
Hukum pancung, itulah yang sudah diputuskan untuk menghukum para pengkhianat yang masih berada di alun-alun. Selain hukuman pancung, para menteri dan juga pejabat menyarankan raja Leon untuk membakar mayat pengikut aliran sesat itu. Mereka pun menyarankan jika hukuman harus dilakukan di hadapan para rakyat agar tidak ada lagi yang berani melakukan ilmu sihir di kerajaan Kent Arsia.
Tentunya hukuman itu tidak akan langsung dijalankan karena Arabella dan pengikutnya akan dibiarkan mengalami sedikit siksaan sebelum hukum pancung mereka dapatkan. Mereka benar-benar tidak diberi makan dan minum. Mereka dibiarkan berjemur teriknya sinar matahari. Tidak ada yang berani mendekat karena larangan untuk mendekati mereka dikeluarkan oleh Raja Leon.
Tidak ada yang boleh memberi mereka makan dan minum, jika ada yang melakukannya maka orang itu akan dihukum dan diikat bersama dengan para penyihir itu. Arabella tidak berdaya, untuk pertama kali dia harus mengalami lapar dan haus. Kini dia mengingat kehidupan nyaman yang dia jalani di dalam istana apalagi dia tidak pernah mengalami hal seperti setelah dia dibawa masuk ke dalam istana.
"Ratu, selamatkanlah kami!" pinta pengikutnya yang ada di belakang sana.
"Selamatkan kami, Ratu. Bukankah kau berjanji akan memberikan kedudukan dan kehidupan kekal bagi kami!" pinta yang lain.
"Diamlah, ritual kita sudah gagal. Oleh sebab itu dia marah pada kita dan memberikan siksaan seperti ini pada kita tapi percayalah, setelah malam ini, setelah kita melewati penderitaan ini maka kita akan mendapatkan kehidupan kekal. Kita hanya sedang diuji apakah kita bisa bertahan dengan siksaan yang sedang kita dapatkan atau tidak!" ucap Arabella.
"Apa setelah ini kita benar-benar akan mendapatkan kehidupan yang kekal?"
"Sudah pasti dan lihatlah rekan-rekan kita yang sudah mati!" teriak Arabella sambil memandangi ibunya yang sudah tiada, "Mereka sudah mendahului kita dan menunggu, kita pasti akan berkumpul bersama dengan mereka setelah kita melewati penderitaan ini!" teriaknya lagi.
"Benar, kita semua pasti akan hidup abadi setelah ini!" teriak seorang pengikut yang lain.
Mereka mulai bersorak, saling memberikan semangat karena mereka sangat yakin jika mereka akan kembali hidup bersama dengan keluarga mereka yang telah mati terlebih dahulu setelah penderitaan yang mereka lalui selesai. Tidak saja bersorak, mereka pun memuji junjungan mereka. Suara mereka bergema di alun-alun sehingga membuat warga takut namun para prajurit yang berjaga melempari mereka dengan batu agar merela semua diam.
Malam itu hujan juga mengguyur dengan derasnya sehingga luka-luka yang mereka dapat terasa begitu perih. Rintihan mereka terdengar di balik air hujan yang mengguyur. Arabella pun merintih dan menangis, rasa penyesalan pun mulai dia rasakan apalagi dia sendiri tidak yakin jika dia akan mendapatkan kehidupan setelah ini. Setidaknya air hujan bisa mengurangi rasa haus yang mereka rasakan.
Malam yang cukup menyiksa bagi para pengikut ajaran sesat itu pun berlalu. Pagi menjelang dan mereka berharap mendapatkan keajaiban di hari itu dan memang keajaiban mereka akan segera datang karena seorang utusan sudah datang ke alun-alun dan para rakyat kembali dikumpulkan di alun-alun untuk mendengarkan keputusan raja Leon untuk menghukum para pemuja ajaran sesat.
"Raja Leon sudah mengambil sebuah keputusan untuk memusnahkan semua pengikut ajaran sesat agar tidak ada lagi di kerajaan Kent Arsia dan keputusan itu adalah, mereka semua akan dipenggal saat menjelang siang lalu mayat mereka akan dibakar secara bersama-sama. Para rakyat wajib menyaksikannya bahkan bagi yang ingin ikut andil dalam membakar mereka dipersilakan oleh raja Leon!" teriak seorang prajurit yang mendapatkan tugas untuk membacakan keputusan raja.
"Bakar saja mereka, jangan dipancung" sorak seluruh rakyat yang hadir. Mereka kurang puas dengan keputusan sang raja meski keputusan sudah diambil tanpa menunggu lama.
"Bakar, bakar mereka!" sorakan itu menggema di alun-alun. Sorakan mereka sampai terdengar ke dalam istana tentunya didengar oleh raja Leon ratu Hana.
"Bagaimana, Baginda. Apa kita harus mengikuti permintaan rakyat?" tanya ratu Hana.
"Tidak, meskipun Arabella adalah penyihir tapi dia adalah putri yang kita besarkan berdua. Hukum pancung sudah cukup untuknya!"
"Baiklah jika itu keputusanmu tapi aku tidak mau melihatnya, aku ingin menjaga Ernest yang belum juga sadar," ucap ratu Hana.
"Pergilah, kau memang tidak perlu melihatnya!"
Sorakan para rakyat sudah tidak terdengar saat raja Leon memutuskan untuk pergi ke alun-alun. Para algojo yang ditugaskan untuk memancung para pengkhianat pun sudah siap. Hal itu dipertontonkan agar semua dapat melihat hukuman yang akan didapatkan oleh Arabella dan pengikutnya.
"Kami ingin yang Mulia membakar mereka!" teriak rakyat yang ada di sana.
"Benar, penyihir yang telah membunuh banyak orang harus mati dengan cara dibakar!" sorak yang lain.
"Bakar... Bakar mereka!" semua rakyat bersorak.
Penasehat raja mendekati raja Leon, sebuah nasehat pun diberikan agar raja Leon bijak mengambil keputusan tanpa perlu memandangi Arabella sebagai putri yang pernah dia asuh apalagi yang menjadi korban selama ini adalah rakyat. Nasehat yang diberikan oleh penasehat raja pun terdengar masuk akal oleh sebab itu, raja Leon mengambil keputusan lain dan memerintahkan penasehat kerajaan untuk mengatakan pada rakyat keputusan yang baru saja dia ambil.
"Raja Leon mengambil keputusan baru, bagi keluarga korban yang mati akibat ritual sesat putri Arabella di harap untuk maju ke depan!"
Para rakyat saling pandang, keluarga para gadis yang menjadi korban saat ritual pun maju ke depan. Dari satu orang semakin bertambah banyak dan mereka dikumpulkan di sisi lain. Jumlah mereka begitu banyak karena Arabella memang mengambil korban setiap bulannya.
"Raja Leon memberikan wewenang pada kalian mengambil keputusan untuk menghukum Arabella yang telah membunuh putri atau saudari kalian saat ritual!"
Semua keluarga korban saling pandang namun tidak lama terdengar sorakan mereka, "Bakar putri Arabella!" sorakan itu pun diikuti oleh sorakan rakyat yang lain.
"Sesuai yang kalian inginkan, kalian bisa membakarnya dan sisanya di penggal. Tumpuk mayat mereka di antara Arabella lalu bakar!" teriak raja Leon. Itu keputusan yang cukup adil karena memang keluarga korban yang pantas menghukum Arabella.
"Hidup raja Leon, hidup raja Leon!" rakyat bersorak untuk raja mereka yang sudah mengambil keputusan bijak dengan mendengarkan permintaan mereka.
Matahari sudah bersinar begitu terik, hukuman sudah akan dijalankan. Tidak perlu menunggu perintah, raja Leon bahkan menonton di kursinya karena rakyat yang bergerak sesuai dengan keinginan mereka. Sebuah tiang sudah berada di tengah alun-alun. Mayat pengikut ajaran sesat sudah di tumpuk lalu Arabella diikat di tengah tiang. Hukum pancung pun dijalankan untuk yang tersisa, teriakan mereka terdengar namun mereka berteriak girang karena mereka percaya jika mereka akan hidup setelah ini.
Sebelum Arabella dibakar, raja Leon menghampirinya dan berdiri tidak jauh darinya. Rasa kecewa yang teramat sangat dia rasakan. Meskipun Arabella adalah putri Mauren tapi jika dia tidak melakukan kejahatan dia akan tetap menyayangi Arabella dan menjadikan Arabella sebagai ratu namun sangat disayangkan, Arabella justru mendengarkan ibunya yang jahat dan serakah.
"Kau benar-benar mengecewakan aku, Arabella!" ucap raja Leon.
"Kau tidak saja akan kehilangan aku, yang Mulia. Tapi kau juga akan kehilangan Ernest karena dia tidak akan kembali padamu!" teriak Arabella.
"Ernest akan kembali pada kami, jangan membual!" ucap raja Leon.
"Dia tidak akan kembali, dia akan mati bersama denganku!" teriak Arabella dan tawanya pun terdengar.
Raja Leon melangkah pergi dan kembali ke kursi, perintah untuk segera menghukum Arabella diberikan. Obor sudah berada di tangan rakyat yang marah, mereka berdiri mengelilingi Arabella bahkan ada yang meludahi Arabella dan mencaci maki dirinya.
"Bakar sekarang juga, bakar. Aku akan hidup kekal setelah ini!" teriak Arabella.
"Dia benar-benar sudah gila!"
"Dia memang hidup kekal tapi di Neraka!" ucap yang lain.
"Bakar sekarang, jangan sampai anak cucu kita melihat kegilaannya lalu ada yang mengikuti!"
'"Bakar sekarang!" teriak seseorang dari rakyat. Obor diangkat tinggi lalu sorakan mereka terdengar dan obor dilemparkan ke arah Arabella secara bersama-sama.
Arabella berteriak saat api membakar tubuhnya. Api membumbung tinggi, para rakyat sangat puas. Raja Leon menyaksikan kematian putri yang dia temukan tanpa sengaja dan dia asuh dengan penuh kasih sayang sampai besar namun sangat disayangkan, Arabella memilih jalan yang salah.
Tubuh Arabella dilahap dengan api, begitu juga dengan pengikutnya. Penyihir yang meresahkan rakyat selama ini kini sudah mendapatkan hukuman. Bertahun-tahun semua orang salah paham akibat isu dan menuduh putri Ernest sebagai penyihir dan hampir membunuhnya tapi siapa yang menduga, ternyata penyihirnya adalah putri Arabella. Sekarang, penyihir yang membuat resah sudah mendapatkan hukuman. Para rakyat sangat lega tapi satu hal yang belum mereka lakukan yaitu meminta maaf pada putri Ernest bahkan mereka bersedih karena putri Ernest dikabarkan dalam keadaan koma dan tidak ada yang tahu kapan dia akan sadar.