Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Keputusan Pangeran Untuk Menyamar


Istana Kent Arsia sudah hampir tiba. Selama di jalan Alena berpikir dengan keras sehingga dia memiliki rencana untuk tidak langsung menampakkan dirinya begitu saja apalagi dia dan Amy pergi secara diam-diam. Oleh sebab itu dia pun tidak bisa muncul begitu saja sehingga membuat heboh semua orang.


Lagi pula dia tidak bisa membawa pangeran Lucius masuk ke dalam istana oleh sebab itu mereka perlu sebuah rencana sebelum mereka tiba di istana. Alena meminta Lucius untuk berhenti sebelum mereka tiba di sebuah desa, dia juga meminta agar Amy dihentikan karena Amy sudah panik dan hendak kembali untuk melihat keadaan Agnes.


Bastian yang mendapatkan perintah untuk mencegah Amy segera mengejar Amy sesuai dengan permintaan putri Ernest. Amy yang sudah panik luar biasa tentu saja tidak mau mendengar dan terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar untuk kembali dan melihat keadaan Agnes.


"Amy, tunggu!" permintaan Bastian tidak dihiraukan oleh Amy.


"Amy!" Bastian kembali berteriak, mau tidak mau sebuah tali cambuk pun dikeluarkan. Bastian memacu kuda dengan cepat dan melewati Amy lalu memecutkan tali cambuknya ke kuda Amy sehingga kudanya meringkik tinggi dan berhenti mendadak.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Amy marah.


"Putri Ernest memintamu untuk berhenti!"


Amy menoleh ke belakang di mana kuda Pangeran Lucius sudah dekat. Amy tampak merasa bersalah setelah melihat sang putri yang duduk di kuda bersama dengan pangeran Lucius. Apa yang dia lakukan? Akibat takut akan keadaan Agnes dia melupakan keadaan sang putri yang masih lemah akibat racun.


"Maafkan aku, putri!" Amy melompat turun dari kuda lalu berlari mendekati putri Ernest yang ada di atas kuda.


"Maafkan aku, putri. Aku lupa dengan keadaanmu akibat mengkhawatirkan keadaan Agnes," ucap Amy.


"Jangan gegabah, Amy. Kita pergi dari istana secara diam-diam jadi kita akan kembali secara diam-diam pula agar tidak ada yang curiga."


"Tapi aku mengkhawatirkan keadaan Agnes, putri."


"Aku juga mengkhawatirkan dirinya tapi percayalah padaku, dia pasti baik-baik saja karena aku yakin dia tidak mungkin di bunuh begitu saja. Musuh pasti memerlukan dirinya dan akan memanfaatkan dirinya jadi aku yakin Agnes akan baik-baik saja!" ucap Alena.


"Apa yang akan kita lakukan, Putri?" tanya Amy.


"Desa sudah tidak jauh lagi, pergilah cari penginapan dengan Bastian karena kita akan kembali ke istana saat tengah malam!" perintah Alena.


"Bagaimana dengan aku, Ernest?" tanya Lucius.


"Kau tunggulah aku di desa itu, aku akan menemui dirimu, Pangeran. Tapi aku harap kau menyamar agar tidak ada yang tahu. Aku akan mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan aku akan mencari tahu kebenaran dari buku ini!"


"Tidak bisa, aku tidak bisa berdiam diri dan menunggu. Aku tidak suka jadi aku tidak mau menunggu sedangkan kau berada di istana yang berkemungkinan sangat berbahaya untukmu!"


"Aku tahu situasi akan berubah setelah aku kembali, serangan-serangan yang aku dapatkan saat di perjalanan sudah menunjukkan jika musuh tahu kepergianku dari istana."


"Tapi Putri, yang tahu kepergian kita hanya ibu ratu dan raja saja. Selain mereka tidak ada yang tahu lalu bagaimana bisa ada yang mengikuti kita dan hendak membunuh putri. Apakah?" Amy menghentikan ucapannya dan menatap Alena, dia tidak berani melanjutkan perkataannya.


Alena pun diam, dia tidak bisa menuduh ibu ratu dan raja yang menjadi pelaku apalagi sejak awal ada yang memata-matai mereka oleh sebab itu, mereka tidak boleh menyimpulkan sembarangan.


"Apa maksudnya?" tanya Lucius.


"Yang tahu kami datang  hanya ibu ratu dan raja saja, Pangeran. Tapi selama di perjalanan kami mendapat serangan, itu terjadi sebelum kami tiba ke kerajaan Kenneth dan putri kembali di serang saat di desa Westtrink. Jadi apakah?"


"Amy, jangan asal bicara!" ucap Alena.


"Maaf, putri," Amy menunduk dan terlihat bersalah.


"Oleh sebab itu, keadaan semakin  tidak baik jadi aku tidak bisa membiarkan kau berada di rumah musuh!" ucap Lucius.


"Aku tidak bisa menyusupkan dirimu begitu saja ke dalam istana, Pangeran. Semua orang akan tahu dan kakak Arabella akan membenci aku saat dia tahu kau berada di istana karena aku. Apa kau ingin menghancurkan hubungan kami sebagai saudara?"


"Tentu saja tidak, dengarkan aku. Aku akan menyamar menjadi pengawalmu. Situasi yang semakin buruk tidak akan membuat siapa pun curiga dan aku yakin raja Leon dan Ratu Hana tidak keberatan putrinya memiliki seorang pengawal!"


"Tapi bagaimana, apa kau pikir tidak akan ada yang tahu jika kau adalah pangeran?"


"Tidak perlu khawatir, aku dan Bastian akan menyamar. Tidak akan ada yang curiga sama sekali jadi kau tidak perlu khawatir."


Alena belum menjawab, Lucius yang berdiri di hadapannya mengusap wajah Alena karena dia ingin meyakinkan Alena jika tidak akan ada yang tahu.


"Percayalah padaku, Ernest. Aku lebih tenang jika bisa bersama denganmu oleh sebab itu ijinkan aku berada di sisimu menjadi pengawalmu," ucap Lucius meyakinkan.


"Baiklah, terima kasih."


"Jika begitu, Bastian. Pergilah ke desa bersama dengan Amy dan carilah perlengkapan  untuk menyamar. Tidak perlu mencari penginapan karena saat malam kita akan menyelinap bersama dengan Ernest!" perintah Lucius.


"Baik, Pangeran!" Bastian dan Amy pergi untuk menjalankan perintah sedangkan Lucius mengikat kudanya di pohon karena dia dan Ernest akan menunggu Bastian dan Amy di tempat itu.


Alena melompat turun dari atas kuda, keadaan seperti apa pun akan dia hadapi saat dia kembali ke istana. Dia tahu musuh sudah tahu bahkan dia yakin musuh sudah menunggu kedatangannya. Alena berdiri di dekat sebuah pohon besar sambil memandangi hutan yang cukup lebat saat Lucius menghampiri Alena dan memeluknya dari belakang tanpa ragu. Alena sedikit terkejut dan sedikit berpaling namun dia memilih bersandar dengan nyaman di dada pangeran dan memegangi lengan Lucius yang melingkar di tubuhnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Ernest?"


"Tidak ada, Pangeran. Aku hanya menikmati pemandangan indah ini saja!" jawab Alena.


"Hanya hutan, apanya yang indah?"


Alena tersenyum, memang hanya hutan tapi di jaman modern hutan sudah digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit. Jika ingin ke hutan maka harus pergi ke daerah lain.


"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Lucius. Satu tangannya sudah berada di dahi Alena.


"Sudah lebih baik, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Kemarilah!" Lucius melepaskan pelukannya dan meraih tangan Alena. Mereka melangkah menuju ke sebuah batu. Lucius duduk terlebih dahulu dan setelah itu dia meminta Alena untuk duduk di atas pangkuannya.


"Kemarilah, sambil menunggu Bastian dan Amy kembali kau bisa beristirahat!"


"Tidak perlu, pangeran. Aku?" ucapan Alena terhenti karena Lucius sudah menarik tangannya.


"Batu itu keras, tidak cocok diduduki oleh putri seperti dirimu."


"Baiklah, terima kasih," walau tidak suka karena dia seperti wanita yang sangat lemah tapi sebaiknya dia tidak menolak. Lagi pula selama hidupnya dia tidak pernah melakukan hal seperti itu jadi dia harus menikmati kehidupan yang ada karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti.


Apakah dia akan menghilang setelah misi yang dia jalankan selesai karena dia memang sudah mati dan apakah Ernest kembali menguasai tubuhnya ataukah dia akan tetap berada di dalam tubuh Ernest dan hidup di jaman itu? Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi oleh sebab itu dia akan menikmati waktu yang dia miliki sebaik mungkin dan merasakan manisnya cinta. Kedua tangan Alena sudah melingkar di leher Pangeran karena saat itu Pangeran Lucius sedang mencium bibirnya. Dia pun tidak mau memikirkan perasaan yang dia rasakan pada pria itu meskipun perasaan yang di rasakan saat ini bisa saja milik Ernest.