Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Pesta


Pintu istana sudah terbuka, para putri dan juga pangeran yang diundang dari seluruh negeri dipersilakan untuk masuk ke dalam istana yang sudah di sulap dengan begitu indahnya. Semua mengagumi keindahannya, para putri akan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian pangeran-pengeran yang datang ke acara pesta itu namun bintangnya malam ini adalah pangeran Lucius yang gagah dan tampan.


Semua mendapatkan sambutan yang meriah, pakaian dan perhiasan yang dikenakan benar-benar penunjukkan status sosial yang dimiliki oleh para putri itu. Ruang pesta yang tadinya sepi kini sudah dipenuhi oleh para tamu.


Arabella yang masih berada di penginapan sedang bersiap-siap, sang pelayan sibuk menata rambut pirang bergelombang miliknya. Jepit rambut yang diberikan oleh pangeran Lucius sebagai cindera mata pun dikenakan sehingga menyempurnakan penampilannya. Gaun merah yang dia kenakan juga terlihat sangat pas di tubuhnya yang seksi, malam ini dia harus menjadi bintangnya.


"Beruntungnya putri Ernest tidak datang," ucap pelayannya.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Arabella dengan ekspresi tidak senang.


"Aku khawatir putri mendapat celaka karena bersama dengan putri Ernest tapi aku sangat lega setelah tahu dia tidak datang dan tidak diundang. Beruntungnya pangeran Lucius mengambil tindakan yang tepat dengan tidak mengundang penyihir itu!"


"Tutup mulutmu, Isabel. Beraninya kau berkata demikian tentang Ernest? Bagaimana jika ada yang mendengar lalu salah paham dengan ucapanmu? Sepertinya kau tidak lupa jika banyak yang menginap di penginapan ini!"


"Maaf, Putri. Aku tidak bermaksud tapi aku bisa melihat jika putri Ernest menyukai pangeran. Bagaimana jika ternyata dia ingin menjadi saingan putri?"


"Tidak mungkin!" sangkal Arabella.


"Percayalah padaku, Putri. Kau mungkin tidak memperhatikan tapi tatapan mata pangeran pada putri Ernest itu sangatlah berbeda."


Arabella mencengkeram sapu tangannya, tatapan mata tertuju pada cermin. Ernest memang lebih muda dan cantik tapi dia pun tidak kalah cantik jadi sebaiknya dia segera bergegas pergi ke pesta dansa.


"Jangan berbicara yang tidak-tidak, sekarang bantu aku dan setelah itu aku sudah harus pergi."


"Baik, Putri," sang pelayan segera membantu putri Arabella untuk merapikan pakaiannya yang indah.


Di pesta itu dia harus terlihat sempurna untuk menarik perhatian pangeran Lucius agar Pangeran terpikat dan mengajaknya berdansa. Kesempatan ini tidak boleh dia sia-siakan apalagi semua orang berpikir jika dia dan pangeran adalah pasangan yang serasi.


Arabella sudah terlihat sempurna, memang sangat disayangkan adiknya tidak ikut serta. Jika Ernest berada di sana dengannya, pasti akan sangat menyenangkan bisa datang bersama ke acara pesta itu. Kereta kuda sudah menunggunya di luar, Arabella bergegas pergi ke istana yang terlihat karena tidak jauh. Seperti putri lainnya, Arabella pun terlihat bersemangat.


Lucius sudah terlihat gagah dengan sebilah pedang di pinggang. Putri Lucia yang manis juga berdiri di sisinya sambil melihat para putri yang sudah berkumpul di dalam ruangan.


"Kakak, putri mana yang kakak sukai?" tanya Lucia.


"Kakak belum menentukan, Lucia. Coba lihat, kira-kira putri mana yang bisa kakak ajak berdansa?" tanya Lucius pura-pura tapi sesungguhnya dia menunggu kedatangan Ernest oleh sebab itu dia sedang melihat para putri yang memasuki tempat dansa itu.


"Tentukan pilihanmu dengan baik, Lucius. Jangan sampai kau tidak mendapatkan seorang putri pun di antara begitu banyak putri yang ada," ucap ayahnya yang memang berada tidak jauh darinya.


"Aku tahu, Ayahanda," jawab Lucius. Dia kembali melihat para putri yang datang dan berharap, Ernest segera muncul.


Arabella yang sudah tiba pun bergegas masuk ke dalam istana, beberapa pangeran yang melihat penampilannya mengagumi penampilan Arabella yang luar biasa. Putri yang selalu di sanjung di kerajaan Kent Arsia, kini mereka bisa melihatnya dan beruntungnya, si penyihir itu tidak ikut datang karena dia bisa merusak suasana.


Arabella disambut dan didekati oleh beberapa putri yang mengagumi kecantikannya. Dia benar-benar mendapatkan sambutan yang sangat baik. Itu memang harus dia dapatkan, dia harus di sanjung ke mana pun dia pergi. Arabella segera menghampiri Pangeran Lucius yang sedang berbincang dengan beberapa pangeran yang dia kenal. Dia harus menyapa pria itu agar pangeran Lucius tahu jika dia sudah datang.


"Senang kau bisa datang, Putri Arabella," ucap Licius basa basi.


"Suatu kebanggaan bagiku bisa datang ke acara megah ini."


"Nikmatilah pestanya, putri Arabella. Aku harap kalian semua terhibur!"


"Terima kasih, pangeran. Bolehkah aku berbicara secara pribadi denganmu?" pinta Arabella.


"Tentu," Lucius berpamitan dengan beberapa tamu yang dia ajak bicara lalu melangkah menjauh agar tidak ada yang mendengar apa yang hendak mereka bicarakan.


"Apa yang hendak kau bicarakan, Putri Arabella. Katakanlah!"


"Bukan hal penting, aku ingin memberikan ini untukmu," Arabella mengambil sesuatu yang dia bawa dan memberikannya pada Lucius, "Aku membelinya saat di jalan, harap kau suka," ucapnya lagi.


"Terima kasih," sebuah kotak kecil berisi makanan diambil, lalu disimpan. Mereka kembali berbincang tentunya kedekatan mereka berdua menjadi perbincangan di pesta itu. Beberapa putri yang sangat berharap bisa berdansa dengan pangeran Lucius pun harus gigit jari karena mereka merasa harapan mereka sudah tidak ada. Semua yang melihat kedekatan mereka bahkan menyimpulkan jika putri yang akan dipilih oleh Lucius sudah pasti Arabella.


Pesta itu berjalan dengan meriah, acara yang dinantikan pun sudah tiba tentunya acara dansa bersama. Para tamu sudah memakai topeng mereka yang mahal dengan berbagai hiasan. Arabella pun sudah menggunakan topengnya. Pangeran Lucius tidak akan kesulitan mengenali dirinya karena dia memakai hiasan rambut yang pangeran berikan. Mereka juga sudah berbincang lama, sudah pasti pengeran tidak akan salah.


Musik merdu mulai melantun di lantai dansa, beberapa pasangan mulai mengisi lantai dansa yang kosong. Para putri tentu berharap diajak berdansa oleh pangeran tampan begitu juga Arabella yang menantikan ajakan pangeran Lucius namun pria itu sibuk berbincang dengan tamu yang lainnya. Aneh, apa pangeran tidak beniat menyajak siapa pun untuk berdansa?


Arabella bahkan menolak beberapa pangeran yang mengajaknya berdansa karena yang dia nantikan adalah Lucius, sang pujaan hati. Lucius yang menanti kedatangan Ernest tidak juga kunjung datang tampak gelisah. Apa yang terjadi? Jangan katakan Ernest tidak jadi datang dan jangan katakan pula, telah terjadi sesuatu pada Ernest saat di jalan.


"Kakak, Ayahanda berkata kakak harus mengajak salah satu putri yang ada untuk berdansa," si manis Alicia menghampiri kakaknya dan mengatakan hal itu.


"Aku tahu, katakan pada ayahanda aku hanya sedang menunggu!"


Alicia mengangguk lalu berlari kembali untuk menyampaikan apa yang kakaknya ucapkan. Arabella yang sedari tadi menunggu pun sudah tidak tahan lagi, dia memutuskan melangkah mendekati Lucius dan berpura-pura berbincang dengannya agar pangeran mengajaknya berdansa.


"Kenapa kau tidak mengajak siapa pun untuk berdansa, Pangeran?" tanyanya basa basi.


"Belum waktunya, Putri Arabella."


"Apa ada yang kau tunggu?"


"Yeah, aku memang sedang menunggu seseorang!" jawaban yang diberikan oleh Lucius mengejutkan Arabella. Sapu tangan yang ada di tangan di cengkeram dengan erat, ternyata sudah ada yang mencuri hati pangeran dan dia tidak menduga sama sekali. Rasanya sangat kesal, putri mana yang telah menyaingi dirinya?


Arabella diam dengan kekesalan tertahan, tatapan matanya tidak lepas dari pangeran Lucius yang tiba-tiba melangkah pergi. Suara ramai terdengar di ruang pesta saat dua orang putri yang datang terlambat memasuki tempat pesta tersebut. Penampilan kedua gadis itu tampak luar biasa, para pengeran sampai pangling dibuatnya.


Bisik-Bisik mulai terdengar apalagi pangeran Lucius melangkah maju dari kerumuman dan yang membuat suara bisik-bisik semakin terdengar ramai adalah, saat pangeran Lucius melangkah mendekati kedua putri itu lalu membungkuk di hadapan salah satu dari mereka sambil mengulurkan tangan. Semua jadi bertanya, siapakah putri yang sedang disambut oleh sang pangeran?