
Seluruh penginapan di kerajaan Kenneth sudah dipenuhi oleh para gadis yang menantikan pesta dansa yang akan diadakan nanti malam. Para gadis mempercantik diri, mereka membawa gaun indah yang mereka miliki juga topeng emas yang akan mereka kenakan. Para putri yang hadir benar-benar menunjukkan kekuasaan yang ayah mereka miliki.
Penghuni istana pun terlihat sibuk, para pelayan sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta yang sebentar lagi akan berlangsung. Tidak saja para pelayan, para prajurit juga sibuk berjaga-jaga dan memperketat keamanan agar tidak ada yang bisa menerobos masuk secara sembarangan.
Raja James juga sedang sibuk berbicara dengan para menteri dan para pejabat sedangkan Lucius memperhatikan persiapan yang sedang dilakukan. Dia sudah menyebarkan berita jika Ernest tidak akan datang jadi dia yakin tidak akan ada keributan yang terjadi tapi meski begitu, dia sangat berharap Ernest hadir di acara pesta dansanya nanti malam.
Lucius bahkan membayangkan penampilan Ernest yang luar biasa dengan benda yang dia berikan. Rasanya sudah tidak sabar, sangat tidak sabar agar malam cepat tiba. Karena membayangkan penampilan Ernest yang luar biasa membuat Lucius tidak menyadari jika adiknya yang manis sudah berdiri di sisinya.
"Apa yang kakak lihat?" tanya Alicia namun kakaknya tidak menjawab.
"Kakak, pestanya belum dimulai jadi jangan melamun!" teriak Alicia sambil menarik tangan kakaknya.
"Alicia, kenapa kau bermain di sini?"
"Alicia hanya melihat, tidak bermain!"
"Baiklah, tapi di sini berbahaya untuk Alicia. Kembalilah ke kamar dan cari gaun terbaik yang Alicia miliki."
"Apa kakak sudah menentukan siapa yang akan kakak ajak berdansa nanti?"
"Ck, anak kecil tidak perlu tahu akan hal ini!"
"Ayolah, Alicia ingin tahu putri mana yang akan kakak ajak berdansa."
"Nanti Alicia akan tahu jadi masuklah."
"Baiklah," Alicia menunduk dan tampak sedih. Padahal dia ingin melihat tapi para pelayan yang sibuk bisa menabraknya tanpa sengaja oleh sebab itu dia diminta untuk berada di kamar untuk hari ini.
Lucius melangkah pergi, untuk menemui ayah dan ibunya. Tinggal menunggu malam datang, menunggu Ernest datang dan dia harap Ernest datang. Memang saat itu Ernest sedang berada di perjalanan menuju kerajaan Kenneth. Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, Alena segera berangkat bersama dengan Amy sedangkan Agnes tinggal di istana untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Alena dam Amy hanya berdua, dia tidak datang bersama dengan pengawal karena dia tidak mau ada yang tahu. Semakin ramai, semakin mudah ketahuan oleh sebab itu dia hanya berdua saja. Hal itu pun dilakukan untuk menghindari kejadian yang sama agar tidak terulang kembali.
Walau berat, tapi mau tidak mau raja dan ratu melepaskan kepergian putri mereka. Tujuan pertama Alena adalah pesta dansa, dia ingin mengembalikan benda yang diberikan oleh pangeran Lucius dan setelah itu, dia dan Amy akan langsung pergi ke desa Westtrink karena dia tidak mau membuang waktu.
Perjalanan mereka sudah cukup jauh tapi sayangnya dari pepohonan yang rindang dan menjulang tinggi terdapat pergerakan aneh karena ada sekelompok pembunuh bayaran mengikuti mereka secara diam-diam. Aneh, padahal yang tahu kepergiannya hanya raja dan ratu saja tapi kenapa ada yang mengikuti?
Kuda semakin dibawa dengan kecepatan tinggi, dia harus bisa menghindari siapa pun yang mengejar tapi ternyata tidak saja musuh bergerak dari pohon ke pohon namun beberapa derap kuda pun terdengar tidak jauh.
"Lari, Amy!" teriak Alena.
"Ada apa, Putri?" tanya Amy.
"Kita diikuti!" jawab Alena dan pada saat itu dia harus menarik pelana untuk menghentikan kuda karena mereka sudah terkepung. Amy pun melakukan hal yang sama sehingga laju kudanya terhenti.
"Apa yang terjadi, Putri?" tanya Amy.
"Entahlah," Alena membawa kudanya berputar, orang-orang itu memutarinya. Tidak saja yang berkuda tapi juga yang baru melompat turun dari atas pohon.
"Apa mau kalian?" teriak Alena.
"Maaf, Putri. Kami diperintahkan untuk membunuhmu!"
"Siapa yang memberi kalian perintah?" tanya Alena lagi.
Alena menarik pedangnya lalu melompat turun dari atas kuda. Amy yang sudah belajar menggunakan pedang pun juga melompat turun. Musuh mulai menyerang Alena dan Amy karena mereka mendapat perintah untuk membunuh putri Ernest.
Suara benturan pedang mulai terdengar, Alena menangkis setiap serangan yang diberikan oleh musuh begitu juga dengan Amy. Jika dia tahu akan diserang tentu dia akan membawa pengawal tapi mereka sudah pergi sehati-hati mungkin, bagaimana mungkin ada pembunuh bayaran yang mengejar. Siapa sebenarnya yang memerintahkan mereka?
"Bunuh putri Ernest dan penggal kepalanya. Ratu menginginkan kepalanya!"
Alena terkejut mendengar perkataan itu. Ratu? Siapa pun yang mengatakan hal demikian yang pasti kepalanya sedang diincar.
"Kalian tidak akan bisa membawa kepalaku dengan mudah!" teriak Alena. Gagang pedang di genggam dengan erat dan setelah itu, Alena berlari ke arah pembunuh bayaran itu dan menyerang mereka.
"Jangan gegabah Putri!" teriak Amy. Dia pun menyerang seperti yang Alena lakukan. Adu pedang kembali terjadi, pedang Alena sudah berlumuran darah. beberapa luka pun sudah dia dapatkan tapi Alena masih bisa menyerang. Amy yang sudah berlatih dengan keras pun sudah membunuh beberapa dari mereka. Ternyata latihan yang dia jalani tidak sia-sia.
Beberapa dari musuh sudah jatuh bersimbah darah, Alena menghindari musuh sesekali untuk menyerang. Dia berusaha fokus meski dia sedang memikirkan perkataan para pembunuh itu akan ratu yang memerintahkan mereka untuk membunuhnya.
"Awas putri, di belakangmu!" teriak Amy saat melihat sang putri hendak diserang dari belakang.
Alena segera berputar sambil menyabetkan pedangnya ke arah musuh yang hendak menikamnya. Putri Ernest yang terkenal lemah itu, kini menjadi orang lain. Alena bahkan sudah bersimbah darah, tentunya itu darah musuh yang mengenai dirinya. Darah segar mengalir dari pedangnya, Alena mendadak terlihat menakutkan di mata musuh bahkan Amy menelan ludah melihat sang putri yang terlihat dingin tanpa senyuman.
"Siapa pun kalian, aku tidak akan melepaskan kalian!" Alena melangkah maju, mengambil pedang musuh yang ada di tanah dan kini dua pedang
sudah berada di tangan.
"Mundur, Amy. Aku yang akan membereskan mereka!" ucap Alena.
"Tapi putri?"
"Maju!" perintah Alena sambil memasang kuda-kuda!"
"Serang dan bunuh dia!" perintah pemimpin kelompok itu.
"Lakukan jika kalian bisa!" Alena berteriak lalu berlari ke arah musuh sambil menyabetkan kedua pedang yang ada di tangan. Alena mendapat serangan dari segala sisi karena dia di keroyok tapi dia bisa menangkis setiap serangan dan melukai para penjahat yang sedang menyerangnya. Amy hanya menonton, dia sangat ingin membantu tapi sang putri yang sedang marah dan menyabetkan pedangnya dengan membabi buta membuatnya takut mendekati.
Alena mengayunkan pedangnya sana sini, melukai setiap orang yang ada di dekatnya. Kepala musuh bahkan terpenggal akibat sabetan dua pedang tajamnya. Alena terengah, dia masih belum berhenti dan tidak mempedulikan rasa lelah yang dia rasakan dan luka yang dia dapatkan karena dia terus menyerang sampai akhirnya musuh yang tersisa dapat dia penggal kepalanya.
Lelah, dia sungguh lelah setelah selesai. Alena jatuh bertumpuh
pada pedangnya, Amy segera berlari menghampiri sang putri yang sudah babak belur.
"Putri, apa kau baik-baik saja?" tanya Amy.
"Aku hanya butuh istirahat," jawab Alena.
"Mengenai perkataan pembunuh bayaran itu, apa benar ibu ratu pelakunya?" tanya Amy.
"Kita akan tahu nanti setelah bertemu dengan Kendrick!" ucap Alena tapi sesungguhnya dia tidak yakin jika ibunya adalah orang yang menginginkan kematiannya.
"Lukamu harus diobati, putri," Amy berlari menuju kuda, untuk mengambil obat. Alena tidak mencegah, dia justru duduk di atas tanah di antara para mayat yang baru saja dia bunuh. Ratu, apakah ibu ratu benar-benar menginginkan kematiannya ataukah ada ratu lain yang mereka maksud?
Hari sudah gelap saat mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju istana Kenneth. Sedikit halangan menghalangi langkah mereka dan mereka masih belum tiba sedangkan saat itu, pesta sudah akan dimulai dan istana sudah dibuka untuk menyambut para putri yang akan hadir dalam pesta dansa.