Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Rencana Sang Pangeran


Mata-Mata yang masih mengintai mulai curiga karena sang putri tidak bergerak sedari tadi. Kedua pelayannya memang sedang sibuk tapi tidak mungkin sang putri yang tidur itu tidak bergerak. Sebagai orang normal, siapa pun yang tidur pasti akan bergerak tapi yang ada di atas ranjang, tampak mencurigakan.


Salah satu dari mereka pun memutuskan akan memberi laporan pada orang yang mengutus mereka. Mereka harus mengatakan keanehan itu namun waktu yang tidak pas membuat mereka harus menahan diri sehingga mereka memutuskan akan terus mengawasi sampai pagi.


Agnes dan Amy sudah tidak kuat menahan kantuk, jendela yang sengaja dibuka pun ditutup. Mereka berharap sang putri cepat kembali agar mereka bisa segera tidur. Alena yang sudah berada di pintu rahasia bersama dengan pangeran Lucius melihat sekitar dengan was-was, dia harus tetap waspada agar tidak ada yang tahu.


"Aku sudah harus kembali, Pangeran" ucap Alena.


"Tunggu sebentar, Ernest," Lucius mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya lalu meletakkan sebuah kotak ke atas telapak tangan Alena.


"Aku sangat berharap kau datang tapi datanglah dengan menyamar agar tidak ada yang tahu. Aku akan mengumumkan jika kau tidak diundang dan yang datang hanya Putri Arabella saja. Hal ini akan meredakan ketakutan para rakyat sehingga semua mengira jika kau tidak akan datang tapi aku ingin kau tetap datang jadi datanglah menggunakan benda itu agar aku bisa mengenali dirimu. Lagi pula itu pesta topeng, tidak akan ada yang tahu rupamu."


"Aku rasa lebih baik aku tidak datang, Pangeran. Aku takut akan mengacaukan pesta itu!" ucap Alena.


"Datanglah, Ernest," Lucius menarik Alena mendekat lalu memeluknya, "Kita lakukan sesuai rencana, aku akan mengumumkan jika kau tidak datang dan kau, katakan juga jika kau tidak datang agar semua orang percaya!"


"Kenapa, Pangeran? Bukankah aku tidak penting sama sekali? Pasti banyak wanita cantik yang datang ke pesta itu tapi kenapa kau menginginkan kedatanganku?"


"Entahlah, aku sangat ingin kau datang!" ucap Lucius. Sesungguhnya yang ingin dia ajak berdansa hanya Ernest saja apalagi wanita yang akan dia pilih nanti akan dianggap sebagai calon permaisurinya jadi dia tidak boleh mengajak sembarangan wanita untuk berdansa.


"Baiklah, aku akan usahakan. Tapi sekarang aku sudah harus masuk ke dalam."


"Berhati-hatilah, aku tunggu kau di acara pesta nanti."


Alena mengangguk, sepertinya dia harus mengingat bagaimana dongeng putri salju karena dia bisa mencoba beberapa adegan dalam dongeng tersebut. Mungkin dia juga harus membuat sebuah sepatu kaca agar adanya sayembara. Ck, otaknya jadi tidak beres gara-gara pesta dansa.


"Masuklah, aku akan menunggu," Lucius kembali mendaratkan ciuman di pipi Alena. rasanya tidak ingin berpisah tapi apalah daya, dia justru jatuh hati pada sang putri yang dianggap pecundang dan penyihir oleh semua orang.


Alena tampak ling lung, satu tangan berada di pipi. Dia tidak mengerti, kenapa pangeran Lucius mencium pipinya lagi. Bukankah pria itu menyukai kakaknya? Seharusnya pangeran tidak melakukan hal itu dan seharusnya dia tidak membiarkan Lucius menciumnya seperti itu lagi.


Walau dengan berat hati, Lucius melepaskan Alena untuk kembali ke dalam istana. Dia pun sudah harus kembali ke istana apalagi perjalanan yang cukup jauh. Alena kembali dengan cara mengendap, dia bergerak dengan sehati-hati mungkin untuk menghindari mata-mata yang dia yakini masih mengintai.


Amy dan Agnes sudah hampir terlelap saat pintu kamar terbuka. Mereka bahkan terkejut karena mereka mengira ada penjahat yang masuk ke dalam tapi ketika melihat sang putri yang kembali, mereka tampak lega. Beruntungnya para mata-mata itu tidak bisa melihat karena mereka pun sudah lelah.


"Putri, akhirnya kau kembali," Amy dan Agnes segera menghampirinya.


"Sttss, jangan berisik!" Alena melepaskan jubahnya lalu meletakkan benda yang diberikan oleh Lucius.


"Apa ada yang datang?" tanyanya.


"Tidak ada, kami sudah berusaha melakukan yang putri katakan tapi kami sudah tidak kuat karena kami sangat mengantuk," ucap Amy.


"Tidak apa-apa, sekarang pergilah beristirahat. Aku pun akan segera beristirahat," ucap Alena.


"Baik, putri," jawab Amy dan Agnes. Boneka jerami yang ada di atas ranjang disingkirkan, ranjang pun dibersihkan.


Alena mencuci wajah terlebih dahulu, lalu berganti pakaian. Kedua pelayannya sudah pergi untuk beristirahat karena mereka berdua benar-benar sudah mengantuk. Alena duduk di sisi ranjang sebentar karena dia ingin melihat benda yang diberikan oleh pangeran Lucius. Padahal pria itu tidak perlu memberikan apa pun, dia jadi tidak enak hati karena dia tidak membawa apa pun.


Raja dan Ratu sudah berada di arena untuk melihatnya berlatih, para mata-mata yang mengintainya sejak semalam pun sudah memberi laporan pada majikannya dan mengatakan jika ada yang aneh tapi meski begitu, mereka tidak bisa membuktikan apa pun.


Alena yang kurang beristirahat tidak bersemangat sama sekali menjalani latihan dan karena hal itu, sang jenderal berteriak marah bahkan Alena dibuat jatuh beberapa kali.


"Mana semangatmu, putri?!" teriaknya sambil tak henti menyerang.


"Ijinkan aku beristirahat sebentar, jenderal!" pinta Alena.


"Jangan lemah, Putri. Situasi berbahaya tidak mengenal kau sedang lelah atau apa pun!" sang jenderal kembali mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga dan karena hal itu, Alena terpental ke belakang. Alena berteriak, dia benar-benar sudah lalai.


"Hentikan!" teriak ibu ratu yang sudah melangkah mendekati Alena.


"Ada apa denganmu, Ernest?" tanya ayahnya.


"Maaf, ayahanda. Ernest merasa tidak enak badan," ucap Alena.


"Jika begitu jangan memaksakan diri," ibu ratu sudah membantu Alena untuk berdiri.


"Maaf, Bunda. Ernest mengecewakan."


"Sudahlah, ayo beristirahat," ajak ibunya.


Sebuah tempat peristirahatan menjadi tujuan, seorang pelayan menuangkan minuman untuk Alena saat sang putri duduk dengan ibu ratu. Tentunya minuman itu tidak beracun. Alena benar-benar lelah, lain kali dia harus beristirahat yang cukup agar kejadian itu tidak terulang kembali.


"Apa kau sudah memiliki gaun untuk kau gunakan saat di pesta nanti, Ernest?" tanya ibu ratu.


"Untuk itu, aku rasa aku tidak akan pergi, Bunda," jawab Alena.


"Apa maksudmu, Ernest?" tanya Arabella yang saat itu sudah berada tidak jauh dari mereka.


"Kakak?" Alena berpaling, Arabella sudah melangkah mendekatinya.


"Apa maksudmu kau tidak akan pergi, Ernest?" tanya Arabella lagi.


"Aku berpikir lebih baik tidak pergi, kakak. Situasi sedang tidak bersahabat, aku pasti tidak diterima oleh rakyat kerajaan Kenneth. Dari pada aku mengacaukan pesta dan membuat kau dalam bahaya, lebih baik aku tidak datang ke acara itu. Lagi pula aku tidak mau membuat keributan dan aku rasa, aku pun tidak diterima di sana."


"Tapi hal itu belum tentu benar dan tidak ada yang berani menyentuhmu apalagi kau bersama denganku," ucap kakaknya.


"Tidak, kakak. Aku tidak mau membuat kekacauan apalagi tempat aman untukku saat ini adalah istana."


"Yang Ernest katakan sangat benar, Arabella. Sebaiknya adikmu tidak pergi ke pesta itu. Sangat berbahaya baginya dan bagimu." ucap ibu ratu.


"Baiklah jika demikian, padahal aku sangat ingin bisa pergi denganmu," Arabella tampak kecewa tapi mau bagaimana lagi, dia memang harus memikirkan keadaan adiknya.


Alena tersenyum, dia sudah mengatakan jika dia tidak akan pergi sesuai dengan rencana pangeran Lucius dan sekarang tinggal mencari alasan saja agar dia bisa keluar dari istana tanpa ada yang tahu selain ibu ratu dan ayahnya karena hanya mereka berdua saja yang bisa membantunya.