
Keadaan Ernest sudah lebih baik, semua berkat obat yang dia konsumsi. Malam itu pun, Ernest dipindahkan ke kamarnya oleh kedua pelayannya yang setia tapi secara diam-diam agar tidak ada yang tahu.
Amy dan Agnes memindahkan sang putri saat tengah malam. Semua itu dilakukan agar tidak ada yang tahu apalagi keadaan Ernest belum sepenuhnya pulih total.
Alena yang berada di dalam tubuh Ernest pun ikut saja karena istana yang masih asing baginya. Dia tidak boleh tersesat di istana itu sehingga ada yang curiga dengan keadaannya yang tidak tahu apa pun. Kamar yang begitu besar, Alena sampai terpana melihatnya. Dia pernah melihat kamar seperti itu tapi di buku dongeng.
Tunggu, bukankah sekarang dia seorang putri? Bukankah berarti dia memiliki banyak gaun yang indah, perhiasan dari emas dan perak juga mahkota tiara yang indah? Oh, jiwa miskinnya bergejolak. Rasanya sudah tidak sabar melihat semua itu. Walau dia seorang agen tapi dia hidup di sebuah rumah yang sederhana. Beruntungnya dia berpindah di tubuh seorang putri karena jika dia berpindah di tubuh seorang pelayan maka dia akan menangis selama tujuh hari tujuh malam.
"Berbaringlah, Putri. Jangan pergi ke mana-mana," pinta Amy.
"Kami akan berpura-pura membawa putri kembali agar tidak ada yang curiga dengan keadaan Tuan Putri," ucap Agnes.
"Tunggu sebentar!" pinta Alena. Ada yang ingin dia tanyakan karena dia merasa ada yang aneh dengan situasi yang ada.
"Ada apa, Putri? Apa ada yang Tuan Putri inginkan?"
"Apa ada yang sakit?" tanya pelayannya yang lain.
"Tidak, apa kalian berdua tidak merasa curiga?" tanya Alena.
"Maksud Putri?" tanya Amy dan Agnes.
"Aku adalah seorang putri dan aku di keroyok saat aku hendak pergi. Kejadian itu sudah beberapa hari berlalu tapi kenapa keadaan istana begitu tenang? Tidak ada isu apa pun dan kabar apa pun mengenai tragedi buruk yang aku alami. Apa kalian tidak curiga dengan kejadian ini?" Alena bertanya demikian karena tidak mungkin tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada seorang putri raja.
"Tuan Putri, orang-orang itu pasti menyembunyikan apa yang telah mereka lakukan pada Tuan Putri. Berita itu tidak mungkin tersebar karena jika sampai Raja dan Ratu tahu apa yang mereka lakukan pada Putri Ernest maka mereka akan mendapat hukuman gantung. Oleh sebab itu kejadian yang menimpa Tuan Putri tidak mungkin ada orang yang tahu," jelas Agnes.
"Baiklah, aku mengerti tapi katakan padaku satu hal. Kalian bilang ada isu yang mengatakan jika aku adalah seorang penyihir, sekarang katakan padaku karena aku ingin tahu dari mana awal mula isu itu beredar," tanya Alena.
Amy dan Agnes saling pandang, sungguh sikap putri Ernest sangatlah mencurigakan. Seharusnya putri Ernest tahu akan hal ini, dia bahkan pernah frustasi karena isu yang merebak di dalam istana.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Alena.
"Seharusnya kau tahu akan hal ini, putri. Isu itu mulai menyebar setelah kau kembali ke istana. Entah siapa yang memulai tapi isu itu menyebar dari pelayan ke pelayan lainnya sehingga orang-orang mulai percaya jika Putri Ernest adalah seorang penyihir. Seperti yang sudah kami katakan, semua itu diperkuat karena jatuhnya korban dan beberapa saksi yang melihat!"
"Baiklah," Alena sudah berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Sangat nyaman, sekarang badannya tidak akan begitu sakit karena ranjang yang dia tiduri beberapa hari belakangan sangat keras sehingga membuat tubuhnya semakin sakit.
"Apa ada yang lain, Tuan Putri? Jika sudah tidak ada maka kami harus segera berpura-pura membawa Tuan Putri kembali dari perjalanan," ucap Amy.
"Baik, putri," Amy dan Agnes membungkuk sebagai tanda hormat sebelum mereka pamit pergi.
Alena tidak langsung tidur karena ada yang sedang dia pikirkan. Isu mengenai dirinya sebagai seorang penyihir berarti beredar dari istana untuk pertama kali. Bukankah itu berarti yang menyebarkan isu itu adalah orang yang berada di dalam istana? Apa ada yang tidak menyukai dirinya di istana itu? Ini aneh, jika memang demikian bukankah berarti di dalam istana ada musuh dalam selimut? Tapi siapa?
Alena berpikir akan kecurigaannya itu, dia semakin yakin ada musuh di dalam selimut tapi karena dia belum mendapatkan ingatan akan siapa saja orang-orang yang dia kenal di istana membuatnya tidak bisa menebak siapa yang telah membuat isu itu terlebih dahulu.
Sekarang dia jadi tidak sabar untuk sembuh karena dia harus mulai mengenali istana itu dan mengenali orang-orang yang tinggal di istana. Sebaiknya dia segera beristirahat, semoga besok keadaannya sudah semakin membaik.
Kedua pelayannya Amy dan Agnes, sedang berpura-pura membawanya kembali menggunakan kereta kuda yang mereka sembunyikan. Itu harus dilakukan agar tidak ada yang curiga. Beruntungnya para pengawal yang membuka gerbang untuk mereka tidak memeriksa ke dalam kereta kuda karena mereka mengatakan jika sang putri sedang tidur. Mereka bisa masuk dengan mudah karena para penjaga sudah tahu jika mereka adalah pelayan setia sang putri.
Semua berjalan dengan sangat baik meskipun para pengawal yang mengikuti sang putri tidak ikut kembali. Kedua pelayan Ernest pura-pura membawa sang putri ke dalam kamar padahal yang mereka bawa hanya sebuah boneka jerami yang ditutupi dengan jubah sang putri. Karena waktu sudah larut malam jadi tidak ada yang mempedulikan mereka dan beberapa penjaga pun tidak memeriksa karena mereka memang sudah tidak asing.
Kabar Ernest yang sudah kembali tentu di dengar oleh sang ratu pagi itu. Hana Herbert sangat senang karena putri keduanya sudah kembali. Itu sebabnya dia memutuskan untuk mengunjungi Ernest untuk melihat keadaan putrinya yang lemah. Kabar akan kunjungan sang ratu pun sudah didengar oleh Amy dan Agnes, oleh sebab itu mereka segera bergegas ke kamar sang putri untuk membangunkannya.
"Putri, Baginda Ratu akan datang untuk melihat keadaanmu," Amy memanggil putri Ernest yang masih tidur.
"Apa?" Alena terkejut, baginda ratu? Ibu Ernest datang berkunjung?
"Segeralah membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum ibu ratu datang," pinta Agnes.
"Apa kalian bercanda, aku belum bisa bergerak dengan leluasa!"
Amy dan Agnes tampak ragu, iring-iringan sang ratu sudah terlihat di lorong. Tidak ada waktu lagi untuk mandi dan berganti pakaian lalu merapikan rambut sang putri yang tebal dan panjang. Mereka pun terlihat begitu panik apalagi sang ratu sudah dekat dengan kamar sang putri.
"Sebaiknya, Tuan Putri tetap berbaring dan berpura-puralah jika putri sedang sakit," ucap Amy.
"Aku memang sedang sakit," ucap Alena.
"Tidak, Tuan Putri harus terlihat begitu lemah agar baginda Ratu tidak tahu apa yang terjadi. Berlakulah seolah-olah tuan Putri sedang sakit setelah kembali dari perjalanan dan tolong, jangan membuat sesuatu yang bisa membuat baginda Ratu curiga," pinta Agnes.
Alena mengangguk, entah kenapa jantungnya jadi berdebar. Bagaimana rupa seorang ratu? Semoga tidak seperti yang ada di cerita dongeng, ratu yang kejam. Selimut pun ditarik untuk menutupi tubuhnya, tatapan mata Alena tidak lepas dari pintu sampai daun pintu terbuka.
Ibu ratu masuk ke dalam, Elena tampak gelisah dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Semoga tidak ketahuan, semoga ibu ratu tidak mengetahui jika yang saat ini berada di dalam raga putrinya bukanlah putrinya.