
Langit sudah gelap saat mereka tiba di tempat berburu. Tenda-Tenda untuk mereka beristirahat tentu sudah dipersiapkan oleh para prajurit yang diutus terlebih dahulu untuk membersihkan tempat itu dan untuk berjaga-jaga agar tidak ada perampok atau apa pun itu.
Saat itu tanggal empat belas yang berarti satu hari lagi menjelang tanggal lima belas di mana sebuah kelompok sekte sesat akan melakukan ritual dan di mana Ernest akan di jebak sehingga dia tetap dianggap sebagai penyihir dan kali ini, dia tidak akan bisa menghindar lagi karena sebuah siasat untuk menjerumuskan dirinya sudah dibuat.
Seperti yang sudah direncanakan, hanya tenda Ernest yang berada di dekat tenda Raja dan ratu. Hal itu dilakukan agar tidak ada yang bisa menyusup tenda sang putri dengan mudah. Setelah tenda Ernest barulah tenda putri Arabella, sedangkan tenda Pangeran Lucius berada cukup jauh dari tenda mereka. Para prajurit mendirikan tenda berbentuk lingkaran, itu dilakukan agar mereka mudah tahu jika ada bahaya dan bisa langsung saling melindungi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Amy dan Agnes sibuk menurunkan barang-barang milik putri Ernest dan membawanya ke dalam tenda. Yang mereka bawa terlebih dahulu adalah barang-barang di mana mereka menyembunyikan senjata. Jangan sampai ada yang tahu senjata yang mereka bawa.
Ernest masih bersama dengan ibu ratu dan Arabella di dalam tandu. Mereka masih bersama karena ada pesan yang belum disampaikan oleh ibu ratu pada kedua putrinya.
"Kalian berdua harus ingat, jaga diri kalian baik-baik selama berada di sini apalagi ketika sedang berburu," ucap ibu ratu.
"Baik, Bunda. Kami pasti akan menjaga diri kami baik-baik."
"Bagus dan ingatlah satu hal, jangan pergi ke mana pun saat malam, kalian mengerti? Terutama kau, Ernest. Kau sudah dituduh sebagai penyihir jadi kau tidak boleh keluar saat malam."
"Baik, Bunda. Aku akan melakukannya," jawab Alena.
"Bagus, sekarang pergilah ke tenda kalian dan beristirahatlah," ucap ibu ratu.
"Terima kasih, Bunda," Alena memeluk ibu ratu dan mencium pipinya di susul dengan Arabella. Mereka berdua segera turun dari tandu dan pergi ke tenda masing-masing.
Amy dan Agnes sudah menunggu putri Ernest. Mereka mengira sang putri akan langsung beristirahat tapi nyatanya, Alena langsung mengecek keadaan tenda. Amy dan Agnes sangat heran, mereka tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alena apalagi Alena melompati tanah yang ada di setiap sisi tenda.
"Apa yang kau lakukan, Putri?" tanya Amy.
"Melihat apakah ada jebakan atau tidak!" jawab Alena sambil melompat bahkan menginjak-injak tanah yang ada di sisi tenda.
"Jebakan? Siapa yang akan memasang jebakan di dalam tenda putri? Lagi pula yang mendirikan adalah para prajurit yang sudah diutus oleh raja dan mereka adalah orang-orang kepercayaan yang mulia raja," ucap Agnes.
"Jangan meremehkan situasi yang ada, Agnes. Kita harus selalu waspada dengan situasi apa pun. Bagaimana jika ada sebuah lubang? Apa kalian mau tidur dengan para ular?" tanya Alena.
"Tidak mau, tentu saja kami tidak mau!" jawab Amy dan Agnes.
"Jika begitu, kita harus memastikan apakah ada lubang atau tidak pada tenda kita."
Amy dan Agnes bergegas memeriksa, jangan sampai ada ular yang bisa masuk ke dalam tenda. Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh Ernest namun tidak ada satu lubang pun yang mereka temukan. Tentunya mereka lega akan hal itu, mereka bahkan mengulangi lagi untuk memastikan.
Alena berjongkok di sisi lain, dia tampak menekan tanah menggunakan dua jari. Tenda sudah begitu rapat, tapi bukan berarti tidak akan ada yang bisa masuk. Sebaiknya dia berhati-hati, berhati-hati dengan banyak hal karena firasatnya semakin buruk apalagi malam semakin larut.
Di kegelapan hutan, sekelompok orang dengan jubah hitam sudah berkumpul. Seorang gadis sudah terikat dengan tali dengan mulut yang ditutupi dengan kain. Gadis itu tampak ketakutan melihat orang-orang yang sedang berdiri berkeliling. Mereka sedang membahas sesuatu tentunya yang mereka bahas adalah rencana mereka besok.
"Apa semua sudah siap?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tentu saja, kita juga sudah memiliki korban. Ratu pasti akan sangat senang dengan persembahan yang kita dapatkan ini!" orang-orang itu melihat ke arah gadis yang mereka tawan. Gadis itu masih muda dan cantik, tentunya itu adalah korban yang sangat disukai oleh orang yang mereka panggil dengan sebutan ratu.
"Jangan membuat kesalahan, besok malam kita harus melakukan siasat yang telah kita rencanakan untuk menjebak pecundang itu. Ratu menginginkan kematiannya dan pengorbanannya agar kita tidak dicurigai oleh masyarakat. Saat orang-orang tahu jika Ernest, putri yang mereka anggap sebagai penyihir sudah mati maka mereka akan beranggapan jika tidak ada penyihir lagi dan pada saat itu, Ratu bisa leluasa dan kita pun akan semakin makmur!"
"Ratu akan melindungi kita, jadi kita tidak perlu takut!" ucap yang lainnya.
"Benar, darah wanita itu dan jantungnya akan memberikan kekuatan pada ratu dan kita akan semakin berjaya!"
Mendengar pembicaraan itu tentunya membuat gadis yang akan menjadi korban ketakutan. Ratu? Siapa sebenarnya yang dimaksud oleh orang-orang tersebut? Mereka berada di kesunyian malam dan gelapnya hutan untuk menyusun rencana mereka dan tidak ada yang tahu apa yang sedang sekelompok orang itu lakukan.
Semua sudah terlelap di dalam tenda akibat perjalanan melelahkan yang mereka tempuh namun tidak dengan Alena. Dia yang sedari gelisah tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Insting agennya berkata jika dia tidak boleh berada di tempat itu karena bahaya sudah mengintai dirinya tapi dia tidak tahu itu apa.
Alena beranjak dari tempat tidurnya, dia melihat keluar sana yang sudah gelap dan tidak ada siapa pun. Seperti yang dikatakan oleh ibunya, sebaiknya dia tidak keluar dari tenda apalagi saat malam.
"Apa yang kau lakukan, Putri? Kenapa kau tidak tidur?" tanya Amy yang terbangun.
"Aku merasa gelisah, Amy. Aku tidak bisa tenang dan tidak bisa tidur!"
"Apa yang putri khawatirkan? Apa putri juga takut akan ular?" Amy melangkah mendekat dan berdiri di sisi sang putri yang sedang melihat keluar tenda.
"Tidak, Amy!" Alena menatap hutan yang gelap cukup lama, dia merasa ada sesuatu di hutan itu.
"Lalu, apa yang membuat putri begitu khawatir?" tanya Amy lagi.
"Di dalam hutan yang gelap itu, aku merasa memiliki firasat yang sangat buruk, benar-benar buruk. Aku merasa ada rencana jahat yang terbentuk, aku tidak tahu apa yang pasti kita benar-benar harus waspada."
"Jangan membuat aku takut seperti ini, Putri. Aku jadi takut terjadi sesuatu denganmu," ucap Agnes.
"Tidak perlu khawatir, tapi kalian berdua jangan jauh-jauh dariku karena aku takut terjadi sesuatu di antara kalian berdua."
"Pasti, Putri. Kami akan menjaga diri baik-baik," ucap Amy.
Alena masih memandangi gelapnya malam, firasat buruk semakin dia rasakan tapi dia sudah berada di sana dan dia tidak akan lari dari apa pun. Bahaya seperti apa pun harus dia hadapi oleh sebab itu dia harus berani menghadapinya. Setelah berdiri cukup lama, Alena mengajak Amy untuk tidur. Besok ada tantangan baru yang tak terduga sudah menunggu mereka dan tentunya hari berat yang harus mereka lewati.