Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Jawaban Dari Pertanyaan


Akibat pertanyaan Alena, raja Leon dan ratu Hana tidak menjawab. Mereka berdua tidak saja terkejut tapi mereka kebingungan dengan pertanyaan Alena mengenai putri Mauren yang seharusnya tidak ada satu orang pun lagi yang tahu karena keberadaannya sudah terhapuskan dan sudah terlupakan.


Alena masih menunggu, dia pun semakin yakin kecurigaannya sangat benar jika raja dan ratu telah menyembunyikan sesuatu bahkan dia merasa jika Mauren benar-benar ada. Sepertinya tidak sesederhana seperti yang dia kira, jangan katakan ada rahasia besar yang disembunyikan oleh raja dan ratu.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Apa tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku dan apakah yang aku katakan adalah benar?" tanya Alena.


"Tidak, apa yang kau katakan tidak benar sama sekali," ucap ibu ratu.


"Dari mana kau tahu akan hal ini, Ernest?" tanya raja Leon.


"Sudah aku katakan, aku mengetahuinya dari buku ini. Kalian bisa membacanya karena di sana tertulis siapa penyihir pertama yang lahir di desa Wesstrink dan di buku itu pun dituliskan jika aku adalah keturunan terakhir Lady Lilya!"


"Omong kosong, jangan mempercayai hal itu!" ucap ibu ratu.


"Kenapa aku tidak boleh mempercayainya, Bunda? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?"


"JanganĀ  berbicara seperti itu, tidak ada yang kami sembunyikan."


"Kembalilah untuk beristirahat, Ernest. Sudah malam," ucap raja Leon.


"Benar, pergilah beristirahat. Buku ini akan aku hancurkan," ratu Hana mengambil buku yang ada di atas meja namun Alena menahannya.


"Tidak, Bunda. Katakan padaku kebenaran dari buku ini dan jawab pertanyaanku denga baik. Siapa putri Mauren?"


"Sebaiknya kau tidak tahu, kami tidak mau membahasnya!" tolak ratu Hana.


"Bunda, aku yakin ada yang Bunda dan Ayahanda sembunyikan. Jika kalian tidak mau mengatakan apa pun maka aku akan mencari sendiri kebenarannya!" Alena sudah beranjak,


"Tidak, Ernest. Jangan lakukan!" pinta ibunya.


"Duduk!" perintah raja Leon.


"Baginda," ratu Hana menatap ke arah Raja Leon, apa suaminya akan melanggar sumpah yang telah mereka ucapkan?


"Sudah lama berlalu, Ernest pun sudah besar dan aku rasa kita tidak bisa terus menyembunyikan hal ini darinya!"


"Tidak, Baginda. Bukankah dengan begini kau akan membuka aibku?" ratu Hana tampak tidak senang.


"Dengar, Ernest. Mauren sesungguhnya tidak ada tepatnya sudah tiada!" raja Leon tidak mempedulikan perkataan istrinya.


"Baginda!" ratu Hana masih berusaha menahan suaminya untuk tidak mengatakan apa pun.


"Diam!" raja Leon berusaha menahan diri untuk berteriak.


"Ka-Kau tahu dari mana, Ernest?"


"Semua tertulis di buku ini, Bunda. Oleh sebab itu aku datang untuk bertanya, apa karena Bunda tidak bisa memiliki keturunan oleh sebab itu Bunda dan Ayahanda mengadopsi aku dan kak Arabella? Apa benar aku putri dari putri Mauren?"


"Jangan mempercayai semua yang tertulis di dalam buku ini, Ernest," raja Leon mengambil buku yang ada di atas meja dan melihatnya, "Tidak tertulis siapa yang menulis di buku ini jadi jangan percaya dengan apa yang tertulis di buku ini karena orang yang menulis belum tentu mendapatkan informasi yang dia tulis dari sumber yang benar!" ucap raja Leon lagi.


"Aku tahu, Ayahanda. Untuk itulah aku datang untuk mencari kebenaran dari tulisan yang ada di buku ini!"


"Baik, dengarkan. Siapa pun yang menulis buku ini tapi tidak semuanya benar. Waktu itu kami memang sulit memiliki keturunan dan putri Mauren hadir kemudian di dalam istana dan dia dipersiapkan untuk menjadi selirku agar keturunanku tidak terputus begitu saja tapi tanpa orang-orang duga ternyata Mauren telah mengandung saat itu. Tidak ada yang tahu siapa ayah dari bayinya. Seluruh rakyat yang tahu akan hal itu sangatlah murka, mereka mengutuk putri Mauren bahkan mereka hampir membunuh putri Mauren. Isu buruk pun beredar yang mengatakan jika Mauren adalah keturunan seorang penyihir jahat oleh sebab itu, rakyat sangat membencinya dan melempari Mauren dengan batu jika melihatnya. Mauren yang tidak bisa menghadapi semua kebencian yang ditujukan padanya memilih pergi dari istana. Ada yang mengatakan jika dia sudah mengakhiri hidupnya sendiri karena malu tapi tidak ada pula yang tahu. Pada saat itulah masa paling kelam kerajaan Kent Arsia karena hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya dan karena hal itu pula, nama putri Mauren yang entah berasal dari mana dihapus dan orang-orang dipaksa untuk melupakannya."


"Lalu bagaimana dengan anak dari putri Mauren?" Alena benar-benar ingin tahu akan hal ini.


"Tidak ada yang tahu karenat tidak ada lagi yang berani membicarakan hal itu selama beberapa saat. Kami yang putus asa karena tidak memiliki keturunan akhirnya memutuskan untuk pergi melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk melakukan pengobatan tapi ketika berada di dalam perjalanan, kami justru menemukan seorang anak kecil yang menggendong seorang bayi. Mereka kelaparan, pakaian yang mereka kenakan compang camping dan mereka berdua sudah hampir mati. Aku yang sangat menginginkan seorang anak tentu tidak tega oleh sebab itu aku?" ratu Hana menghentikan perkataannya dan menatap Alena dengan tatapan sendu.


"Kedua anak itu, apakah?" tanya Alena. Rasanya tidak sanggup tapi dari perkataan ibu ratu, sudah menjawab semuanya.


Ratu Hana menangis, dia sungguh tidak sanggup menahan kesedihan hati karena dia tidak bisa memiliki keturunan untuk sang raja. Meski raja Leon tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap mencintainya tapi dia sudah gagal menjadi ratu dan kedua anak yang mereka temukan saat di perjalanan, menjadi pelipur lara yang dia rasakan selama ini.


"Kami menyayangimu, Ernest. Tidak ada yang tahu akan hal ini, rakyat pun tidak tahu. Kami membuat sebuah konspirasi sehingga para rakyat menganggap aku mengandung saat di perjalanan dan kembali dengan putri yang akan mewarisi takhta kerajaan."


"Tapi apa tidak ada yang curiga sama sekali dengan usia kami?" tanya Alena.


"Tentu saja ada," ratu Hana menghentikan ucapannya, tentu saja ada tapi entah kenapa tidak ada yang meributkan hal itu bahkan kedua anak yang dia temukan sangat di sanjung oleh masyarakat meski lambat laun Ernest mulai dibenci dan tidak diterima akibat isu buruk yang menimpa dirinya.


"Aku merasa ada yang tidak beres akan semua yang terjadi," ucap Alena.


"Apa maksud perkataanmu, Ernest?" tanya ayahnya.


"Sudah begitu larut, Ayahanda. Aku sangat berterima kasih Bunda dan Ayahanda mau menceritakan kisah ini. Meski aku bukan putri kandung kalian, apakah kalian mau mempercayai aku dan masih mau menyayangi aku sebagai putri kalian?" tanya Alena.


"Bodoh, kau dan Arabella adalah putriku. Meski kita tidak memiliki hubungan darah tapi bagi kami kalian berdua adalah segalanya. Kami pasti akan melindungi dirimu dan membantumu membersihkan namamu," ucap ibunya.


"Terima kasih, Bunda," Alena beranjak dan mendekati raja Leon dan ratu Hana, Alena pun bersimpuh di bawah kaki kedua orang yang sudah mengadopsi dirinya, "Rahasia ini akan aku simpan dengan baik, aku sangat berterima kasih pada kalian," ucapnya.


"Apa yang kau katakan," raja Leon dan istrinya membantu Alena untuk berdiri, "Kau tetap putri kami sampai kapan pun juga, begitu juga dengan Arabella," ucap raja Leon.


"Terima kasih," Alena memeluk mereka, dia benar-benar beruntung memiliki mereka.


Alena pamit pergi sambil membawa buku yang diberikan oleh ordo suci. Meski dia tidak melanjutkan percakapan itu tapi dia sudah mendapatkan sebuah kesimpulan dari pembicaraan mereka. Mengenai Mauren dan anaknya, mengenai rakyat yang tidak curiga dengan kehadirannya dan Arabella. Dia sudah mendapatkan kesimpulan dari semua percakapannya dengan ratu Hana dan raja Leon. Meski belum jelas apakah dia putri dari putri Mauren atau bukan tapi yang pasti dia jadi tahu jika dia dan Arabella bukanlah putri kandung dari Raja Leon dan ratu Hana. Alena mengajak Lucius untuk pergi karena dia sudah tidak sabar membuat teori dari percakapan yang baru saja dia lakukan dengan raja Leon dan ratu Hana.