
Agnes membuat teh sesuai dengan perintah Alena. Amy sibuk dengan hal yang lainnya, mereka sudah melihat isi kotak yang sudah tidak ada oleh sebab itu mereka hendak membuat sebuah siasat untuk membuka kelakuan Agnes yang mencurigakan.
Mata-Mata yang ditugaskan untuk mengintai Agnes pun masih berada di luar. Alena tahu itu tapi dia berlagak tidak tahu. Lagi pula ada Bastian dan sesungguhnya Bastian'lah yang mengatakan padanya jik ada mata-mata yang sedang mengintainya saat ini.
Alena memilih berpura-pura tidak tahu, tentu dia melakukan hal itu agar musuh mengira dia tidak memiliki pertahanan diri. Terlihat lemah di mata musuh tapi sesungguhnya dia pun sedang membuat sebuah siasat untuk menangkap musuh.
Agnes sudah kembali membawa teh yang diinginkan oleh sang putri. Alena menatapnya dengan penuh selidik, Agnes menunduk dan terlihat takut. Dia takut apa yang dia lakukan semalam sudah ketahuan.
"Agnes, kenapa kau terlihat tidak sehat?" tanya Amy.
"Apa? Aku baik-baik saja," jawab Agnes dengan cepat.
"Jika ada sesuatu katakan padaku, Agnes. Kau tidak perlu takut!" ucap Alena.
"Maafkan aku, putri. Aku baik-baik saja," Agnes melihat keluar saat mengatakan hal itu. Tentunya Alena melihat ke arah mata Agnes tertuju, seperti yang dia duga, Agnes pasti diancam oleh seseorang.
"Apa yang paling berharga bagimu, Agnes?" tanya Alena.
"Kenapa putri bertanya demikian? Putri sudah tahu jika aku tidak memiliki siapa pun lagi selain Amy."
"Jadi, Amy adalah orang paling berharga bagimu?" Alena menatap ke arah Agnes lalu mengambil gelas teh yang ada di atas meja.
"Selain Amy, Putri Ernest adalah yang paling berharga bagiku. Aku tidak memiliki siapa pun lagi selain Amy dan Tuan putri seorang."
"Jika begitu, mengenai jawaban dari pertanyaanku tadi pagi. Apa yang akan kau lakukan jika ada dua ekor ular berbisa hendak membunuh aku dan Amy?" gelas teh kembali diletakkan, mendadak dia lebih tertarik untuk mendengar jawaban Agnes akan pertanyaan itu dalam keadaan yang berbeda.
"Bukankah aku sudah menjawabnya, Putri?" Agnes menatap Alena dengan tatapan tidak mengerti.
"Jawabanmu tidak memuaskan aku, Agnes. Sekarang jawab aku baik-baik, siapa yang akan kau selamatkan di saat ada yang hendak membunuh aku dan Amy? Siapakah yang lebih berharga di antara kami berdua?"
Agnes tidak menjawab karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Alena mengambil sebuah pisau untuk mengoleskan keju ke atas roti, sepotong roti pun sudah berada di tangan. Agnes melihat ke arah Ernest, lalu melihat keluar jendela. Dia bertingkah seperti ada yang dia takutkan.
"Kenapa diam saja? Apa ada yang kau takutkan, Agnes?"
"Tidak, putri. Tidak ada!" jawab Agnes ketakutan.
"Jika begitu, kenapa kau tidak mau menjawab?"
"Maafkan aku, putri. Maafkan aku!" Agnes memohon sambil menangis.
"Kenapa kau meminta maaf padaku, apa kau takut menjawab karena orang yang ada di luar sana!" teriak Alena seraya melemparkan pisau yang ada di tangannya keluar jendela.
Agnes terkejut, Amy pun demikian. Pisau melesat dengan cepat menuju sang mata-mata yang sedang mengintai namun meleset karena mata-mata itu sudah menghindar. Mata-Mata itu mengumpat karena sudah ketahuan, sebaiknya dia pergi dari tempat itu karena aksinya sudah ketahuan tapi sayangnya, sebuah panah melesat dengan cepat menuju ke arahnya lalu menancap tepat ke bahunya.
Mata-Mata itu terkejut lalu terjatuh. Dia mengira putri Ernest yang memanah dirinya tapi nyatanya, seorang pria sudah berada di belakangnya dan meletakkan sebilah pedang di leher mata-mata itu. Alena melihat apa yang Bastian lakukan dan dia tampak puas.
"Bawa Bastian ke penjara, Amy. Katakan aku yang akan menginterogasi pria itu nanti!" perintah Alena.
"Baik, Putri. Apa ada yang lainnya yang harus dibawa ke penjara?" tanya Amy seraya menatap ke arah Agnes.
"Aku tidak melakukan apa pun!" Agnes masih membela diri.
"Tidak ada yang mengawasi dirimu lagi, Agnes," gelas teh diambil, dia ingin melihat sejauh mana kesetiaan Agnes padanya.
"Jangan membuat aku kecewa, Agnes," teh hendak dinikmati, Alena mengangkatnya gelas dengan perlahan. Agnes jadi salah tingkah, dia seperti berada di sisi dua jembatan yang berbeda. Gelas sudah berada di bibir, Alena akan meneguk isinya.
"Jangan putri!" teriak Agnes. Dia segera mendorong tangan Alena sehingga gelas yang dipegangnya terlepas dan minuman yang ada di dalam gelas tumpah ke samping lalu menyirami bunga yang ada di dekat Alena.
"Oh my God, apa yang kau lakukan Agnes?" tanya Amy. Dia tampak tidak percaya jika Agnes hendak membunuh putri Ernest dengan air keras itu.
"Ampuni aku, Putri. Ampuni aku," Agnes berlutut di bawah kaki Alena dan meminta ampun padanya, "Aku tidak memiliki pilihan, Putri. Mereka mengancam aku jika mereka akan membunuh Amy, aku takut oleh sebab itu aku terpaksa," jelas Agnes.
"Ternyata itu jawaban atas pertanyaanku tadi, Agnes," Alena berpaling, dia merasa sedikit kecewa pada pelayan yang sangat dia percaya.
"Apa kau pikir apa yang kau lakukan sudah benar Agnes?" tanya Amy.
"Aku tahu aku salah, Amy. Tapi aku terpaksa!"
"Siapa yang memerintah dirimu?" tanya Alena.
"Pria yang ada di luar sana yang telah memerintah aku," jawab Agnes.
"Kau sungguh keterlaluan!" Amy melangkah mendekat dan memukul wajah Agnes akibat emosi.
"Kau mencuri saat kami kembali dan sekarang, kau ingin membunuh putri dengan air keras itu? Apa kau pikir apa yang kau lakukan bisa dimaafkan?" Amy tampak murka. Dia tahu Agnes ingin melindungi dirinya tapi tidak seharusnya Agnes melakukan hal itu bahkan ingin mencelakai putri dengan air keras yang sangat berbahaya.
"Aku takut dengan ancaman mereka Amy, aku minta maaf. Aku tahu telah mengecewakan dan aku begitu lemah," Agnes beranjak dan terlihat menangis, "Maafkan aku putri, maafkan aku," Kini dia melangkah mundur, Agnes sangat menyesali apa yang telah dia lakukan. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu pada putri Ernest yang telah menyelamatkan hidupnya dengan Amy.
"Sudahlah, aku tahu kau berada di situasi yang sulit," ucap Alena.
"Tidak, aku memang salah. Maafkan aku!" Agnes berlari menuju jendela, dia berniat mengakhiri hidupnya untuk menebus kesalahan yang telah dia lakukan.
"Agnes!" Amy berteriak melihat apa yang Agnes lakukan.
Alena segera berlari mengejar, dan dengan cepat Alena menyambar sesuatu dan melemparkan ke arah kaki Agnes sehingga dia terjatuh akibat tersandung. Agnes berteriak, Amy segera berlari untuk menahan Agnes agar tidak melakukan hal gila.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" tanya Amy.
"Aku telah berkhianat, Amy. Sebaiknya aku mati dari pada aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Berhenti membuat keributan!" Alena melangkah menuju jendela dan melihat keluar sana, "Pergi temani Bastian, Amy!" perintahnya.
"Baik, Putri," Amy terpaksa pergi, meninggalkan Agnes dengan perasaan kecewa. Meski Agnes berkhianat demi dirinya tapi Agnes terlalu takut sehingga menyetujui perintah musuh.
Agnes masih menangis, menyesali apa yang dia lakukan. Alena melangkah mendekati Agnes yang masih merasa bersalah akibat tindakan yang dia lakukan.
"Ini hanya di antara kita, Agnes. Aku ingin kau tetap mengkhianati aku," ucap Alena.
"Apa maksudmu, Putri?" tanya Agnes tidak mengerti.
"Aku ingin kau tetap berkhianat, lakukan apa pun yang musuh perintahkan dan katakan padaku apa yang musuh inginkan dan aku juga ingin kau menyusup lebih jauh sehingga kau tahu siapa sebenarnya musuh yang sedang aku hadapi. Aku mengampunimu untuk kali ini tapi tidak untuk lain kali jadi tetapkan bekerja sama denganku!"
"Aku akan melakukannya, Putri. Akan aku lakukan!" ucap Agnes.
"Bagus, aku akan mempercayai dirimu untuk kali ini dan aku harap kau tidak mengecewakan aku lagi!" ucap Alena.
"Akan berjanji tidak akan mengecewakan dirimu lagi," Agnes bersujud di bawah kaki Alena.
"Sekarang, bersikaplah seperti biasanya. Mungkin akan ada mata-mata kedua yang akan memerintahkan dirimu jadi bersikaplah seolah-olah aku belum tahu pengkhianatan yang kau lakukan!"
"Baik, Putri," jawab Agnes seraya beranjak.
Alena menatap pelayannya, dia sengaja tidak menghukum Agnes. Dia harap Agnes bisa dipercaya karena dia memang butuh seseorang yang bisa disusupkan ke pihak musuh. Menjadikan Agnes sebagai penyusup adalah pilihan yang sangat tepat karena musuh sedang menganggap dirinya sebagai pengkhianat yang bisa mereka manfaatkan tapi agar tidak ada yang curiga, dia akan sedikit memainkan perannya agar musuh mengira jika Agnes sudah berhasil.