
Mereka berdua diam setelah membaca buku itu meski mereka belum selesai membaca. Buku yang sangat aneh, tidak ada tertulis siapa yang menuliskan kejadian buruk yang terjadi di desa Westtrink di buku itu. Sang penulis tidak menuliskan namanya, sebab itu tulisan yang ada bisa saja benar dan bisa saja tidak.
Nama Mauren yang muncul kemudian menjadi teka teki besar bagi mereka tapi Alena memiliki firasat jika dia ingin mengetahui siapa sebenarnya penyihir yang sesungguhnya maka dia harus mencari tahu siapa sebenarnya Putri Mauren. Semua yang terjadi pasti ada hubungannya, dia tahu agak tidak masuk akal dan rumit tapi jika di urai dengan benar maka dia akan menemukan benang merahnya.
Tulisan yang ada memang tidak memojokkan dirinya tapi dari tulisan itu semua orang akan membenci dirinya apalagi jika dia benar-benar keturunan dari sang penyihir Lady Lilya. Memang tidak ada yang bisa memilih takdir, tidak ada yang bisa memilih siapa yang akan melahirkan dirinya dan jika memang dia adalah keturunan dari seorang penyihir, dia tidak bisa merubah apa pun tapi yang pasti, di sinilah tantangan yang harus dia lalui karena meskipun dia adalah keturunan dari Lady Lilya tapi dia bukanlah penyihirnya oleh sebab itu dia harus menunjukkan pada semua orang dan menangkap penyihir yang sesungguhnya.
Buku ditutup, dia akan membacanya lagi nanti karena dia harus bergegas untuk kembali ke Istana. Lucius masih berdiri agak jauh, dia seperti belum bisa mempercayai apa yang tertulis di buku itu. Alena beranjak, tidak mempedulikan dirinya. Dia tahu pangeran pasti terpukul karena wanita yang dia sukai ternyata keturunan seorang penyihir.
Lucius bahkan tidak mencegah dia melangkah keluar dari tenda. Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan perasaan yang bergejolak di dadanya.
"Amy, ayo kita pergi!" ajak Alena.
"Apa sudah selesai, Putri?" tanya Amy.
"Ayo kita pergi, kita harus segera kembali ke istana!" Alena sudah melangkah menuju kudanya yang terikat di sebuah pohon.
"Bagaimana dengan Pangeran?" tanya Amy lagi.
"Dia tidak ikut!" jawab Alena.
Amy sangat heran, begitu juga dengan Bastian yang hendak masuk ke dalam tapi Lucius sudah keluar dari tenda dan melangkah cepat ke arah Alena yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Dia sangat berterima kasih pada Lucius yang selalu membantunya tapi dia tidak bisa memaksa pria itu untuk ikut apalagi sekarang Lucius tahu siapa dirinya.
"Tunggu, Ernest!" pinta Lucius.
"Aku tidak bisa menunggu, aku harus pergi!"
"Jadi kau tidak mau menunggu aku!" Lucius meraih pinggang Alena dan membalikkan tubuhnya.
"Lepaskan aku, pangeran. Jangan memaksakan diri untuk bersama denganku!" ucap Alena.
"Apa maksud perkataanmu? Apa kau pikir setelah aku membaca buku itu lalu aku akan berubah pikiran untuk membantumu?"
"Memang itu yang terjadi, bukan?" Alena mendorong Lucius untuk menjauh, "Kau sudah menunjukkannya dengan sikapmu, meski tanpa berkata apa-apa jadi mulai sekarang, jangan memaksakan diri untuk membantu aku!" Alena melangkah pergi, ke sisi kuda yang lain untuk mengecek persiapan.
"Tidak, Ernest. Jangan salah paham!" Lucius pun mengikuti langkahnya. Dia memang sempat terkejut dan tidak mempercayai apa yang terjadi tapi dia tidak bermaksud menjauhi Ernest.
"Tidak ada alasan bagiku untuk salah paham apalagi kita tidak memiliki hubungan apa pun!"
"Tapi kenapa kau terlihat marah seperti ini padaku?"
"Kau menahan aku, tentu saja aku kesal!" Alena sudah hendak naik ke atas kuda namun Lucius meraih pinggangnya sehingga membuat Alena terkejut apalagi mereka hampir saja terjatuh.
"Kau hanya pria dari jaman kuno, apa maumu?!" teriak Alena kelepasan akibat emosi.
Lucius terkejut mendengar perkataan Alena, begitu juga dengan Amy dan Bastian. Alena menutup mulut dengan rapat, sial. Dia begitu emosi sehingga berbicara demikian.
"Ti-Tidak ada apa-apa!" Alena kembali mendekati kuda. Sangat berbahaya, semoga saja tidak ada yang curiga dengan perkataannya barusan.
"Kenapa kau berkata aku pria dari jaman kuno?" tanya Lucius lagi.
"Itu hanya perkataan asal, Pangeran. Tolong jangan menghalangi aku, aku harus segera kembali ke Kent Arsia."
"Kau ingin kembali ke sana? Apa kau sudah memiliki rencana?"
"Aku rasa kau tidak perlu tahu!"
"Ernest!" Lucius meraih pinggang Alena dan mendekapnya erat, "Aku sudah katakan, aku akan membatu jadi aku pasti akan membantu. Aku hanya terkejut saja, lagi pula apa yang tertulis di buku belum tentu benar. Semua itu bisa saja palsu. Entah siapa yang menulis, tidak tercantum namanya. Aku rasa apa yang dia tulis belum tentu sebuah kebenaran apalagi penulisnya belum tentu mendapatkan berita yang akurat. Bisa saja putri Mauren yang dia sebutkan adalah orang lain dan mungkin saja dia menulis demikian karena kau sedang difitnah sebagai penyihir oleh sebab itu dia menyimpulkan jika kau adalah putri dari Mauren, keturunan terakhir Lady Lilya."
Alena diam, memikirkan perkataan pangeran Lucius yang ada benarnya. Pak tua yang ada di desa Westtrink berkata jika semua saksi yang mengetahui penyihir itu sudah tiada lalu bagaimana mungkin tiba-tiba ada yang berkata jika dia tahu semua yang terjadi dan dia adalah saksi hidup yang masih selamat? Entah mana yang harus dia percaya, sungguh membingungkan tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Baiklah, aku tahu maksudmu. Semua kemungkinan memang bisa saja terjadi, bisa saja orang yang menulis buku itu adalah salah seorang pemuja Lady Lilya. Semua terasa aneh tapi aku juga yakin jika yang tertulis di buku itu lima puluh persen adalah benar!" ucap Alena.
"Oleh sebab itu, kita tidak boleh asal mempercayai apa yang tertulis di buku itu apalagi sumbernya tidak jelas. Memang ordo Suci menaungi orang-orang yang menegakkan keadilan tapi aku yakin, mereka hanya mendapat tugas memberikan kotak itu padamu tanpa mereka tahu apa isinya."
"Baiklah, aku harus tetap kembali!" Alena masih dengan pendiriannya.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Mencari tahu, siapa sebenarnya putri Mauren!"
"Apa kau punya petunjuk?" tanya Lucius lagi.
"Raja dan ratu, mereka pasti tahu siapa itu putri Mauren dan jika benar aku adalah putri dan Putri Mauren, mereka pasti tahu banyak namun telah menutupinya oleh sebab itu, aku harus kembali untuk menemui mereka!"
"Baiklah, kita berangkat sekarang juga. Aku tidak bisa membiarkan kau pergi sendirian karena aku khawatir, setelah kau menanyakan hal ini pada raja Leon dan Ratu Hana, kau justru diusir dan mereka jadi memusuhi dirimu."
"Hal itu tidak mungkin terjadi, Pangeran."
"Aku tahu, tapi untuk jaga-jaga saja. Maafkan sikapku barusan, Ernest. Aku hanya terkejut saja tanpa ada maksud apa-apa."
"Sudahlah, pangeran. Tidak perlu dibahas karena ada yang lebih penting dari pada itu."
"Kau benar, kita akan berangkat setelah Bastian selesai membongkar tendanya!"
Alena mengangguk, lagi-lagi dia tidak bisa mencegah Lucius untuk tidak terlibat. Masalah hubungan mereka tidaklah penting karena saat ini yang paling penting adalah kembali ke istana karena dia harus bertemu dengan raja dan ratu. Dia sangat yakin, tidak mungkin kedua orangtua Ernest tidak tahu apa pun jika benar dia adalah putri dari Mauren. Semuanya, dia tahu raja dan ratu mengetahui akan hal ini dan keputusannya untuk segera kembali, tidaklah salah.
Alena sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Lucius tidak melepaskan pandangannya dari Alena karena dia sangat penasaran dengan perkataan yang baru saja Alena ucapkan saat memarahi dirinya. Dia yakin ada maksud di balik perkataan itu tapi kenapa Alena berkata jika dia adalah pria dari jaman kuno? Sungguh dia sangat ingin tahu maksud dari perkataan itu.