Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Ajakan Menjadi Sekutu


Pangeran Lucius sedang menunggu, tentunya menunggu kabar dari Bastian yang dia perintahkan untuk mengintai gerak gerik putri Ernest dan kedua pelayannya. Amy dan Agnes memang terlihat mondar mandir seperti menyiapkan sesuatu. Bastian yang memperhatikan gerak gerik mereka curiga jika ada yang sedang direncanakan oleh putri Ernest.


Entah apa yang akan putri misterius itu lakukan tapi yang pasti, Bastian melihat adanya gerak gerik yang mencurigakan dan akan adanya pergerakan tak terduga yang dilakukan oleh sang putri. Setelah memantau situasi, Bastian kembali untuk memberi laporan pada sang pangeran.


"Bagaimana, apa yang kau temukan?" tanya Lucius pada pengawal pribadinya.


"Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu, Pangeran."


"Apa yang mereka rencanakan?"


"Entahlah, tapi kedua pelayannya tampak sibuk menyiapkan sesuatu."


Lucius diam, berpikir. Apa yang sebenarnya Ernest lakukan? Apa dia akan mengendap lagi keluar dari Istana? Jangan katakan demikian tapi jika benar pun, dia akan mengikutinya lagi. Rasanya jadi menyenangkan, dia akan menunggu Ernest karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya hendak putri itu lakukan. Tidak seperti kakaknya yang anggun dan lemah lembut, Ernest justru terlihat brutal dibalik sifat pendiamnya yang memang sudah misterius.


Alena yang sedang menunggu malam datang, duduk di depan jendela dengan banyak pikiran. Tentu yang sedang dia pikirkan saat ini adalah kedua orangtuanya. Dia juga memiliki seorang adik laki-laki yang sangat disayangi, bagaimana dengan keadaan keluarganya saat ini? Sungguh dia sangat ingin tahu.


Perasaan rindu pada mereka semakin dia rasakan. Sesungguhnya Alena sangat ingin menangis tapi dia berusaha menahan diri. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan kedua pelayannya apalagi sampai menangis. Bagaimana jika sampai mereka curiga? Alena mendongak, memandangi bulan yang bersinar terang. Sampai sekarang, dia benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa terlempar ke abad 15 dan dia tidak tahu kenapa semua bisa terjadi.


Apa yang terjadi padanya akibat kutukan yang diberikan oleh pemuda itu? Sungguh aneh, dia bukanlah orang yang mempercayai hal mistis apalagi akan reinkarnasi dan juga hal lainnya tapi kini dia harus mengalaminya dan menerima kenyataan jika jiwanya sudah berpindah ke dimensi yang benar-benar sangatlah asing baginya.


"Putri, kenapa kau melamun?" tanya Amy yang sedang melangkah mendekatinya dengan segelas teh hangat.


"Apa kau memiliki keluarga, Amy?" tanya Alena yang tidak memalingkan pandangannya dari bulan.


"Tidak putri, waktu itu kau membeli kami saat kami membutuhkan uang untuk menguburkan orang tua kami," jawab Amy.


"Apa kau dan Agnes saudara?" Kini Alena berpaling, melihat ke arah pelayan setianya.


"Tidak, kami diasuh oleh seorang wanita tua yang kami anggap sebagai ibu. Kami berdua hanya gelandangan miskin oleh sebab itu ketika wanita yang mengasuh kami meninggal, kami tidak memiliki uang untuk memakamkan-nya. Kami menangis di sisi jalan, berharap ada yang membantu bahkan kami menawarkan diri sebagai pelayan tapi tidak ada yang mau sampai pada akhirnya putri lewat dan membeli kami. Apa putri melupakan hal itu?"


"Yeah... kau tahu, ingatanku belum pulih," ucap Alena. Hampir mirip dengan kisah para pelayan pada umumnya tapi dari sini dia tahu kenapa Amy dan Agnes begitu setia pada Ernest.


"Ada apa denganmu malam ini, Putri? Kau terlihat sedang sedih. Apa Putri sedang memikirkan sesuatu?"


"Tidak, Amy," dusta Alena.


"Aku harap Tuan Putri selalu baik-baik saja dan orang-orang yang selalu ingin mencelakai putri dapat segera ditemukan dan mendapatkan hukuman yang setimpal."


"Terima kasih, Amy. Sekarang di mana Agnes? Sebentar lagi kita sudah harus pergi."


"Agnes berkata dia ingin membuatkan obat dan minuman untuk putri agar putri tidak jatuh sakit akibat angin dingin."


"Baik, Putri," seperti yang sudah-sudah, mereka menyamar. Semoga tidak ada yang menganggu tapi sayangnya sang pangeran sudah mengintai dan menunggu mereka.


Alena segera bergerak bersama denga kedua pelayannya. Mereka hanya punya waktu beberapa jam saja untuk berlatih karena mereka harus kembali sebelum pagi tiba. Mereka bergerak dengan hati-hati seperti biasa, mereka pun akan keluar melalui jalan rahasia.


Amy dan Agnes jalan terlebih dahulu untuk melihat situasi. Sejauh ini cukup aman tapi seorang pria yang sedang bersandar di bawah pohon justru menghentikan langkah mereka. Amy dan Agnes segera berlari menghampiri putri Ernest dan bersembunyi di belakangnya.


"Ada seseorang di pohon itu, Putri," ucap mereka.


"Sial, apa itu pengawal?" Alena mencabut pedangnya. Jika itu pengawal maka akan dia bunuh. Tidak ada yang boleh mengganggu dan tidak ada yang boleh membocorkan apa yang mereka lakukan.


"Jangan gegabah, Ernest. Ini aku!" Lucius melangkah mendekat, sinar bulan membuat Ernest dapat melihat rupa sang pangeran dengan jelas. Alena terkejut, begitu juga dengan kedua pelayannya.


"Pangeran Lucius, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alena heran.


"Itu pertanyaanku, Ernest. Apa yang kau lakukan dengan kedua pelayanmu di sini?!"


"I-itu bukan urusanmu, Pangeran. Apa kau memata-matai aku?" Alena mengangkat dagunya dan terlihat tidak senang. Sudah dia duga, pria itu berbahaya.


"Tidak, aku sedang berjalan-jalan menikmati sinar bulan tapi aku tidak menduga akan bertemu denganmu di sini, Ernest. Apa yang kau lakukan? Mau pergi ke mana semalam ini?"


"Tidak perlu membual! Apa yang mau aku lakukan dan ke mana aku akan pergi, tidak ada urusannya dengan pangeran!" Alena melangkah melewati Lucius dengan perasaan kesal. Entah kenapa pria itu ada di sana, dia benar-benar tidak suka.


"Ayolah, aku bisa melaporkan hal ini pada baginda raja jika kau tidak mau mengatakannya padaku!" ancam Lucius.


Langkah Alena terhenti, jadi pangeran itu mengancamnya? Alena memutar langkah dan segera menghampiri pangeran Lucius. Kini dia sudah berdiri di hadapan pangeran Lucius dan terlihat angkuh. Kedua tangan berada di pinggang, Alena benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya pada Pangeran Lucius.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Pangeran. Silahkan kau mengadu pada ayahku tapi aku juga akan mengadu jika kau menguntit kami. Mau bertaruh denganku? Kita bisa melihat siapa yang akan dianggap penjahat. Aku yang hanya keluar atau kau yang menguntit aku!" tantang Alana.


"Cerdik, aku suka dengan putri yang cerdik," ucap Lucius, senyuman menawannya menghiasi wajah namun Alena justru kesal melihat senyumannya.


"Aku sudah berada di sini dan melihat apa yang kau lakukan jadi bagaimana jika kita menjadi sekutu. Kau ijinkan aku mengikutimu dan aku akan menjaga rahasia ini. Bagaimana?" tanya Lucius.


Alana tidak menjawab, namun tatapan matanya masih menatap Julius dengan tajam. Terserah pria itu, dia malas berdebat karena membuang banyak waktunya.


"Terserah, Pangeran. Asal kau tahu aku tidak butuh sekutu tapi ingatlah perkataanku ini baik-baik, jika sampai ada yang tahu akan hal ini berarti kau'lah pelakunya dan percayalah, aku tidak akan melepaskan dirimu!" setelah berkata demikian, Alena mengajak Amy dan Agnes pergi dari tempat itu. Lucius kembali tersenyum, sungguh putri yang sangat berani. Dia bahkan begitu berani mengancam dirinya tanpa takut akan posisi yang dia miliki.


Alena dan kedua pelayannya pergi ke gua di mana dia mengeksekusi pembunuh yang hendak mencelakai dirinya waktu itu. Lucius tetap mengikuti karena dia ingin tahu. Dia kira Ernest akan mengeksekusi seseorang lagi di sana tapi nyatanya, Putri Ernest sedang melatih kedua pelayannya.


Lucius hanya menjadi penonton, ini sungguh sebuah kejutan. Permainan pedang sang putri juga begitu bagus. Sungguh dia semakin penasaran, kenapa putri Ernest menyembunyikan kemampuannya tapi dia jadi merasa jika  sang putri seperti orang lain saja. Apa benar yang ada di hadapannya saat ini adalah putri Ernest? Tatapan mata pangeran Lucius tidak berpaling dari putri Ernest, entah kenapa tiba-tiba dia merasa jika yang ada di hadapannya saat ini bukanlah putri Ernest.