
Arabella dan Mauren di lempari batu tiada henti oleh para rakyat yang marah. Tentunya yang paling murka adalah para keluarga Korban yang menjadi tumbal saat ritual sekte itu dijalankan. Arabella berteriak dan memaki, tapi tidak ada satu pun yang peduli. Para rakyat masih saja melempari mereka dengan batu bahkan beberapa yang emosi ingin membakar mereka saat itu juga namun beberapa prajurit mencegah.
Kabar itu pun tersebar dengan cepatnya, kabar jika Ernest bukankah penyihir mulai didengar oleh banyak orang bahkan sudah didengar oleh kerajaan tetangga. Semua tidak menduga jika penyihir yang membuat resah ternyata putri Arabella yang berperilaku baik selama ini dan dicintai oleh banyak orang.
Kabar itu menjadi perbincangan hangat apalagi selama ini semua orang sudah salah paham karena termakan isu yang mengatakan jika putri Ernest adalah penyihirnya padahal semua orang tahu jika Ernest hanyalah putri yang lemah. Ternyata mereka semua sudah tertipu dengan kebaikan dan sikap baik yang Arabella tunjukkan. Pepatah yang mengatakan untuk tidak menilai sesuatu dari luarnya saja tidaklah salah karena putri yang sangat dicintai adalah putri jahat yang telah mengambil nyawa banyak orang.
Para rakyat yang sudah selesai mencurahkan semua amarah dan kekecewaan dengan melempar batu pada akhirnya membubarkan diri. Arabella sudah babak belur begitu juga dengan ibunya. Mereka ditinggalkan dalam keadaan seperti itu tapi beberapa prajurit berjaga-jaga agar tidak ada yang lari dari aula.
Matahari bahkan sudah bersinar terik, panas mulai menyengat dan mereka pun mulai merasa haus. Luka akibat lemparan batu pun mulai mereka rasakan sehingga mereka merintih karena haus dan sakit.
"Bebaskan kami, Ratu. Bukankah kau menjanjikan hidup kekal bagi kami!" pinta para pengikutnya.
"Diamlah, kalian belum mati lalu bagaimana kalian bisa mendapatkan kehidupan kekal?" jawab Arabella.
"Aku rasa aku sudah tidak bisa bertahan lagi, Arabella," ucap ibunya yang sudah kehilangan banyak darah.
"Bertahanlah Bunda, bertahanlah. Aku akan memohon pada ratu dan raja untuk mendapatkan belas kasihnya pada kita karena aku tahu mereka sangat menyayangi aku!"
"Aku tidak yakin, Arabella. Tapi aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Kita pasti akan bertemu di kehidupan kedua nanti!" ucap Mauren karena dia percaya mereka akan kembali hidup bersama dengan ibunya yang sudah lama tiada.
"Jangan tinggalkan aku, Bunda. Aku tidak bisa menghadapi semua ini seorang diri!" pinta Arabella.
"Aku sudah berada di ambang batasnya, maafkan Bunda tidak bisa menemani dirimu lagi!"
"Bunda, jangan tinggalkan aku!" teriak Arabella namun ibunya tidak menjawab lagi.
"Bunda, siapa saja tolong panggilkan tabib untuk ibuku!" teriak Arabella.
"Seorang penyihir yang telah memakan jantung dan meminum darah banyak korban tidak mampu menyelamatkan ibunya sendiri!" cibir seorang prajurit.
"Sekarang bukan waktunya bercanda, segera panggilkan tabib untuk mengobati ibuku!" teriak Arabella murka.
"Kenapa kau tidak memanggil junjungan yang kau sembah untuk menyelamatkan pengkhianat itu?" seorang prajurit berbicara demikian.
"Junjungannya tidak bisa karena mereka berhalusinasi!" ucap yang lain.
Mauren sudah merenggang nyawa akibat luka di bagian perut. Dia tidak bisa bertahan lagi akibat kehabisan darah. Arabella harus menghadapi semunya seorang diri. Arabella berteriak setiap kali anak-anak melemparinya dengan batu dan memperolok dirinya. Rasa malu sudah tidak tertahan, dia berusaha meminta belas kasihan pada raja Leon dan Ratu Hana tapi dia justru mendapatkan penghinaan karena semua menganggap jika Arabella adalah putri yang tidak tahu diri dan begitu bodoh.
Padahal Ratu Hana dan Raja Leon sangat menyayanginya bahkan takhta kerajaan akan dia dapatkan tapi dia lebih mengikuti ibunya yang adalah seorang penyihir bahkan dia begitu tega menyebarkan isu jika Ernest adalah penyihir. Rakyat yang sudah tahu kebenarannya tentu saja sangat-sangar murka.
"Jangan tinggalkan aku, Bunda. Jangan tinggalkan aku dan maafkan aku!" teriak Arabella. Dia harap ratu Hana datang agar dia bisa meminta maaf tapi ratu Hana sedang mengkhawatirkan putrinya yang lain yang belum juga sadarkan diri.
"Apa yang terjadi denganmu, Ernest?" ratu Hana sedang duduk di sisi ranjang dan memegangi tangan Alena, sedangkan raja Leon berdiri di sisinya.
"Aku sudah memberinya obat, yang Mulia. Racun di panah sudah di netralisasikan dan seharusnya racun itu tidak berbahaya untuk nyawanya lagi apalagi putri Ernest langsung dibawa kembali sehingga jantung itu tidak mengenai jantungnya," jelas sang tabib.
"Jika begitu, kenapa dia belum juga sadar?" tanya raja Leon.
"Aku tidak tahu penyebabnya, yang mulia raja. Seharusnya putri Ernest sudah sadarkan diri saat ini," jawab sang tabib.
"Apa yang terjadi dengan Ernest, yang Mulia. Apa yang terjadi," ratu Hana menangis, dia benar-benar mengkhawatirkan putrinya yang tidak juga sadar.
Lucius mendengar apa yang mereka bicarakan karena dia berada di dalam kamar itu. Apakah ini benar-benar pertemuan terakhir mereka? Perkataan Ernest tidak bisa dia lupakan, dia pun mulai mengartikan setiap perkataan Ernest yang tidak dia mengerti sama sekali. Apakah benar jika tubuh Ernest bukankah miliknya ataukah ada orang lain yang berada di dalam tubuh Ernest? Rasanya sangat tidak masuk akal, dia tidak bisa mempercayai itu tapi perkataan Ernest beberapa hari belakang memang menunjukkan jika Ernest yang saat ini bukanlah Ernest.
Ratu Hana menangis tanpa henti, Amy dan Agnes pun menangis. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ernest karena dia seperti orang yang sedang tidur dengan nyenyak. Raja dan Ratu berada di kamar Ernest cukup lama namun mereka harus keluar karena ada hal penting yang harus mereka lakukan dan yang harus mereka lakukan adalah, pertemuan dengan para menteri dan pejabat karena mereka harus mengambil keputusan untuk menghukum para pengkhianat yang berada di alun-alun.
"Pangeran, jenderal dan semua prajurit sudah kembali sesuai dengan perintahmu. Apa kau tidak mau kembali?" tanya Bastian.
"Tidak, Bastian. Aku akan berada di sini untuk menunggu Ernest sadar," jawab Lucius.
"Tapi bagaimana jika putri Ernest tidak juga sadar, Pangeran? Kita tidak tahu berapa lama putri Ernest akan sadar, kau tidak mungkin berada di sini begitu lama karena kau memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai seorang pemimpin."
"Aku tahu, Bastian. Aku tahu apa yang aku lakukan. Pergilah, aku ingin berduaan dengan Ernest!" perintah Lucius.
Bastian mengangguk dan pergi, Agnes dan Amy pun diminta untuk pergi oleh Lucius. Pria itu melangkah mendekati Ernest dan duduk di sisi ranjang. Tangan Ernest di genggam, tatapan mata Lucius tidak lepas dari wajah Ernest.
"Siapa pun, aku harap kau kembali dan bersama denganku. Aku tidak mengerti dengan perkataan yang kau ucapkan beberapa hari belakangan, Ernest. Tapi aku sangat berharap kau kembali dan tidak meninggalkan aku," tangan Ernest sudah terangkat dan kecupan lembut mendarat di atas telapak tangannya.
"Aku tidak akan memaafkan diriku karena aku tidak bisa menjaga dirimu. Maafkan aku Ernest," Lucius kembali mencium telapak tangan Ernest tapi Ernest tidak merespon dan seperti yang sudah-sudah, Ernest bagaikan tertidur dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengannya.