
Kendrick, nama itu sedang diingat oleh Alena. Ingatan Ernest yang hanya sedikit saja membuatnya buta akan pria bernama Kendrick apalagi dia tidak memiliki ingatan tentang Ordo Suci. Dia benar-benar mendapat pr yang harus segera dia pecahkan dan sudah pasti, dia harus pergi menemui Kendrick dua hari lagi di desa Wesstrink yang dia tidak tahu di mana letaknya.
Setelah mengantar kepergian kakaknya yang akan pergi ke kerajaan Kenneth, Alena mengurung diri di dalam kamar dan berusaha mencari ingatan akan pria yang bernama Kendrick itu tapi dia tidak menemukannya sama sekali. Aneh, seharusnya dia mendapatkan semua ingatan Ernest karena dia sudah berada di dalam tubuhnya tapi kenapa dia tidak mendapatkan semua ingatan Ernest?
Sungguh aneh, apa semua itu gara-gara kutukan yang dia dapatkan saat malam dia menjalankan tugas? Dia yang tidak mempercayai akan kutukan kini harus mempercayainya.
Amy yang membawa camilan masuk ke dalam kamar, tampak heran melihat sang putri yang seperti banyak pikiran. Agnes yang sedari tadi memijat kaki sang putri hanya angkat bahu karena dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan putri Ernest.
"Apa kalian tahu desa Wesstrink?" tanya Alena.
"Itu desa yang cukup jauh, putri. Ada apa?"
"Aku hanya ingin tahu saja dan aku juga ingin tahu, apa yang hendak aku lakukan saat malam naas itu menimpa kita? Kenapa kita keluar istana saat malam padahal sangat tidak aman."
"Apa kau benar-benar tidak ingat, putri?" tanya Agnes.
"Jika aku ingat, maka aku tidak akan bertanya."
"Sebenarnya kami juga tidak tahu tapi pada malam itu putri berkata hendak pergi menemui seseorang yang sangat penting oleh sebab itu, kita pergi saat malam agar tidak ada yang tahu tapi perjalanan kita justru sudah ketahuan!"
"Apa aku hendak pergi menemui Kendrick?" tanya Alena sengaja, mungkin saja kedua pelayannya tahu siapa Kendrick.
"Putri tidak mengatakannya tapi siapa Kendrick?" tanya Amy.
"Jadi kalian tidak tahu?" Alena memandangi kedua pelayannya dengan penuh selidik.
"Tidak, Putri. Kami tidak tahu," jawab kedua pelayannya.
"Bagaimana dengan Ordo suci? Apa kalian tahu?"
"Ordo Suci adalah tempat orang-orang hebat berkumpul, Putri. Tentunya orang-orang itu memiliki tugas yang harus mereka selesaikan biasanya dalam menangani kasus kejahatan yang sulit untuk diungkap atau sebagainya." jelas Agnes.
Alena berpikir, kelompok yang menegakkan keadilan? Apa Ernest terlibat dengan kelompok itu? Ataukah Ernest adalah salah satu anggotanya? Sepertinya dia memang harus pergi mencari Kendrick agar dia tahu ada hubungan apa Ernest dan Ordo Suci. Mungkin dengan demikian dia bisa mendapatkan petunjuk akan penyihir yang meresahkan banyak orang.
"Aku harus pergi ke desa Wesstrink," ucap Alena.
"Untuk apa, Putri?" Amy dan Agnes tampak tidak mengerti.
"Aku ingin berbicara dengan ibu ratu dan ayahanda," Ernest sudah beranjak, jika dia menginginkan kasus ini cepat selesai dan membersihkan nama Ernest maka dia harus pergi menemui Kendrick serta mencari tahu keterlibatan Ernest dalam Ordo Suci.
"Tunggu, Putri. Raja dan Ratu sedang beristirahat jadi sebaiknya tidak mengganggu!"
"Aku tidak bisa menunda karena ini sangatlah penting!" Alena sudah keluar dari kamar, ini waktu yang tepat untuk bergerak karena semua sedang sibuk dengan pesta dansa yang akan diadakan di kerajaan Kenneth. Setidaknya acara itu mengalihkan perhatian mereka dari sekte sesat yang selalu mengorbankan wanita muda.
Seperti yang Amy katakan, raja dan ratu sedang beristirahat di sebuah ruangan tapi dia tetap dipersilakan masuk karena dia seorang putri.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Bunda dan Ayahanda," ucap Alena.
"Kemarilah, Ernest. Bunda senang kau datang."
"Apa telah terjadi sesuatu, Bunda?" tanya Alena.
"Biasa, para menteri membuat sakit kepala," jawab ayahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Alena.
"Kakakmu adalah calon ratu masa depan dan sekarang dia pergi ke kerajaan Kenneth untuk menghadiri pesta dansa, para menteri itu mendesak kami untuk segera menemui raja James untuk membicarakan masalah perjodohan antara kakakmu dan pangeran Lucius oleh sebab itu kami berusaha memberi penjelasan pada mereka apalagi isu jika di acara dansa nanti, Pangeran akan memilih sendiri calon istrinya."
"Bunda dan Ayahanda masih sehat, kenapa mereka jadi meributkan hal seperti ini?
"Entahlah, permintaan mereka memang baik tapi kami tidak bisa mengambil keputusan sembarangan. Kita harus lihat bagaimana perkembangan pesta dansa nanti."
"Kau benar, sekarang katakan kenapa kau datang? Apa ada yang hendak kau bicarakan?"
"Tentu saja, Bunda. Aku datang untuk meminta ijin dengan Bunda dan Ayahanda tapi bolehkan kita berbicara secara pribadi?" pinta Alena karena dia tidak mau ada yang tahu.
"Tentu saja, keluar kalian semua!" perintah ibu ratu pada semua pelayan yang ada di dalam ruangan.
"Sekarang katakan, kau ingin meminta ijin untuk apa?" tanya sang raja.
"Besok, Ernest ingin melakukan perjalanan selama satu minggu jadi Ernest ingin meminta ijin pada bunda dan ayahanda."
"Perjalanan? Mau pergi ke mana kau, Ernest?" tanya ayahnya.
"Ada hal penting yang harus Ernest lakukan, ayahanda. Agnes akan menggantikan Ernest agar tidak ada yang tahu jika aku sedang pergi."
"Tidak, aku tidak akan mengijinkan!" ucap ibu Ratu.
"Bunda, aku harus pergi jika aku ingin mengungkap siapa sebenarnya penyihir yang sedang meresahkan rakyat!" ucap Alena.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya ayahnya.
"Seseorang yang mungkin mengetahui permasalahan ini, aku harus pergi menemuinya oleh sebab itu aku harus pergi."
"Siapa, Ernest? Jangan asal mempercayai orang lain," ucap ibunya.
"Aku tahu, Bunda. Tapi aku yakin orang ini bisa membantu. Kita harus mencari informasi agar masalah ini tidak berlarut-larut. Lagi pula Ernest sudah lelah dengan semua isu buruk yang semakin luas jadi sudah saatnya Ernest membela diri sendiri dan membuktikan jika penyihir itu bukanlah Ernest."
"Tapi itu sangat berbahaya, Ernest," ibunya tampak tidak mau melepaskan putrinya.
"Percayalah pada Ernest, bunda. Ijinkan Ernest membuktikan pada kalian jika Ernest mampu."
"Tapi ini bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan, Ernest. Kau tahu banyak yang membenci dirimu, bagaimana kau bisa membuktikan pada mereka jika kau bukan penyihirnya?" tanya sang raja.
"Untuk itu kita butuh menangkap dalangnya, ayahanda. Pengikutnya pasti banyak, kita tidak mungkin mengungkap mereka satu persatu tapi jika kita menangkap dalangnya, aku sangat yakin kita bisa menangkap para pengikutnya. Tanggal lima belas sudah tidak lama lagi, ada baiknya aku pergi untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan tapi aku pergi untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Jika pelakunya ada di Istana, maka lebih aman aku berada di luar karena semua gerak gerik kita di istana akan mudah ketahuan jadi ijinkan aku pergi!" pinta Ernest, kini dia sudah berlutut di bawah kaki ayahnya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Ernest? Sangat berbahaya bagimu berada di luar sana!" ucap ibunya.
"Aku akan baik-baik saja, Bunda. Jika kita hanya duduk diam di istana, maka semua kejahatan ini tidak akan berakhir oleh sebab itu kita harus membuat sebuah gebrakan tanpa musuh sadari."
"Apa yang Ernest ucapkan sangat benar," ucap raja Leon.
"Baginda," ibu ratu masih tidak setuju.
"Pergilah, Ernest. Kau sudah dewasa dan aku yakin kau bisa menjaga dirimu dan aku yakin kau tidak mungkin salah mengambil tindakan."
"Aku tidak akan mengecewakan Ayahanda, aku akan buktikan jika aku bisa menyelesaikan kasus ini meski aku tetap butuh bantuan ayahanda."
"Kami pasti akan membantumu Ernest dan aku besumpah padamu, siapa pun orangnya yang terlibat dalam sekte sesat itu, aku akan menghukum pancung mereka di alun-alun!"
"Terima kasih, Ayahanda. Ernest memang butuh dukungan darimu."
"Tapi, Baginda," ibu ratu masih belum bisa mengijinkan putrinya pergi.
"Ernest sudah dewasa, jadi biarkan dia pergi. Kita harus percaya dengan kemampuannya dan kita pun harus tetap mencari dalangnya juga sekutu yang terlibat dalam sekte sesat itu!"
"Aku berjanji akan jaga diri, Bunda," ucap Alena. Dia berusaha meyakinkan ibunya agar bisa merelakan kepergiannya.
"Bunda sungguh tidak suka kau pergi," ucap ibu ratu. Dia tidak mau melepaskan putrinya karena sangat berbahaya tapi apa yang putrinya katakan sangatlah benar, mereka harus membuat gebrakan dan apa yang dikatakan oleh raja juga benar jika Ernest bukan anak kecil lagi jadi mereka harus mempercayai dirinya.