
Pagi itu sang ratu memerintahkan tabib istana untuk meracik obat untuk putrinya seperti yang biasa dilakukan. Tentunya hal itu dijadikan kesempatan oleh ibu ratu untuk mencari pelaku yang telah menaruh racun ke dalam ramuan obat yang selalu dia berikan untuk putrinya. Seorang mata-mata handal sudah ibu ratu utus untuk melihat kinerja sang tabib.
Kali ini ratu bertekad harus mengetahui siapa dalang yang ingin membunuh putrinya. Jika bukan tabib kepercayaannya berarti pelayan kepercayaannya. Hanya dua pelaku itu saja yang dia curigai sebagai dalang yang menaruh racun namun dia harus tetap memastikan siapa pelaku yang sesungguhnya karena bisa saja ada pelaku lain yang melakukannya.
Tentunya tidak ada yang tahu akan hal itu karena memang rahasia tapi sebelum kebenaran itu terkuak, ibu ratu sudah meminta Ernest untuk berpura-pura meminum obat beracun itu nanti. Itu agar tidak ada yang curiga dengan apa yang sedang dia lakukan.
Racikan obat terakhir yang sudah jadi pun dibawa masuk ke dalam kamar ibu ratu oleh pelayan pribadinya. Obat itu tentu akan diberikan pada Ernest tidak lama lagi tapi demi menghindari apa yang tidak diinginkan, Ibu ratu membuang obat itu dan menukar dengan yang lain agar putrinya bisa minum tanpa ada yang curiga. Ibu ratu melakukannya tanpa sepengetahuan pelayan pribadinya.
Pagi itu, Ernest yang sudah bangun duduk di depan jendela. Kejadian semalam benar-benar berbahaya dan dia harus semakin berhati-hati. Bisa saja ibunya curiga lalu memerintahkan orang untuk mengikuti dirinya tapi dia tidak pergi ke mana pun lagi jadi dia tidak perlu khawatir.
Hari ini dia pun harus berlatih pedang oleh sebab itu setelah menikmati semangkok sup yang dibuatkan oleh Agnes, Alena siap menjalani harinya dengan berlatih. Mungkin dia bisa bertemu dengan pangeran Lucius sehingga dia bisa memberikan cindera mata yang telah dia beli tapi sayangnya, sang pangeran sudah pergi tanpa sepengetahuannya bahkan sudah hampir tiba di Istananya.
Amy dan Agnes yang sudah siap pun mengikuti Alena yang pergi ke arena berlatih. Ernest harus berlatih dengan keras sedangkan Arabella berada di kamarnya sambil mencoba jepit rambut yang diberikan oleh pangeran Lucius. Jepit rambut itu terbuat dari emas murni, terdapat dua batu mahal di ujungnya dan batu-batu kecil menghiasi jepitan itu. Arabella tersenyum, dia tampak begitu puas dengan riasannya pagi ini.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Arabella pada pelayannya.
"Kau terlihat luar biasa, putri. Kau pasti akan menjadi putri paling cantik saat di pesta dansa nanti," puji pelayannya.
"Benarkah?" tanya Arabella dengan wajah yang tersipu.
"Tentu saja, Pangeran Lucius pasti akan pangling melihat penampilan putri nanti. Sebaiknya putri Arabella meminta seorang ahli jahit untuk membuat gaun paling indah yang pernah ada."
"Ide bagus, segeralah carikan. Pesta dansa itu sudah tinggal menghitung hari saja jadi jangan sampai gaun itu belum jadi."
"Baik, Putri," jawab pelayannya.
Arabella tersenyum, jepit rambut berharga pun disimpan dengan baik karena dia akan menggunakannya saat di pesta dansa nanti. Arabella bahkan sudah tidak sabar acara itu cepat tentunya sebelum itu dia harus semakin mempercantik diri dan mengolesi banyak wewangian ke tubuhnya.
Arabella keluar dari kamarnya, dia ingin menemui Ernest dan mengatakan jika pangeran memberikan sesuatu yang berharga baginya. Dia ingin mengatakan pada adiknya juga jika pangeran Lucius mengajaknya berdansa bersama. Karena dia tahu Ernest sedang berlatih, jadi Arabella langsung pergi ke arena di mana Ernest sedang berlatih dengan keras bersama kedua pelayannya.
Raja dan ratu pun berada di sana, menyaksikan latihan putrinya. Hari ini permainan pedang Alena sudah semakin baik di bandingkan semalam. Kesempatan seperti itu tidak boleh dia sia-siakan apalagi mulai sekarang dia harus terbiasa membawa pedang, bukan senjata api.
Selain memainkan pedang, Alena pun belajar memanah. Dengan keahlian Ernest, ternyata dia masih bisa meskipun meleset beberapa kali. Baiklah, sekarang dia jadi tahu jika kemampuan Ernest tidaklah seberapa. Skill yang kurang, kondisi tubuh yang cepat lelah. Ernest benar-benar putri manja yang baru berusaha. Ibarat seekor anak singa yang baru menyadari kemampuannya di tengah kepungan Hienna, itulah Ernest.
"Jangan lengah seperti itu, Putri!" teriak sang jenderal yang sedang mengayunkan pedangnya ke arah Alena.
"Aku masih sanggup menghadapimu, Jenderal!" teriak Alena seraya menangkis.
Raja Leon tampak puas, kemampuan putrinya benar-benar meningkat pesat. Seharusnya sejak dulu dia memerintahkan Ernest berlatih agar dia berani melawan orang-orang yang telah berani memfitnah dirinya. Setelah ini dia akan mengeluarkan titah agar putrinya memiliki wewenang untuk memenggal siapa saja yang berani berbicara buruk dan menghina putrinya.
Saat itu, Arabella yang baru datang bergabung dengan ibu dan ayahnya. Arabella pun memperhatikan adiknya yang sedang berlatih dengan keras.
"Apakah begitu terlihat, Bunda?" tanya Arabella dengan wajah memerah.
"Siapa pun yang melihat pasti tahu jika kau sedang bahagia."
"Aku senang karena pangeran Lucius memberikan aku sesuatu sebelum dia pergi," ucap Arabella dan perkataannya itu didengar oleh para pelayan yang ada di sekitar raja. Tentunya itu jadi perbincangan hangat di antara para pelayan. Mereka mulai membuat isu jika Pangeran Lucius menaruh hati pada putri Arabella.
"Wah, pantas saja kau terlihat begitu senang," ucap ibunya.
Arabella tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk mengatakan hal ini pada Ernest. Adiknya pasti akan sangat senang mendengarnya. Alena yang berlatih dengan keras pun sudah selesai, ibu ratu menghampiri bersama dengan pelayannya tentunya dengan obat yang sudah dia tukar.
"Kau benar-benar luar biasa, Ernest," puji kakaknya.
"Terima kasih, Kakak. Aku harus memanfaatkan hal ini dengan baik."
"Bagus, segera minum obat ini," ucap ibunya seraya memberikan obat pada putrinya. Ernest memandangi ibunya dengan tatapan penuh arti, dia harus tahu obat itu mengandung racun atau tidak. Sang ibu pun memberikan tanda jika obat itu aman untuk dia minum.
"Terima kasih, Bunda," ucap Alena yang segera mengambil obat itu dan meminumnya sampai habis.
"Aku bangga padamu, Ernest. Kau berlatih dengan cepat," ucap ayahnya.
"Terima kasih, Ayahanda. Ernest tidak makan mengecewakan ayahanda," ucap Alena.
"Bagus, berlatihlah lebih keras lagi. Mulai sekarang siapa pun yang berani menyakiti dan melukaimu, penggal tanpa ragu!"
"Terima kasih atas kepercayaan yang ayahanda berikan," ucap Alena seraya memberi hormat.
"Apa kau ada waktu, Ernest? Aku ingin berbicara denganmu?" ucap kakaknya.
"Tentu saja, kakak. Aku hanya butuh istirahat saja."
"Bagaimana jika minum teh denganku," ajak Arabella.
"Tentu saja, dengan senang hati kakak."
"Ayo ikut denganku," ajak Arabella.
Mereka pamit pada ibu ratu dan raja untuk pergi minum teh. Raja dan Ratu pun sudah akan kembali tapi pada saat itu, mata-mata yang diutus sang ratu muncul secara tiba-tiba untuk memberikan laporan siapa yang telah menaruh racun di dalam obat putri Ernest. Raja dan Ratu meminta semua pengawal dan pelayan untuk pergi agar tidak ada yang mendengar dan begitu mengetahuinya pelakunya, tentu saja membuat ratu dan raja terkejut.