
Malam itu, tubuh Ernest terbangun dari koma singkatnya. Kedua tangan berada di wajah, tangan itu pun sibuk meraba wajahnya sendiri seolah-olah ingin mencari tahu apakah itu wajahnya dan apakah dia sudah kembali ataukah belum.
Kedua mata pun melihat sekitar, seperti sedang mengenali di mana dia berada. Cahaya bulan yang masuk dari jendela menarik perhatian sehingga tubuh itu beranjak dari tempat tidur lalu kedua kakinya melangkah menuju jendela. Itu kedua kakinya, dan itu adalah tubuhnya.
Amy yang sedang tidur terbangun dan terkejut melihat seseorang berdiri di depan jendela. Amy berteriak karena dia mengira sedang melihat hantu karena kamar yang hanya diterangi oleh pelita saja. Teriakannya bahkan membuat Agnes terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Ada apa, Amy?" tanya Agnes.
"I-Itu" Amy menunjuk ke arah putri Ernest. Agnes melihat ke arah tangan Amy menunjuk lalu mereka melihat ke arah ranjang yang sudah kosong.
"Putri!" mereka memekik dan berlari ke arah sang putri yang dikira hantu oleh Amy.
Amy dan Agnes memeluk putri Ernest yang sedari tadi diam saja dan tidak memalingkan pandangannya dari gelapnya malam.
"Akhirnya kau sadar, Putri," ucap Amy. Akibat terlalu senang dia dan Amy jadi menangis, mereka sudah sangat mengkhawatirkan keadaan putri Ernest dan mengira sang putri tidak akan sadar tapi ketakutan mereka tidak terjadi sama sekali.
"Kami benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu, Putri. Apa kau baik-baik saja?" tanya Agnes pula sambil menghapus air matanya yang mengalir.
"Aku baik-baik saja, sekarang apakah kalian bisa membuatkan aku makanan? Aku merasa begitu lapar."
"Baiklah, putri. Aku akan segera membuat makanan untukmu!" ucap Agens.
"Aku akan mengabari yang mulia jika tuan putri sudah sadar!" ucap Amy.
Amy tidak dicegah, dia keluar dari kamar bersama dengan Agnes namun mereka terpisah karena Agnes pergi ke dapur untuk membuat makanan sedangkan Amy pergi ke kamar raja dan ratu. Setelah mengatakan berita itu pada raja dan ratu, dia akan mengatakan kabar itu pada Pangeran Lucius yang selalu mengkhawatirkan keadaan putri Ernest.
Kabar yang diberikan oleh Amy tentu mengejutkan raja dan ratu. Mereka pun segera bergegas menuju kamar putri mereka untuk melihat apakah yang dikatakan oleh Amy benar atau tidak. Kabar itu pun di sampaikan Amy pada pangeran Lucius sehingga membuat pria itu bergegas ke kamar Ernest.
Raja Leon dan Ratu Hana yang tiba terlebih dahulu, mereka sangat senang mendapati Ernest sedang duduk di depan jendela dan ketika melihat kedatangan mereka, Ernest beranjak untuk memberi hormat pada mereka.
"Hormat pada Ayahanda dan Bunda," ucap Ernest sambil membungkuk.
Ratu Hana sudah berlari ke arah putrinya lalu memeluknya dengan erat. Ratu Hana pun menangis karena dia sangat senang putrinya sudah sadar. Sungguh dia sangat takut Ernest meninggalkan dirinya sehingga dia tidak memiliki putri lagi.
"Bunda sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Ernest. Bunda benar-benar khawatir kau tidak kembali lagi bersama dengan kita."
"Maafkan Ernest yang sudah membuat Bunda khawatir," ucap Ernest.
"Tidak perlu meminta maaf, Bunda sangat senang akhirnya kau kembali bersama dengan kami!" Ratu Hana memeluknya erat, begitu juga raja Leon yang sudah takut jika putri mereka tidak akan kembali lagi pada mereka. Ernest pun memeluk mereka. Yeah, dia memang sudah kembali dan kali ini tidak akan pergi ke mana pun lagi.
Lucius yang sudah berada di dalam kamar hanya berdiri di depan pintu dan melihat Ernest dengan perasaan lega, Selain raja dan ratu, dialah salah satu orang yang paling takut jika Ernest tidak akan sadar lagi tapi setelah melihatnya sudah sadar malam ini, rasa takutnya menjadi sebuah kebahagiaan.
Raja Leon dan Ratu Hana memeluk Ernest begitu lama, mereka seperti tiga orang yang sudah lama tidak bertemu. Tatapan mata Ernest tertuju pada pangeran Lucius yang tidak jauh darinya. Eksresinya datar, tidak ada senyuman sama sekali dia tunjukkan.
"Kemarilah, duduk dengan kami," ajak ratu Hana seraya mengajak putrinya untuk duduk bersama.
Ernest mengikuti apa yang ibunya katakan, raja Leon berdiri di dekat mereka dan memperhatikan putrinya yang sudah terlihat baik-baik saja dengan perasaan bahagia.
"Bagaimana perasaanmu, apa kau baik-baik saja?" tanya ratu Hana sambil mengusap wajah putrinya serta merapikan rambut Ernest yang sedikit berantakan.
"Aku tidak pernah sebaik ini, Bunda. Maaf telah membuat kalian khawatir."
"Jangan berkata seperti itu lagi. Kami semua sangat senang kau sudah kembali dengan kami."
"Kau terkena panah beracun, Sayang. Kau tidak juga sadarkan diri padahal racun yang ada di panah sudah ditangani tapi kau tidak juga sadar sehingga membuat kami semua takut."
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Dua hari, apa kau yakin kau baik-baik saja?" tanya ibu ratu.
"Aku benar-benar baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu saja, Bunda. Sekarang katakan padaku apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"
"Semua sudah berakhir, Ernest. Tidak perlu khawatir karena pengkhianat itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab raja Leon.
"Apa yang terjadi dengannya?" Ernest melihat ke arah raja Leon dan terlihat ingin tahu.
"Rakyat yang menghukumnya dan dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas," jawab raja Leon.
Ernest sudah tidak bertanya, tatapan matanya justru berpaling melihat ke arah Lucius. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Raja Leon dan ratu Hana tahu jika mereka perlu memberikan privasi untuk mereka berdua.
"Kami akan kembali esok pagi, setelah ini segeralah beristirahat tapi jangan tidak bangun lagi," ucap ratu Hana seraya mendaratkan ciuman di dahi putrinya.
"Tidak akan, Bunda. Sudah aku katakan aku tidak akan pergi ke mana pun."
"Bunda sangat senang mendengarnya," ratu Hana beranjak di susul dengan Ernest. Sang ratu memeluk putrinya sebelum keluar dari kamar itu.
Ernest mengantar ayah dan ibunya pergi dan pada saat itu, Agnes kembali sambil membawa sup kacang merah yang putri Ernest inginkan.
"Sup kesukaanmu, Putri," ucap Agnes seraya meletakkan sup ke atas meja.
"Terima kasih, Agnes. Tolong tinggalkan kami dan pergilah beristirahat."
"Baik, Putri," Amy dan Agnes undur diri. Pangeran sudah melangkah mendekati Ernest yang sudah menunggunya dan tak memalingkan pandangan matanya. Suara pintu tertutup dan pada saat itu juga, Lucius menarik Ernest dan memeluknya dengan erat.
"Aku pikir kau tidak mau kembali dan akan meninggalkan aku!" ucapnya.
"Aku juga mengira tidak!" kedua tangan sudah melingkar dan memeluk Lucius dengan erat.
"Apa ini kau, Ernest?" tanya pangeran. Mendadak dia khawatir jika yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Ernest yang dia kenal apalagi dia mengingat permintaan Ernest untuk tetap mencintai dirinya jika dia berubah.
"Bagaimana menurutmu, Pangeran? Apakah aku Ernest?"
Pangeran Lucius melepaskan pelukannya dan melihat Ernest dengan penuh selidik. Mereka berdua kembali saling menatap cukup lama, pangeran Lucius seperti sedang mencoba mengenali dirinya sampai akhirnya senyuman menghiasi wajah tampannya.
"Aku sangat senang kekasih hatiku kembali lagi," Lucius kembali memeluk Ernest dan mencium bibirnya.
Dia tidak mungkin salah mengenali, wanita yang dia cintai. Mereka berdua berciuman untuk melepaskan kerinduan tapi tidak lama karena perut Ernest yang sudah lapar berbunyi. Lucius menggendong Ernest menuju meja, Lucius pun menyuapi Ernest sup kacang merah dan meniup sup itu untuk Ernest karena masih panas. Lucius melakukannya dengan sabar sampai sup itu habis.
"Aku harap kau tidak meninggalkan aku lagi, Ernest," ucap Lucius yang sudah berpindah dan memeluk Ernest yang berada di atas pangkuannya.
"Aku tidak akan ke mana-mana lagi!" Yeah, dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi karena dia adalah Ernest.
Lucius memeluk Ernest dengan erat, setelah ini dia akan menjaga wanita yang dia cintai dengan baik bahkan dia akan mengutarakan niatnya untuk melamar Ernest. Dia yakin ayah dan ibunya tidak akan keberatan apalagi isu mengenai Ernest yang adalah seorang penyihir sudah tidak ada lagi.