
Perintah dari raja Leon sudah diumumkan oleh prajurit kepercayaan sang raja. Tentu saja perintah untuk membatalkan acara berburu dan memerintahkan semuanya untuk kembali ke istana hari itu juga. Setelah memberikan perintah itu, Raja Leon tampak sakit kepala. Bagaimana tidak, masalah racun dalam obat belum ditemukan dalangnya dan sekarang, ada yang memfitnah putrinya dengan begitu keji bahkan ada bukti untuk menjatuhkan citra putrinya.
Setelah ini dia tahu, isu buruk putrinya akan kembali merebak. Masalah satu belum selesai dan sekarang ada masalah yang lainnya. Sungguh dia sudah sangat ingin tahu siapa sebenarnya orang yang begitu jahat dan begitu membenci putrinya. Orang itu pasti berada di dalam istana, tapi siapa?
"Yang Mulia, minumlah terlebih dahulu," sang ratu memberikan minuman untuk suaminya yang sedang duduk sambil memegangi kepalanya.
"Siapa sebenarnya yang ingin mencelakai Ernest?" tanya sang raja.
"Baginda, setelah kembali ke istana aku ingin membuat sebuah siasat," ucap sang ratu.
"Siasat apa?"
Ratu Hana melihat sekitar lalu dia melangkah mendekati sang raja. Ratu Hana membisikkan sesuatu di telinga raja Leon karena dia tidak mau ada yang mendengar apa yang hendak dia sampaikan.
"Yang membuat obat adalah pelayan pribadi kepercayaanku dan yang meracik obat adalah tabib kepercayaanku. Mohon Baginda memberikan aku seseorang yang bisa dipercaya untuk memata-matai pelayanku tapi kali ini kita tidak boleh bertindak gegabah Yang Mulia. Setelah kita mengetahui siapa yang menaruh racun itu, kita tidak boleh langsung memancungnya tapi kita tangkap secara diam-diam lalu kita interogasi secara diam-diam pula di penjara," ucap sang ratu.
Raja Leon melihat ke arah istrinya. Benar, akibat emosi, dia langsung memerintahkan para prajurit untuk langsung memancung orang-orang yang memfitnah Ernest tanpa menginterogasi lebih jauh. Memang seharusnya dia menangkap orang-orang itu untuk diinterogasi tapi karena dia ingin semua melihat apa ganjaran yang akan didapatkan bagi orang-orang yang begitu berani memfitnah putrinya jadi dia langsung mengambil keputusan untuk menghukum mati orang-orang yang berani memfitnah Ernest.
"Kita lakukan pelan-pelan yang Mulia, aku juga ingin kau mengirimkan prajurit bayangan untuk menjaga Ernest. Jika bisa, keluarkan perintah untuk Ernest jika dia harus berlatih menggunakan pedang dan memanah setiap hari agar dia memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri di kemudian hari."
"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar. Mulai besok Ernest harus melakukannya. Dari pada dia selalu mengurung diri di dalam kamar, dia memang harus berlatih!"
"Aku senang mendengarnya, mohon yang mulia memberikan titah untuk Ernest besok."
"Baiklah, masalah semakin rumit. Entah siapa yang melakukannya yang pasti pelakunya berada di dalam istana dan mulai sekarang, semua harus dilakukan dengan hati-hati!"
"Sesuai dengan perintahmu yang mulia, semoga kita bisa segera membersihkan nama putri kita."
"Baiklah," raja Leon menghela napas, berita buruk yang beredar bisa semakin membuat citra putri kedua mereka semakin memburuk dan jika demikian, pangeran mana yang mau menikahi Ernest? Ini akan menjadi masalah baru bagi Ernest, dia akan kembali digunjingkan karena tidak ada yang mau menikahi dirinya.
"Kau terlihat lelah, yang mulia. Sebaiknya kau istirahat yang cukup," ratu Hana sudah berada di belakang suaminya untuk memijat bahu sang raja.
"Aku sedang memikirkan Ernest, citranya akan semakin buruk jika kita belum bisa menemukan pelaku sebenarnya. Jika begitu, siapa yang akan menikahi Ernest?"
"Untuk itu, apa kita harus melakukan sayembara untuk Ernest?"
"Sayembara? Itu tidak akan berguna. Jangan sampai tidak ada yang mau ikut lalu putri kita semakin menjadi bahan cibiran di kalangan masyarakat dan menjadi cibiran dari kerajaan-kerajaan tetangga."
"Kau benar, yang mulia. Aku harap ada seorang pangeran yang tidak mempercayai isu buruk akan Ernest dan tertarik dengannya."
"Seharusnya ada, putri kita cantik jadi tidak mungkin tidak ada yang tertarik dengannya," ucap raja Leon.
"Aku harap begitu," ucap ratu Hana pula. Mereka sangat berharap demikian dan memang ada seorang pangeran sedang tertarik dengan Ernest.
Lucius yang sudah selesai bersiap-siap pergi berjalan-jalan sebentar di sekitar tenda tapi siapa yang menduga, dia justru melihat Ernestbersama dengan kedua pelayannya. Mereka pergi untuk memetik bunga yang secara tidak sengaja di temukan oleh Amy. Sebuah padang bunga yang indah sudah berada di depan mata.
Ernest berlari sambil mengangkat gaunnya, Amy dan Agnes pun mengikuti. Ernest ingin mengambil beberapa bunga untuk ibu ratu sebagai ganti kelinci yang tidak dia dapatkan waktu itu.
"Pelan-Pelan, Putri. Bagaimana jika ada ular!" ucap Amy.
"Hanya sebentar saja!" Alena segera mengambil beberapa tangkai bunga, jika mereka bergegas maka tidak akan ketahuan. Lagi pula mereka sudah selesai, tinggal menunggu perintah untuk kembali.
Lucius yang mengikuti sedari tadi berdiri di sebuah batang pohon untuk melihat apa yang Alena lakukan. Ernest seperti putri pada umumnya, lemah lembut tapi dia memiliki banyak kejutan. Ernest di ibaratkan seperti bunga yang tumbuh di atas tebing yang tinggi dan ketika mekar, bunga itu terlihat begitu indah. Bunga indah tumbuh di tempat tinggi, rapuh namun memiliki keindahan yang mengagumkan. Seperti apa lagi dia harus mengibaratkan putri Ernest? Dia terlihat lemah tapi nyatanya dia penuh kejutan yang membuat kagum.
Tatapan mata Lucius tidak berpaling dari Alena yang sedang mengambil bunga. Alena tertawa dengan kedua pelayannya, mereka bahkan terlihat seperti tiga sahabat yang sudah berteman lama. Putri mana yang memperlakukan pelayannya seperti itu?
"Aku rasa sudah cukup, ayo kita kembali," ajak Alena dengan bunga memenuhi tangan.
"Ayo, jangan sampai kita tertinggal oleh pasukan!" Amy dan Agnes mengikuti langkah Alena. Mereka bertiga tampak senang dengan bunga yang mereka dapatkan namun langkah Alena terhenti saat melihat pangeran Lucius sedang bersandar di pohon dengan sebatang bunga liar di tangan.
"Pangeran, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alena.
"Aku sedang jalan-jalan, Ernest. Tanpa sengaja melihatmu."
"Jika begitu kami pergi terlebih dahulu, putri," ucap Amy dan Agnes yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Apa? Tunggu!" pinta Alena tapi kedua pelayannya sudah berjalan pergi.
"Biar aku bawakan," Lucius mengambil bunga yang ada di tangan Alena.
"Terima kasih, Pangeran. Aku juga ingin berterima kasih atas bantuan yang kau berikan untukku."
"Bukan masalah besar, tidak perlu dipikirkan."
"Tidak, kau sudah membantu aku jadi aku berpikir untuk mengundangmu minum teh. Itu jika kau tidak keberatan."
"Minumn teh?" Lucius melirik ke arah Alena sejenak.
"Yes, tapi setelah kita kembali ke istana."
"Aku tidak akan menolak undangan ini, Ernest," Lucius tersenyum, kesempatan yang sangat bagus untuk lebih mengenal Ernest.
Mereka melangkah kembali ke tenda sambil berbincang. Amy dan Agnes sudah jauh di depan bahkan suara terompet yang menandakan jika semua harus segera berkumpul sudah berbunyi karena mereka akan kembali.
"Celaka!" ucap Alena.
"Lari!" Lucius meraih tangannya, lalu mereka segera berlari menuju tenda. Beruntungnya mereka tiba tepat waktu walau napas mereka hampir habis. Tidak ingin ada yang curiga, Lucius menyelinap ke tendanya sedangkan Alena menghampiri raja dan ratu serta putri Arabella yang sudah siap sejak tadi.
"Dari mana saja kau, Ernest?" tanya Arabella.
"Tidak pergi ke mana-mana, Kakak," jawab Alena.
"Baiklah, semua sudah berkumpul jadi sudah waktunya kita kembali!" perintah raja Leon.
Terompet kembali dibunyikan, pasukan yang ada di depan mulai bergerak, disusul dengan pasukan yang lain. Acara berburu yang sangat singkat, sangat disayangkan acara itu gagal tapi kesan buruk justru tertinggal di acara tersebut. Acara yang sengaja diadakan untuk menghindarkan Ernest dari isu tapi karena kejadian yang tidak diinginkan justru membuat Ernest semakin dianggap sebagai seorang penyihir dan hal itu membuat raja dan ratu semakin gelisah.