Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Perasaan Cemburu


Pasukan sudah berjalan cukup jauh dari istana. Siang itu matahari bersinar begitu teriknya, cuaca panas seperti itu membuat Alena merasa pusing. Keadaannya membuat Raja Leon dan Ratu Hana cemas oleh sebab itu Alena diperintahkan untuk berada di dalam kereta.


Arabella juga sudah berada di dalam kereta kuda, cuaca benar-benar begitu panas membuat dirinya tidak tahan. Raja Leon bahkan memerintahkan para prajuritnya untuk mencari tempat beristirahat. Lagi pula pasukan yang sedang berjalan kaki sudah terlihat kelelahan.


Tenda untuk beristirahat didirikan dengan cepat agar raja dan ratu bisa segera beristirahat. Alena yang berada di dalam kereta kuda membuka sedikit kain yang menutupi jendela karena dia ingin tahu kenapa kereta kuda itu berhenti.


"Apa ada yang kau inginkan, Putri?" tanya Amy yang sedang berjalan di sisi kereta.


"Tidak, aku hanya ingin tahu kenapa kita berhenti?"


"Raja ingin beristirahat sebentar, Putri."


"Apa masih jauh?" tanya Alena.


"Sepertinya kita sudah di tengah jalan dan kita akan kembali jalan setelah selesai beristirahat."


"Baiklah," Ernest keluar dari kereta, mereka berada di hutan saat itu. Udara yang berhembus cukup sejuk, sepertinya sangat menyenangkan jika bisa berjalan-jalan sebentar.


"Kau mau pergi ke mana, Putri?" tanya Amy dan Agnes.


"Jalan-Jalan sebentar."


"Tunggu, Putri. Jangan jauh-jauh!" Amy dan Agnes segera berlari mengejar Alena yang sedang berjalan menuju sebuah pohon besar.


Lucius yang melihat pun segera melompat turun dari kudanya. Tanpa membuang waktu, Lucius melangkah cepat menghampiri Alena. Bastian pun mengikuti beserta dengan beberapa prajuritnya.


Alena yang ingin jalan-jalan sebentar justru menjadi pusat perhatian, tentunya dari orang-orang yang menginginkan kematiannya namun orang-orang itu tidak bisa melakukan apa pun selain memperhatikan karena pangeran Lucius sedang mengejar putri Ernest.


Alena yang sadar jika sedang diikuti, bersembunyi di balik pohon dengan cepat. Amy dan Agnes terus berjalan sesuai dengan permintaan sang putri. Lucius sangat heran karena Alena tiba-tiba menghilang namun pisau yang tiba-tiba berada di bawah lehernya membuat Pangeran Lucius terkejut sehingga langkahnya terhenti.


"Apa yang kau lakukan, Pangeran? Apa kau selalu melakukan hal seperti ini? Membuntuti seorang wanita dan aku rasa, kau tahu jika ini bukan tindakan yang terpuji," ucap Alena.


"Turunkan pisaumu, Ernest. Aku rasa kau tahu jika perbuatan yang kau lakukan ini bisa disalahartikan oleh orang yang melihat."


"Kau beruntung aku tidak langsung memotong lehermu, Pangeran," pisau diturunkan lalu disimpan kembali.


"Kenapa kau mengikuti aku?" tanya Alena seraya melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Amy dan Agnes berada.


"Aku melihatmu jadi aku ingin tahu ke mana kau akan pergi," Lucius pun mengikuti langkah Alena.


"Untuk apa, Pangeran. Tempat ini luas, aku rasa kau pasti bisa menemukan tempat bagus untuk beristirahat.


"Tidak baik pergi jauh-jauh, Ernest. Kau bisa jadi incaran orang jahat atau perampok yang bersembunyi di hutan."


"Terima kasih atas nasehat yang kau berikan. Aku tidak pergi jauh, aku hanya ingin berada di sana saja!" ucap Alena seraya menunjuk sisi tebing di mana Amy dan Agnes sudah menunggu.


"Kemarilah, Putri. Tempat ini sangatlah bagus!" teriak Amy dan Agnes.


"Menyebalkan, kalian mendahului aku!" Alena melangkah mendekat, semua gara-gara Pangeran yang tiba-tiba muncul itu.


"Wah," Alena tampak mengagumi pemandangan yang ada di depan mata.


"Benar-Benar bagus!" ucap Lucius yang sedang berdiri di sisinya.


"Apa hubungannya kedekatan kita dengan Putri Arabella?" tanya Lucius tidak mengerti.


"Kakakku menyukai dirimu, dia adalah calon ratu masa depan jadi aku tidak mau membuatnya kecewa!" Alena menggeser langkahnya ke samping.


"Wah.. Wah, aku sungguh tidak menduga akan hal ini. Dia menyukai aku, tapi apa kau pikir aku menyukai dirinya?"


Alena berpaling, menatap ke arah pangeran Lucius yang juga sedang melihat ke arahnya. Alena tidak mengatakan apa pun, dia kembali melihat pemandangan alam yang terbentang indah di bawah tebing. Lucius mau menyukai kakaknya atau tidak, dia tidak peduli sama sekali.


Mereka berdua diam sampai akhirnya mereka dikejutkan oleh suara Arabella dari belakang. Arabella yang sedang mencari adiknya tidak menyangka jika dia akan menemukan keberadaan adiknya yang sedang bersama dengan Lucius. Sungguh dia semakin curiga dengan hubungan mereka berdua yang terlihat semakin akrab saja.


"Ernest, Pangeran, apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Arabella yang sedang kesulitan mengangkat gaunnya yang panjang dan berat.


"Kakak," Ernest segera menghampiri kakaknya dan membantunya mengangkat gaun, "Mana pelayanmu?" tanya Ernest.


"Mereka sedang beristirahat, Ernest. Katakan, apa yang sedang kau lakukan di sini dengan Pangeran? Apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya Arabella sambil tersenyum.


"Jangan salah paham, Kakak. Kami bertemu di sini secara kebetulan. Kami ingin menikmati pemandangan alam dan lihatlah, tempat ini sangat bagus," Alena menunjuk pemandangan yang ada di depan mata.


"Wow, kau benar. Tempat ini sangat bagus," Arabella pun terpana dengan keindahan yang ada di depan mata.


"Jika begitu aku pergi terlebih dahulu," ucap Lucius. Dia malas berada di sana karena ada Arabella.


"Kenapa begitu cepat, Pangeran. Bagaimana jika kita berbincang bersama-sama?" ajak Arabella.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin cepat pergi, Pangeran. Bukankah kau berkata ingin berbincang denganku dan bertanya tentang kakakku?" Alena sengaja agar pangeran tidak pergi dan agar Pangeran Lucius bisa dekat dengan kakaknya.


"Apa? Apa itu benar, Pangeran?" tanya Arabella. Dia terlihat begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Ernest.


Lucius melotot, sedangkan Alena tersenyum dengan manis. Dia ingin melihat bagaimana pangeran menghindari kakaknya yang memang sudah jelas sangat menyukai dirinya.


"Apa yang ingin kau tahu tentang aku, Pangeran? Aku akan menjawab dan mengatakan apa pun yang mau kau tahu tentang aku," ucap Arabella.


"Hm, sesungguhnya bukan hal penting. Kau adalah calon ratu masa depan dan yang akan memimpin kerajaan Kent Arsia oleh sebab itu aku ingin mengajakmu bertukar pikiran. Aku sengaja bertanya pada Ernest kapan kau punya waktu untuk berbincang denganku," sesungguhnya dia tidak pernah ingin berbincang tapi gara-gara Ernest dia jadi harus membuat sebuah Alibi.


"Kapanpun aku bisa, Pangeran. Suatu kehormatan bagiku bisa berbincang denganmu," Arabella sedikit membungkuk saat mengatakan hal itu.


"Terima kasih, putri Arabella," Lucius kembali melotot ke arah Ernest yang terlihat tidak puas dengan hasilnya.


"Baiklah, sepertinya kita sudah harus kembali karena waktu istirahat sudah selesai," ucap Arabella.


"Kakak benar, ayo kita kembali!"


Arabella memutar langkah, melangkah pergi terlebih dahulu. Alena mengikuti langkah kakaknya dari belakang namun Lucius meraih pinggangnya secara tiba-tiba. Tentunya hal itu membuat Alena terkejut, dia bahkan menutup mulut agar tidak berteriak.


"Awas kau, Ernest. Aku akan membalasnya nanti!" bisik Lucius dengan pelan.


Alena hanya bisa melotot, apa yang mau dilakukan oleh pria itu? Alena buru-buru menepis tangan Lucius yang berada di pinggang karena dia takut Arabella tahu apa yang mereka lakukan tapi sayangnya, Arabella sudah tahu. Kedua tangan Arabella mencengkeram gaunnya dengan erat, rasanya sangat kesal tapi dia harus menahan semua itu.


Mereka kembali ke pasukan yang sudah siap berangkat menuju tempat berburu. Raja dan Ratu sudah menunggu kedua putri mereka yang sudah kembali. Ratu bahkan meminta Ernest dan Arabella untuk satu kereta dengannya karena dia ingin berbincang dengan kedua putrinya.


Alena menyadari ada tatapan lain dari Arabella namun dia tidak tahu jika saat ini sang kakak sedang menatapnya dengan perasaan cemburu karena kedekatannya dengan pangeran Lucius, pria yang sangat dia inginkan.