan.
"Apa yang kalian lakukan di luar malam-malam seperti ini, wanita cantik?"
"Minggir!" Alena terlihat kesal, dia sudah harus kembali tapi orang-orang itu justru menghalangi langkahnya.
"Jangan marah seperti itu, bagaimana jika bergabung dengan kami dan setelah ini kita bersenang-senang?" ajak sang pemimpin kelompok itu.
"Benar, kami akan memberikan emas yang banyak pada kalian berdua asal kalian bisa memuaskan kami!"
Tawa para perampok itu terdengar, mereka benar-benar membuat Alena murka apalagi mereka membuat Amy ketakutan. Rambut Amy dimainkan, dia seperti dilecehkan oleh para perampok yang sedang tertawa.
"Jangan ganggu dia!" teriak Alena marah.
"Wah, dia begitu galak. Apa yang bisa kau lakukan, Nona?" cibir salah satu perampok itu.
"Aku akan mengambil tangan kalian semua!" tangan Alena sudah berada di tali cambuk yang ada di pinggang.
perkataannya justru menjadi bahan tertawaan para perampok itu, Amy berteriak ketakutan. Alena sudah mengambil tali cambuknya, posisinya sangat pas karena dia berhadapan dengan Amy yang terus diganggu. Alena yang murka pun memecutkan tali cambuknya ke arah orang yang sedang mengganggu Amy, tali cambuknya tepat sasaran dan melilit lengan orang itu.
Semua terkejut, Alena melompat dari atas kuda ke arah orang itu. Tali cambuk ditarik, sehingga perampok itu tertarik dan pada saat itu juga, Craasshhh!! Alena memenggal tangan orang yang sudah mengganggu Amy menggunakan pedangnya.
Para perampok itu kembali terkejut, begitu juga dengan Amy. Perampok yang baru saja dipenggal oleh Alena lengannya, berteriak dengan nyaring. tentunya teriakan itu didengar oleh Pangeran Lucius William yang sudah tidak berada jauh dari posisi Alena dan perampok.
"Cepat, lihat apa yang terjadi!" perintah Lucius.
Pangeran Lucius dan para pengawalnya segera menuju arah datangnya suara, di mana suara pedang yang saling beradu terdengar. Para perampok itu sangat murka karena Alena sudah memenggal lengan salah satu rekan mereka. Mereka mengeroyok Alena, sedangkan Amy ketakutan dengan pedang yang sudah berada di tangan. Dia tidak tahu harus bagaimana, dia tidak tahu bagaimana caranya mengayunkan pedang.
Alena menangkis setiap serangan dari para perampok itu, sungguh dia kewalahan. Jika ada senjata api, sudah dia tembak semua para perampok yang telah mengganggu pelayannya. Suara pedang yang saling beradu tidak henti terdengar, para perampok itu menyerang Alena tanpa henti.
Dengan bantuan sinar bulan, Alena berlari dengan cepat ke arah sebuah pohon besar lalu berlari menaiki pohon itu sebelum bersalto ke belakang. Amy terkejut, mulutnya bahkan menganga melihat aksi sang putri yang belum pernah dia lihat sama sekali. Gerakan Alena begitu cepat, Alena menyabetkan pedangnya setelah mendarat ke atas tanah. Mata pedangnya yang tajam berhasil melukai punggung beberapa perampok itu. Tentunya mereka semakin murka apalagi sang pemimpin karena anak buahnya sudah tumbang beberapa.
"Bunuh dia, bunuh!"
"Jangan, tolong jangan sakiti tuanku!" teriak Amy.
"Lari!" teriak Alena seraya menangkis setiap serangan yang diberikan oleh lawan.
"Tidak, aku tidak akan pergi!"
Alena terpukul mundur, fisik Ernest benar-benar menyebalkan karena dia sudah merasa begitu lelah. Padahal dia baru melumpuhkan beberapa orang saja tapi fisik sang putri tidaklah seperti fisiknya. Setelah ini dia benar-benar harus melatih diri.
"Awas... Awas!" teriak Amy saat ada yang menyabetkan pedangnya ke arah Alena dari aras kanan.
Alena segera menangkis, tubuhnya bahkan terdorong ke belakang. Setelah menangkis yang satu, dia harus menangkis yang lainnya. Serangan yang secara bertubi-tubi, membuat dirinya semakin lelah.
Pangeran Lucius bersama dengan para pengawalnya terkejut mendapati seorang wanita sedang di keroyok dan seorang wanita yang lain ketakutan di bawah pohon. Perlakuan yang sangat tidak adil, oleh sebab itu sang Pengeran memerintahkan para pengawalnya untuk membantu Alena. Meski dia tidak tahu siapa wanita itu karena wajah Alena tidak dia kenali apalagi gelap namun dia tetap akan membantunya.
Serangan mendadak dari para pengawal Lucius, membuat para perampok itu terkejut. Kini mereka tidak hanya menyerang Alena saja, mereka pun menyerang pasukan pangeran Lucius bahkan sang pangeran pun ikut serta. Keributan di malam itu semakin menjadi, para korban berjatuhan. Alena sudah mendapatkan beberapa luka, tapi berkat bantuan dari pangeran yang tidak dia kenal sama sekali telah membuat pasukan perampok itu kalah karena mereka sudah mati bersimbah darah.
Alena berlari menghampiri Amy dan menutupi wajahnya dengan penutup kepala dari jubah yang dia kenakan. Alena pun melakukan hal yang sama, dia menarik penutup kepalanya hingga ke bawah dan setelah itu mereka mendekati pangeran Lucius yang sedang berbincang dengan pengawal kepercayaannya.
"Tuanku, terima kasih atas bantuan yang kau berikan," ucap Amy.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian bisa dicegat seperti ini?" tanya pengawal pangeran.
"Kami mau pulang setelah mengambil obat untuk ayah kami yang sedang sekarat tapi mereka justru mencegat kami," dusta Amy.
"Jika begitu segeralah pergi, semoga tidak ada lagi yang seperti mereka."
"Terima kasih, Tuanku," Amy dan Alena membungkuk hormat dan setelah itu mereka melangkah cepat menuju kuda mereka.
Lucius yang sedari tadi diam saja, tidak melepaskan pandangannya dari Alena. Siapa gadis itu? Dia tidak pernah bertemu dengan gadis yang begitu berani yang bisa melawan sekumpulan bandit itu seorang diri. Siapa dia? Apa mereka bisa bertemu kembali?
Alena dan Amy melanjutkan perjalanan kembali ke istana begitu juga dengan Lucius William dan pasukannya yang juga menuju istana Kent Arsia.