Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Sudah Memiliki Rencana


Pagi sudah menjelang, para prajurit dan para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Agnes dan Amy pun sibuk. Amy menyiapkan air untuk sang putri mencuci wajahnya sedangkan Agnes menyiapkan sarapan dan obat untuk sang putri.


Putri Arabella pun sedang bersiap-siap, acara berburu akan diadakan pada pukul sepuluh nanti. Mereka tidak akan memakai gaun tapi mereka akan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan untuk berburu. Acara itu hanya untuk bersenang-senang. Bagi siapa yang dapat paling banyak mendapat hasil buruanmaka akan mendapat hadiah dari Raja Leon dan Ratu Hana.


Binatang buruan mereka pun akan dinikmati bersama-sama saat malam. Alena sudah selesai mencuci wajahnya, sebuah kain sudah berada di tangan untuk mengeringkan wajahnya.


"Putri, apa kau yakin ingin mengikuti acara berburu ini?" tanya Amy.


"Tentu saja, Amy. Aku tetap harus ikut."


"Tapi, Putri. Bagaimana jika kau bertemu dengan orang jahat saat di perjalanan? Apa kau pandai memanah?" tanya Amy lagi, jujur saja dia sangat mengkhawatirkan hal itu.


"Tidak perlu khawatir, meskipun aku kuat tapi aku harus berpura-pura lemah agar tidak ada yang tahu kemampuanku. Biarkan orang-orang tetap beranggapan jika aku adalah pecundang."


"Apa putri tidak berniat untuk menang di acara berburu nanti?"


"Tentu saja tidak, aku sudah memiliki rencana jadi kau tidak perlu khawatir."


"Rencana?" Amy menatap sang putri dengan tatapan heran.


"Sttss, ada yang datang!" Alena meletakkan jarinya ke bibir karena terdengar suara langkah kaki.


Amy pun mengangguk, air kotor di bawa pergi. Tenda terbuka, ibu ratu masuk ke dalam bersama dengan dua pelayan setianya. Seperti yang biasa dilakukan, obat untuk sang putri dibawa oleh pelayan sang ratu. Amy melihatnya dan tampak cemas, apalagi Agnes belum kembali dengan obat yang harus dikonsumsi oleh putri Ernest.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Ernest?" tanya ibu ratu.


"Aku baik-baik saja, Bunda. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Bagus, Bunda senang mendengarnya. Sekarang minum obatnya agar keadaanmu lebih baik lagi," obat yang ada di tangan pelayan diambil, Amy menggeleng agar sang putri tidak meminum obatnya.


"Minumlah, Bunda akan membantumu," ucap ibunya lagi seraya mendekatkan mangkuk obat ke arah Ernest.


"Terima kasih, Bunda," Alena tersenyum, Amy terkejut karena Alena tidak menolak obat beracun itu dan meneguknya setengah. Alena menahan rasa pahitnya dan berhenti setelah dia merasa cukup.


"A-Aku akan menghabiskannya nanti, Bunda," ucap Alena. Jika dia habiskan, kemungkinan dia akan berakhir tragis saat di hutan ketika dia sedang berburu.


"Baiklah, jangan lupa untuk meminum semuanya!" ucap ibu ratu.


"Terima kasih, Bunda," Alena berusaha tersenyum tapi sesungguhnya dia sedang menahan sakit akibat racun yang mulai bereaksi.


"Baiklah, Bunda pergi dahulu. Segeralah bersiap-siap, acara berburu akan segera dimulai.


"Pasti, Bunda." sang ibu memeluknya sejenak dan mencium dahinya. Alena masih berusaha bertahan tapi setelah ibu ratu pergi, darah segar pun dimuntahkan. Amy yang melihat itu terkejut dan tampak panik, Amy segera berlari menghampiri Alena sambil membawa segelas air.


"Apa yang kau lakukan, Putri. Kau sudah tahu obat itu beracun tapi kenapa kau masih meminumnya?" tanya Amy tidak mengerti.


"Aku harus melakukannya, Amy. Kau tahu aku tidak bisa menolak obat itu  apalagi dari tangan Bunda ratu."


"Tapi obat itu berbahaya, kau tahu itu," ucap Amy.


"Tidak apa-apa, aku memang sengaja. Sisa obat itu, masukkan ke dalam sebuah tempat dan bawalah saat kita pergi berburu!" perintah Alena.


"Untuk apa, Putri?" tanya Amy tidak mengerti.


"Aku akan pergi mencarinya!" Amy bergegas keluar tenda untuk mencari Agnes. Alena kembali memuntahkan darah, racun yang sungguh mematikan. Sepertinya musuh menginginkan kematian hari ini juga. Amy yang sudah bertemu dengan Agnes, segera kembali ke tenda dengan terburu-buru. Mereka terkejut mendapati banyak darah di dekat sang putri.


"Astaga, apa yang terjadi, Putri? Kenapa begitu banyak darah?" Amy dan Agnes menghampiri dengan terburu-buru dan tampak khawatir.


"Jangan bersihkan darahnya, biarkan saja di sana!" perintah Alena.


"Apa yang kau rencanakan, Putri?" tanya Amy dan Agnes.


"Menyudahi obat terkutuk ini agar Bunda tidak memberikannya lagi!" ucap Alena.


"Minum obat ini dulu, putri," Agnes memberikan obat yang dia buat pada Alena.


"Apa yang akan kau lakukan, Putri. Apa kau ingin membongkar kejahatan yang ratu lakukan?" tanya Agnes.


"Tidak, jangan asal bicara. Bunda tidak tahu apa pun mengenai obat ini. Segera tutupi darahnya, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu lalu menghapus jejaknya!"


"Baik, Putri," walau tidak tahu apa yang direncanakan oleh putri Ernest tapi mereka yakin sebuah siasat telah putri Ernest siapkan untuk menghentikan obat beracun itu agar ibu ratu tidak selalu memberikannya.


Jejak darah segera ditutupi, Alena beristirahat sejenak sampai dia merasa lebih baik walau sesungguhnya wajahnya pucat akibat obat. Putri lemah dan tidak berguna, itulah dia. Dia akan berperan seperti putri yang orang-orang kira dan obat beracun yang diberikan oleh ibu ratu berperan penting untuk keadaannya hari ini. Selain memanfaatkan racun yang ada di dalam obat, dia juga ingin menghentikan ibu ratu memberikan obat itu lagi karena dia tidak bisa menghindari obat itu terus menerus.


Setelah beristirahat, Alena meminta Amy dan Agnes membantunya untuk mengganti pakaian. Kedua pelayan setianya tampak khawatir melihat keadaan sang putri tapi mereka harus mempercayai Putri Ernest yang mereka yakini memiliki rencana sendiri.


Suara terompet sudah terdengar, cuaca yang sangat mendukung untuk berburu. Alena menyembunyikan senjata yang dia bawa, kedua pelayannya juga melakukan hal yang sama. Mereka segera bergegas keluar dan berkumpul dengan yang lain di mana Putri Arabella dan Pangeran Lucius sudah menunggu.


Tatapan mata Lucius tidak lepas dari putri Ernest yang terlihat kurang baik. Ibu ratu pun tampak khawatir melihat keadaannya tapi sebagian orang justru mencibir keadaannya yang lemah. Mereka bahkan meremehkan Ernest dari dalam hati. Putri lemah seperti dirinya, sudah pasti tidak akan bisa melakukan apa pun tapi memang itu yang Alena harapkan.


"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Arabella dengan pelan karena dia sedang berdiri di sisi adiknya.


"Tentu saja, kakak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Kau yakin? Wajahmu terlihat begitu pucat."


"Aku baik-baik saja, sungguh!" dusta Alena.


"Baiklah, aku tidak akan jauh-jauh darimu. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Terima kasih, kakak," meski dia senang Arabella akan berada di dekatnya tapi dia justru berharap kakaknya berada jauh darinya agar kakaknya tidak berada di dalam masalah karena dia yakin, ada sesuatu yang sudah menunggu di hutan.


Sebelum melepaskan kedua putrinya, sang ratu pun menghampiri kedua putrinya. Melihat keadaan Ernest yang begitu pucat membuatnya sangat cemas.


"Apa kau baik-baik saja, Ernest? Kenapa wajahmu mendadak jadi pucat seperti ini? Bunda baru saja melihat keadaanmu tapi kau baik-baik saja," ucap ibu ratu.


"Entahlah, Bunda. Ernest tidak tahu tapi Ernest baik-baik saja," inilah yang Alena inginkan, dia memang sedang mencari simpati ibu ratu.


"Baiklah jika begitu, jika terjadi sesuatu saat di jalan kau harus segera kembali. Jangan ragu, kau mengerti?"


"Tentu saja, Bunda. Kakak Arabella akan menjagaku jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah, Bunda tenang sekarang."


Ernest tersenyum, mereka sudah diperintahkan untuk bersiap-siap. Ernest sudah berada di atas kuda begitu juga dengan Arabella dan Pangeran Lucius. Tidak mereka bertiga saja yang berburu, mereka akan berburu dengan anak pejabat lainnya. Tanda agar mereka berangkat berbunyi, Alena memegang pelana kuda dengan erat. Setelah ini dia akan mengungkap racun yang ada di dalam obat tapi itu bisa dia lakukan jika dia bisa keluar dan kembali dari hutan secara hidup-hidup.