
Amy yang diperintahkan untuk pergi terlebih dahulu, membawa kudanya dengan cepat sambil berderai air mata. Dia sangat tidak ingin meninggalkan sang putri seperti itu tapi dia tidak memiliki pilihan. Kotak dipeluk erat dengan satu tangan, dia harus segera tiba di perbatasan dan mencari bantuan.
Amy sudah seperti orang gila, dia terus berkuda tanpa melihat sekitarnya sampai-sampai membuat Amy hendak menabrak orang yang kebetulan melintas. Gara-Gara hal itu pula, Amy terjatuh dari atas kuda dan berguling di atas tanah sambil memeluk kotak yang tidak akan dia lepaskan.
"Tolong jangan bunuh aku, jangan membunuh aku!" ucapnya ketakutan.
Kedua pria yang hampir ditabrak oleh Amy melompat turun, mereka adalah pangeran Lucius dan Bastian. Mereka belum tahu jika yang berkuda seperti orang gila itu adalah Amy oleh sebab itu Bastian mendapat perintah untuk melihat keadaan Amy.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Bastian sambil membalikkan tubuh Amy yang meringkuk ketakutan.
"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku!" Amy masih mengatakan hal demikian.
"Amy?" Bastian memanggil, Amy segera melihat ke arah pria itu.
"Bastian, Pangeran," Amy melihat kedua pria yang berdiri tidak jauh darinya.
"Mana Ernest?" tanya Lucius.
"Pangeran, tuan putri masih berada di desa Westtrink dan sedang dikepung oleh para bandit," Amy merangkak mendekati pangeran Lucius dengan cepat dan memohon di bawah kakinya, "Tolong selamatkan putri Ernest, pangeran," pintanya.
"Ayo bergegas!" perintah Lucius. Dia tampak khawatir, semoga mereka tidak terlambat menolong Ernest.
Bastian membantu Amy untuk naik ke atas kuda, mereka bergegas tanpa membuang waktu. Perasaan cemas dan khawatir semakin membuat Amy ketakutan. Lucius pun semakin membawa kudanya dengan cepat bahkan Bastian dan Amy sudah tertinggal.
Desa Westtrink, dia tahu itu bukan tempat yang aman untuk seorang perempuan. Seharusnya dia tidak membiarkan Ernest pergi ke sana, seharusnya dia menahan Ernest sehingga mereka bisa pergi bersama dan sekarang, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Ernest.
Mereka berkuda menuju desa, sedikit lagi sudah akan tiba tapi perjalanan mereka terhenti saat mereka melihat seseorang dari kejauhan dan orang yang mereka lihat tampak tidak asing.
"Putri!" Amy berteriak namun Alena tidak mendengar akibat racun yang membuatnya semakin lemah apalagi jarak mereka memang masih cukup jauh.
Lucius membawa kudanya ke arah Alena, begitu juga dengan Amy. Amy sangat senang karena sang putri sudah keluar dari desa tapi ketika Alena tumbang ke atas kuda dengan sebuah panah berada di punggung, Amy berteriak histeris. Lucius pun berteriak memanggil Ernest dan melompat turun dari kudanya. Sang pangeran berlari dengan cepat menghampiri Alena yang sudah hampir jatuh ke tanah namun buru-buru di tangkap olehnya.
"Ernest!" Lucius berteriak memanggil dan terkejut karena mendapati bibir Alena sudah terlihat membiru. Kini dia mulai panik dan buru-buru menggendong tubuh Alena.
"Ernest, sadarlah!" teriaknya memanggil tapi tidak ada reaksi, "Sial!" Lucius mengumpat karena dia tahu Alena baru saja terkena racun.
"Apa yang terjadi dengan tuan putri!" tanya Amy yang sudah berlari mendekat.
"Racun, dia terkena racun!" Lucius menggendong Alena ke bawah sebuah pohon, dia harus segera mengeluarkan racun yang ada di tubuh Ernest sebelum mengenai jantungnya.
Tubuh Alena pun diturunkan, Lucius menarik panah yang tertancap di punggung Alena lalu membalikkan tubuhnya. Gaun Alena pun di robek, Lucius meminta Bastian membawakan air juga obat penangkal racun yang memang selalu dia bawa ke mana-mana. Bastian bergerak cepat, Amy memperhatikan apa yang Pangeran Lucius lakukan dari jauh dengan air mata yang terus mengalir.
Lucius menghisap racun dari luka bekas anak panah yang ada di punggung Alena lalu membuangnya. Dia melakukan hal itu sampai beberapa kali dan setelah merasa cukup, obat dioleskan di atas luka bekas anak panah tapi itu tidaklah cukup karena racun sudah menyebar ke dalam tubuh dan dia hanya mengeluarkan sedikit dari racun itu.
"Bagaimana dengan keadaan putri?" tanya Amy yang ketakutan sedari tadi.
"Buruk, aku harap dia bisa melewati malam ini," ucap Lucius.
"Bastian, dirikan tenda. Kita tidak akan bisa pergi ke mana pun dalam keadaan Ernest yang seperti ini!" perintah Lucius.
"Baik, Pangeran!" Bastian mencari tempat aman untuk mendirikan tenda. Amy ikut membantu agar tenda cepat berdiri.
Lucius memeluk Alena yang masih tidak sadarkan diri, sekarang dia semakin menyesal tidak mencegah Alena mendatangi desa Westtrink. Dia harap Alena segera sadar karena dia harus memberi Alena minum obat namun Alena tidak juga sadar meski hari sudah gelap. Tubuh Alena mendingin, Lucius panik luar biasa. Dia meminta Bastian membuat api unggun agar Alena merasa hangat.
Alena bahkan berkeringat dingin dan mengigau, dia seperti kembali ke jaman modern melihat kematiannya sendiri. Lucius menjadikan itu kesempatan untuk memberikan Alena obat penangkal racun, dia harap Alena bisa menelan obat agar keadaannya semakin membaik. Obat pun diberikan dari mulut, Alena sulit menelan tapi Lucius tidak menyerah sampai obat dapat ditelan oleh Alena.
"Dingin," ucap Alena, kini tubuhnya menggigil hebat padahal Alena tak henti berkeringat.
"Aku akan menghangatkan dirimu!" Lucius memeluknya erat tapi itu tidaklah cukup karena Alena masih saja menggigil padahal mereka duduk di depan api unggun.
Bastian dan Amy memperhatikan dari jauh apa yang sedang pangeran lakukan. Dia yang tampak khawatir sedari tadi, dia pula yang mengobati luka di punggung Alena dan juga beberapa luka akibat perkelahian yang Alena lakukan.
"Apa yang kalian berdua lakukan di desa itu, Amy?" tanya Lucius.
"Seorang pria tua bernama Kendrick mengirimkan sebuah pesan pada tuan putri dan meminta tuan Putri untuk bertemu dengannya di desa terkutuk itu," jelas Amy.
"Siapa Kendrick?" tanya Lucius ingin tahu.
"Dia seorang dokter yang diutus oleh Ordo Suci untuk menyampaikan pesan penting pada putri Ernest."
"Pesan penting, pesan apa?" tanya Lucius lagi.
"Kami belum melihatnya karena pesan itu tidak bisa dibuka di sembarangan tempat jadi kami membawanya tapi gara-gara kotak yang kami bawa ini pula, kami di hadang oleh para bandit yang menginginkan kotak ini. Karena isi kotak ini sangat rahasia, oleh sebab itu putri Ernest meminta aku untuk pergi terlebih dahulu agar kotak ini aman," jelas Amy. Dia percaya dengan pangeran Lucius oleh sebab itu dia berani mengatakannya.
"Ada hubungan apa antara kau dan Ordo Suci, Ernest?" tanya Pangeran yang semakin mengencangkan pelukannya.
"Pangeran, kotak ini jangan sampai jatuh ke tangan siapa pun sampai putri sadar jadi aku mohon pangeran bersedia menjaga kotak ini beserta putri Ernest karena aku khawatir para bandit itu masih terus mengincar sehingga mereka menemukan keberadaan kita di sini," ucap Amy.
"Pangeran, di sana ada sebuah gua. Kau bisa membawa Putri Ernest bersembunyi di gua itu bersama dengan kotaknya dan aku akan berjaga tidak jauh dari tempat itu," ucap Bastian.
"Baiklah, memang tidak aman karena kita tidak jauh dari desa Westtrink," Lucius beranjak sambil menggendong Alena, "Bawa kotak itu, dan berjagalah dengan baik!" perintahnya.
"Baik, pangeran!" jawab Bastian. Tenda yang sudah berdiri di bongkar sehingga menyisakan sisa api unggun. Lucius membawa Alena menuju gua untuk bersembunyi, beberapa kain di hampar untuk menjadi alas agar Alena bisa berbaring bahkan jubah yang dia pakai digunakan untuk menutupi tubuh Alena yang menggigil hebat.
Bastian mengajak Amy berjaga di atas dahan pohon besar, tidak akan ada yang menyadari keberadaan mereka di atas pohon itu.
"Dingin.. dingin," Alena terus bergumam demikian, Lucius menutup tubuhnya kembali dengan apa saja yang bisa digunakan tapi Alena tetap mengeluh kedinginan.
"Maafkan aku, Ernest. Jangan memukul aku saat kau sadar," ucap Lucius. Pakaiannya dibuka, lalu gaun yang Alena kenakan. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa dia lakukan, menghangatkan Ernest dengan suhu tubuhnya. Semoga Ernest bisa bertahan dan melewati malam ini dan semoga besok dia tidak mendapatkan sebuah tamparan di wajah.
Lucius memeluk Alena dengan erat, sampai Alena benar-benar merasa hangat. Beruntungnya obat bekerja dengan cepat jika tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ernest. Amy dan Bastian pun berjaga di atas pohon dan sesuai dengan perkiraan, meski bukan para bandit tapi orang yang menembakkan panah beracun itu mendapatkan tugas untuk memeriksa keadaan putri Ernest apakah dia sudah mati atau tidak mendapati api unggun yang masih baru namun dia tidak mendapati siapa pun di tempat itu.