Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Rencana Jahat Untuk Ernest


Arabella masuk ke dalam kamar adiknya setelah kepergian Lucius. Aneh, dia benar-benar tidak menduga pangeran Lucius bisa masuk ke dalam kamar adiknya untuk menjenguk. Sungguh sulit dipercaya tapi keadaan Alena yang sedang terbaring di atas ranjang menjawab rasa ingin tahunya meskipun dia penasaran dan curiga. Dapat kabar dari mana pangeran Lucius jika Ernest sedang sakit?


"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Arabella yang sedang melangkah mendekati adiknya.


"Aku baik-baik saja, Kakak, Terima kasih sudah datang menjenguk aku."


"Ada apa denganmu? Apa kau sakit lagi?"


"Daun jendela terbuka semalaman, Kakak. Angin malam membuat aku jadi seperti ini," dusta Alena.


"Ya ampun, Ernest. Kau tahu jika tubuhmu lemah dan keadaanmu tidak memungkinkan tapi kenapa kau tidur dengan keadaan jendela yang terbuka?"


"Aku lupa mengaitkan penguncinya," dusta Alena lagi.


"Apa yang kalian lakukan? Lain kali periksa yang benar!" perintah Arabella pada Amy dan Agnes.


"Maafkan kami, Putri. Kami lupa menguncinya," ucap Amy.


"Awas jika kejadian itu terulang kembali!" ancam Arabella.


"Jangan memarahi mereka, Kakak. Aku yang lalai karena lupa. Mereka sudah melakukan apa yang mereka bisa untukku."


"Baiklah, lihat keadaanmu ini? Kau sudah tahu jika tubuhmu lemah jadi kau harus menjaga fisikmu dengan baik."


"Baik, Kakak. Aku akan menjaga fisikku dengan baik."


"Apa kau sudah minum obat dari bunda?" tanya Arabella.


"Ini obatnya, Putri. Aku baru saja menghangatkannya," ucap Agnes yang baru saja kembali dengan ramuan obat. Itu adalah obat yang diberikan oleh Pangeran agar keadaan putri Ernest segera sembuh.


"Segera berikan!" perintah Arabella.


Alena meminumnya tanpa ragu, Arabella pun sangat senang melihatnya. Sekarang waktunya mencari tahu apa yang dilakukan oleh Pangeran Lucius di kamar adiknya.


"Katakan padaku, kenapa Pangeran Lucius tiba-tiba datang untuk melihat keadaanmu?"


"Pangeran berpapasan denganku, Putri. Dia bertanya kenapa aku terburu-buru jadi aku menjawab jika aku seperti itu karena keadaan Putri yang kurang baik oleh sebab itulah Pangeran mengikuti aku untuk melihat keadaan Putri," jelas Agnes.


"Apakah benar demikian?" Arabella menatap Agnes dengan tatapan curiga. Apakah yang dikatakan olah Ages adalah benar? Rasanya sangat aneh pangeran Lucius tiba-tiba menjenguk adiknya karena mereka tidaklah akrab.


"Kenapa kau seperti tidak percaya seperti itu, Kakak?" tanya Alena. Semoga Arabella tidak curiga dan salah paham dengan kunjungan pangeran Lucius. Seharusnya pria itu tidak masuk ke dalam kamarnya, seharusnya tidak.


"Bukan begitu, Ernest. Aku tidak tahu kau dan Pangeran Lucius ternyata begitu akrab. Aku hanya terkejut saja apalagi dia sampai masuk ke dalam kamarmu tapi lain kali sebaiknya hal ini tidak terjadi karena akan jadi bahan gunjingan."


"Aku tahu, kakak. Terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku juga tidak menginginkan hal ini tapi pangeran Lucius yang datang tiba-tiba dengan alasan ingin menjenguk aku."


"Baiklah, beristirahatlah. Aku akan menjengukmu lagi nanti!" ucap Arabella.


"Terima kasih atas kunjunganmu, Kakak."


Arabella tersenyum namun tersenyum dengan penuh arti. Putri Arabella pun keluar dari kamar Ernest, dengan tanda tanya memenuhi hati. Apakah pangeran Lucius menaruh hati pada Ernest? Jika tidak, kenapa Lucius menjenguk Ernest?


"Putri, apa kau butuh seseorang untuk memata-matai mereka?" tanya pelayan pribadinya.


"Tidak akan, apa kau tidak mau tahu ada apa di antara pangeran Lucius dan Putri Ernest?"


Arabella berpaling dan menatap pelayan pribadinya dengan tatapan tajam. Sang pelayan melangkah mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga sang putri. Arabella yang mendengar jadi panas hati. Apakah yang dikatakan oleh pelayannya adalah benar?


"Bagaimana putri? Kau sudah menyukai pangeran jadi jangan sampai kau kalah saing dengan si pecundang itu."


"Tutup mulutmu, jangan membicarakan Ernest seperti itu. Dia bukanlah pecundang jadi tutup mulutmu!"


"Maaf, Putri."


"Ayo kita pergi!" ajak Arabella. Arabella pergi, kembali ke dalam kamar sedangkan pelayan pribadinya pergi mengambilkan sesuatu.


Setelah kepergian Putri Arabella, Amy dan Agnes mendekati Alena. Yang satu memijat kaki Alena dan yang satu lagi memijat lengan Alena.


"Putri, aku takut putri Arabella salah paham," ucap Amy.


"Aku tahu, aku bisa melihat ekspresi wajah kak Arabella yang terlihat tidak senang."


"Bagaimana, Putri? Jangan sampai putri Arabella mengira pangeran Lucius jatuh hati padamu sehingga membuatnya salah paham dan cemburu," ucap Agnes pula.


"Inilah yang sedang aku pikirkan, aku tidak mau berselisih paham dengan kakakku hanya gara-gara seorang laki-laki. Bagaimana menurut kalian? Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus menghindari pangeran Lucius?"


"Jangan, Putri. Sangat tidak sopan menghindari pangeran secara tiba-tiba apalagi Pangeran Lucius adalah tamu. Aku rasa cukup jaga jarak saja dan jangan terlalu dekat tapi jika Tuan Putri menaruh hati pada pangeran, maka sebaiknya jangan menghindar," goda Amy.


"Benar, pangeran Lucius begitu tampan. Putri juga cantik, kalian berdua akan menjadi pasangan yang serasi. Ratu dan Raja kerajaan Kenneth masa depan!" Agnes yang suka berkhayal pun mulai mengkhayalkan sang putri yang bersanding dengan pangeran lalu menjadi seorang ratu.


"Agnes, buang pikiranmu itu jauh-jauh. Bagaimana jika Arabella kembali lalu mendengar? Dia akan mengira apa yang kau ucapkan adalah benar. Kita semua tahu jika Arabella menyimpan hati pada Lucius, jadi jangan sampai dia membenci aku hanya karena salah paham. Sebaiknya tidak asal bicara dan tidak menyalahartikan kebaikan yang ditunjukkan oleh Pangeran Lucius. Kalian paham?"


"Baik, Putri. Kami hanya bercanda saja," Amy dan Agnes menunduk.


"Sudah, sekarang aku ingin istirahat. Sekarang pergilah ke dapur untuk mencari tahu mengenai acara berburu yang akan dilakukan sebentar lagi. Mungkin akan ada desas desus akan hal ini."


"Baik, Putri," Amy dan Agnes beranjak untuk melakukan perintah. Memang desas desus akan hal itu terdengar tapi yang paling dibicarakan adalah putri Ernest, seorang pecundang yang ikut serta. Para pelayan bahkan menertawakan hal itu, mereka berkata Ernest pasti akan mempermalukan kerajaan karena dia tidak begitu pandai berkuda dan dia juga tidak begitu mahir memanah.


Amy dan Agnes yang mendengar jadi geram apalagi para pelayan membicarakan acara ritual sesat yang akan dilakukan tepat pada hari itu. Mereka pun berbisik-bisik jika Ernest akan mengambil korban saat berburu nanti. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu tapi desas desus itu merebak dengan cepat.


Desas desus itu pun sudah di dengar oleh musuh misterius yang selalu menggunakan jubah hitam. Menteri yang dia percaya sedang memberi laporan padanya. Tentunya kabar yang dia beri tentang rencana yang baru saja raja Leon bicarakan dengan para pejabatnya.


"Raja sudah menetapkan jika tenda yang akan ditempati oleh putri Ernest nanti berada tidak jauh dari tenda baginda Raja," ucap sang menteri.


"Bagaimana dengan yang lainnya?"


"Tenda mereka berjarak cukup jauh, hanya tenda putri Ernest saja yang ditempatkan dekat dengan tenda raja."


"Hng, mereka ingin melindunginya ternyata. Susupkan seseorang, rencana harus tetap berjalan lancar. Dia harus tetap menanggungnya, dia pun harus tetap dituduh menjadi penyihir dan mati sebagai seorang penyihir. Salahkan dirinya yang bargabung dengan Ordo Suci saat di pengasingan sehingga menjadi musuhku jadi siapa pun dia, Ernest harus mati!" ucap orang misterius yang masih belum menampakkan rupanya.


"Baik, tuanku. Aku sudah menyiapkan beberapa orang handal untuk melakukan rencanamu jadi tidak perlu khawatir."


"Bagus, aku tidak terima kegagalan!" setelah berkata demikian, orang misterius itu pergi. Di acara berburu nanti, sebuah jebakan untuk Ernest sudah menanti dan dia tidak akan bisa menghindarinya.