Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Princess Arabella


Semangkok obat dibawa masuk ke dalam kamar sang putri oleh seorang pelayan yang diperintahkan oleh ratu dan obat itu untuk Putri Ernest. Obat itu memang rutin diberikan untuk putri Ernest setiap hari agar keadaannya semakin membaik. Ernest yang memiliki tubuh lemah, memang harus mengkonsumsi obat yang diberikan oleh sang ratu setiap hari.


Hari ini, Alena dibangunkan begitu pagi karena dia sudah harus segera siap untuk menghadiri perayaan minum teh yang akan hadiri oleh beberapa pejabat dan anggota kerajaan. Alena masih terlihat begitu mengantuk, padahal dia masih ingin  tidur tapi Amy dan Agnes tidak mengijinkan.


Alena sedang berendam di dalam air yang diberi wangi-wangian. Beberapa pelayan sedang mencuci rambut panjangnya, beberapa yang lain sedang membersihkan kuku tangan dan kuku kakinya. Hari ini dia harus terlihat sempurna karena banyak yang akan datang di acara perayaan.


Amy dan Agnes begitu sibuk, tentunya mereka sibuk menyiapkan gaun yang akan sang putri kenakan nanti. Alena yang tidak pernah dilayani seperti itu tampak menikmati pelayanan yang dia dapatkan. Anggap saja dia sedang pergi ke salon mahal untuk melakukan perawatan diri, kapan lagi dia bisa mendapatkan pelayanan exclusive tersebut?


"Obatmu, Putri," ucap sang pelayan yang baru saja mengantar obat untuknya.


"Simpan saja di sana, akan aku minum setelah aku selesai," kedua mata Alena terpejam, menikmati pelayanan exclusive-nya.


Para pelayan yang sibuk saling pandang karena bekas luka yang ada di tubuh putri Ernest tapi tidak ada yang berani bertanya. Semua bekas luka adalah bekas luka baru, oleh sebab itu para pelayan hanya bisa saling pandang dengan persepsi masing-masing. Ada yang mengira bekas luka itu akibat pemujaan setan, ada pula yang mengira putri Ernest melukai dirinya sebagai wujud kesetiaannya pada sang raja iblis. Rumor yang menyebutnya sebagai seorang penyihir benar-benar sudah meracuni pikiran orang-orang.


Rambutnya sudah bersih dan wangi, kuku tangan dan jarinya sudah terlihat mengkilap. Alena tampak puas, service yang sangat memuaskan walau tidak dilengkapi dengan perlengkapan canggih dari jaman modern tapi pakaian yang harus dia kenakan, membuat Alena sakit kepala.


"Aku harus menggunakan semua ini?" tanya Alena.


"Benar, putri. Bukankah kau suka dengan gaun ini?" tanya Amy.


Alena memijit pelipis, selera Ernest benar- benar buruk. Ternyata pakaian jaman dulu  begitu mengerikan. Gaun yang tebal, korset lalu beberapa aksesoris yang harus dia kenakan dan yang paling menyebalkannya, dia harus menggunakan sesuatu agar bokongnya seperti terlihat berisi. Jika dia menggunakannya, dia benar-benar tidak kalah dengan seekor induk bebek.


"Aku mau ganti suasana!" ucap Alena.


Gaun diambil, korset wajib digunakan lalu gaun tipis untuk digunakan sebelum menggunakan gaun juga pakaian dalam. Semoga dia terbiasa karena belum ada bra di jaman itu. Amy dan Agnes mengikuti apa yang diperintahkan oleh Alena. Mereka berdua sangat heran, gaya sang putri benar-benar jauh berbeda dari pada biasanya.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Alena.


"Tapi kau tidak pernah berpenampilan seperti ini, Putri," ucap Amy.


"Sudah, mulai sekarang aku ingin menggunakan pakaian yang simple. Aku tidak mau menggunakan pakaian yang rumit jadi yang tidak perlu buang saja dari dalam lemari. Mengerti?"


"Baik," jawab Amy dan Agnes.


Alena tersenyum melihat penampilannya, walau dia hidup di jaman kuno tapi dia tidak boleh terlalu kuno. Penampilannya sudah cukup memuaskan, dia justru tidak sabar melihat perhiasan yang akan dia kenakan dan ketika melihat deretan perhiasan yang dikeluarkan oleh Amy, sontak matanya langsung hijau.


"Minum dulu obatnya, Putri," Amy membawa mangkuk obat setelah mengambil perhiasan dan memberikannya pada sang putri yang sedang mengenakan korset dibantu oleh dua Agnes.


"Obat apa ini?" tanya Alena, dia harus menaruh curiga pada apa yang akan dia minum.


"Obat ini dari Ibunda ratu," jawab Amy.


"Baiklah," karena obat itu dari ibu ratu jadi dia tidak perlu curiga. Alena meneguk obat yang pahitnya tidak kira-kira itu. Sepertinya dia harus membiasakan diri untuk meminum obat seperti itu.


"Semua obat memang pahit, Putri."


Alena memberikan mangkuk yang sudah kosong. Rasanya jadi aneh karena dia harus dipanggil putri dan putri setiap hari. Apakah ada cara lain agar kedua pelayannya tidak memanggilnya seperti itu terus?


"Oh, jangan terlalu kencang!" pintanya karena Agnes begitu kencang mengikat korsetnya.


"Kau harus terlihat sempurna jika tidak, orang-orang akan membicarakan dirimu," Agnes menarik korset sekuat mungkin dan mengikatnya.


"Tapi ini sakit, apa kau ingin membunuh aku?" Alena sampai kesulitan bernapas. Gila, dia akan memberikan jempolnya pada gadis-gadis jaman kuno yang bertahan dengan korset yang begitu mengerikan dan yang harus mereka kenakan setiap hari.


"Kenapa kau berbicara seperti, Ernest?" Alena terkejut dan melihat ke arah pintu di mana seorang putri yang sangat menawan berdiri di depan pintu bersama dengan beberapa pelayannya. Alena mengernyitkan dahinya, siapa wanita cantik itu?


"Selamat datang, Tuan Putri," Amy dan Agnes membungkuk hormat menyambut kedatangan putri itu.


Alena belum mengerti jika putri itu adalah putri Arabella, kakak Ernest. Tapi setelah melihat rupanya yang mirip dengan raja, dia jadi tahu jika putri itu adalah saudara dari Ernest.


"Selamat datang, Kakak," Alena pun membungkuk hormat. Dia harus melakukannya agar tidak ada yang curiga.


"Hei, kenapa kau membungkuk seperti itu?" Arabella menghampiri adiknya dan memegangi bahunya, "Kau seorang putri, tidak boleh membungkuk seperti itu pada siapa pun. Kau hanya boleh membungkuk pada Raja dan Ratu saja," ucap Arabella.


"Maaf, aku?" Alena jadi salah tingkah. Jujur saja dia takut ketahuan karena sikap anehnya yang sudah pasti tidak seperti Ernest.


"Sudahlah, aku dengar keadaanmu tidak sedang baik-baik saja dari bunda Ratu. Apa penyakitmu kambuh lagi? Jika kau tidak sehat, lebih baik kau tidak perlu hadir di perayaan," ucap Arabella.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kau bisa melihat keadaanku," ucap Alena. Ternyata kakak dari Ernest sangat baik. Sepertinya yang menyebar isu bahwa dia adalah seorang penyihir bukanlah anggota kerajaan. Mungkin isu itu dari seorang pelayan yang tidak suka dengannya.


"Aku sangat senang mendengarnya. Jika kau sudah selesai, kita pergi bersama menghadiri perayaan. Bunda ratu dan Ayahanda sudah menunggu kita."


"Sebentar lagi aku akan selesai," Alena tersenyum. Jadi panggilan untuk ayah dan ibunya seperti itu. Sedikit demi sedikit dia mulai tahu dan seiring berjalannya waktu, dia akan terbiasa.


Penampilan putri Ernest sudah terlihat sempurna, beberapa perhiasan pun sudah dia kenakan. Alena benar-benar puas, senyuman manis menghiasi wajah. Arabella benar-benar menunggunya, dia ingin mereka pergi bersama-sama.


"Aku sudah siap," ucap Alena.


"Ayo, saatnya kita menunjukkan diri," Arabella berjalan terlebih dahulu, sedangkan Ernest mengikutinya.


Para putri pejabat yang hendak menikmati teh sudah datang, raja dan ratu pun sudah duduk di tempat mereka. Beberapa pejabat yang diundang juga sudah berada di tempat masing-masing. Semua beranjak dari tempat duduk saat Princess Arabella dan Princess Ernest hadir di tempat itu.


Semua menyambut princess Arabella dengan suka cita tapi tidak dengan Ernest. Semua melihatnya dengan tatapan tidak senang dan mereka jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan mereka pada putrri Ernest. Walau mereka tersenyum tapi senyuman yang mereka tunjukkan tidak seperti senyuman yang mereka berikan pada Princess Arabella. Alena sangat heran, apa yang sebenarnya dilakukan oleh putri Ernest sehingga orang-orang itu seperti membenci dirinya? Sungguh, tidak ada satu dari mereka pun yang memperlihatkan senyum tulus padanya sehingga dia menebak jika Ernest benar-benar tidak sukai.