Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Pertemuan Terakhir


Kematian Arabella sebagai penyihir menyebar dengan cepat hari itu. Dari satu mulut ke mulut yang lainnya sehingga kabar itu berhembus cepat bagaikan angin. Kabar itu pun menjadi perbincangan hangat hampir di seluruh negeri. Kabar itu pun sudah di dengar oleh seluruh rakyat Kenneth dan beberapa kerajaan lainnya.


Kabar yang sulit dipercaya karena sudah bertahun-tahun lamanya mereka percaya jika Ernest'lah penyihirnya tapi kabar yang tersebar membuka kedua mata semua orang yang membenci Ernest. Kabar jika Arabella sudah mati dibakar oleh rakyat Kent Arsia yang marah pun sudah terdengar dan kabar akan keadaan Ernest pun sudah didengar. Kini semua orang justru merasa iba dengan Raja Leon dan Ratu Hana juga dengan putri Ernest.


Amy dan Agnes baru saja selesai membersihkan tubuh sang putri dan mengobati luka di punggung Ernest. Mereka berdua tampak sedih melihat keadaan putri Ernest yang masih saja tidak merespon panggilan mereka. Ratu Hana baru saja pergi tapi dia akan kembali lagi setelah mendengar hukuman untuk Arabella sudah selesai.


Asap terlihat dari istana, tentunya asap dari api yang membakar Arabella serta pengikutnya. Semua barang-barang milik Arabella dibuang sesuai dengan perintah sang satu. Mulai hari ini semua diperintahkan untuk melupakan keberadaan putri Arabella dan tidak ada yang boleh menyebut nama Arabella di seluruh kerajaan Kent Arsia.


Rasa sedih masih harus mereka rasakan, bukan karena mereka harus kehilangan Arabella tapi karena mereka mengkhawatirkan keadaan putri Ernest. Pangeran Lucius yang paling terlihat sedih akan hal itu. Setelah raja Leon tahu jika yang selama ini bersama dengan putrinya adalah pangeran Lucius, sang pangeran pun diberikan tempat yang layak dan diijinkan untuk melihat Ernest kapan pun pangeran inginkan.


Selagi Amy dan Agnes membersihkan tubuh putri Ernest, pangeran Lucius berada di dalam kamar yang sudah disediakan untuknya. Bastian bergegas menemui pangeran Lucius saat mendapatkan sebuah surat dari burung pengantar surat tentunya itu dari raja James.


"Pangeran, yang Mulia Raja memerintahkan dirimu untuk kembali!" ucap Bastian seraya memberikan surat yang dia dapatkan.


"Apa?" Lucius mengambil surat dari tangan Bastian dan membacanya. Seperti yang Bastian katakan, dia diminta untuk kembali oleh ayahnya karena dia sudah pergi begitu lama.


"Bagaimana, Pangeran. Aku rasa kita memang sudah harus kembali!" ucap Bastian.


"Kirimkan balasan, Bastian. Kita akan kembali beberapa hari lagi," perintah Lucius. Meski dia sangat mengkhawatirkan keadaan Ernest tapi dia harus ingat dengan posisinya yang adalah seorang pangeran.


"Lalu bagaimana dengan putri Ernest?" tanya Bastian.


"Aku tidak tahu, aku memiliki kewajiban jadi aku tidak mungkin mengabaikan kewajibanku. Aku hanya bisa berharap, Ernest segera sadar sebelum aku kembali."


"Apa kau akan melamar putri Ernest jika dia sudah sadar, Pangeran?"


"Entahlah, aku harus membicarakan hal ini pada ayahanda dan Bunda. Segera kirim surat balasan, aku ingin melihat keadaan Ernest!"


"Baiklah, Pangeran," Bastian undur diri untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Pangeran.


Lucius keluar dari kamar dan melangkah menuju kamar Ernest. Amy membukakan pintu untuknya dan mempersilakan pangeran Lucius untuk masuk ke dalam. Ernest sudah berganti pakaian, keadaannya tetap sama. Amy dan Agnes keluar dari kamar dan memberikan privasi bagi pangeran Lucius.


"Apa yang terjadi padamu, Ernest?" tanya Lucius, tangan Ernest sudah berada di dalam ganggamannya saat itu.


"Aku harap kau cepat sadar sebelum aku pergi!" Lucius menunduk dan memberikan kecupan di bibir Ernest yang bagaikan putri tidur. Jika di dalam dongeng mungkin Ernest sudah sadar tapi sayangnya mereka tidak sedang di dalam dongeng.


Tangan Alena di genggam dengan erat, kapan Ernest bisa sadar? Apa dia tidak akan sadar lagi? Pertanyaan itu muncul di kepala, dia benar-benar tidak tahu apa jawabannya.


"Mommy, Daddy!" Alena melangkah dengan cepat mendekati keluarganya. Dia pun memanggil adik laki-lakinya yang sedang berbicara dengan ayahnya. Air mata Alena pun mengalir, kebahagiaan memenuhi hatinya karena dia kembali ke abad dua puluh dua.


"Mommy!" Alena berlari mendekati sang ibu yang sedang mengambil sesuatu lalu memeluknya dari belakang. Alena benar-benar bahagia tapi sayang, kebahagiaan yang dia rasakan hanya sesaat saja setelah dia sadar jika  dia tidak bisa memeluk ibunya karena dirinya seperti bayangan tipis yang tembus pandang.


"No.. No!" Alena melangkah mundur, dia seperti tidak percaya apa yang telah terjadi.


"Setelah aku besar, aku akan menjadi seorang polisi dan mencari pembunuh yang telah membunuh Alena!" perkataan adiknya dapat Alena dengar.


"Jika begitu, kau harus sekolah dengan benar!" ucapan ayahnya pun terdengar.


Air mata Alena tak terbendung, dia lupa jika dia sudah mati akibat ledakan bom tapi apa arti semua ini? Apa dia diberi kesempatan terakhir untuk melihat keluarganya sebelum dia benar-benar menghilang untuk selamanya. Semua pasti hanya mimpi, yeah.. dia yakin semua yang terjadi pasti hanya mimpi saja.


"Aku menyayangi kalian semua, aku sangat menyayangi kalian!" ucap Alena. Air mata diusap menggunakan lengan namun dalam sekejap mata saja pemandangan yang ada di depan mata langsung berubah karena dia sudah berada di tempat lain.


Alena sangat heran, dia mencari keberadaan keluarganya yang hilang dari pandangan secara tiba-tiba. Pemandangan yang tadinya berada di abad dua puluh kini berubah karena dia kembali ke jaman kuno bahkan dia merasa saat itu dia berada di dalam istana. Alena terus melangkah menyelusuri sebuah lorong, tidak salah lagi. Apa dia sudah kembali?


Alena masuk ke dalam kamar, dia pikir akan menjumpai Amy dan Agnes di dalam kamar tapi ternyata dia sudah di tunggu oleh Ernest dan putri Ernest sudah menunggunya di depan jendela.


"Ernest?" Alena melihat sekitar untuk mencari keberadaan Amy dan Agnes.


"Tidak ada siapa pun, Alena. Hanya ada kita berdua saja," Ernest melangkah mendekatinya.


"Apa maksudnya ini, Ernest? Apa ini nyata, atau hanya mimpi?" tanya Alena.


"Ini hanya mimpi saja, aku sungguh tidak menyangka masih memiliki kesempatan terakhir untuk bertemu denganmu," Ernest memeluk Alena, dia ingin berterima kasih pada Alena yang sudah membantunya dan menyelesaikan misi rahasia yang tidak bisa dia selesaikan.


"Aku sangat berterima kasih padamu, Alena. Meski aku tidak tahu apa yang terjadi pada kita berdua, tapi aku sangat ingin berterima kasih padamu yang telah membantu aku menyelesaikan misi yang tidak bisa aku selesaikan. Semua telah usai sekarang, tentunya semua berkat dirimu," ucap Ernest.


"Tidak masalah, Ernest. Aku membantumu dengan senang hati dan aku pun melakukannya untuk menegakkan keadilan. Sekarang peranku sudah selesai karena aku sudah menyelesaikan semua yang harus aku lakukan jadi sekarang adalah bagianmu," ucap Alena.


"Terima kasih, Alena," Ernest memeluk Alena dengan erat karena dia yakin ini hari terakhir mereka bertemu, "Selamat tinggal," ucap Ernest pula.


."Selamat tinggal, Ernest," Alena pun memeluknya. Sekarang sudah selesai, semua kewajibannya sudah selesai. Dia sudah selesai dengan tugasnya dan sekarang giliran Ernest yang menjadikan dirinya sebagai seorang ratu. Perjalanan yang sangat singkat, namun banyak yang dia alami meski disayangkan dia harus berpisah dengan pangeran Lucius tapi memang sejak awal, dia adalah peran pengganti yang bukan berasal dari jaman itu dan pangeran Lucius memang ditakdirkan hanya untuk Ernest saja.