Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Westtrink, Desa Terkutuk


Pagi buta, pangeran Lucius sudah memerintahkan Bastian untuk mempersiapkan kuda dan beberapa perlengkapan karena dia akan menyusul Ernest ke desa Westtrink yang memiliki jarak cukup jauh. Jika dia ingin cepat tiba, dia harus berkuda tanpa jeda. Jujur saja dia sudah tidak sabar untuk segera berada di desa itu untuk membantu Ernest.


Raja James dan Ratu Eliza sangat heran melihat pangeran Lucius yang mendadak ingin pergi bahkan Lucius tampak begitu terburu-buru. Tidak itu saja, Lucius tidak mengatakan ke mana dia akan pergi karena dia tahu, ayah dan ibunya tidak akan mengijinkan dia pergi ke desa Westtrink di mana desa itu adalah yang sudah terisolasi dan tidak boleh dikunjungi.


"Kau mau pergi ke mana, Lucius? Kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya ibunya.


"Aku ingin pergi mencari putri misterius itu, Bunda," jawab Lucius beralasan.


"Di mana kau akan mencarinya? Apa kau tahu dari mana putri itu berasal?" tanya ayahnya pula.


"Aku sudah bertanya pada penjaga, mereka berkata putri itu datang dari timur oleh sebab itu aku akan melakukan perjalanan jauh untuk mencarinya!"


"Jangan lakukan hal gila itu, Lucius. Kau sudah akan dilantik sebagai putra mahkota, apa tidak ada satu orang putri yang menarik di istana ini sehingga kau harus pergi ke negara timur yang jauh itu?"


"Bunda, ini kesempatan dalam hidupku untuk menemukan wanita yang tepat dan wanita yang akan menjadi ratu istana ini kelak. Aku sudah menentukan pilihan jadi biarkan aku berjuang untuk mendapatkannya!"


"Tapi kau tidak perlu sampai melakukan perjalanan jauh hanya untuk mencari putri asing itu, Lucius!" ucap ayahnya.


"Jika aku tidak melakukannya, maka aku akan melewatkan kesempatan paling berharga di dalam hidupku. Percayalah padaku dan ijinkan aku pergi untuk mencari wanita yang akan menghabiskan waktu denganku untuk seumur hidup!" pinta Lucius.


Ayah dan ibunya saling pandang, putra mereka terlihat begitu serius. Siapa sebenarnya putri misterius yang telah membuat Lucius seperti itu? Padahal banyak wanita cantik di pesta itu, padahal Lucius bisa memilih Arabella calon ratu Kent Arsia tapi kenapa Lucius justru terpikat pada putri yang datang dari jauh bahkan mereka merasa jika mereka tidak mengundang putri dari kerajaan timur.


Setelah meyakinkan kedua orangtuanya, akhirnya Lucius diijinkan pergi untuk mencari putri itu. Kabar itu tentu sudah tersebar luas dan kabar itu membuat iri sebagian putri karena pangeran benar-benar pergi mencari keberadaan putri misterius yang datang dan pergi secara tiba-tiba dari pesta padahal Lucius pergi ke desa Westtrink untuk menyusul Ernest. Isu itu sungguh membantunya sehingga tidak ada yang tahu ke mana dia akan pergi.


Lucius dan Bastian segera berangkat, diantar oleh raja James dan ratu Eliza. Mereka berharap sang pangeran berhasil dengan apa yang sedang dia lakukan. Mereka sungguh tidak tau jika Lucius akan pergi ke desa terkutuk, desa yang tidak mau didatangi oleh siapa pun dan di desa terkutuk itulah Alena dan Amy berada. Ternyata itu hanya desa kecil dengan jumlah penduduk yang sedikit. Desa yang benar-benar kecil dan cukup jauh untuk ditempuh. Alena dan Amy tiba setelah berkuda cukup lama dari tempat peristirahatan mereka.


Para penduduk desa memandangi mereka berdua dengan tatapan tidak menyenangkan saat mereka lewat dengan berjalan kaki sambil menarik kuda mereka. Amy tampak takut, apalagi penduduk desa yang terlihat menakutkan. Sepertinya mereka sudah salah datang ke desa itu.


"Apa keputusan kita datang ke desa ini sudah tepat, Putri?" tanya Amy.


"Jangan memanggil aku seperti itu, Amy. Sudah aku katakan panggil aku Nona atau Ana jika kita berada di luar istana!"


"Maaf, Nona. Aku lupa," Amy buru-buru meralat.


"Sudahlah, ayo kita cari penginapan dan tempat makan terlebih dahulu karena aku sudah lapar."


Mereka berdua terus melangkah, melewati para penduduk yang terus memandangi mereka sampai membawa mereka di sebuah tempat makan yang tidak begitu besar. Kuda diikat pada tempat yang tersedia, Amy dan Alena bergegas ke tempat makan itu tanpa mempedulikan tatapan mata para penduduk.


Sebuah meja kosong menjadi tujuan, mereka berdua duduk dan segera memesan makanan juga minuman. Sebelum mencari pria bernama Kendrick, mereka butuh memulihkan tenaga terlebih dahulu.


"Kenapa desa ini begitu sepi?" tanya Alena pada pelayan yang sedang melayani mereka.


"Aku mencari Kendrick, apa kau tahu?"


Pelayan itu terkejut dan menatap Alena dengan tatapan curiga namun dia berusaha untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun. Alena sangat heran melihat tingkah sang pelayan tapi dia pun pura-pura tidak tahu. Makanan dan minuman sudah dipesan, pelayan itu kembali lalu mencari seseorang. Pelayan wanita itu pun membisikkan sesuatu sambil melihat ke arah Alena dan Amy.


"Ada apa ini, Nona? Kenapa pelayan itu melihat kita dengan tatapan mencurigakan seperti itu?" tanya Amy yang sedari tadi sudah sangat takut berada di desa itu.


"Tidak perlu khawatir, aku rasa pria bernama Kendrick ini bukanlah orang sembarangan di desa ini. Oleh sebab itu dia melihat kita dengan tatapan curiga jadi bersikaplah seperti biasa."


"Baik, Nona," jawab Amy.


Pelayan itu kembali lagi dengan beberapa makanan yang dipesan oleh Alena dan Amy, mereka makan sambil mewaspadai sekitar mereka karena bisa saja ada yang menyerang secara tiba-tiba. Tangan Amy bahkan gemetar, dia harap tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa mereka.


"Nona, apa Tuan akan datang menyusul kita?" tanya Amy. Tentunya yang dia maksud adalah pangeran Lucius.


"Aku harap dia tidak datang, Amy. Aku benar-benar tidak mau melibatkan dirinya!"


"Aku rasa dia akan datang, Nona. Mengenai pesta itu, sepertinya kita akan berada di dalam masalah saat kita kembali. Aku bisa melihat rupa putri Arabella yang sedang marah."


Alena menghela napas, inilah yang dia pikirkan sejak semalam. Dia sendiri yang sudah mengacaukan rencana awal dan dia harap Lucius tidak menyusulnya. Seharusnya tidak dia katakan, seharusnya dia meniru kisah Cinderella yang lari tanpa mengatakan apa pun dan hanya meninggalkan sepatu kacanya saja. Semua itu terjadi karena dia terbuai dengan pangeran tampan yang tidak boleh dia lewatkan meski dia tidak terlalu suka dengan pria yang menggunakan celana ketat.


"Nona," Amy memanggil karena Alena terlihat melamun.


"Aku membuat kesalahan, Amy. Padahal aku datang untuk mengakhiri semuanya agar kami tidak saling bertemu lagi tapi aku justru seperti melemparkan sebuah undangan padanya. Aku bahkan begitu bernafsu menciumnya dan tidak bisa menahan diri sama sekali. Semua sungguh di luar rencana yang sudah aku buat!"


"Apa itu berarti kau menyukainya, Nona?"


"Jangan menyimpulkan hal demikian!"


"Nona tidak bisa menyembunyikannya, aku bisa melihat jika Nona menyukainya."


Alena menatap ke arah Amy sejenak dan setelah itu dia makan dan bersikap seolah-olah seperti tidak membicarakan apa pun. Dia tahu sudah ada yang salah tapi dia masih tidak mengerti, perasaan itu miliknya atau milik Ernest. Amy sudah tidak bertanya karena sang putri tampak enggan membicarakan hal itu lagi. Alena bahkan mengajak Amy untuk bergegas untuk menghabiskan makanan karena mereka akan beristirahat sebentar sebelum mencari Kendrick.


Lagi-Lagi mereka mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari penduduk desa. Mereka bahkan diikuti oleh beberapa orang yang membawa tongkat kayu saat keluar dari tempat makan. Amy semakin ketakutan, mereka bisa merasakan jika yang mengikuti mereka semakin banyak saja.


"Nona," Amy sedikit merapat karena takut.


Alena juga sangat heran, ada apa dengan penduduk desa itu? Kenapa mereka diikuti? Alena dan Amy semakin mempercepat langkah tapi para penduduk desa semakin banyak mengikuti bahkan tidak dari arah belakang saja namun dari arah depan sehingga mereka harus menghentikan langkah mereka karena sekarang para penduduk desa Westtrink sudah mengepung mereka dengan senjata tongkat dan juga cangkul. Amy berdiri di belakang Alena karena takut, tatapan mata para penduduk desa benar-benar tidak bersahabat sama sekali.