
Demi mengelabui musuh dan agar Agnes tidak dikira sudah gagal dalam menjalankan tugas sehingga Agnes selalu mendapatkan kepercayaan musuh untuk mencelakai dirinya, Alena berpura-pura mendapatkan luka bakar di wajahnya akibat obat keras yang dibawa oleh Agnes. Sebuah luka buatan sudah dia buat tapi tidak ada yang tahu karena Alena tidak membuat keributan untuk hal itu. Dia akan berpura-pura tidak terjadi apa pun, dia pun akan bersikap seolah-olah baru saja terjadi insiden kecil yang membuat wajahnya terluka.
Amy yang sudah kembali mengantar Bastian untuk membawa musuh yang dia tangkap ke dalam penjara sedang sibuk membuat luka di wajah Alena. Lucius yang tadinya berada di luar kini berada di dalam ruangan untuk melihat apa yang dilakukan oleh sang putri. Dia sudah mendengarnya jika Agnes berkhianat tapi dia pun sudah tahu apa yang direncanakan oleh Alena.
Agnes memandangi pangeran Lucius yang sedang menyamar dengan penuh selidik. Dia tidak menduga jika putri Ernest mengambil seorang pengawal. Dia sudah mendengar jika pengawal itu ditemukan oleh putri Ernest saat di perjalanan. Meski nama Bastian sempat disebut oleh putri Ernest tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali dengan pria yang berdiri di belakang sang putri. Tapi bukan berarti dia akan berkhianat lagi, dia sudah tidak berani melakukannya.
"Untuk apa kau menempeli wajahmu dengan luka buatan itu, Ernest?" tanya Lucius.
"Tentu saja untuk mengelabui musuh. Untuk mencapai sebuah tujuan aku perlu melakukannya!" jawab Ernest tanpa menyinggung pengkhianatan yang dilakukan oleh Agnes.
"Putri, apa kau yakin tidak akan ada yang mengatakan hal ini pada musuh?" tanya Amy sambil melihat ke arah Agnes. Dia justru takut Agnes melaporkan pada musuh apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Tentu saja, tidak perlu khawatir. Segera selesaikan sebelum ada yang datang!" perintah Alena.
Amy mengangguk, meski dia tidak mengerti kenapa sang putri tidak mengusir Agnes padahal Agnes sudah berkhianat tapi dia yakin ada rencana atas apa yang sedang dilakukan oleh putri Ernest saat ini. Luka buatan sudah dibuat di wajah lalu ditutupi dengan perban agar tidak ada yang tahu jika luka itu palsu. Biarkan saja musuh mau beranggapan seperti apa yang pasti Agnes harus tetap berada di pihak musuh agar dia bisa menyusup untuk mendapatkan informasi apalagi tanggal lima belas sudah semakin dekat saja.
Alena terlihat cukup puas, bagus. Untuk mengungkap kebusukan yang ada di istana tidak bisa dilakukan secara mendadak apalagi musuh pandai bersembunyi oleh sebab itu dia harus membuat siasat-siasat kecil untuk membuka kedok penjahat yang sesungguhnya apalagi bisa saja, penjahat yang sesungguhnya justru berada begitu dekat dengannya.
"Bagaimana menurutmu dengan penampilanku?" Tanya Alena pada pangeran Lucius.
"Apa kau ingin mendengar pujianku sekarang atau di tempat lain yang tidak didengar oleh orang?" Lucius justru balik bertanya.
"Baiklah, simpan pujianmu tapi aku ingin meminta barang yang aku titipkan padamu karena malam ini aku akan bertemu dengan bunda ratu dan ayahanda untuk membahas isi dari buku tersebut."
"Apa kau sudah membuat janji dengan mereka?"
"Tidak perlu, aku akan menyelinap masuk ke dalam kamar mereka secara diam-diam agar tidak ada yang tahu tapi aku membutuhkan bantuanmu untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mengikuti."
"Serahkan pada pengawalmu ini!" ucap Lucius.
Alena tidak menjawab, tatapan mata justru tertuju di luar jendela. Sudah saatnya mencari tahu siapa sebenarnya putri Mauren dan apakah dia benar-benar bukan putri dari Ratu Hana dan Raja Leon. Malam ini, dia akan menemui mereka secara pribadi untuk mendapatkan jawaban dari isi bukan yang ditulis oleh entah siapa.
"Ernest, aku mendengar kau sudah kembali. Apa kau berada di dalam?" terdengar suara putri Arabella yang memang datang untuk melihat keadaan adiknya karena dia belum bertemu dengan Ernest sejak dia kembali. Dia pun ingin tahu kenapa Ernest memiliki pengawal sekarang dan dia pun ingin melihat pengawal yang diucapkan oleh ibu ratu.
Amy mendapat perintah untuk membuka pintu, Lucius berdiri di belakang Alena dan berpura-pura sebagai pengawal yang setia. Arabella pun masuk ke dalam dan ketika melihat Lucius, Arabella menatapnya dengan tatapan penuh selidik karena dia merasa tidak begitu asing. Dia sangat penasaran dengan pria asing itu yang muncul secara mendadak lalu menjadi pengawal adiknya.
"Kakak, apa kabarmu?" tanya Alena basa basi.
"Astaga, Ernest. Ada apa dengan wajahmu?" Arabella melangkah mendekati adiknya dengan cepat saat melihat sebuah perban berada di wajah adiknya.
"Aku baik-baik saja, Kakak. Ini hanya luka akibat terjatuh," dusta Alena.
"Bagaimana kau bisa terjatuh sehingga melukai wajah? Kau adalah seorang putri, tidak seharusnya ada sebuah luka di wajahmu!"
"Tidak masalah, Kakak. Ini hanya luka ringan dan akan segera sembuh. Bagaimana dengan keadaan kakak? Aku dengar Kakak kembali sebelum pesta dansa selesai?" Alena pura-pura bertanya demikian agar tidak dicurigai oleh kakaknya.
"Aku tidak mau membahasnya, sebaiknya kita membahas yang lain!" Arabella benar-benar tidak mau mengingat kejadian memalukan itu lagi.
"Sudahlah, aku dengar kau memiliki dua orang pengawal. Apakah benar?"
"Benar, kakak. Aku memang butuh pengawal karena aku merasa situasi yang aku hadapi akan semakin sulit."
"Yang kau katakan sangatlah benar, Ernest. Aku juga mengkhawatirkan keadaanmu," Arabella melihat ke arah pangeran Lucius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Sungguh, dia merasa pria itu tidak begitu asing.
"Sekarang perlihatkan padaku, seberapa parah luka yang ada di wajahmu," pinta Arabella.
"Maaf, Kakak. Wajahku baru saja diobati jadi lebih baik tidak dibuka terlebih dahulu."
"Baiklah, yang kau katakan memang sangat benar. Luka di wajahmu harus diberi obat terbaik agar tidak meninggalkan bekas, kau paham?"
"Terima kasih, Kakak," Alena tersenyum. Dia kira kakaknya akan curiga karena dia tidak berada di istana saat kakaknya kembali. Alena bahkan sudah menyiapkan jawaban jika kakaknya bertanya demikian tapi ternyata dia salah. Apakah kakaknya benar-benar tidak tahu kepergiannya ataukah kakaknya memang tidak mencurigai hal itu sama sekali?
"Jika begitu aku pergi dulu, sebaiknya kau beristirahat," Arabella beranjak, dia sudah melihat adiknya dan dia pun sudah lega.
Alena mengantar sebentar sampai putri Arabella keluar dari kamarnya. Alena bahkan masih berdiri di depan pintu dan ketika Arabella sudah melangkah pergi bersama dengan pelayannya yang semakin terlihat sangat tidak menyukai Ernest, Alena pun masuk ke dalam dan kembali duduk di depan jendela.
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanya Lucius.
"Apa maksudmu?" tanya Alena tidak mengerti.
Lucius menatap ke arah Amy dan Agnes, Alena tahu sepertinya ada yang hendak pangeran sampaikan pada dirinya oleh sebab itu dia meminta Agnes dan Amy untuk keluar sebentar. Amy dan Agnes tentu mematuhi perintah dan keluar dari kamar sang putri agar Alena bisa berbicara dengan Pangeran Lucius secara pribadi.
"Apa maksud dari perkataan yang baru saja kau ucapkan, Pangeran?" tanya Alena.
"Sikap yang ditunjukkan oleh kakakmu barusan, apa kau tidak mencurigainya sama sekali?"
"Tidak, dia kakakku jadi buat apa aku mencurigainya?"
"Ernest, aku bukannya ingin menuduh tapi kau sendiri yang berkata jika semua yang ada di istana bisa saja musuhmu jadi aku ingin kau bersikap waspada dengan siapa saja dan kau pun harus menaruh curiga dengan siapa pun termasuk kakakmu juga ibu dan ayahmu. Aku bukannya ingin memprovokasi hubungan kalian tapi bagaimana jika yang tertulis di buku itu sangatlah benar bahwa kau adalah putri dari putri Mauren dan bagaimana jika memang ada sebuah konspirasi besar yang disembunyikan darimu selama ini?"
"Aku tahu maksudmu, Lucius," Alena bersandar di dada Lucius yang sedang duduk di sisinya.
"Aku memang harus mencurigai semua yang ada di istana tapi aku tidak boleh menunjukkan kecurigaanku secara terang-terangan sehingga musuh justru tahu dan waspada. Aku harus berpura-pura bodoh sampai aku tahu kebenaran dari tulisan itu. Sudah aku katakan malam ini aku akan mencari tahu dan setelah itu, aku akan memikirkan apa yang harus aku lakukan dan mencari tahu siapa lawan dan siapa kawan."
"Kita, jangan lupakan aku!" tangan Lucius sudah berada di dahi Alena dan mengusapnya dengan perlahan. Kedua mata Alena sudah terpejam, menikmati kebersamaan mereka karena dia tidak tahu apakah mereka masih bisa seperti itu atau tidak di kemudian hari.
"Kakakku begitu cantik, tapi kenapa kau tertarik dengan seorang pecundang seperti aku?" tanya Alena. Meski dia bertanya demikian tapi dia tahu yang disukai oleh pangeran adalah Ernest, bukan dirinya.
"Soal itu," sebelum melanjutkan perkataannya, Lucius mencium pipi Alena dan tak menjauhkan bibirnya dari wajah cantik Ernest, "Aku tidak tahu karena perasaan ini hadir dengan sendirinya tanpa aku inginkan dan aku tahu, perasaan ini tidak mungkin salah meski kau dianggap pencundang dan meski kau dianggap sebagai seorang penyihir oleh semua orang tapi bagiku kau tidaklah seperti itu!" ucapnya
Alena tersenyum, entah Ernest yang beruntung atau dia tapi dia tahu hubungan mereka tidak akan disetujui apalagi oleh rakyat di kerajaan Kenneth. Jika dia ingin hubungan mereka bisa tetap bersama maka dia harus membersihkan nama Ernest dan membuktikan pada dunia jika dia bukanlah penyihir seperti yang orang kira dan malam ini, semua jawaban harus dia dapatkan dari raja Leon dan ratu Hana karena dia sudah berencana menemui mereka untuk membahas buku yang diberikan Ordo Suci padanya.