Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Tidaklah Penting


Tabib istana, dialah yang telah menaruh racun yang dilihat oleh mata-mata yang diutus oleh ibu ratu. Dia melihat tabib itu memasukkan sesuatu ke dalam obat yang dia racik. Tentu kabar itu mengejutkan ibu ratu dan raja, mereka berdua kembali untuk mendiskusikan hal itu lebih lanjut apalagi sang tabib sudah lama mereka percaya untuk meracik obat.


Sang mata-mata sudah diperintahkan untuk pergi, namun dia kembali mendapatkan tugas untuk memata-matai sang tabib. Raja dan ratu sudah berada di sebuah ruangan saat itu, ruangan rahasia yang mereka gunakan untuk berdiskusi hal penting agar tidak ada yang tahu.


"Bagaimana, Baginda. Apa kau percaya yang menaruh racun adalah tabib istana yang telah kita percaya selama puluhan tahun itu?" tanya ibu ratu.


"Bukankah sudah pasti? Kita memerintahkan mata-mata itu untuk mencari pelakunya jadi kita harus membuat siasat untuk membuka kedoknya," ucap sang raja.


"Sesungguhnya aku takut ada pelaku lain selain tabib itu, Baginda. Aku khawatir sang tabib bersekongkol dengan yang lain dan bisa saja dia tidak tahu jika yang dia masukkan adalah racun."


"Apa maksud ucapanmu ini? Apa kau mencurigai orang lain?"


"Semula aku curiga dengan pelayanku, Baginda. Dia yang selalu membuat obat untuk Ernest, oleh sebab itu aku curiga dengannya," ucap sang ratu.


Raja Leon tampak berpikir, apa yang istrinya katakan sangatlah benar. Bisa saja pelaku sesungguhnya adalah pelayan pribadi istrinya dan bisa saja sang tabib dan pelayan justru bersekongkol. Sepertinya dia benar-benar harus membuat siasat untuk menangkap pelaku yang sebenarnya.


Ratu pun tampak berpikir, setelah tahu pelakunya pun ternyata tidak menyelesaikan masalah karena mereka masih menerka-nerka apalagi kemungkinan ada pelaku lain yang bersekongkol dengan sang tabib.


"Besok, tetap buat obat beracun itu dan tetap berikan pada Ernest!" perintah raja.


"Apa yang Baginda rencanakan?"


"Lakukan saja, besok kita akan membuat sebuah siasat untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya!"


"Baiklah, Baginda. Aku akan melakukan apa yang Baginda perintahkan," entah apa yang raja rencanakan tapi ratu tahu jika raja memiliki siasat untuk menangkap pelaku yang sebenarnya. Lagi pula raja adalah pemimpin yang bijak, dia akan mengambil keputusan yang tepat apalagi untuk putrinya sendiri.


Setelah berdiskusi, raja dan ratu keluar dari ruangan itu. Mereka harus mendengarkan keluhan beberapa masyarakat hari ini oleh sebab itu mereka langsung menuju singgasana untuk menjadi pemimpin yang baik bagi rakyatnya.


Arabella yang mengajak adiknya minum teh sudah berada di sebuah gazebo yang ada di sisi danau bersama dengan adiknya. Arabella pun meminta pelayannya mengambil jepit rambut yang diberikan oleh Pangeran Lucius karena dia ingin memperlihatkannya pada Ernest.


Dua gelas teh sudah berada di atas meja, dengan beberapa camilan. Angin sepoi yang berhembus membuat suasana terasa sejuk. Amy dan Agnes sudah berada tidak jauh dari putri Ernest, mereka juga beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah akibat berlatih.


"Apa yang ingin kakak bicarakan denganku?" tanya Alena.


"Aku ingin memperlihatkan padamu hadiah yang diberikan oleh pangeran Lucius," ucap Arabella.


"Wah, pantas saja kakak begitu senang. Apa yang pangeran Lucius berikan pada kakak?" tanya Alena pula.


"Tunggulah pelayanku kembali, aku akan memperlihatkan benda yang dia berikan padamu."


"Kau sangat beruntung, kakak."


"Kau benar, apa kau tahu? Dia juga mengajak aku berdansa nanti di pesta dansa," Arabella tersipu malu namun dia sangat senang.


"Benarkah?" Alena juga ikut senang, itu berita yang sangat bagus.


"Bagaimana menurutmu, Ernest? Apakah pangeran Lucius menaruh hati padaku?"


"Aku tidak tahu, Kakak. Aku tidak mengerti dalam hal itu. Tapi jika melihat sikapnya dan hadiah yang dia berikan pada kakak juga ajakannya ke pesta dansa, aku rasa dia memang menyimpan hati pada kakak."


"Apa kau berpikir demikian?" hati Arabella benar-benar dipenuhi oleh bunga. Perkataan adiknya benar-benar membuatnya bahagia dan jika dilihat dari sikap adiknya, Ernest tidak menyimpan perasaan apa pun pada Pangeran Lucius.


"Apa yang kau katakan? Pangeran Lucius sudah kembali sejak semalam!"


"Apa? Benarkah?" tanya Alena tidak percaya.


"Apa kau tidak tahu akan hal ini, Ernest? Apa kau tidak tahun dia sudah pergi?" Arabella menatap sang adik curiga. Malam Lucius pergi adalah malam di mana Ernest tidak ada di dalam kamarnya. Apakah ada yang disembunyikan oleh adiknya?


"Aku tidak tahu, sungguh. Lagi pula tidak ada yang mengatakannya padaku jadi bagaimana aku bisa tahu?"


"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar," ucap Arabella.


Alena meneguk tehnya, jadi Lucius sudah pergi? Kenapa Lucius tidak mengatakan padanya jika dia akan pergi? Apa Lucius pergi secara mendadak sehingga tidak ada yang tahu?


Pada saat itu, pelayan Arabella kembali sambil membawa jepit rambut yang diberikan oleh Lucius. Arabella memperlihatkan pada adiknya akan jepit rambut itu, dia juga menunjukkan dengan ekspresi bahagia.


"Bagaimana menurutmu? Saat kami minum teh, dia memberikannya dan aku tidak menyangka, setelah itu dia kembali ke istananya."


"Jepit rambut yang sangat bagus, Kakak. Ternyata dia sudah menyiapkan hadiah ini untukmu sebelum dia pergi," ucap Ernest tanpa tahu sesungguhnya jepit rambut itu hendak Lucius berikan padanya tapi tidak jadi karena dia tidak datang di acara minum teh dan karena Arabella memberinya sesuatu sehingga Lucius tidak punya pilihan lain selain memberikan jepitan rambut itu sebagai balasan.


"kau benar, aku sungguh tidak menduga Ernest. Aku benar-benar bahagia saat dia memberikan hadiah ini untukku."


"Selamat untukmu, Kakak."


"Apa? Kenapa memberikan aku selamat seperti itu?" tanya Arabella.


"Hanya ucapan saja, aku harap kalian berjodoh."


"Terima kasih, adikku. Sekarang mari kita nikmati tehnya," Arabella mengangkat gelas teh, Alena juga melakukannya. Teh dinikmati bersama dengan camilan, mereka berbincang sesekali, Arabella terlihat begitu bahagia saat itu.


Setelah menikmati teh bersama dengan kakaknya, Alena memutuskan kembali ke kamarnya karena dia ingin beristirahat. Amy dan Agnes mengikuti langkah Alena yang berjalan dengan begitu cepatnya.


"Jadi pangeran Lucius sudah pergi, putri?" tanya Amy.


"Yeah... kita tidak melihatnya lagi, bukan?"


"Kenapa dia tidak memberitahu dirimu jika dia akan kembali, Putri?" tanya Agnes.


"Untuk apa, Agnes. Aku tidaklah penting!"


"Tapi dia sudah berjanji akan membantumu, Putri."


"Itu hanya janji saja, perkataan yang bisa diucapkan saat sedang genting. Lagi pula dia tidak memiliki kewajiban untuk memberi laporan padaku jadi jangan di besar-besarkan!"


"Mengenai hadiah yang pangeran berikan pada putri Arabella," Amy menghentikan ucapannya lalu melihat ke arah Agnes.


"Tidak ada yang salah dengan hadiah itu, dia memberikan pada orang yang tepat. Mengenai cindera mata yang aku beli, berikan itu pada orang lain atau buang!" perintah Alena seraya mempercepat langkahnya.


Amy dan Agnes saling pandang, apa yang terjadi pada sang putri? Kenapa cindera mata yang dia beli harus dia buang? Entah kenapa putri Ernest memerintahkan hal itu tapi itu keputusan tepat yang Alena lakukan karena dia tidak mau Lucius salah paham dengan pemberiannya apalagi pria itu sudah memberikan hadiah pada kakaknya dan dia, tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa membuat salah paham.