Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Sang Tabib Yang Berusaha Membela Diri


Raja Leon sudah terlihat murka karena ratu mendadak jadi tersangka akibat perkataan tabib istana yang memang hanya diperbolehkan patuh pada perintah mereka berdua saja. Sang ratu yang menjadi tersangka secara mendadak pun tampak tenang, dia tidak boleh panik apalagi dia adalah ratu kerajaan itu.


Suara bisik-bisik mulai terdengar, membicarakan ibu ratu yang ingin membunuh putrinya sendiri. Tentunya bisik-bisik itu membuat panas hati dan panas telinga.


"Diam!" teriak raja Leon murka.


"Diam kalian semua!" Arabella pun berteriak dan maju ke depan.


"Beraninya kau menuduh ibu ratu dan beraninya kalian berbicara buruk tentang ratu negeri ini hanya karena perkataan seorang tabib yang sedang ingin membela diri?" teriak raja Leon marah.


"Kami tidak berani yang mulia," Semua berlutut di atas lantai dan tidak ada lagi yang berani bersuara.


"Kau sungguh berani memfitnah aku, tabib. Apa alasanmu melakukan hal itu? Sekalipun kau hanya bisa mendapatkan perintah dari kami saja, bukan berarti kau bisa memfitnah aku sesuka hatimu!" ucap ratu Hana.


"Tidak perlu menyangkal, ibu ratu. Kau yang meminta aku menaruh racun itu untuk membunuh putri Ernest!" sang tabib masih dengan tuduhannya. Itu dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya dari amarah sang raja.


"Katakan padaku, apa alasan yang aku miliki sehingga aku ingin membunuh putriku sendiri?" tanya ibu ratu.


"Ka-Kau iri pada kecantikannya!" jawab sang tabib asal.


"Sungguh alasan yang konyol, aku iri pada kecantikan putriku sendiri? Saat aku muda, wajahnya juga secantik wajah Ernest jadi buat aku iri pada putriku di usiaku yang sudah tua ini?"


"A-Aku tidak tahu tapi memang ibu ratu yang telah memerintahkan aku untuk membunuh putri Ernest!" teriak tabib itu.


"Diam!" Alena yang sedari tadi diam, kini maju ke depan dan melangkah mendekati sang tabib.


"Jangan Ernest," cegah ibu dan kakaknya.


"Aku muak dengan drama ini!" Ernest tetap melangkah maju, dia sudah tidak tahan apalagi ibu ratu pun harus mendapatkan penghinaan yang sangat keji padahal ibu ratu tidak pantas mendapatkan penghinaan seperti itu.


"Ibu ratu yang ingin membunuhmu, Putri. Percayalah padaku!" ucap sang tabib saat Alena sudah berdiri di hadapannya.


"Dengar baik-baik, kalian semua yang ada di sini!" teriak Alena seraya mengangkat wajahnya tinggi.


"Aku tidak keberatan kalian hina, aku tidak keberatan kalian fitnah tapi aku tidak terima ibuku di fitnah seperti ini apalagi dia adalah ratu negeri ini dan kalian semua yang ada di sini, begitu mudahnya termakan omongan seorang tabib yang ingin menyelamatkan diri akibat perbuatan yang dia lakukan. Aku bersumpah, siapa pun yang terlibat dan siapa pun dalangnya, aku akan membunuhnya dan seluruh keluarganya lalu menjadikannya makanan anjing liar!" teriak Alena murka.


"Semua gara-gara kau, Putri!' seseorang berteriak demikian.


"Ya, memang semua gara-gara aku. Bunda dan Ayahanda ingin menegakkan keadilan untukku oleh sebab itu mereka mengumpulkan kalian semua di sini dan gara-gara aku, Bunda harus mendapatkan fitnah yang begitu keji dari tabib yang tidak bertanggung jawab ini!" teriak Alena seraya menunjuk ke arah sang tabib.


"Apa yang aku katakan sangat benar, Putri!" teriak sang tabib.


"katamu kau hanya mendengarkan perintah raja dan ratu saja, bukan?"


"Benar, memang aku hanya menerima perintah raja dan ratu saja," jawab sang tabib.


"Baiklah, itu memang benar. Kau hanya menerima perintah mereka jika," Alena mendekatkan langkahnya ke arah tabib lalu kembali berkata, "Jika mereka sedang memberimu perintah saja tapi di luar itu?"


"Apa maksudmu, Putri?" tanya sang tabib tidak mengerti.


"Apa Raja dan Ratu memberimu perintah selama dua puluh empat jam? Apa kau selalu bersama dengan beliau selama dua puluh jam dan apa kau benar-benar tidak mendapatkan perintah dari orang lain saat kau tidak mendapatkan perintah raja dan ratu?" tanya Ernest.


"Apa kau yakin? Apa kau tabib istana yang terpasung sehingga tidak ada orang lain yang datang untuk menemuimu? Apa setelah ini kau akan berkata jika tidak ada yang menemui dirimu selain Bunda dan Ayahanda saja? Apa kau kira kami yang ada di sini akan percaya dengan perkataanmu ini?"


Sang tabib menelan ludah, sial. Sepertinya di luar rencana. Seharusnya putri Ernest membelanya saat ini tapi sang putri justru memojokkan dirinya. Lagi-Lagi yang ada di sana berbisik karena apa yang dikatakan oleh Putri Ernest sangatlah benar. Siapa saja bisa menemui tabib istana selain raja dan ratu dan siapa saja bisa berbicara dengannya tanpa ada yang tahu.


"Kau sudah memfitnah ratuku, aku pastikan kau akan mati dengan seluruh keluargamu!" ucap raja Leon.


"Bukan aku, yang mulia. Aku tidak menaruh racun!" teriak tabib itu lagi.


"Mata-Mataku sudah melihat jika kau yang menaruhnya dan kau pun sudah mengakuinya jadi jangan mengelak dari perbuatan yang memang kau lakukan jadi tangkap dia!" perintah raja Leon.


"Yang memerintahkan aku benar-benar ibu ratu!"


"Tangkap!" teriak raja Leon murka.


Beberapa prajurit sudah mendekat, Ernest melangkah pergi mendekati ibu dan kakaknya. Sang tabib yang sudah tua sangat kesal karena dia sudah gagal. Sebuah belati yang disembunyikan pun diambil, dia hanya perlu membunuh Ernest saja maka ratunya akan menyelamatkan dirinya. Dia pun ingin melakukan hal itu untuk balas dendam.


Tabib itu beranjak secara tiba-tiba, berlari ke arah Alena dengan belati di tangan. Raja Leon terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. Beberapa prajurit bahkan sudah berlari untuk mencegah sang tabib yang hendak menyerang putri Ernest namun posisi sang tabib sudah begitu dekat pada putri Ernest.


"Ernest, awas!" teriak ibu ratu.


Alena berbalik, sang tabib sudah akan menyerangnya menggunakan belati itu karena belati sudah akan ditikam ke arah dada Alena. Dengan cepat, Alena mengangkat sedikit roknya lalu melompat dan menendangkan satu kakinya ke arah dada sang tabib.


Tabib itu terkejut dan secara refleks, mengayunkan belatinya sehingga mengenai kaki Alena namun tendangan Alena mendarat mulus di dada sang tabib sehingga membuat pria tua itu terpental ke atas lantai.


"Ernest!" Arabella dan ibu ratu berteriak melihat Alena mendapatkan luka di bagian kaki.


Alena mendarat mulus di atas lantai sambil memegangi betisnya yang terluka, darah segar mulai mengalir tentunya hal itu semakin membuat raja Leon murka apalagi serangan tanpa terduga itu terjadi beberapa detik saja sehingga sulit untuk dicegah.


Para prajurit sudah meringkus sang tabib, semua yang melihat kejadian itu menahan napas dengan kedua mata yang tanpa berkedip. Sedikit lagi, sedikit lagi Ernest akan ditikam tapi Ernest dapat menghindarinya.


"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" ratu tampak menangis begitu juga denganĀ  Arabella.


"Hanya luka gores, tidak apa-apa," jawab Alena.


Raja Leon yang sedari tadi diam dengan kedua tangan mengepal semakin murka melihat kaki putrinya yang terluka dan mengeluarkan darah. Raja Leon segera menghampiri sang tabib yang sudah diringkus oleh prajuritnya.


"Beraninya kau ingin membunuh putriku di depan mataku?" raja Leon benar-benar menahan amarah yang bergemuruh di dalam dada.


"Semua ini permintaan ibu ratu!" sang tabib masih berkilah.


"Bawa dia, aku akan menginterogasinya dengan pelan!" perintah sang raja.


"Jangan perlakukan aku seperti ini, yang mulia. Aku hanya disuruh oleh orang saja!" teriak tabib itu saat diseret pergi.


"Aku akan mendengarnya nanti!"


Arabella dan ibu ratu sudah membawa Ernest untuk mengobati luka di kakinya, sedangkan suasana menjadi hening namun beberapa dari mereka saling pandang dengan sebuah kode yang disampaikan. Sang tabib tertangkap dan melakukan perbuatan yang sangat ceroboh oleh sebab itu, mereka harus tahu apa perintah sang ratu untuk mereka setelah kejadian ini karena mereka khawatir sang tabib mengatakan hal yang tidak penting saat diinterogasi oleh raja Leon yang sedang murka.